Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang, Sutomo melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura, Mulyono di ruang kerjanya saat dikonfirmasi terkait peningkatan produktivitas pertanian khususnya beras, menyebutkan, sukses yang diraih kabupaten Rembang dibawah pimpinan Bupati H Moch Salim dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian adalah hasil dari terus dibangunnya embung pertanian berskala kecil setiap tahunnya. Tercatat sejak tahun 2007 telah dikembangkan embung pertanian ukuran 500 meter persegi dengan daya tampung air 1000 kubik yang dapat dimanfaatkan para petani dalam kurun waktu antara 3 hingga 5 bulan.
Mulyono lebih lanjut menerangkan, embung-embung pertanian dibangun di atas tekstur tanah yang tidak berpasir sehingga daya tampungnya tidak cepat habis. “Sehingga kebutuhan air pada masa tanam pertama dan walik dami tercukupi,” terangnya.
Ditambahkan oleh Mulyono, jumlah embung pertanian pada tahun 2007 sebanyak 10 unit, tahun 2008 bertambah 12 unit, tahun 2009 bertambah 9 unit dan tahun depan direncanakan ditambah 5 unit lagi. “Seluruh biaya pembangunan embung bersumber dana APBN, masing-masing senilai Rp 100 juta,” jelasnya.
Dampak dari bertambahnya embung pertanian, berdasar data dari Dinas Pertanian dan Kehutanan diketahui luas lahan pertanian secara umum di wilayah Rembang berkisar 30 ribu hektar, namun pada beberapa periode karena curah hujan tinggi beberapa tegalan juga dimanfaatkan bercocok tanam padi, tercatat laporan hasil panen tahun 2007 luas lahan 25.683 hektar, produktivitas 125.684 ton, rata-rata 48.94 kwintal per hektar. Tahun 2008 luas lahan 38.885 hektar, produktivitas 205.850 ton, rata-rata 52,94 kwintal per hektar. Tahun 2009 sampai dengan bulan September luas lahan 40.070 hektar, produktivitas 216.606 ton, rata-rata 54,84 kwintal per hektar atau setara beras 117.420 ton.
Sedangkan kebutuhan pangan warga Rembang saat ini sekitar 550 ribu jiwa per tahun sekitar 69.367 ton sehingga tahun ini terjadi surplus beras.
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 17 Januari 2010
Pengrajin batik lasem dibekali wawasan pengembangan desain dan pewarnaan alami
Pengrajin batik Lasem selama 4 hari, 16 - 19 Nopember mendapat tambahan bekal ilmu membuat desain baru dan teknik pewarnaan menggunakan bahan alami. Pelatihan diadakan di show room rumah batik lasem, atas inisiatif Dinas Koperasi dan UMKM Propinsi Jawa tengah, Dinperindagkop dan UMKM Rembang serta Koperasi Pengrajin Batik Lasem, mendatangkan instruktur pengrajin batik asal Pekalongan dan Solo.
Kabid Pemberdayaan UMKM Dinas Koperasi Propinsi Jawa tengah, Herutomo saat ditemui usai membuka kegiatan menerangkan, pemprov Jateng saat ini fokus pada usaha mikro kecil dan menengah bidang batik dengan memberikan pelatihan mengembangkan desain baru dan teknik pewarnaan kain batik menggunakan bahan alami. “Dua hal tersebut sangat penting karena dianggap batik produk beberapa daerah stagnan pada model dan berwarna monoton menggunakan warna sintetis sehingga kurang laku dipasarkan luar negeri,” ungkapnya.
Sementara itu Kepala Dinperindagkop Rembang, Waluyo ditemui terpisah menyebutkan, dengan adanya pengembangan desain baru bukan berarti ciri khas batik Lasem hilang, justru diperkaya dengan tambahan motif lain sehingga bisa lebih diterima pasar. “Batik Lasem berciri warna 3 negeri yakni merah, hijau dan biru, harus dikembangkan dengan tambahan warna lain sesuai tambahan motif yang diberikan. Khususnya menggunakan bahan pewarna alami, agar bernilai jual lebih tinggi,” ucapnya.
Sementara itu Hanafi, instruktur pelatihan asal Pekalongan ketika ditanya mengapa cenderung kembali ke bahan alami untuk pewarnan batik mengatakan, jaman nenek moyang dahulu seudah ada batik dan saat itu yang digunakan untuk mewarnai adalah bahan yang diambil dari alam. “Ternyata hingga kain batik berusia ratusan tahun warnanya tidak rusak atau kusam. Itulah mengapa kami ingin kembali menggunakan bahan pewarna alami,” tuturnya.
Ditambahkannya, pengetahuan dari nenek moyang terkait penggunaan bahan alami untuk mewarnai batik patut dilestarikan. “Ini juga sebagai perwujudan menjunjung tinggi semangat kembali pada kultur lama yang tergerus oleh kemajuan jaman, dimana bahan sintetis justru lebih menjadi pilihan utama untuk mewarnai batik,” ungpanya.
Masih kata Hanafi, indigo bahan pewarna biru ubtuk batik sebenarnya ratusan tahun silam merupakan salah satu bahan pewarna tekstil mahal di dunia. Oleh karena itu saat VOC melakukan tanam paksa, salah satu yang disuruh ditanam yakni tanaman perdu yang menghasilkan warna indigo.
“Kegiatan ini sekalgus mengenang bahwa ‘keringat biru’ para leluhur telah membuat penjajah kaya dan mengapa bukan sekarang saja giliran kita yang menikmatinya,” imbuh Hanafi sambil bercanda.
Kabid Pemberdayaan UMKM Dinas Koperasi Propinsi Jawa tengah, Herutomo saat ditemui usai membuka kegiatan menerangkan, pemprov Jateng saat ini fokus pada usaha mikro kecil dan menengah bidang batik dengan memberikan pelatihan mengembangkan desain baru dan teknik pewarnaan kain batik menggunakan bahan alami. “Dua hal tersebut sangat penting karena dianggap batik produk beberapa daerah stagnan pada model dan berwarna monoton menggunakan warna sintetis sehingga kurang laku dipasarkan luar negeri,” ungkapnya.
Sementara itu Kepala Dinperindagkop Rembang, Waluyo ditemui terpisah menyebutkan, dengan adanya pengembangan desain baru bukan berarti ciri khas batik Lasem hilang, justru diperkaya dengan tambahan motif lain sehingga bisa lebih diterima pasar. “Batik Lasem berciri warna 3 negeri yakni merah, hijau dan biru, harus dikembangkan dengan tambahan warna lain sesuai tambahan motif yang diberikan. Khususnya menggunakan bahan pewarna alami, agar bernilai jual lebih tinggi,” ucapnya.
Sementara itu Hanafi, instruktur pelatihan asal Pekalongan ketika ditanya mengapa cenderung kembali ke bahan alami untuk pewarnan batik mengatakan, jaman nenek moyang dahulu seudah ada batik dan saat itu yang digunakan untuk mewarnai adalah bahan yang diambil dari alam. “Ternyata hingga kain batik berusia ratusan tahun warnanya tidak rusak atau kusam. Itulah mengapa kami ingin kembali menggunakan bahan pewarna alami,” tuturnya.
Ditambahkannya, pengetahuan dari nenek moyang terkait penggunaan bahan alami untuk mewarnai batik patut dilestarikan. “Ini juga sebagai perwujudan menjunjung tinggi semangat kembali pada kultur lama yang tergerus oleh kemajuan jaman, dimana bahan sintetis justru lebih menjadi pilihan utama untuk mewarnai batik,” ungpanya.
Masih kata Hanafi, indigo bahan pewarna biru ubtuk batik sebenarnya ratusan tahun silam merupakan salah satu bahan pewarna tekstil mahal di dunia. Oleh karena itu saat VOC melakukan tanam paksa, salah satu yang disuruh ditanam yakni tanaman perdu yang menghasilkan warna indigo.
“Kegiatan ini sekalgus mengenang bahwa ‘keringat biru’ para leluhur telah membuat penjajah kaya dan mengapa bukan sekarang saja giliran kita yang menikmatinya,” imbuh Hanafi sambil bercanda.
Trend milliki kapal kayu meningkat, galangan kapal sarang diuntungkan
Trend orang kaya luar negeri memilki kapal berbahan kayu jati (teak boat) berimbas menguntungkan kepada sejumlah galangan kapal. Seperti halnya UD Jati Pagar Nusa desa Kalipang kecamatan Sarang milik Rasnadi. Dua tahun terakhir ini teak boat telah menembus pasar Korea Selatan dan Belanda, dibeli seharga 4.000-10.000 dollar AS setara Rp 37,6 juta - Rp 94 juta
Menurut Rasnadi, kolektor kapal tradisional Korea Selatan telah membeli perahu tradisional nelayan Rembang, Lolope, seharga 6.000 dollar AS. Kapal murni terbuat dari kayu jati itu berukuran panjang 7,3 meter, lebar 1,5 meter dengan ketinggian 0,5 meter. Sementara kapal pesiar mini atau pleasure boat pesanan pebisnis asal Korea Selatan lainnya namun berbahan kayu mahoni panjang 7 meter, lebar 2,3 meter, dan tinggi 1 meter dibeli 10.000 dollar Amerika
Pihaknya juga tengah mengadakan negosiasi dengan pengusaha Belanda yang memesan dek kapal pesiar mini senilai 4.000 dollar AS, sudah masuk ranah konsultasi desain.
Rasnadi menambahkan, mulai tahun depan akan menjajaki pasar Australia. Pihaknya saat ini berusaha menembus kendala yakni nama UD Jati Pagar Nusa yang belum tenar dan belum menemukan relasi yang mampu diajak bekerja sama di Australia. Pihaknya juga telah menggandeng sejumlah konsultan desain kapal karena pembeli kapal asal luar negeri selalu mengutamakan kesempurnaan desain kapal yang dipesan.
Sementara itu menurut staf laboratorium desain Jurusan Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Sukisno ang dipercaya sebagai konsultan oleh UD Jati Pagar Nusa, teak boat Indonesia tergolong prospektif. ”Sebab, selama ini pasar perkapalan didominasi kapal-kapal berbahan baku aluminium dan fiber,” ujarnya.
Dia menyarankan agar pengusaha galangan kapal di Indonesia terus menjajaki pasar perkapalan luar negeri, tetapi dipersiapkan juga konsultan desain kapal karena pembeli kapal asal luar negeri selalu mengonsultasikan desain kapal.
Menurut Rasnadi, kolektor kapal tradisional Korea Selatan telah membeli perahu tradisional nelayan Rembang, Lolope, seharga 6.000 dollar AS. Kapal murni terbuat dari kayu jati itu berukuran panjang 7,3 meter, lebar 1,5 meter dengan ketinggian 0,5 meter. Sementara kapal pesiar mini atau pleasure boat pesanan pebisnis asal Korea Selatan lainnya namun berbahan kayu mahoni panjang 7 meter, lebar 2,3 meter, dan tinggi 1 meter dibeli 10.000 dollar Amerika
Pihaknya juga tengah mengadakan negosiasi dengan pengusaha Belanda yang memesan dek kapal pesiar mini senilai 4.000 dollar AS, sudah masuk ranah konsultasi desain.
Rasnadi menambahkan, mulai tahun depan akan menjajaki pasar Australia. Pihaknya saat ini berusaha menembus kendala yakni nama UD Jati Pagar Nusa yang belum tenar dan belum menemukan relasi yang mampu diajak bekerja sama di Australia. Pihaknya juga telah menggandeng sejumlah konsultan desain kapal karena pembeli kapal asal luar negeri selalu mengutamakan kesempurnaan desain kapal yang dipesan.
Sementara itu menurut staf laboratorium desain Jurusan Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Sukisno ang dipercaya sebagai konsultan oleh UD Jati Pagar Nusa, teak boat Indonesia tergolong prospektif. ”Sebab, selama ini pasar perkapalan didominasi kapal-kapal berbahan baku aluminium dan fiber,” ujarnya.
Dia menyarankan agar pengusaha galangan kapal di Indonesia terus menjajaki pasar perkapalan luar negeri, tetapi dipersiapkan juga konsultan desain kapal karena pembeli kapal asal luar negeri selalu mengonsultasikan desain kapal.
Atasi persaingan tak sehat, pengrajin kuningan gandeng sejumlah intansi

Pengrajin berbahan kuningan saat ini mengeluh dengan persaingan pasar yang tidak kondusif. Pasalnya hasil produksi kerajinan kuningan berupa miniatur sepeda banyak yang dibajak diperjual belikan dengan harga dibawah standar, sehingga menyebabkan omzet merosot cukup tajam. Keluhan tersebut disampaikan Hasyim, pemilik UD Permadi di desa Pohlandak, kecamatan Pancur, pusat kerajinan miniatur sepeda berbahan kuningan.
Namun dengan kondisi tersebut Hasyim menyatakan tidak putus asa, pihaknya telah mengambil berbagai terobosan termasuk melakukan penawaran ke sejumlah instansi. Hasilnya PT Kantor Pos Jateng pada bulan Nopember memesan 100 unit miniatur sepeda pos kuno lengkap dengan aksesoris boneka tukang pos.
rambah Belanda dan Inggris
Sedangkan untuk mensiasati pasar lokal yang menginginkan produk miniatur berharga murah, pihaknya terpaksa mengganti bahan baku dari kuningan dengan besi bekas. Permintaan pasar lokal per minggu mencapai 100 unit, turun dari semula 200 unit.
UD Permadi sedniri lebih fokuskan di pasar lokal di luar Rembang mengingat pesaing juga semakin bertambah banyak dan melakukan kasi banting harga.
“Produk serupa berupa miantur sepeda onthel nikinan kami dibandrol Rp 80 – 200 ribu, kompetitor menurunkan harga hingga 60 persennya,” ucap Hasyim dengan gemas.
Untuk pasar ekspor ke Inggris dan Belanda sendiri menurut Hasyim cukup stabil. Masing-masing ngara memesan 50 unit per minggu, namun kami belum merasakan penuh keuntungannya karena masih melalui perantara.
Sejauh ini produksi kerajinan miniaturnya berjumlah 13 varian, 9 berbentuk sepeda ontel kuno, 2 sepeda sport modern, becak dan andong.
Secara terpisah, Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (Dinperindagkop dan UMKM) Rembang, Sudirman, mengatakan, pemerintah sedang mengupayakan para pengrajin besi dan kuningan agar mempunyai daya saing dengan pengusaha-pengusaha daerah lain. Salah satu caranya adalah mendorong perajin membuat produk baru berupa miniatur perahu khas Rembang atau perahu tradisional yang digunakan nelayan Rembang pada zaman Majapahit. ”Sayangnya, mereka belum mau mengembangkan miniatur baru karena takut tidak laku,” ujarnya.
Sabtu, 28 November 2009
Meniru Gaya Minimarket, Kenapa Tidak?
Tahun 2009 ini mungkin tahun yang pahit bagi bisnis toko kelontong atau peritel di kampong-kampung. Sejak merebaknya minimarket yang menyebar di jalur-jalur strategis di segala penjuru kota Rembang, mau tidak mau membuat pelanggan toko kelontong di kampong-kampung menjadi berkurang pelanggannya.
Perilaku masyarakat terhadap belanja yang sifatnya konsumtif memang tidak bisa diduga. Jauh-jauh sudah akrab dengan toko kelontong yang berbaur di masyarakat bisa dengan diam-diam ‘ditelikung’ untuk ‘menjajal’ belanja di minimarket. Sikap seperti ini memang tidak salah. Watak manusia yang selalu ingin mencoba-coba tidak bisa dipungkiri lagi. Dan psikologi seperti ini sudah dipahami betul dengan peritel yang bergerak ala minimarket yang tidak bisa disebutkan namanya disini. Maka jangan heran, begitu peritel ala franschise ini berdiri, dengan gencarnya menyebarkan brosur-brosur yang berisi produk dengan harga yang terbilang miring, atau setidaknya sama dengan yang ada di kampong-kampung plus hadiah menarik. Menggenjor hadiah ini tidak hanya sekali dua kali. Setiap moment penting terutama berbau keagamaan akan selalu dibarengi dengan iming-iming hadiah. Entah itu hari raya Idul Fitri atau Natalan.
Yang membuat pelanggan balik lagi tidak semata ketika ada iming-iming itu. Ada factor kenyamanan yang secara diam-diam mengambil hati pelanggan. Hal inilah yang terus akan diingat oleh pelanggan. Kenapa mereka nyaman? Bisa jadi karena mereka jarang balik karena barang yang dibutuhkan selalu tersedia. Minimarket buka paling pagi dan tutup paling malam sehingga di hati pelanggan selalu memikat. Penataan ruangan yang apik dan teratur. Lampu penerangan yang memadai dan tidak bikin mata sepat. Kebersihan yang selalu dijaga. Tempat parker yang cukup, dll.
Harapannya adalah, begitu masyarakat yang mulai mencoba-coba ini merasa cocok, maka secara tidak sadar untuk mengulang. Jika pengulangan itu berkali-kali, jadilah pelanggan setia. Akibatnya toko-toko milik saudaranya di kampong terpaksa gigit jari.
Marah dengan maraknya peritel kaya dari ibukota tentunya tidaklah bijak. Bagaimana jika ditiru saja gaya dan penampilan mereka? Siapa tahu ada gunanya. Dibawah ini kurang lebihnya keunggulan minimarket yang sedikit banyak bisa ditiru.
1. Lengkap. Tampaknya saran ini mudah namun tidak semua orang bisa. Untuk bisa lengkap seperti minimarket yang modalnya raksasa tentu tidak mudah. Namun setidaknya lengkap disini menurut kadar kemampuan dan disesuaikan dengan lingkungan. Lingkungan kampung kenapa gula mesti tidak tersedia karena alasan habis? Buatlah warga sekitar toko kebutuhannya tercukupi. Misalnya beras, gula, minyak goreng, minyak tanah (sekarang elpiji), minyak kayu putih, bedak bayi, jajan anak-anak, dan lain-lain. Kiranya toko lebih tahu akan kebutuhan lingkungannya
2. Praktis. Kepraktisan disini barometernya adalah pelanggan bukan pemilik toko. Kemasan gula 1 kg mungkin lebih praktis daripada mengemasi ¼ kg. Tapi bagaimana jika pelanggan menghendaki yang ¼, bukan yang 1 Kg? Toko yang malas mengemasi gula kecil-kecil cenderung dijauhi pelanggan. Andaikan ada dua toko, yang satu dekat tapi malas sehingga hanya mengemasi 1 kg gula, sedangkan toko yang agak jauh siap dengan gula ¼ kg. Bisa dipastikan pelanggan lebih senang yang lebih jauh tapi siap dengan kemasan kecil. Begitu pula dengan minyak goreng. Praktisnya dikemasi dulu, dari yang ukuran besar hingga kecil. Demikian pula dengan barang-barang yang lain. Di minimarket, hampir tidak ada barang yang ketika membeli mesti harus nimbang dulu.
3. Penataan yang baik. Penataan di minimarket biasanya dengan lajur yang mudah untuk lewat dan memilih barang. Terkadang kita mendapati toko tetangga dengan penataan yang malang melintang dan semrawut.
4. Selalu buka. Manajemen pemasaran dimanapun selalu menekankan yang satu ini. Jangan sampai pelanggan menjadikan toko langganannya kadang ada kadang tidak karena sering tutup. Atau buka kesiangan, tutup lebih cepat. Jika ada pilihan, pelanggan akan mudah lari karena jengah dan kecewa.
5. Pelayanan yang baik. Pemilik toko yang ogah-ogahan melayani pelanggan jadi pemicu yang paling tidak menyenangkan bagi pelanggan untuk mau kembali lagi. Pelanggan bisa kapok dengan sikap yang tidak ‘nguwongke’ ini.
6. Penerangan memadai. Penerangan bisa mempengaruhi suasana hati pelanggan. Jika terang benderang suasana pemilik toko dan pelanggan terang, biasanya suasana hati bisa menjadi terang dan senang. Kesan gelap dari pertama masuk, menjadikan pelanggan hatinya sumpek karena sudah merasa tidak nyaman dari awal.
7. Tempat parkir yang memadai. Hampir tidak ada minimarket yang tidak menyediakan parkir luas, gratis pula. Parkir yang sempit, apalagi di jalan trotoar yang membayar menjadikan harga barang yang dibeli menjadi lebih mahal. Karena ada tambahan ongkos parkir. Parkir gratis walaupun hanya beberapa rupiah menjadi pertimbangan tersendiri bagi pelanggan, karena ini menyangkut kenyamanan.
Masih banyak sebenarnya pelajaran yang bisa diambil dari minimarket. Silahkan cari sendiri.
Perilaku masyarakat terhadap belanja yang sifatnya konsumtif memang tidak bisa diduga. Jauh-jauh sudah akrab dengan toko kelontong yang berbaur di masyarakat bisa dengan diam-diam ‘ditelikung’ untuk ‘menjajal’ belanja di minimarket. Sikap seperti ini memang tidak salah. Watak manusia yang selalu ingin mencoba-coba tidak bisa dipungkiri lagi. Dan psikologi seperti ini sudah dipahami betul dengan peritel yang bergerak ala minimarket yang tidak bisa disebutkan namanya disini. Maka jangan heran, begitu peritel ala franschise ini berdiri, dengan gencarnya menyebarkan brosur-brosur yang berisi produk dengan harga yang terbilang miring, atau setidaknya sama dengan yang ada di kampong-kampung plus hadiah menarik. Menggenjor hadiah ini tidak hanya sekali dua kali. Setiap moment penting terutama berbau keagamaan akan selalu dibarengi dengan iming-iming hadiah. Entah itu hari raya Idul Fitri atau Natalan.
Yang membuat pelanggan balik lagi tidak semata ketika ada iming-iming itu. Ada factor kenyamanan yang secara diam-diam mengambil hati pelanggan. Hal inilah yang terus akan diingat oleh pelanggan. Kenapa mereka nyaman? Bisa jadi karena mereka jarang balik karena barang yang dibutuhkan selalu tersedia. Minimarket buka paling pagi dan tutup paling malam sehingga di hati pelanggan selalu memikat. Penataan ruangan yang apik dan teratur. Lampu penerangan yang memadai dan tidak bikin mata sepat. Kebersihan yang selalu dijaga. Tempat parker yang cukup, dll.
Harapannya adalah, begitu masyarakat yang mulai mencoba-coba ini merasa cocok, maka secara tidak sadar untuk mengulang. Jika pengulangan itu berkali-kali, jadilah pelanggan setia. Akibatnya toko-toko milik saudaranya di kampong terpaksa gigit jari.
Marah dengan maraknya peritel kaya dari ibukota tentunya tidaklah bijak. Bagaimana jika ditiru saja gaya dan penampilan mereka? Siapa tahu ada gunanya. Dibawah ini kurang lebihnya keunggulan minimarket yang sedikit banyak bisa ditiru.
1. Lengkap. Tampaknya saran ini mudah namun tidak semua orang bisa. Untuk bisa lengkap seperti minimarket yang modalnya raksasa tentu tidak mudah. Namun setidaknya lengkap disini menurut kadar kemampuan dan disesuaikan dengan lingkungan. Lingkungan kampung kenapa gula mesti tidak tersedia karena alasan habis? Buatlah warga sekitar toko kebutuhannya tercukupi. Misalnya beras, gula, minyak goreng, minyak tanah (sekarang elpiji), minyak kayu putih, bedak bayi, jajan anak-anak, dan lain-lain. Kiranya toko lebih tahu akan kebutuhan lingkungannya
2. Praktis. Kepraktisan disini barometernya adalah pelanggan bukan pemilik toko. Kemasan gula 1 kg mungkin lebih praktis daripada mengemasi ¼ kg. Tapi bagaimana jika pelanggan menghendaki yang ¼, bukan yang 1 Kg? Toko yang malas mengemasi gula kecil-kecil cenderung dijauhi pelanggan. Andaikan ada dua toko, yang satu dekat tapi malas sehingga hanya mengemasi 1 kg gula, sedangkan toko yang agak jauh siap dengan gula ¼ kg. Bisa dipastikan pelanggan lebih senang yang lebih jauh tapi siap dengan kemasan kecil. Begitu pula dengan minyak goreng. Praktisnya dikemasi dulu, dari yang ukuran besar hingga kecil. Demikian pula dengan barang-barang yang lain. Di minimarket, hampir tidak ada barang yang ketika membeli mesti harus nimbang dulu.
3. Penataan yang baik. Penataan di minimarket biasanya dengan lajur yang mudah untuk lewat dan memilih barang. Terkadang kita mendapati toko tetangga dengan penataan yang malang melintang dan semrawut.
4. Selalu buka. Manajemen pemasaran dimanapun selalu menekankan yang satu ini. Jangan sampai pelanggan menjadikan toko langganannya kadang ada kadang tidak karena sering tutup. Atau buka kesiangan, tutup lebih cepat. Jika ada pilihan, pelanggan akan mudah lari karena jengah dan kecewa.
5. Pelayanan yang baik. Pemilik toko yang ogah-ogahan melayani pelanggan jadi pemicu yang paling tidak menyenangkan bagi pelanggan untuk mau kembali lagi. Pelanggan bisa kapok dengan sikap yang tidak ‘nguwongke’ ini.
6. Penerangan memadai. Penerangan bisa mempengaruhi suasana hati pelanggan. Jika terang benderang suasana pemilik toko dan pelanggan terang, biasanya suasana hati bisa menjadi terang dan senang. Kesan gelap dari pertama masuk, menjadikan pelanggan hatinya sumpek karena sudah merasa tidak nyaman dari awal.
7. Tempat parkir yang memadai. Hampir tidak ada minimarket yang tidak menyediakan parkir luas, gratis pula. Parkir yang sempit, apalagi di jalan trotoar yang membayar menjadikan harga barang yang dibeli menjadi lebih mahal. Karena ada tambahan ongkos parkir. Parkir gratis walaupun hanya beberapa rupiah menjadi pertimbangan tersendiri bagi pelanggan, karena ini menyangkut kenyamanan.
Masih banyak sebenarnya pelajaran yang bisa diambil dari minimarket. Silahkan cari sendiri.
2010 Perbankan Daerah Harus Bebas Kasus Hukum
Memberikan sambutan dan pengarahan pada acara halal bihalal keluarga besar PD BPR.BKK Lasem dan PD BKK se-kabupaten Rembang, Sabtu (9/9)/ di Sanggar Budaya, Bupati Rembang, H Moch Salim menegaskan, tahun 2010 mendatang pemkab Rembang tidak ingin ada lagi kasus hukum menimpa perbankan milik pemerintah daerah, khususnya penyelewengan yang dilakukan internal perusahaan.
Menurut Bupati Rembang, pembinan sumber daya manusia harus terus dilakukan di semua lini dan bidang yang ada di lingkungan perusahaan perbankan milik pemerintah daerah. Seluruh divisi harus profesional harus bekerja secra prosedural. “Kurun waktu dua tahun terakhir masih saja ada pegawai PD BPR.BKK Lasem yang terjerat kasus hukum, khsusunya korupsi. Saya ingin tahun depan sudah harus tidak ada lagi,”tegasnya.
Terpisah Direktur Utama PD BPR.BKK Lasem H Sutarjo SE MM saat disinggung penanganan kredit macet yang melibatkan pihak Kejakssaan Negeri Rembang dalam upaya penagihan kredit macet menerangkan, sampai saat ini hasilnya kurang maksimal karena diketahui dari pinjaman yang dilakukan ternyata tanpa agunan. “Sehingga sulit kejaksaan melakukan upaya hukum atas kredit macet yang terjadi. Dikemudian hari diketahui ada penyelewengan oleh pegawaui kami, menyalurkan kredit tanpa agunan,”terangnya.
Ditambahkan oleh H Sutarjo, dari target laba bersih yang dipatok pemkab Rembang sebesar hampir Rp 9 milyar, sampai September sudah tercapai Rp 6 milyar. Pihaknya optimis sampai tutup buku akhir tahun kekurangan Rp 3 milyar dapat tercapai. Adapun untuk kredit macet yang dialami perusahaan perbankan daerah yang dipimpinnya sekitar 6,2 %, masih di atas ambang batas dari Bank Indonesia yakni sebesar 5 %.
“Sampai akhir tahun nanti kami terus melakukan upaya penagihan kredit macet agar dapat memenuhi kekurangan target laba yang dibebankan,”tambahnya.
Menurut Bupati Rembang, pembinan sumber daya manusia harus terus dilakukan di semua lini dan bidang yang ada di lingkungan perusahaan perbankan milik pemerintah daerah. Seluruh divisi harus profesional harus bekerja secra prosedural. “Kurun waktu dua tahun terakhir masih saja ada pegawai PD BPR.BKK Lasem yang terjerat kasus hukum, khsusunya korupsi. Saya ingin tahun depan sudah harus tidak ada lagi,”tegasnya.
Terpisah Direktur Utama PD BPR.BKK Lasem H Sutarjo SE MM saat disinggung penanganan kredit macet yang melibatkan pihak Kejakssaan Negeri Rembang dalam upaya penagihan kredit macet menerangkan, sampai saat ini hasilnya kurang maksimal karena diketahui dari pinjaman yang dilakukan ternyata tanpa agunan. “Sehingga sulit kejaksaan melakukan upaya hukum atas kredit macet yang terjadi. Dikemudian hari diketahui ada penyelewengan oleh pegawaui kami, menyalurkan kredit tanpa agunan,”terangnya.
Ditambahkan oleh H Sutarjo, dari target laba bersih yang dipatok pemkab Rembang sebesar hampir Rp 9 milyar, sampai September sudah tercapai Rp 6 milyar. Pihaknya optimis sampai tutup buku akhir tahun kekurangan Rp 3 milyar dapat tercapai. Adapun untuk kredit macet yang dialami perusahaan perbankan daerah yang dipimpinnya sekitar 6,2 %, masih di atas ambang batas dari Bank Indonesia yakni sebesar 5 %.
“Sampai akhir tahun nanti kami terus melakukan upaya penagihan kredit macet agar dapat memenuhi kekurangan target laba yang dibebankan,”tambahnya.
Kesadaran Inseminasi Buatan Tinggi, Populasi Sapi Meningkat
Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) kecamatan Sedan, Subiyanto menerangkan, tumbuhnya kesadaran pemilik ternak sapi di daerah binaannya untuk melakukan inseminasi buatan (IB) makin meningkat kurun waktu 3 tahun terakhir. Hasilnya, populasi sapi di kecamatan Sedan meningkat signifikan.
Disebutkan oleh Subiyanto, tiga tahun lalu permintaan dari seluruh pemilik ternak sapi melakukan IB hanya sekitar 30 kali per bulan, namun tahun ini mencapai 200 permintaan per bulannya. Hal tersebut berdampak jumlah populasi sapi meningkat dari 5.000 ekor di tahun 2007-sekarang mencapai 7.000 ekor. “Animo jenis pilihan bibit unggul Limosin dan Simental, terangnya.
Menurut Subiyanto, tingginya keinginan masyarakat melakukan IB didasari kebutuhan pupuk kandang untuk tanaman jagung di lahan mereka. Per hektar per tahun pemuilik lahan pertanian membutuhkan 24 ton pupuk kandang, dimana sekitar 60 % harus didatangkan dari luar. “Sekarang, hampir 80 % kebutuhan pupuk kandang terpenuhi dari bertambahnya populasi sapi di kecamatan Sedan,”cetusnya.
Ditambahkan Subiyanto, pendapatan warga kecamatan Sedan kurun waktu setahun terakhir meningkat seiring berkurangnya biaya pembelian pupuk kandang. Sedangkan anakan sapi hasil IB saat berusia 4 - 5 bulan sudah layak jual di pasaran dihahargai antara Rp 4 - 5 juta. “Biaya melakukan IB sebesar Rp 35 ribu, biaya merawat hingga usia jual kurabng dari Rp 1 juta, pemilik sapi meraup untung jutaan rupiah,”imbuhnya.
Disebutkan oleh Subiyanto, tiga tahun lalu permintaan dari seluruh pemilik ternak sapi melakukan IB hanya sekitar 30 kali per bulan, namun tahun ini mencapai 200 permintaan per bulannya. Hal tersebut berdampak jumlah populasi sapi meningkat dari 5.000 ekor di tahun 2007-sekarang mencapai 7.000 ekor. “Animo jenis pilihan bibit unggul Limosin dan Simental, terangnya.
Menurut Subiyanto, tingginya keinginan masyarakat melakukan IB didasari kebutuhan pupuk kandang untuk tanaman jagung di lahan mereka. Per hektar per tahun pemuilik lahan pertanian membutuhkan 24 ton pupuk kandang, dimana sekitar 60 % harus didatangkan dari luar. “Sekarang, hampir 80 % kebutuhan pupuk kandang terpenuhi dari bertambahnya populasi sapi di kecamatan Sedan,”cetusnya.
Ditambahkan Subiyanto, pendapatan warga kecamatan Sedan kurun waktu setahun terakhir meningkat seiring berkurangnya biaya pembelian pupuk kandang. Sedangkan anakan sapi hasil IB saat berusia 4 - 5 bulan sudah layak jual di pasaran dihahargai antara Rp 4 - 5 juta. “Biaya melakukan IB sebesar Rp 35 ribu, biaya merawat hingga usia jual kurabng dari Rp 1 juta, pemilik sapi meraup untung jutaan rupiah,”imbuhnya.
Gaplek Zebra dari Pamotan

“Memanfaatkan Lahan Tidur Untuk Menggugah Pola Pikir Yang Tidur”
Judul di atas sengaja penulis pilih sebagai penghargan kepada sosok yang di usia tergolong muda mampu mendiri, bahkan melibatkan puluhan warga sekitar menjadi tenaga kerja ikut mengelola usahanya yang mungkin di mata orang lain terlihat sepele, membudidayakan ketela pohon untuk diproduksi menjadi gaplek. Filosofinya memanfaatkan ‘lahan tidur’ ternyata mampu menggugah pola pikir masyarakat yang ternyata selama ini ikut ‘tertidur’.
Abdullah Zamzami, anak kedua pasangan Yahya dan Kowasi’ah, warga desa Bangunrejo, kecamatan Pamotan, semula juga tidak akan menyangka apabila rasa ingin tahunya yang berlebihan semenjak kecil justru memberikan arti bagi kehidupannya sekarang. Ketika setahun silam Zam (nama panggilannya) usai lepas SMA sering bertanya kesana kemari seputar apa yang buisa dikerajakan sesuai kemampuannya bidang pertanian yang diwarisinya dari orang tuanya.
Saat pabrik gula mini milik pemkab Rembang dikunjungi dirjen pertanian setahun silam, dia mendengar bahwa di pabrik tersebut juga akan mengembangkan bio etanol berbahan baku ketela pohon. Terbetiklah pikiran dia akan membudidayakan ketela pohon untuk memasok kebutuhan pabrik. Teman-temanya yang tinggal di Pati, selama ini telah terjun budidaya ketela pohon segera dikontak, diajak berdiskusi atas keinginannya menanam ketela pohon.
Dari pembicaraan dengan beberapa teman akhuirnya mereka sepakat membudidayakan tanaman berumbi tersebut, hanya saja giliran kini mereka bingung karena tidak memilki lahan sendiri. Sam-pun lantas hunting lokasi untuk media tanam. Akhirnya dari beberapa informasi yang diterimanya, bahwa banyak lahan kawasan KPH Kebonharjo yang belum dimanfaatkan. Akhirnya muncul keberaniannya mendatangi Adm KPH Mantingan, mengajukan proposal sewa pakai lahan untuk budidaya tanaman ketela.
Adm KPH Mantingan, Ibrahim yang menjabat waktu itu, begitu mengetahui gigihnya semangat seorang pemuda berusia 20 tahun, segera meluluskan proposal, dilanjutkan pembahasan seputar sewa lahan. Akhirnya disepakati harga sewa Rp 200 ribu/hektar untuk masa tanam 3 kali. Total lahan yang disewa pinjam untuk media tanam seluas 50 hektar lebih, berada di kawasan Lodan kecamatan Sarang.
Zam lantas mengumpulkan teman-temannya membicarakan masalah permodalan. Hasil pertemuan akhirnya dipastikan mereka ber-6 secara patungan mngumpulkan dana masing-masing tiotal mencapai Rp 225 juta. Pada kesempatan tersebut juga dibahas pembaguian keuntungan disesuaikan proporsi modal yang digabung.
Januari 2009, saat para kawula muda tidur lelap usai menghabiskan malam panjang memperingati tahun baru, Zam dan 5 rekan serta puluhan tenaga kerja pria dari desa sekitar Lodan mulai menggarap area yang akan digunakan menanam ketela pohon. Sekitar seminggu bekerja keras akhirnya lahan siap ditanami. Masih mengajak warga sekitar mulailah mereka beramai-ramai menanam ketela pohon.
Diterangkan oleh pemuda yang kini duduk di semester 3 jurusan Manajemen Industri STIE YYPI Rembang itu, masa tanam berkisar 8 bulan. “Terhitung kita menanam pada bulan januari, maka panen dilakukan bulan Agustus,”jelasnya.
Berbinar-binar mata Zam dan 5 rekannya saat masuk bulan Agustus. Dari sampling satu hektar saat panen, diketahui diperoleh 18 ton. Sdengkan total biaya yang dikeluarkan per hektar mulai menggarap, merawat, memupuk hingga tenaga panen serta angkut sudah mereka perhitungkan mencapai Rp 6,5 juta. “Keuntungan membayang di depan mata kami,”ujarnya.
Namun apa mau dikata, proyek bio etanol ternyata tertunda sehingga akhirnya mereka kelimpungan mencari calon pembeli. Bahkan yang menyesakkan dada, harga pasaran ketela pohon setahun silam Rp 1000/kg ternyata saat mereka panen anjlok hanya berkisar Rp 400. “ini jelas membuat kami kelimpungan,”ucap Zam dengan nada sedih.
Beruntung dari salah satu kenalan mereka akhirnya dipertemukan dengan salah satu pengusaha exportir gaplek dari Surabaya, Jawa timur. Hanya saja pengusaha tersebut bersedias membeli apabila ketela berwujud irisan/rajangan tanpa membuang kulit. “Pengusaha yang nama dan perusahaannya minta dirahsaiakan itu sanggup membeli berapapun banyaknya gaplek zebra (istilah si pengusaha menyebut gaplek berkulit-red). Harganyapun cukup menggiurkan dibeli Rp 1.000 per kilonya,”cetus Zam.
Akhirnya permintaan tersebut dipenuhi dan dilanjutkan dibuat koontrak beli. Pengusaha mengikat perjanjian per bulan membeli 50 ton gaplek sesuai harga yang tercantum dalam surat perjanjian. Perubahan harga di pasaran bulan berikutnya juga disanggupi oleh si pengusaha agar ke-duanya tidak merasa rugi. “Ya apa boleh buat. Daripada terbuang sia-sia maka kami penuhi saja perjanjian kontrak itu. Penyusutan ketala pohon basah yang dirajang menjadi gaplek dan dikeringkan mencapai 30 %. Jadi dari 1 ton ketela pohon, saat menjadi gaplek sekitar 700 kilo saja,”ungka Zam.
Nasib baik berpihak pada mereka, ketika hasil panen ratusan ton terdengar para pemilik petrernakan yang kembali juga berasal dari Jawa timur. Mereka sanggup melakukan aksi borong ketela pohon, berapapun yang dipoanen. Zamzami dan 5 rekannya akhirnya menyatakan bersedia dengan catatan harga beli seharga Rp 700. Nampaknya permasalahn harga tidak diperhatikan oleh para pemilik peternakan, mereka menyanggupi bahkan juga membuat perjanjian mengikat kontrak pembelian. “Ini benar-benar anugerah yang kita bersama syukuri. Ternyata Allah memberikan jalan yang tak terduga. Semangat kami tumbuh lagi,”kilahnya.
Dari estimasi hasil penjualan gaplek dan ketela pohon, mereka ber-enam kemudian menyusun kembali perencanaan. Dari ingin menikmati seluruh hasil usaha yang sempat membuat mereka was-was, kemudian muncul ide memperluas arena budidaya ketela pohon pada musim tanam tahun depan. Selain keuntungan yang sudah tergambar akan diraup, mereka juga berpikir dengan menambah arena tanam tentu akan makin banyak melibatkan tenaga kerja, sehingga saat musim kemarau tiba banyak tenaga kerja yang terserap.
“Akhirnya kami memutuskan lanjutkan......Insya Allah tahun depan akan menambah lahan seluas 30 hektar. Selain berpikir keuntungan, kami juga ingin agar warga tidak kebingungan manakala musim kemarau tiba. Saat lahan pertanian kering, mereka bisa bekerja pada kami. Merawat, memanen dan merajang ketela pohon untuk dibuat gaplek,”ucap Zam tanpa nada menyombongkan diri.
Menutup petemuan, Zamzami didampingi orang tuanya menyebutkan prinsip hidup yang sejak kecil ditanamakan kepada dia dan 2 saudaranya. “Hidup mandiri, sebisa mungkin jangan bekerja pada orang lain karena kita justru harus mampu mengajak orag lain bekerja pada kita,”cetus Zamzami yang dibenarkan dua orang tuanya.
Keinginan luhur untuk membangkitkan pola pemikiran yang selama ini tidur, memanfaatkan lahan tidur, kini menjadi kenyataan. Kita tunggu saja apakah di Rembang akan muncul Zamzami lain yang di usia muda sudah mampu membawa nama tempat kelahirannya di percaturan dunia usaha skala menengah ke atas.
Minggu, 01 November 2009
Rembang Terima Alokasi PNPM-MP Rp 26,9 M
Rembang Terima Alokasi PNPM-MP Rp 26,9 M
Pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) tahun 2009, Kabupaten Rembang menerima alokasi sebanyak Rp.26,9 milyar untuk 12 kecamatan. Dengan rincian Rp 21,5 milyar bersumber dari DIPA-APBN, dan Rp 5,4 milyar bersumber dari APBD Kabupaten Rembang tahun 2009. Demikian dikatakan Bupati Rembang H Moch Salim dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Pemerintahan Supraja SH pada launching Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan Kabupaten Rembang 2009 baru-baru ini di pendopo Kabupaten.
Disebutkan, PNPM Mandiri mempunyai sinergitas dengan 4 pilar program strategis Kabupaten Rembang. Oleh karena itu pihaknya meminta, akselerasi pengentasan kemiskinan dan pengangguran dapat lebih memperoleh peluang untuk dapat diwujudkan, utamanya dengan adanya Gerakan Pengembangan Ekonomi Lokal (Gerbang Elok).
”Gerbang Elok memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat Rembang untuk dapat mengembangkan kewira-mitrausahaan dalam rangka meningkatkan produktifitasnya, sehingga akan mengurangi pengangguran,”sebut Supraja.
Lebih lanjut dibacakanoleh Supraja, sikap Pemkab Rembang terhadap kemiskinan dan pengangguran adalah tegas dan mempunyai komitmen yang tinggi. Yakni Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) adalah pedoman guna merancang berbagai program untuk saudara-saudara kita yang berada di bawah garis kemiskinan, dengan pendekatan pro-poor dalam merumuskan budgeting. ”Sehingga secara sistimatis angka penurunan kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten Rembang dapat turun secara signifikan,”ucapnya.
Sementara itu Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Prof Dr Singgih Tri Sulistyono MA pada kesempatan tersebut mengatakan, pendidikan kewirausahaan perlu diberikan kepada generasi muda sedini mungkin. Sebagaimana pendidikan etika, kewirausahaan tidak harus selalu diberikan dalam bentuk teoritik tetapi menginternalisasikan nilai-nilai kemandirian, keperwiraan, kewirausahaan dalam kehidupan.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala SKPD se-Kabupaten Rembang, Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Rembang, PJOK PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Rembang, UPK PNPM Mandiri Perdesaan dari Kecamatan Wonosalam Kab. Demak, Fasilitator PNPM serta tamu undangan.
Dinas Sosial Prop Jateng Kucurkan 2 Milyar Bagi KK Miskin di Kabupaten Rembang
Dinas Sosial Propinsi Jawa tengah pada Program Pemberdayaan fakir miskin (P2FM) di kabupaten Rembang tahun 2009 ini mengucurkan anggaran sebesar Rp 2 Milyar bagi 1.000 KK miskin. Semuanya merupakan wargamiskin yang tergabung dalam 100 kelompok usaha bersama (KUBE) di wilayah kecamatan Kaliori dan Bulu. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Rembang, Pandu Marhaendra Bhakti Prasetya pada acara pemantapan KUBE di balai desa Babadan kecamatan Kaliori belum lama ini.
Pandu menyebutkan, program P2FM merupakan upaya untuk mengentaskan masyarakat miskin dari keterpurukan ekonomi. Dana yang dibagikan bagi kelompok nantinyadiperuntukkan usaha ekonomi produktif seperti penggemukan sapi, peternakan sapi, maupun peternakan kambing. Pencairan Program P2FM kabupaten Rembang bagi 1000 KK di wilayah kecamatan kaliori dan Bulu rencananya akan dicairkan pada bulan Oktober mendatang. “Dana sifatnya bergulir, setelah dikelola satu kelompok, selanjutnya harus diberikan kepada kelompok KUBE lainnya,”kilahnya..
Sementara itu Kepala Seksi Pemberdayaan Dinas Sosial Propinsi Jawa Tengah Wibowoyang hadirpada kegiatan tersebut mengungkapkan, sebelumnya pada tahun 2008 kabupaten Rembang juga mendapatkan program pemberdayaan masyarakat miskin bagi 400 KK miskin di kecamatan Sulang dan kecamatan Sumber. Sehingga pada tahun ini diberikan pada dua kecamatan lain yang mempunyai warga miskin banyak yang memenuhi kriteria menerima bantuan yakni kecamatan Bulu dan Kaliori.
Bengkok Sekdes Harus Dikembalikan
Sekertaris Desa yang telah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil harus mengembalikan tanah bengkok. Ini mengacu pada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 900/1303/SJ tanggal 16 April 2009 Perihal Kedudukan Keuangan Kepala Desa dan Perangkat Desa di Seluruh Indonesia, dimana dinyatakan bahwa Sekretaris Desa ketika SK Pengangkatan menjadi PNS sudah diterima maka terhitung sejak Surat Perintah Melaksanakan Tugas (SPMT) secara otomatis penerimaan penghasilan tetap dari tanah bengkok diberhentikan. Demikan ditegaskan Sekretaris Daerah kabupaten Rembang, Hamzah Fatoni SH MKn.
Menurut Hamzah fatoni, pengembalian tanah bengkok bagi Sekdes PNS juga diatur dalam Peraturan Bupati Rembang Nomor 25 Tahun 2009. Keterangan ini juga sekaligus sebagai tanggapan pernyataan salah satu Sekdes di kecamatan Sulang, Budi Purwanto bahwa Perbup Nomor 25 terlalu dipaksakan dan diduga cacat hukum.
Hamzah Fatoni mengatakan, Perbup Nomor 25 Tahun 2009 tidak cacat hukum baik dilihat dari prosedur pembuatannya maupun substansinya. “Bagi yang meragukannya kami persilahkan menguji secara material Perbup yang dimaksud,”cetusnya.
Kepada beberapa Sekdes PNS yang belum bersedia mengembalikan tanah bengkok, Hamzah Fatoni menghimbau untuk segera mengembalikannya. Karena Sekdes PNS terikat dengan PP No 30 Tahun1980 Tentang Peraturan Disiplin PNS. “Mereka yang tidak mau mengembalikan bisa dikenai pasal pelanggaran disiplin PNS, namun diharapkan secara sadar mereka segera memenuhi ketentuan sehingga tidak ada dampak hukum,”tambahnya.
Selanjutnya status tanah bengkok tesebut menjadi kekayaan desa dan dikelola oleh Pemerintah Desa guna mendukung penyelenggaraan pemerintah desa.
Ratusan barang kadaluwarsa disita dan dimusnahkan
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, Tim gabungan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Dinas Kesehatan, Satuan Polisi pamong Praja, Badan Ketahanan Pangan dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) mulai tanggal 7 - 14 September melakukan operasi makanan dan minuman kadaluwarsa di sejumlah pertokoan dan pasar tradisional. Tim dibagi 3 kelompok, secara terjadwal mengadakan razia di tiap kecamatan sesuai dengan jadwal yang disusun.
Kepala DKK Rembang Sutedjo melalui Kabid Farmasi, Makanan dan Minuman Eni Hindarti menjelaskan, operasi rutin dilakukan oleh tim guna mengawasi peredaran makanan dan minuman kadaluwarsa yang masih tetap dijual menjelang hari raya iedul firtri. Menurutnya meski tiap tahun dilakukan razia nampaknya para pedagang masih tidak jera juga.
“Ini terbukti masih ditemukannya makanan dan minuman kadaluwarsa yang masih beredar di pasaran,”ungkapnya.
Eni menyebutkan, saat tim menemukan makanan kadaluwarsa hanya melsakukan tindakan persuasif. Pedagang diperingatkan, temuan barang kadaluwarsa disita atau dimusnahkan ditempat.
“Langkah ini diambil karena saat razia yang dilakukan tahun lalu barang sitaan dikembalikan ke distributor ternyata tidak dimusnahkan. Justru diganti kemasan baru diedarkan kembali, oleh karena itu tim terpaksa berlaku tegas, memusnahkan barang sitaan,”tukasnya. Ditambahkan oleh Eni, hingga operasi berakhir ditemukan ratusan makanan, minuman dan bahan pakan kadaluwarsa masih beredar di pasaran. Tentunya hal tersebut sangat membahayakan masyarakat yang kurang jeli dalam membeli produk-produk tersebut.
Pemudik berkurang, pendapatan kru Bus susut drastis
Jumlah pemudik tahun ini yang menumpang angkutan umum bus baik antar kota dalam propinsi (AKDP) maupun antar kota antar propinsi (AKAP) ternyata jauh berkurang dibanding tahun sebelumnya. Imbasnya, pengusaha bus menarik pulang armadanya yang terlanjur dikeluarkan karena sepinya penumpang.
Para kru bus sendiri mengeluhkan turunnya jumlah penumpang karena pendapatan yang diharapkan meningkat justru turun drastis. Seperti yang disebutkan Sugiarto, kru bus Sinar Mandiri Mulia Jurusan Surabaya-Semarang. Turunnya jumlah penumpang cukup signifikan, hingga 40 %.
“Ini saya perkirakan karena faktor kesulitan ekonomi, menyebabkan masyarakat banyak yang tidak mudik pada lebaran tahun ini,”ungkap Sugiarto.
Sementara itu, Kasturi dan Subiyanto staff Dinas Perhubungan di terminal Rembang menjelaskan, dari 38 unit bus AKDP-50 bus AKAP dan 55 bus pedesaan, yang masuk terminal Rembang, selama arus mudik dan balik ternyata tidak ada separuhnya.
“Interval antar bus pada hari biasa sekitar lima menit saat mudik dan balik mencapai 10 menit. Ini menjadikan penumpang menumpuk di terminal,”jelas mereka ber-dua..
”Lomban harus mendapat perhatian khusus”
Saat membuka kegiatan pesta tradisi kupatan di halaman Dampo Awang Beach Tempat Rekreasi Pantai Kartini (DABTRPK), Bupati Rembang H Moch Salim mengingatkan panitia penyelenggara agar serius mengelola kegiatan pesiar laut atau biasa disebut lomban. kegiatan wisata laut mengitari gugusan pulau karang di perairan Rembang tersebut penuh resiko dan rawan kecelakaan. “Sehingga harus diupayakan seminim mungkin adanya kecelakaan,”pesannya.
H Moch Salim selanjutnya menghimbau SKPD terkait agar ke depan tempat wisata yang selama ini mangkrak harus dioptimalkan. Dikelola secara serius menggandeng pihak ke-tiga dengan agenda kegiatan terjadwal.
“Sehingga menambah keaneka ragaman perayan tradisi kupatan yang digemari selain oleh warga Rembang sendiri juga dari luar kota,”sebutnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayan-Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Sadono, dalam laporannya antara lain menyampaikan sebagai antisipasi kepadatan pengunjung tradisi kupatan tahun ini pihaknya mengurangi jumlah kaveling hingga 50 % “Dibanding perayaan tahun lalu, dari 700-an menjadi 300 kapling baik yang berada di dalam dan halaman parkir DABTRPK serta jalan Kartini. Barang dagangan meliputi hasil kerajinan, produk UKM dan IKM, busana, jasa boga dan lainnya,”terangnya.
Usai membuka secara resmi tradisi kupatan, Bupati Rembang didampingi Muspida/ dan undangan lainnya berkeliling di DABTRPK, melihat stand dan menyapa beberapa penjual dan pembeli.
Tak tolerir keberadaan 3P
Selama berlangsungnya perayan tradisi kupatan, pengelola Dampo Awang Beach Taman Rekreasi Pantai Kartini (DABTRPK) berusaha membuat pengunjung merasa aman dan senyaman mungkin. Selain lokasi wisata terus diupayakan bersih, keberadaan pemabuk, pengemis dan pengamen (3P) juga tidak ditolerir.
Pengelola DABTRPK, Sriyono, menyebutkan untuk mengantisipasi lokasi wisata bebas dari 3P pihaknya menggandeng jajaran Kodim 0720/Rembang sebagai tim keamanan dan mengamankan perayaan tradisi kupatan. “Tim bertugas sejak DABTRPK buka hingga tutup,”sergahnya.
Terpisah, Komandan Kodim 0720/Rembang Letkol Inf. Djoko Nugroho menjelaskan, pihaknya telah menginstruksikan anak buahnya bila dalam menangani 3P menggunakan metode persuasif. “Diberi peringatan secara halus dan diupayakan menyingkir dari lokasi DABTRPK,”cetusnya.
Menurut Dandim Rembang, selama ini keberadaan 3P sering dikeluhkan pengunjung sehingga pada perayaan tradisi kupatan tahun ini mendapat perhatian serius dari pengelola DABTRPK. Karena seiring dengan bertambahnya wahana hiburan diharapkan menarik perhatian calon pengunjung datang ke lokasi wisata kebanggan warga Rembang.
“Sehingga pengunjung dapat menikmati aneka hiburan dengan rasa aman dan nyaman tanpa adanya gangguan dari para pengamen, pengemis dan pemabuk,tandasnya.
Puncak kupatan dihadiri puluhan ribu orang
Tradisi kupatan dan larung kapal sedekah laut kegiatan sedekah bumi desa Tasikagung dan sekitarnya seolah seperti magnet berkekuatan tinggi. Dalam hitungan jam mampu menyedot puluhan ribu orang datang ke DABTRPK dan pantai desa Tasikagung, menyaksikan agenda tahunan sepekan setelah berlangsungnya hari raya Iedul Fitri. Sesaat sebelum kapal berisi sesaji dilarung, dikirab menyusuri wilayah desa setempat.
Puluhan ribu orang berdiri berjejer di pinggir jalan desa dan jalan Diponegoro rute yang dilalui kirab kapal sesaji. Aneka atribut dan seni tradisonal ikut tampil menjadi hiburan tersendiri bagi warga Rembang dan sekitarnya yang sejak pagi mencari posisi ingin menyaksikan prosesi kirab dan larung kapal.
Sesaat sebelum melepas rombongan melakukan kirab, Bupati Rembang, H Moch Salim berpesan ke-depan nanti agar tradisi kupatan dan larung kapal sesaji menjadi icon wisata Rembang pasca perayaan hari raya Idul Fitri.
“Saya instruksikan Dinas Pariwisata dan Dinas Perikanan dan kelautan agar bekerja sama menata kawasan pesisir, memberdayakan pulau-pulau kecil sebagai wisata laut,”pesannya.
Khusus untuk sedekah laut dan bumi desa Tasik agung/ selain larung kapal sesaji/ panitia mengagendakan aneka hiburan secara gratis kepada warga Rembang, seperti keseniam tradisonal barongan dan reog, musik dangdut, lomba nyanyi karaoke serta lomba makan gratis berhadiah.
Terpisah, Kepala Desa Tasikagung, Supolo mengatakan tasyakuran sedekah laut dan bumi membuat para nelayan melupakan sejenak segala beban hidup, terutama untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. “Mereka ingin menunjukkan, susah atau senang, manusia harus tetap bersyukur,"katanya.
Menurut Supolo, biaya penyelenggaraan perayaan tahun ini sebesar Rp 340 juta, diperoleh dari bantuan sejumlah donatur dan uang yang mereka kumpulkan secara patungan, Rp 100.000/kapal setiap kali mendarat ke Pelabuhan Pendaratan Ikan Tasikagung.
Peraturan patungan tersebut dikhususkan bagi nelayan kapal tangkap ikan muatan besar, jenis cantrang, milik warga desa Tasikagung. “Saat ini, kapal yang dikelola sejumlah juragan tersebut berjumlah 85 unit,”jelasnya.
Ditambahkan oleh Supolo, biaya tasyakuran tahun ini lebih murah ketimbang biaya tasyakuran pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp 400 juta. Alasannya, jumlah uang patungan para nelayan lebih sedikit lantaran hasil tangkapan nelayan pada tahun ini turun.
"Pada 2008, satu kapal nelayan membawa pulang hampir 70 ton ikan per kapal. Namun, pada 2009, rata-rata hanya 60 ton ikan per kapal. Penyebabnya adalah nelayan terkendala surat izin melaut dan menangkap ikan, larangan menggunakan sejumlah jaring, dan cuaca,"ungkapnya.
Tradisi Tawuran Sega, Saling Lempar Nasi Berharap Berkah
Pundhen desa Pelemsari kecamatan Sumber yang dikelilingi areal sawah yang hampir kering pada hari itu terlihat beberapa pemuda desa menghamparkan selembar deklit biru tepat di bawah pohon jati besar yang tumbuh sendirian di kawasan yang dianggap sakral oleh warga setempat.
Kemudian satu per satu perempuan desa keluar dari rumah membawa satu bakul nasi, dumbeg, sebungkus ketan dan tape. Barang bawaan dikumpulkan oleh pemuda pemuda dalam dua buah karung, sedangkan satu bakul nasi ditumpahkan di atas deklit.
Sluruh perempuan desa di desa yang dihuni 422 KK semua telah mengumpulkan nasi di atas deklit dan Kepala Desa (Kades) Pelemsari Surento taklama kemudian menggelar doa sejenak di sumur dekat tanah punden. Begitu ada tanda-tanda kades menggelar doa, puluhan pemuda langsung menyerbu nasi yang sudah mengunung di atas deklit.
Setelah berhasil menggengam nasi, pemuda-pemuda itu langsung melemparkan nasi ke tubuh teman mereka yang juga tengah berusaha untuk meraih nasi yang ditumpuk di deklit. Setengah jam aksi saling lempar nasi pun terjadi di tanah punden yang dikeramatkan itu dan baru berakhir manakala nasi diatas deklit telah habis.
Tradisi tawuran sega, merupakan ritual tahunan yang digelar warga desa Pelemsari. Mereka tak ada yang tahu mengnapa harus saling melemparkan nasi ke tubuh temannya. Hanya saja, salah satu sesepuh desa Sumangat alias Mbah Dongkol (64) mengutarakan, warga mempercayai tradisi tawuran sega bisa menghindarkan desa dari segala macam kesusahan.
Dia menerangkan, tahun 1955 warga desa sempat sekali lupa menggelar tawuran sega. ”Pada tahun itu juga, seluruh sawah yang ada di desa gagal panen. Padahal desa tetangga sebelah semua panen,”jelasnya.
Dipaparkannya, nasi bekas tawuran yang berceceran ditanah dianggap sebagai sebuah berkah oleh warga. ”Nasi yang sudah berceceran di tanah digunakan untuk makanan ternak. Warga percaya ternak yang makan nasi sisa tawuran itu akan dijauhkan dari penyakit,”ungkap Mbah Dongkol.
Ditambahkannya, tawuran sego merupakan tradisi ratusan tahun yang dilaksanakan secara turun-temurun tiap satu tahun sekali dalam rangka sedekah bumi. ”Tawur Sega sesuai tradisi dilaksanakan bersamaan dengan sedekah bumi setelah panen,”paparnya.
Wardi, salah satu warga desa Pelemsari menjelaskan, tidak ada rasa sakit hati atau dendam dari peserta tawuran itu. Justru sebaliknya, warga sangat bersemangat setelah mengikuti acara tersebut. ”Kita merasa sangat senang. Setelah saling tawur nasi, kami justru tambah akrab,”kilahnya.
Menurut rencana, pihak kecamatan Sumber akan lebih memberdayakan tradisi tersebut sebagai aset wisata. Camat Sumber, Ir Dwi Purwanto yang hadir dalam acara itu mengutarakan tahun depan pihaknya akan lebih menata tradisi itu agar lebih bernilai budaya. “Dengan demikian kami harapkan mampu menarik pengunjung dari luar daerah,”cetusnya.
Kabupaten Rembang Terima Bagi Hasil Cukai Rp 2,7 M
Data dari Dinas Perkebunan Propinsi Jawa tengah,dari 3.961 industri rokok nasional 1.802 diantaranya terdapat di jateng. Pada tahun 2008 penghasilan negara atas cukai mencapai Rp 44 tyrilyun, tahun 2009 ditarget naik menjadi Rp 46 trilyun dan tahun 2010 ditarget sekitar Rp 50 trilyun. Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009, untuk kabupaten Kota di Jawa tengahtermasuk Rembang menerima alokasi dana bagi hasil atas cukai. Hanya saja niominal yang diterima masing-masing kabupaten/ kota nilainya tidak sama. Hal tersebut disampaikan Kepala Bagian Dokumentasi Sosialisasi Hukum Setda propinsi Jawa tengah, Sukarim SH pada sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang cukai di Balai Kartini,Selasa (11/8).
Menurut Sukarmin, kabupaten Rembang dalam alokasi dana bagi hasil cukai menerima Rp 2,5 milyar. Dana bagi hasil ini tergolong kecil dibandingkan kabupaten kota lain di Jateng, sementara kabupaten Kudus memperoleh pailng banyak yaitu Rp 70,8 milyar.
Sukarmin lebih lanjut menyebutkan, sebelumnya ada 5 propinsi yang menerima dana bagi ahsil cukai yakni Sumatera barat, Jawa barat, Jawa tengah, DIY dan Jawa timur. Namun dalam perkembangannya atas gugatan gubernur NTB tentang dana bagi hasil cukai termasuk daerah penghasil tembakau harus mendapatkan, maka pada tahun 2010 jumlah penerima bertambah menjadi 14 propinsi.
Dipaparkan oleh Sukarmin, dari data yang ada diDinas KesehatanPropinsi Jateng, konsumsi rokok per tahun tingkat dunia, tertinggi yakni negara China sekitar 1,786 trilyun batang, disusul AS-Rusia-Jepang-Indonesia-Jerman-Turki-Brazilia-Italia dan Spanyol.
Adapun skala nasional, tertinggi propinsi Gorontalo-Jawa barat-Lampung-Sumatera barat-Bengkulu-Banten-Sumatera selatan-Sulawesi tengah-Riau dan NTB.
Kabag Hukum Setda Rembang, Agus Salim saat ditemui menjelaskan, sosialisasi perundang undangan tentang cukai diikuti SKPD terkait, aparat penegak hukum, LSM, tokoh masyarakat, perguruan tinggi, pedagang, distributor dan pengusaha rokok. Menghadirkan nara sumber dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kantor Wilayah Jawa tengah dan DIY, Kepolisian Daerah Jawa tengah, Biro Hukum Setda Propinsi Jawa tengah, Dinas Perkebunan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jatengah serta Perguruan Tinggi.
Setahun Lebih Pengepul Rajungan Alih Komoditi
Saat krisis global melanda dunia hingga sekarang berjalan satu tahun lebih cukup berpengaruh pada para pengepul rajungan. Selain ekspor sempat macet total, sekarang permintaan dari relasi di luar negeri juga tidak didukung harga yang memadai. Sempat para pengepul berpikir berhenti usaha, namun mereka memutuskan harus tetap eksis karena tempat usahanya menjadi gantungan hidup karyawan yang telah setia puluhan tahun bekerja kepada mereka.
Dimas Gautama (47th), warga desa Sumberjo kecamatan Rembang kota, salah seorang pengepul rajungan menyebutkan, meski saat ini sudah ada relasi yang meminta kiriman rajungan namun harga yang ditawarkan jauh dibanding sebelum krisis. Dahulu rajungan kupas mereka jual per kilo seharga Rp 180-200 ribu, sekarang hanya dipatok Rp 150 ribu.
Menurut Dimas, andaikata dia memaksakan memenuhi permintaan tersebut justru akan mengalami rugi. Karena beberapa bulan terakhir ini di perairan Rembang dan sekitarnya hanya dijumpai rajungan kecil-kecil, satu kilogram isi 16 ekor itupun hanya tersedia sekitar 5-6 kwintal. ”Jauh dari kebutuhan perusahan kita sekitar 7-8 ton/bulan itupun yang size 6-8 ekor/kg,”ujarnya.
Meski harga beli bahan baku rajungan size 16 lebih murah hanya Rp 30 ribu dibanding size 6-8 seharga Rp 50 ribu, namun perusahaan harus mengeluarkan biaya operasional lebih dari semetinya karena jumlah rajungan yang dkupas juga lebih banyak. ”Terpaksa permintan kami tolak,”tegasnya.
Memenuhi keinginan agar tidak mem-PHK karyawan, diputuskan alih komoditi hasil laut lain yakni teri nasi. Tetapi baru sekitar dua bulan usaha baru dijalani kembali terkendala oleh bahan baku. Hingga akhirnya beralih pada produksi gereh pindang. ”Perusahaan membangun jaringan relasi baru dan untungnya permintaan pasar cukup tinggi,”imbuhnya.
Saat ini sedikitnya setiap bulan dikirim 5 kwintal gereh pindang ke daerah Sumatera dan Kalimantan. Satu pak ukuran 5 kilogram dibanderol harga Rp 60 ribu. ”Berkat alih usaha inilah kami dan karyawan sedikit bernapas lega, karena sama-sama dapat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing,”tandasnya.
Yayasan Danamon Bantu Mengolah Sampah Pasar Menjadi Kompos
Ketua Umum Yayasan Danamon Peduli, Risa Bhinekawati mengemukakan, dalam dua tahun terakhir, pihaknya membantu program pengolahan sampah pasar tradisional menjadi pupuk organik atau kompos berkualitas tinggi di 31 kabupaten/kota di Jawa, Sumatra dan Sulawesi. Di Jateng sendiri meliputi Rembang, Sragen, Jepara, Semarang dan Kabupaten Grobogan. Bantuan itu berbentuk pelatihan manajemen, desain proyek, bangunan, operasional pembuatan kompos, modal kerja selama satu bulan, uji laboratorium, pemantauan dan evaluasi. “Tahun 2008-2009, kami menginventasikan dana sekitar Rp 4,7 miliar untuk merealisasikan bantuan proyek pengolahan sampah pasar tradisional menjadi pupuk organik atau kompos berkualitas tinggi. Investasi sosial tersebut kami anggap cukup strategis. Karena selain membantu secara signifikan mengatasi persoalan sampah pasar tradisonal, juga dalam rangka penyediaan pupuk organik bagi para petani,” ujar Risa dalam pers realease bersamaam dengan penyerahan proyek pembuatan kompos di Desa Sumberjo, Rembang, Kota, Selasa (28/7).
Risa selaku Ketua Umum Yayasan Danamon Peduli menyerahkan proyek tersebut kepada Bupati Rembang HM Salim. Kapasatas mesin pengolahan kompos Sumberjo Rembang yang diserahkan itu mencapai 1,1 ton/hari. Bahan baku utamanya adalah sampah pasar induk Rembang Kota. Sedang investasi proyek itu mencapai Rp 114 juta lebih. “Kami berharap Pemkab Rembang menjaga kesinambungan proyek ini, baik dalam penyediaan tenaga, bahan baku maupun pemasaran produksi, sehingga benar-benar bisa membantu petani,” ujar Risa.
Dijelaskannya, pupuk kompos berbahan baku sampah pasar sudah di uji di laboratorium Pertanian Bogor, sehingga kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Yang terpenting sekarang adalah, merubah paradigma dan perilaku para petani dalam menggunakan pupuk. Selana ini para oetani masih sxangat fanatik menggunakan pupuk nonorganik atau urea. Pada hal penggunaan pupuk jenis itu secara terus-menerus bisa berakibat kurang baik terhadap tanah dan produktivitas pertanian. “Karenanya kita semua tidak boleh bosen-bosen melakukan sosialisasi penggunaan pupuk organik kepada masyarakat,”cetusnya.
Bupati Rembang HM Salim pada kesempatan yang sama menyambnut gembira program bantuan dari Yayasan Danamon Peduli tersebut. Saat itu juga dia minta kepada jajaran Pertanian dan DPUK untuk membantu sepenuhnya agar proyek ini berjalan dengan baik. ”Saya minta pak Ratmin dari Pertanian pak Muyoko dari PUK untuk membantu kelangsungan proyek ini. Selain itu jangan bosan-bosannya melakukan sosialisasi mengenai pentingnya penggunaan pupuk organik,”sebut HM Salim.
Dia mengatakan, selama ini para petani selalu bengok-bengok kekurangan pupuk. ”Yang kurang itu pupuk yang mana. Pada hal sekarang banyak alternatif pupuk untuk bisa dipergunakan memupuk tanaman baik padi maupun polowijo. Para petani hendaknya sadar bahwa penggunaan pupuk nonorganik seperti urea, lama kelamaan akan merusak tanah dan mengurangi produktifitas,” ujarnya.
Berjalan 2 Kilometer Untuk Air Bersih Satu Jun
Musim kemarau ini jelas berdampak pada menurunnya debit air seluruh sumber mata air di manapun berada. Tak kecuali di desa Ngargomulyo yang terletak di pucuk gugusan pegungungan Lasem. Sendang Ngeblek satu-satunya sumber mata air desa setempat di musim kemarau ini debit air menyusut lebih dari 60 %.
Bagi warga yang tinggal di pedukuhan sejajar dengan sumber Ngeblek bukan masalah karena jarak rumahnya dekat, sehingga cukup berjalan ratusan meter guna mengambil air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun bagi yang tinggal di pedukuhan lereng bukit desa setempat, setidaknya harus berjalan 2 kilometer untuk mendapatkan air bersih. Itupun dilakukan diluar musim kemarau.
Misnah, wanita lansia umur 67 tahun bersama 6 lansia sebayanya yang tingal di pedukuhan atas lereng bukit desa Ngargomulyo menuturkan, untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak harus dicukupinya dari mengambil air bersih di sendang Ngeblek. ”Mendet toya sampun kulo lampahi wiwit umur wolung tahun. Mendetke toya kangge masak emak, lha sakniki kulo nggee piyambak,”terang Misnah yang tak bisa berbahasa Indonesia itu.
Terpisah, sesepuh desa Ngargomulyo, Samudi (91 th) menjelaskan, keberadaan sendang Ngeblek diperkirakan berusia ratusan tahun. Karena waktu kakeknya kecil, sumber mata air tersebut menjadi tempat mandi-mencuci dan diambil airnya untuk kebutuhan hidup sehari-hari. ”Umure sendang kok kadose atusan taun. Jaman mbah buyut kulo taksih gesang, adus, umbah-umbah kalih ngangsu toya ngeeeh saking mriku,”ungkap Samudi dalam bahasa Jawa medhok
Saat desa Ngargomulyo menjadi sasaran Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Program Pengentasan kemiskinan Perkotaan (PNPM-P2KP), atas persetujuan berasama, mayoritas dana digunakan untuk membeli pompa air dan membangun bak tandon di 3 dari 4 pedukuhan yang ada di desa Ngargomulyo. Distribusi air dijadwal sesuai jam dan alokasi masing-masing penerima. Tiap warga mendapat jatah 1 jerigen isi 20 liter untuk kebutuhan 2 hari.
Namun sayang untuk warga yang tinggal di pedukuhan atas lereng bukit desa Ngargomulyo tidak dapat menikmati sistem tersebut karena air tak mampu dialirkan, sehingga mereka tetap harus jalan kaki sepanjang 2 kilometer untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Pasaran Lesu, Pengrajin Genteng Hemat Biaya Hidup
Sekitar 2 tahun terakhir pengrajin genteng di desa Karang asem kecamatan Bulu harus mensiasati hidup dengan cara berhemat. Mereka terkadang hanya makan 2 kali sehari bahkan banyak pula yang mengalihkan makanan pokok dari beras ke ubi-ubian. Hal itu dipicu lesunya pasar sehingga produk mereka hanya menumpuk di gudang, sedangkan biaya opersional hingga jutaan rupiah telah dikeluarkan.
Sardiyanto (48 th) warga RT 1-RW 1 desa Karang asem salah satu pengrajin menuturkan, dia dan teman-temannya sesama pengrajin tidak dapat berbuat mengatasi berkurangnya permintaan kiriman genteng. Sebagai solusinya mereka terpaksa menjual genteng kepada para pengepul meski dibayar dibawah harga pasaran.
Ketika disinggung untuk alih profesi, suami Suwati itu menjawab, para pengrajin kebanyakan tidak memilki lahan pertanian, selain itu mereka sejak kecil hanya mengenal pekerjaan memprroduksi genteng sehingga merasa percuma berganti pekerjaan karena juga tidak akan mendapat hasil berlebih. “Rata-rata pengarjin tidak punya lahan pertanuian. Bila berganti pekerjaan tanggung karena modal sudah terlanjur kami gelontorkan untuk membuat genteng dan bekerja lain juga belum tentu mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup,”ungkap ayah dua anak itu.
Sementara itu Aris salah satu pemilik usaha rumahan genteng ‘UD Wijaya Putra’ berdomisili di desa yang sama menerangkan, berdasar pertimbangan kemanusaiaan, banyak pemilik usaha yang kemudian memberlakukan sistem kerja baru dengan cara kontrak. “Tenaga kerja yang semula dibayar bulanan akhirnya diberi keleluasaan mengelola usaha dengan sistem sewa,”sebutnya.
Para pekerja yang kemudian menggabungkan modal, mengontrak lahan, alat pres dan tobong pembakar. Tiap membakar 1.000 biji genteng ditarik ongkos Rp 40.000 dan biasanya proses pembakaran genteng dilakukan apabila jumlahnya telah mencapai 10.000 biji dengan rentang waktu dikerjakan selama 3 bulan.
Untuk harga genteng sendiri di pasaran saat ini cenderung turun. Jenis kodokan jumlah 1.000 biji semula Rp 400 ribu menjadi Rp 365 ribu, jenis mantili dari Rp 450 ribu menjadi 400 ribu dan garuda dari Rp 500 ribu menjadi Rp 425 ribu.
Para pengrajin sendiri mengaku mengeluarkan uang cukup banyak untuk menutup kebutuhan usaha dan hidup sehari-hari. Untuk membakar 10.000 biji genteng campuran 3 jenis dikeluarkan biaya sekitar Rp 1,5 juta. Biaya hidup sehari-hari (makan, transportasi sekolah anak, dll) mencapai Rp 900 ribu Dalam 1 bulan, hasil produksi paling banyak laku 3 ribu (campuran), dahulu mencapai 5 ribu-an.
Pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) tahun 2009, Kabupaten Rembang menerima alokasi sebanyak Rp.26,9 milyar untuk 12 kecamatan. Dengan rincian Rp 21,5 milyar bersumber dari DIPA-APBN, dan Rp 5,4 milyar bersumber dari APBD Kabupaten Rembang tahun 2009. Demikian dikatakan Bupati Rembang H Moch Salim dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Pemerintahan Supraja SH pada launching Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan Kabupaten Rembang 2009 baru-baru ini di pendopo Kabupaten.
Disebutkan, PNPM Mandiri mempunyai sinergitas dengan 4 pilar program strategis Kabupaten Rembang. Oleh karena itu pihaknya meminta, akselerasi pengentasan kemiskinan dan pengangguran dapat lebih memperoleh peluang untuk dapat diwujudkan, utamanya dengan adanya Gerakan Pengembangan Ekonomi Lokal (Gerbang Elok).
”Gerbang Elok memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat Rembang untuk dapat mengembangkan kewira-mitrausahaan dalam rangka meningkatkan produktifitasnya, sehingga akan mengurangi pengangguran,”sebut Supraja.
Lebih lanjut dibacakanoleh Supraja, sikap Pemkab Rembang terhadap kemiskinan dan pengangguran adalah tegas dan mempunyai komitmen yang tinggi. Yakni Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) adalah pedoman guna merancang berbagai program untuk saudara-saudara kita yang berada di bawah garis kemiskinan, dengan pendekatan pro-poor dalam merumuskan budgeting. ”Sehingga secara sistimatis angka penurunan kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten Rembang dapat turun secara signifikan,”ucapnya.
Sementara itu Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Prof Dr Singgih Tri Sulistyono MA pada kesempatan tersebut mengatakan, pendidikan kewirausahaan perlu diberikan kepada generasi muda sedini mungkin. Sebagaimana pendidikan etika, kewirausahaan tidak harus selalu diberikan dalam bentuk teoritik tetapi menginternalisasikan nilai-nilai kemandirian, keperwiraan, kewirausahaan dalam kehidupan.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala SKPD se-Kabupaten Rembang, Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Rembang, PJOK PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Rembang, UPK PNPM Mandiri Perdesaan dari Kecamatan Wonosalam Kab. Demak, Fasilitator PNPM serta tamu undangan.
Dinas Sosial Prop Jateng Kucurkan 2 Milyar Bagi KK Miskin di Kabupaten Rembang
Dinas Sosial Propinsi Jawa tengah pada Program Pemberdayaan fakir miskin (P2FM) di kabupaten Rembang tahun 2009 ini mengucurkan anggaran sebesar Rp 2 Milyar bagi 1.000 KK miskin. Semuanya merupakan wargamiskin yang tergabung dalam 100 kelompok usaha bersama (KUBE) di wilayah kecamatan Kaliori dan Bulu. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Rembang, Pandu Marhaendra Bhakti Prasetya pada acara pemantapan KUBE di balai desa Babadan kecamatan Kaliori belum lama ini.
Pandu menyebutkan, program P2FM merupakan upaya untuk mengentaskan masyarakat miskin dari keterpurukan ekonomi. Dana yang dibagikan bagi kelompok nantinyadiperuntukkan usaha ekonomi produktif seperti penggemukan sapi, peternakan sapi, maupun peternakan kambing. Pencairan Program P2FM kabupaten Rembang bagi 1000 KK di wilayah kecamatan kaliori dan Bulu rencananya akan dicairkan pada bulan Oktober mendatang. “Dana sifatnya bergulir, setelah dikelola satu kelompok, selanjutnya harus diberikan kepada kelompok KUBE lainnya,”kilahnya..
Sementara itu Kepala Seksi Pemberdayaan Dinas Sosial Propinsi Jawa Tengah Wibowoyang hadirpada kegiatan tersebut mengungkapkan, sebelumnya pada tahun 2008 kabupaten Rembang juga mendapatkan program pemberdayaan masyarakat miskin bagi 400 KK miskin di kecamatan Sulang dan kecamatan Sumber. Sehingga pada tahun ini diberikan pada dua kecamatan lain yang mempunyai warga miskin banyak yang memenuhi kriteria menerima bantuan yakni kecamatan Bulu dan Kaliori.
Bengkok Sekdes Harus Dikembalikan
Sekertaris Desa yang telah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil harus mengembalikan tanah bengkok. Ini mengacu pada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 900/1303/SJ tanggal 16 April 2009 Perihal Kedudukan Keuangan Kepala Desa dan Perangkat Desa di Seluruh Indonesia, dimana dinyatakan bahwa Sekretaris Desa ketika SK Pengangkatan menjadi PNS sudah diterima maka terhitung sejak Surat Perintah Melaksanakan Tugas (SPMT) secara otomatis penerimaan penghasilan tetap dari tanah bengkok diberhentikan. Demikan ditegaskan Sekretaris Daerah kabupaten Rembang, Hamzah Fatoni SH MKn.
Menurut Hamzah fatoni, pengembalian tanah bengkok bagi Sekdes PNS juga diatur dalam Peraturan Bupati Rembang Nomor 25 Tahun 2009. Keterangan ini juga sekaligus sebagai tanggapan pernyataan salah satu Sekdes di kecamatan Sulang, Budi Purwanto bahwa Perbup Nomor 25 terlalu dipaksakan dan diduga cacat hukum.
Hamzah Fatoni mengatakan, Perbup Nomor 25 Tahun 2009 tidak cacat hukum baik dilihat dari prosedur pembuatannya maupun substansinya. “Bagi yang meragukannya kami persilahkan menguji secara material Perbup yang dimaksud,”cetusnya.
Kepada beberapa Sekdes PNS yang belum bersedia mengembalikan tanah bengkok, Hamzah Fatoni menghimbau untuk segera mengembalikannya. Karena Sekdes PNS terikat dengan PP No 30 Tahun1980 Tentang Peraturan Disiplin PNS. “Mereka yang tidak mau mengembalikan bisa dikenai pasal pelanggaran disiplin PNS, namun diharapkan secara sadar mereka segera memenuhi ketentuan sehingga tidak ada dampak hukum,”tambahnya.
Selanjutnya status tanah bengkok tesebut menjadi kekayaan desa dan dikelola oleh Pemerintah Desa guna mendukung penyelenggaraan pemerintah desa.
Ratusan barang kadaluwarsa disita dan dimusnahkan
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, Tim gabungan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Dinas Kesehatan, Satuan Polisi pamong Praja, Badan Ketahanan Pangan dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) mulai tanggal 7 - 14 September melakukan operasi makanan dan minuman kadaluwarsa di sejumlah pertokoan dan pasar tradisional. Tim dibagi 3 kelompok, secara terjadwal mengadakan razia di tiap kecamatan sesuai dengan jadwal yang disusun.
Kepala DKK Rembang Sutedjo melalui Kabid Farmasi, Makanan dan Minuman Eni Hindarti menjelaskan, operasi rutin dilakukan oleh tim guna mengawasi peredaran makanan dan minuman kadaluwarsa yang masih tetap dijual menjelang hari raya iedul firtri. Menurutnya meski tiap tahun dilakukan razia nampaknya para pedagang masih tidak jera juga.
“Ini terbukti masih ditemukannya makanan dan minuman kadaluwarsa yang masih beredar di pasaran,”ungkapnya.
Eni menyebutkan, saat tim menemukan makanan kadaluwarsa hanya melsakukan tindakan persuasif. Pedagang diperingatkan, temuan barang kadaluwarsa disita atau dimusnahkan ditempat.
“Langkah ini diambil karena saat razia yang dilakukan tahun lalu barang sitaan dikembalikan ke distributor ternyata tidak dimusnahkan. Justru diganti kemasan baru diedarkan kembali, oleh karena itu tim terpaksa berlaku tegas, memusnahkan barang sitaan,”tukasnya. Ditambahkan oleh Eni, hingga operasi berakhir ditemukan ratusan makanan, minuman dan bahan pakan kadaluwarsa masih beredar di pasaran. Tentunya hal tersebut sangat membahayakan masyarakat yang kurang jeli dalam membeli produk-produk tersebut.
Pemudik berkurang, pendapatan kru Bus susut drastis
Jumlah pemudik tahun ini yang menumpang angkutan umum bus baik antar kota dalam propinsi (AKDP) maupun antar kota antar propinsi (AKAP) ternyata jauh berkurang dibanding tahun sebelumnya. Imbasnya, pengusaha bus menarik pulang armadanya yang terlanjur dikeluarkan karena sepinya penumpang.
Para kru bus sendiri mengeluhkan turunnya jumlah penumpang karena pendapatan yang diharapkan meningkat justru turun drastis. Seperti yang disebutkan Sugiarto, kru bus Sinar Mandiri Mulia Jurusan Surabaya-Semarang. Turunnya jumlah penumpang cukup signifikan, hingga 40 %.
“Ini saya perkirakan karena faktor kesulitan ekonomi, menyebabkan masyarakat banyak yang tidak mudik pada lebaran tahun ini,”ungkap Sugiarto.
Sementara itu, Kasturi dan Subiyanto staff Dinas Perhubungan di terminal Rembang menjelaskan, dari 38 unit bus AKDP-50 bus AKAP dan 55 bus pedesaan, yang masuk terminal Rembang, selama arus mudik dan balik ternyata tidak ada separuhnya.
“Interval antar bus pada hari biasa sekitar lima menit saat mudik dan balik mencapai 10 menit. Ini menjadikan penumpang menumpuk di terminal,”jelas mereka ber-dua..
”Lomban harus mendapat perhatian khusus”
Saat membuka kegiatan pesta tradisi kupatan di halaman Dampo Awang Beach Tempat Rekreasi Pantai Kartini (DABTRPK), Bupati Rembang H Moch Salim mengingatkan panitia penyelenggara agar serius mengelola kegiatan pesiar laut atau biasa disebut lomban. kegiatan wisata laut mengitari gugusan pulau karang di perairan Rembang tersebut penuh resiko dan rawan kecelakaan. “Sehingga harus diupayakan seminim mungkin adanya kecelakaan,”pesannya.
H Moch Salim selanjutnya menghimbau SKPD terkait agar ke depan tempat wisata yang selama ini mangkrak harus dioptimalkan. Dikelola secara serius menggandeng pihak ke-tiga dengan agenda kegiatan terjadwal.
“Sehingga menambah keaneka ragaman perayan tradisi kupatan yang digemari selain oleh warga Rembang sendiri juga dari luar kota,”sebutnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayan-Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Sadono, dalam laporannya antara lain menyampaikan sebagai antisipasi kepadatan pengunjung tradisi kupatan tahun ini pihaknya mengurangi jumlah kaveling hingga 50 % “Dibanding perayaan tahun lalu, dari 700-an menjadi 300 kapling baik yang berada di dalam dan halaman parkir DABTRPK serta jalan Kartini. Barang dagangan meliputi hasil kerajinan, produk UKM dan IKM, busana, jasa boga dan lainnya,”terangnya.
Usai membuka secara resmi tradisi kupatan, Bupati Rembang didampingi Muspida/ dan undangan lainnya berkeliling di DABTRPK, melihat stand dan menyapa beberapa penjual dan pembeli.
Tak tolerir keberadaan 3P
Selama berlangsungnya perayan tradisi kupatan, pengelola Dampo Awang Beach Taman Rekreasi Pantai Kartini (DABTRPK) berusaha membuat pengunjung merasa aman dan senyaman mungkin. Selain lokasi wisata terus diupayakan bersih, keberadaan pemabuk, pengemis dan pengamen (3P) juga tidak ditolerir.
Pengelola DABTRPK, Sriyono, menyebutkan untuk mengantisipasi lokasi wisata bebas dari 3P pihaknya menggandeng jajaran Kodim 0720/Rembang sebagai tim keamanan dan mengamankan perayaan tradisi kupatan. “Tim bertugas sejak DABTRPK buka hingga tutup,”sergahnya.
Terpisah, Komandan Kodim 0720/Rembang Letkol Inf. Djoko Nugroho menjelaskan, pihaknya telah menginstruksikan anak buahnya bila dalam menangani 3P menggunakan metode persuasif. “Diberi peringatan secara halus dan diupayakan menyingkir dari lokasi DABTRPK,”cetusnya.
Menurut Dandim Rembang, selama ini keberadaan 3P sering dikeluhkan pengunjung sehingga pada perayaan tradisi kupatan tahun ini mendapat perhatian serius dari pengelola DABTRPK. Karena seiring dengan bertambahnya wahana hiburan diharapkan menarik perhatian calon pengunjung datang ke lokasi wisata kebanggan warga Rembang.
“Sehingga pengunjung dapat menikmati aneka hiburan dengan rasa aman dan nyaman tanpa adanya gangguan dari para pengamen, pengemis dan pemabuk,tandasnya.
Puncak kupatan dihadiri puluhan ribu orang
Tradisi kupatan dan larung kapal sedekah laut kegiatan sedekah bumi desa Tasikagung dan sekitarnya seolah seperti magnet berkekuatan tinggi. Dalam hitungan jam mampu menyedot puluhan ribu orang datang ke DABTRPK dan pantai desa Tasikagung, menyaksikan agenda tahunan sepekan setelah berlangsungnya hari raya Iedul Fitri. Sesaat sebelum kapal berisi sesaji dilarung, dikirab menyusuri wilayah desa setempat.
Puluhan ribu orang berdiri berjejer di pinggir jalan desa dan jalan Diponegoro rute yang dilalui kirab kapal sesaji. Aneka atribut dan seni tradisonal ikut tampil menjadi hiburan tersendiri bagi warga Rembang dan sekitarnya yang sejak pagi mencari posisi ingin menyaksikan prosesi kirab dan larung kapal.
Sesaat sebelum melepas rombongan melakukan kirab, Bupati Rembang, H Moch Salim berpesan ke-depan nanti agar tradisi kupatan dan larung kapal sesaji menjadi icon wisata Rembang pasca perayaan hari raya Idul Fitri.
“Saya instruksikan Dinas Pariwisata dan Dinas Perikanan dan kelautan agar bekerja sama menata kawasan pesisir, memberdayakan pulau-pulau kecil sebagai wisata laut,”pesannya.
Khusus untuk sedekah laut dan bumi desa Tasik agung/ selain larung kapal sesaji/ panitia mengagendakan aneka hiburan secara gratis kepada warga Rembang, seperti keseniam tradisonal barongan dan reog, musik dangdut, lomba nyanyi karaoke serta lomba makan gratis berhadiah.
Terpisah, Kepala Desa Tasikagung, Supolo mengatakan tasyakuran sedekah laut dan bumi membuat para nelayan melupakan sejenak segala beban hidup, terutama untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. “Mereka ingin menunjukkan, susah atau senang, manusia harus tetap bersyukur,"katanya.
Menurut Supolo, biaya penyelenggaraan perayaan tahun ini sebesar Rp 340 juta, diperoleh dari bantuan sejumlah donatur dan uang yang mereka kumpulkan secara patungan, Rp 100.000/kapal setiap kali mendarat ke Pelabuhan Pendaratan Ikan Tasikagung.
Peraturan patungan tersebut dikhususkan bagi nelayan kapal tangkap ikan muatan besar, jenis cantrang, milik warga desa Tasikagung. “Saat ini, kapal yang dikelola sejumlah juragan tersebut berjumlah 85 unit,”jelasnya.
Ditambahkan oleh Supolo, biaya tasyakuran tahun ini lebih murah ketimbang biaya tasyakuran pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp 400 juta. Alasannya, jumlah uang patungan para nelayan lebih sedikit lantaran hasil tangkapan nelayan pada tahun ini turun.
"Pada 2008, satu kapal nelayan membawa pulang hampir 70 ton ikan per kapal. Namun, pada 2009, rata-rata hanya 60 ton ikan per kapal. Penyebabnya adalah nelayan terkendala surat izin melaut dan menangkap ikan, larangan menggunakan sejumlah jaring, dan cuaca,"ungkapnya.
Tradisi Tawuran Sega, Saling Lempar Nasi Berharap Berkah
Pundhen desa Pelemsari kecamatan Sumber yang dikelilingi areal sawah yang hampir kering pada hari itu terlihat beberapa pemuda desa menghamparkan selembar deklit biru tepat di bawah pohon jati besar yang tumbuh sendirian di kawasan yang dianggap sakral oleh warga setempat.
Kemudian satu per satu perempuan desa keluar dari rumah membawa satu bakul nasi, dumbeg, sebungkus ketan dan tape. Barang bawaan dikumpulkan oleh pemuda pemuda dalam dua buah karung, sedangkan satu bakul nasi ditumpahkan di atas deklit.
Sluruh perempuan desa di desa yang dihuni 422 KK semua telah mengumpulkan nasi di atas deklit dan Kepala Desa (Kades) Pelemsari Surento taklama kemudian menggelar doa sejenak di sumur dekat tanah punden. Begitu ada tanda-tanda kades menggelar doa, puluhan pemuda langsung menyerbu nasi yang sudah mengunung di atas deklit.
Setelah berhasil menggengam nasi, pemuda-pemuda itu langsung melemparkan nasi ke tubuh teman mereka yang juga tengah berusaha untuk meraih nasi yang ditumpuk di deklit. Setengah jam aksi saling lempar nasi pun terjadi di tanah punden yang dikeramatkan itu dan baru berakhir manakala nasi diatas deklit telah habis.
Tradisi tawuran sega, merupakan ritual tahunan yang digelar warga desa Pelemsari. Mereka tak ada yang tahu mengnapa harus saling melemparkan nasi ke tubuh temannya. Hanya saja, salah satu sesepuh desa Sumangat alias Mbah Dongkol (64) mengutarakan, warga mempercayai tradisi tawuran sega bisa menghindarkan desa dari segala macam kesusahan.
Dia menerangkan, tahun 1955 warga desa sempat sekali lupa menggelar tawuran sega. ”Pada tahun itu juga, seluruh sawah yang ada di desa gagal panen. Padahal desa tetangga sebelah semua panen,”jelasnya.
Dipaparkannya, nasi bekas tawuran yang berceceran ditanah dianggap sebagai sebuah berkah oleh warga. ”Nasi yang sudah berceceran di tanah digunakan untuk makanan ternak. Warga percaya ternak yang makan nasi sisa tawuran itu akan dijauhkan dari penyakit,”ungkap Mbah Dongkol.
Ditambahkannya, tawuran sego merupakan tradisi ratusan tahun yang dilaksanakan secara turun-temurun tiap satu tahun sekali dalam rangka sedekah bumi. ”Tawur Sega sesuai tradisi dilaksanakan bersamaan dengan sedekah bumi setelah panen,”paparnya.
Wardi, salah satu warga desa Pelemsari menjelaskan, tidak ada rasa sakit hati atau dendam dari peserta tawuran itu. Justru sebaliknya, warga sangat bersemangat setelah mengikuti acara tersebut. ”Kita merasa sangat senang. Setelah saling tawur nasi, kami justru tambah akrab,”kilahnya.
Menurut rencana, pihak kecamatan Sumber akan lebih memberdayakan tradisi tersebut sebagai aset wisata. Camat Sumber, Ir Dwi Purwanto yang hadir dalam acara itu mengutarakan tahun depan pihaknya akan lebih menata tradisi itu agar lebih bernilai budaya. “Dengan demikian kami harapkan mampu menarik pengunjung dari luar daerah,”cetusnya.
Kabupaten Rembang Terima Bagi Hasil Cukai Rp 2,7 M
Data dari Dinas Perkebunan Propinsi Jawa tengah,dari 3.961 industri rokok nasional 1.802 diantaranya terdapat di jateng. Pada tahun 2008 penghasilan negara atas cukai mencapai Rp 44 tyrilyun, tahun 2009 ditarget naik menjadi Rp 46 trilyun dan tahun 2010 ditarget sekitar Rp 50 trilyun. Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009, untuk kabupaten Kota di Jawa tengahtermasuk Rembang menerima alokasi dana bagi hasil atas cukai. Hanya saja niominal yang diterima masing-masing kabupaten/ kota nilainya tidak sama. Hal tersebut disampaikan Kepala Bagian Dokumentasi Sosialisasi Hukum Setda propinsi Jawa tengah, Sukarim SH pada sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang cukai di Balai Kartini,Selasa (11/8).
Menurut Sukarmin, kabupaten Rembang dalam alokasi dana bagi hasil cukai menerima Rp 2,5 milyar. Dana bagi hasil ini tergolong kecil dibandingkan kabupaten kota lain di Jateng, sementara kabupaten Kudus memperoleh pailng banyak yaitu Rp 70,8 milyar.
Sukarmin lebih lanjut menyebutkan, sebelumnya ada 5 propinsi yang menerima dana bagi ahsil cukai yakni Sumatera barat, Jawa barat, Jawa tengah, DIY dan Jawa timur. Namun dalam perkembangannya atas gugatan gubernur NTB tentang dana bagi hasil cukai termasuk daerah penghasil tembakau harus mendapatkan, maka pada tahun 2010 jumlah penerima bertambah menjadi 14 propinsi.
Dipaparkan oleh Sukarmin, dari data yang ada diDinas KesehatanPropinsi Jateng, konsumsi rokok per tahun tingkat dunia, tertinggi yakni negara China sekitar 1,786 trilyun batang, disusul AS-Rusia-Jepang-Indonesia-Jerman-Turki-Brazilia-Italia dan Spanyol.
Adapun skala nasional, tertinggi propinsi Gorontalo-Jawa barat-Lampung-Sumatera barat-Bengkulu-Banten-Sumatera selatan-Sulawesi tengah-Riau dan NTB.
Kabag Hukum Setda Rembang, Agus Salim saat ditemui menjelaskan, sosialisasi perundang undangan tentang cukai diikuti SKPD terkait, aparat penegak hukum, LSM, tokoh masyarakat, perguruan tinggi, pedagang, distributor dan pengusaha rokok. Menghadirkan nara sumber dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kantor Wilayah Jawa tengah dan DIY, Kepolisian Daerah Jawa tengah, Biro Hukum Setda Propinsi Jawa tengah, Dinas Perkebunan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jatengah serta Perguruan Tinggi.
Setahun Lebih Pengepul Rajungan Alih Komoditi
Saat krisis global melanda dunia hingga sekarang berjalan satu tahun lebih cukup berpengaruh pada para pengepul rajungan. Selain ekspor sempat macet total, sekarang permintaan dari relasi di luar negeri juga tidak didukung harga yang memadai. Sempat para pengepul berpikir berhenti usaha, namun mereka memutuskan harus tetap eksis karena tempat usahanya menjadi gantungan hidup karyawan yang telah setia puluhan tahun bekerja kepada mereka.
Dimas Gautama (47th), warga desa Sumberjo kecamatan Rembang kota, salah seorang pengepul rajungan menyebutkan, meski saat ini sudah ada relasi yang meminta kiriman rajungan namun harga yang ditawarkan jauh dibanding sebelum krisis. Dahulu rajungan kupas mereka jual per kilo seharga Rp 180-200 ribu, sekarang hanya dipatok Rp 150 ribu.
Menurut Dimas, andaikata dia memaksakan memenuhi permintaan tersebut justru akan mengalami rugi. Karena beberapa bulan terakhir ini di perairan Rembang dan sekitarnya hanya dijumpai rajungan kecil-kecil, satu kilogram isi 16 ekor itupun hanya tersedia sekitar 5-6 kwintal. ”Jauh dari kebutuhan perusahan kita sekitar 7-8 ton/bulan itupun yang size 6-8 ekor/kg,”ujarnya.
Meski harga beli bahan baku rajungan size 16 lebih murah hanya Rp 30 ribu dibanding size 6-8 seharga Rp 50 ribu, namun perusahaan harus mengeluarkan biaya operasional lebih dari semetinya karena jumlah rajungan yang dkupas juga lebih banyak. ”Terpaksa permintan kami tolak,”tegasnya.
Memenuhi keinginan agar tidak mem-PHK karyawan, diputuskan alih komoditi hasil laut lain yakni teri nasi. Tetapi baru sekitar dua bulan usaha baru dijalani kembali terkendala oleh bahan baku. Hingga akhirnya beralih pada produksi gereh pindang. ”Perusahaan membangun jaringan relasi baru dan untungnya permintaan pasar cukup tinggi,”imbuhnya.
Saat ini sedikitnya setiap bulan dikirim 5 kwintal gereh pindang ke daerah Sumatera dan Kalimantan. Satu pak ukuran 5 kilogram dibanderol harga Rp 60 ribu. ”Berkat alih usaha inilah kami dan karyawan sedikit bernapas lega, karena sama-sama dapat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing,”tandasnya.
Yayasan Danamon Bantu Mengolah Sampah Pasar Menjadi Kompos
Ketua Umum Yayasan Danamon Peduli, Risa Bhinekawati mengemukakan, dalam dua tahun terakhir, pihaknya membantu program pengolahan sampah pasar tradisional menjadi pupuk organik atau kompos berkualitas tinggi di 31 kabupaten/kota di Jawa, Sumatra dan Sulawesi. Di Jateng sendiri meliputi Rembang, Sragen, Jepara, Semarang dan Kabupaten Grobogan. Bantuan itu berbentuk pelatihan manajemen, desain proyek, bangunan, operasional pembuatan kompos, modal kerja selama satu bulan, uji laboratorium, pemantauan dan evaluasi. “Tahun 2008-2009, kami menginventasikan dana sekitar Rp 4,7 miliar untuk merealisasikan bantuan proyek pengolahan sampah pasar tradisional menjadi pupuk organik atau kompos berkualitas tinggi. Investasi sosial tersebut kami anggap cukup strategis. Karena selain membantu secara signifikan mengatasi persoalan sampah pasar tradisonal, juga dalam rangka penyediaan pupuk organik bagi para petani,” ujar Risa dalam pers realease bersamaam dengan penyerahan proyek pembuatan kompos di Desa Sumberjo, Rembang, Kota, Selasa (28/7).
Risa selaku Ketua Umum Yayasan Danamon Peduli menyerahkan proyek tersebut kepada Bupati Rembang HM Salim. Kapasatas mesin pengolahan kompos Sumberjo Rembang yang diserahkan itu mencapai 1,1 ton/hari. Bahan baku utamanya adalah sampah pasar induk Rembang Kota. Sedang investasi proyek itu mencapai Rp 114 juta lebih. “Kami berharap Pemkab Rembang menjaga kesinambungan proyek ini, baik dalam penyediaan tenaga, bahan baku maupun pemasaran produksi, sehingga benar-benar bisa membantu petani,” ujar Risa.
Dijelaskannya, pupuk kompos berbahan baku sampah pasar sudah di uji di laboratorium Pertanian Bogor, sehingga kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Yang terpenting sekarang adalah, merubah paradigma dan perilaku para petani dalam menggunakan pupuk. Selana ini para oetani masih sxangat fanatik menggunakan pupuk nonorganik atau urea. Pada hal penggunaan pupuk jenis itu secara terus-menerus bisa berakibat kurang baik terhadap tanah dan produktivitas pertanian. “Karenanya kita semua tidak boleh bosen-bosen melakukan sosialisasi penggunaan pupuk organik kepada masyarakat,”cetusnya.
Bupati Rembang HM Salim pada kesempatan yang sama menyambnut gembira program bantuan dari Yayasan Danamon Peduli tersebut. Saat itu juga dia minta kepada jajaran Pertanian dan DPUK untuk membantu sepenuhnya agar proyek ini berjalan dengan baik. ”Saya minta pak Ratmin dari Pertanian pak Muyoko dari PUK untuk membantu kelangsungan proyek ini. Selain itu jangan bosan-bosannya melakukan sosialisasi mengenai pentingnya penggunaan pupuk organik,”sebut HM Salim.
Dia mengatakan, selama ini para petani selalu bengok-bengok kekurangan pupuk. ”Yang kurang itu pupuk yang mana. Pada hal sekarang banyak alternatif pupuk untuk bisa dipergunakan memupuk tanaman baik padi maupun polowijo. Para petani hendaknya sadar bahwa penggunaan pupuk nonorganik seperti urea, lama kelamaan akan merusak tanah dan mengurangi produktifitas,” ujarnya.
Berjalan 2 Kilometer Untuk Air Bersih Satu Jun
Musim kemarau ini jelas berdampak pada menurunnya debit air seluruh sumber mata air di manapun berada. Tak kecuali di desa Ngargomulyo yang terletak di pucuk gugusan pegungungan Lasem. Sendang Ngeblek satu-satunya sumber mata air desa setempat di musim kemarau ini debit air menyusut lebih dari 60 %.
Bagi warga yang tinggal di pedukuhan sejajar dengan sumber Ngeblek bukan masalah karena jarak rumahnya dekat, sehingga cukup berjalan ratusan meter guna mengambil air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun bagi yang tinggal di pedukuhan lereng bukit desa setempat, setidaknya harus berjalan 2 kilometer untuk mendapatkan air bersih. Itupun dilakukan diluar musim kemarau.
Misnah, wanita lansia umur 67 tahun bersama 6 lansia sebayanya yang tingal di pedukuhan atas lereng bukit desa Ngargomulyo menuturkan, untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak harus dicukupinya dari mengambil air bersih di sendang Ngeblek. ”Mendet toya sampun kulo lampahi wiwit umur wolung tahun. Mendetke toya kangge masak emak, lha sakniki kulo nggee piyambak,”terang Misnah yang tak bisa berbahasa Indonesia itu.
Terpisah, sesepuh desa Ngargomulyo, Samudi (91 th) menjelaskan, keberadaan sendang Ngeblek diperkirakan berusia ratusan tahun. Karena waktu kakeknya kecil, sumber mata air tersebut menjadi tempat mandi-mencuci dan diambil airnya untuk kebutuhan hidup sehari-hari. ”Umure sendang kok kadose atusan taun. Jaman mbah buyut kulo taksih gesang, adus, umbah-umbah kalih ngangsu toya ngeeeh saking mriku,”ungkap Samudi dalam bahasa Jawa medhok
Saat desa Ngargomulyo menjadi sasaran Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Program Pengentasan kemiskinan Perkotaan (PNPM-P2KP), atas persetujuan berasama, mayoritas dana digunakan untuk membeli pompa air dan membangun bak tandon di 3 dari 4 pedukuhan yang ada di desa Ngargomulyo. Distribusi air dijadwal sesuai jam dan alokasi masing-masing penerima. Tiap warga mendapat jatah 1 jerigen isi 20 liter untuk kebutuhan 2 hari.
Namun sayang untuk warga yang tinggal di pedukuhan atas lereng bukit desa Ngargomulyo tidak dapat menikmati sistem tersebut karena air tak mampu dialirkan, sehingga mereka tetap harus jalan kaki sepanjang 2 kilometer untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Pasaran Lesu, Pengrajin Genteng Hemat Biaya Hidup
Sekitar 2 tahun terakhir pengrajin genteng di desa Karang asem kecamatan Bulu harus mensiasati hidup dengan cara berhemat. Mereka terkadang hanya makan 2 kali sehari bahkan banyak pula yang mengalihkan makanan pokok dari beras ke ubi-ubian. Hal itu dipicu lesunya pasar sehingga produk mereka hanya menumpuk di gudang, sedangkan biaya opersional hingga jutaan rupiah telah dikeluarkan.
Sardiyanto (48 th) warga RT 1-RW 1 desa Karang asem salah satu pengrajin menuturkan, dia dan teman-temannya sesama pengrajin tidak dapat berbuat mengatasi berkurangnya permintaan kiriman genteng. Sebagai solusinya mereka terpaksa menjual genteng kepada para pengepul meski dibayar dibawah harga pasaran.
Ketika disinggung untuk alih profesi, suami Suwati itu menjawab, para pengrajin kebanyakan tidak memilki lahan pertanian, selain itu mereka sejak kecil hanya mengenal pekerjaan memprroduksi genteng sehingga merasa percuma berganti pekerjaan karena juga tidak akan mendapat hasil berlebih. “Rata-rata pengarjin tidak punya lahan pertanuian. Bila berganti pekerjaan tanggung karena modal sudah terlanjur kami gelontorkan untuk membuat genteng dan bekerja lain juga belum tentu mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup,”ungkap ayah dua anak itu.
Sementara itu Aris salah satu pemilik usaha rumahan genteng ‘UD Wijaya Putra’ berdomisili di desa yang sama menerangkan, berdasar pertimbangan kemanusaiaan, banyak pemilik usaha yang kemudian memberlakukan sistem kerja baru dengan cara kontrak. “Tenaga kerja yang semula dibayar bulanan akhirnya diberi keleluasaan mengelola usaha dengan sistem sewa,”sebutnya.
Para pekerja yang kemudian menggabungkan modal, mengontrak lahan, alat pres dan tobong pembakar. Tiap membakar 1.000 biji genteng ditarik ongkos Rp 40.000 dan biasanya proses pembakaran genteng dilakukan apabila jumlahnya telah mencapai 10.000 biji dengan rentang waktu dikerjakan selama 3 bulan.
Untuk harga genteng sendiri di pasaran saat ini cenderung turun. Jenis kodokan jumlah 1.000 biji semula Rp 400 ribu menjadi Rp 365 ribu, jenis mantili dari Rp 450 ribu menjadi 400 ribu dan garuda dari Rp 500 ribu menjadi Rp 425 ribu.
Para pengrajin sendiri mengaku mengeluarkan uang cukup banyak untuk menutup kebutuhan usaha dan hidup sehari-hari. Untuk membakar 10.000 biji genteng campuran 3 jenis dikeluarkan biaya sekitar Rp 1,5 juta. Biaya hidup sehari-hari (makan, transportasi sekolah anak, dll) mencapai Rp 900 ribu Dalam 1 bulan, hasil produksi paling banyak laku 3 ribu (campuran), dahulu mencapai 5 ribu-an.
Meubel Produk Arifin Diburu Pengusaha Dari Eropa
Meubel Produk Arifin Diburu Pengusaha Dari Eropa
Mungkin nama Arifin (29th) kurang begitu dikenal di kota Rembang, tetapi putra daerah kelahiran desa Krikilan kecamatan Sumber tersebut justru lebih tenar di kalangan pengusaha meubel dari negara Eropa seperti Belanda, Jerman, Austria, Perancis dan lainnya. Meubel jati daur ulang produk Arifin yang dikembangkan selama 4 tahun terakhir diburu para importir Eropa karena berkualitas tinggi, 100 % orisinal berbahan jati kuno tanpa kayu campuran.
Warga RT 1–RW 1 desa Krikilan itu mengembangkan usahanya sekitar 4 tahun terakhir, usai menamatkan kuliah. Dia pulang kampung dengan awal usaha dagang kayu jati bongkaran rumah kuno. Modal pertama Rp 100 juta, sebagian pinjaman dari Bank dan bantuan dari orang tua.
Ketika habis menikah dia bermaksud mengembangkan usaha membuka warung makan untuk istrinyadan satu ketika ada pengusaha meubel dari Belanda makan ditempatnya. Saat itu si bule tengah mencari meubel berbahan jati daur ulang. “Meski tidak paham seluk beluk tentang meubel, saya menyatakan sanggup memenuhi permintaan tersebut mengingat pesanan berjumlah banyak mencapai 2 kontainer,”terang Arifin ketika ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.
Arifin lantas menghubungi pengusaha meubel kenalannya dan memesan desain yang diinginkan oleh orang Belanda tadi. Setelah semua pesanan siap segera dikirim ke alamat yang ditunjuk oleh si pemesan. Alih-alih mendapat untung, Arifin justru mengalami rugi puluhan juta rupiah. “Saat kontainer tiba di Belanda, ternyata meubel yang saya kirim banyak yang pecah. Akhirnya kena klaim hingga Rp 80 juta,”sebutnya.
Namun pengalaman itu tak membuatnya putus asa apalgi patah semangat. Kegagalan itu mencambuk dirinya untuk mempelajari seluk beluk industri meubel dan akhirnya setelah menguasai dengan benar, pada pesanan berikutnya dia menangguk untung puluhan juta rupiah.
Menurut lelaki tamatan SDN Krikilan 1 Sumber, SMPN 1 Sumber, SMAN 2 Rembang dan alumni STIE YKPN Jogyakarta (lulus 2003) itu, puncak keemasan meubel jati daur ulang terjadi pada tahun 2008. “Dalam satu minggu permintaan mencapai 3 kontainer. Bentuk pesanan campuran antara lemari, meja dan kursi, semuanya minimalis tanpa ukiran. Harga pesanan meubel per kontainer antara Rp 150-200 juta,”terangnya.
Saat melakukan tansaksi, suami Susilowati (27 th) sering tidak langsung bertatap muka dengan calon pembeli. Sebagian perjanjian jual beli melalui fasilitas teknologi informatika internet di web site yang dimilikinya (www.reclaymeteak.com). Pembayaran juga tidak secara kontan, melalui transfer antar bank. “Untuk melindungi agar tidak menjadi korban penipuan, meubel kiriman saya baru dapat dibongkar setelah pemesan menyerahkan tanda serah terima yang resmi mencantumkan tanda tangan saya bila telah menrrima transfer dari si pemesan,”tutur Arifin dengan tersenyum.
Ayah dua anak bernama Safira (4 th) dan Gina Novita (8 bl) lebih lanjut menyampaikan dia dan kolega sesama pengusah meubel daur ulang menyatakan tahun ini cuma sekedar bertahan saja. “Kami yang berkecimpung bisnis meubel jati daur ulangtahun ini hanya sekedar survive saja. Harga bahan baku terus naik tidak didukung harga beli yang meningkat,”ucapnya dengan mata menerawang jauh.
Menurutnya, harga jual tidak dinaikkan oleh pengusaha asing sementara harga bahun baku tiap tahun merambat naik. Tahun 2008 kubikasi kahu jati daur ulang seharga Rp 5,5 juta tahun ini naik menjadi Rp 6,5 juta. Sedangkan harga rumah tua berbahan jati kuno yang layak beli dahulu berkisar antara Rp 50-60 juta sekarang rata-rata seharga Rp 80 juta.
Namun anak bungsu pasangan Kasri (alm) dan Asy’ah (76 th) mengaku tidak terlalu memikirkan keuntungan seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena apabila menolak permintaan pelanggan ditakutkan berimbas pada hilangnya kepercayaan yang sudah barang tentu juga mengancam kesinambungan usaha. “Dengan memenuhi pesanan, meski kurang mendapat keuntungan namun bagi saya yakni tenaga kerja yang selama ini bekerja di perusahaan tidak kehilangan pekerjaan. Apalagi saat-saat ini lesunya dunia usaha sangat mempengaruhi ekonomi masyarakat,”cetus Arifin.
Atas keberhasilan yang diraih Arifin tidak hanya dia dan keluarganya saja yang menikmatinya. Dari usaha yang dikembangkannya saat ini dia memperkerjakan 210 tenaga kerja berasal dari desa setempat dan desa-desa terdekat. Bahkan untuk memenuhi banyaknya pesanan disikapi oleh Arifin melibatkan 40 pengrajin meubel yang ada di kecamatan Sumber. “Bila pesanan melimpah saya ajak pengrajin lain bekerja sama menyelesaikan pesanan agar tepat waktu. Takut kena klaim dari pemesan,”ungkapnya.
Untuk lebih mengenalkan UD Sasana Antik nama perusahaannya, Arifin selalu mengikuti agenda tahunan pameran industri meubel tingkat Internasional di Jakarta yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pengusaha dan Industri Indonesia. “Di ajang tersbut, meubel termasuk salah satu industri yang mendapat porsi besar untuk dipamerkan dan mendapat perhatian tinggi pengunjung yang datang dari luar negeri,”kilahnya.
Saat Pantura Pos menanyakan prisnip hidupnya atau dalam berusaha, lelaki pendiam itu menjawab, nekad tetapi penuh perhitungan. Asset yang dimilkinya saat ini mobil Panther keluaran ’94 dan mobil Honda Civic keluaran ’96. Sepeda motor Hondra Mega pro keluaran ’08. Uang simpanan ratusan juta di bank tanpa mau menyebut pasti jumlahnya dan stok bahan baku kayu jati daur ulang memenuhi gudang seluas 2 hektar lebih.
Mungkin nama Arifin (29th) kurang begitu dikenal di kota Rembang, tetapi putra daerah kelahiran desa Krikilan kecamatan Sumber tersebut justru lebih tenar di kalangan pengusaha meubel dari negara Eropa seperti Belanda, Jerman, Austria, Perancis dan lainnya. Meubel jati daur ulang produk Arifin yang dikembangkan selama 4 tahun terakhir diburu para importir Eropa karena berkualitas tinggi, 100 % orisinal berbahan jati kuno tanpa kayu campuran.
Warga RT 1–RW 1 desa Krikilan itu mengembangkan usahanya sekitar 4 tahun terakhir, usai menamatkan kuliah. Dia pulang kampung dengan awal usaha dagang kayu jati bongkaran rumah kuno. Modal pertama Rp 100 juta, sebagian pinjaman dari Bank dan bantuan dari orang tua.
Ketika habis menikah dia bermaksud mengembangkan usaha membuka warung makan untuk istrinyadan satu ketika ada pengusaha meubel dari Belanda makan ditempatnya. Saat itu si bule tengah mencari meubel berbahan jati daur ulang. “Meski tidak paham seluk beluk tentang meubel, saya menyatakan sanggup memenuhi permintaan tersebut mengingat pesanan berjumlah banyak mencapai 2 kontainer,”terang Arifin ketika ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.
Arifin lantas menghubungi pengusaha meubel kenalannya dan memesan desain yang diinginkan oleh orang Belanda tadi. Setelah semua pesanan siap segera dikirim ke alamat yang ditunjuk oleh si pemesan. Alih-alih mendapat untung, Arifin justru mengalami rugi puluhan juta rupiah. “Saat kontainer tiba di Belanda, ternyata meubel yang saya kirim banyak yang pecah. Akhirnya kena klaim hingga Rp 80 juta,”sebutnya.
Namun pengalaman itu tak membuatnya putus asa apalgi patah semangat. Kegagalan itu mencambuk dirinya untuk mempelajari seluk beluk industri meubel dan akhirnya setelah menguasai dengan benar, pada pesanan berikutnya dia menangguk untung puluhan juta rupiah.
Menurut lelaki tamatan SDN Krikilan 1 Sumber, SMPN 1 Sumber, SMAN 2 Rembang dan alumni STIE YKPN Jogyakarta (lulus 2003) itu, puncak keemasan meubel jati daur ulang terjadi pada tahun 2008. “Dalam satu minggu permintaan mencapai 3 kontainer. Bentuk pesanan campuran antara lemari, meja dan kursi, semuanya minimalis tanpa ukiran. Harga pesanan meubel per kontainer antara Rp 150-200 juta,”terangnya.
Saat melakukan tansaksi, suami Susilowati (27 th) sering tidak langsung bertatap muka dengan calon pembeli. Sebagian perjanjian jual beli melalui fasilitas teknologi informatika internet di web site yang dimilikinya (www.reclaymeteak.com). Pembayaran juga tidak secara kontan, melalui transfer antar bank. “Untuk melindungi agar tidak menjadi korban penipuan, meubel kiriman saya baru dapat dibongkar setelah pemesan menyerahkan tanda serah terima yang resmi mencantumkan tanda tangan saya bila telah menrrima transfer dari si pemesan,”tutur Arifin dengan tersenyum.
Ayah dua anak bernama Safira (4 th) dan Gina Novita (8 bl) lebih lanjut menyampaikan dia dan kolega sesama pengusah meubel daur ulang menyatakan tahun ini cuma sekedar bertahan saja. “Kami yang berkecimpung bisnis meubel jati daur ulangtahun ini hanya sekedar survive saja. Harga bahan baku terus naik tidak didukung harga beli yang meningkat,”ucapnya dengan mata menerawang jauh.
Menurutnya, harga jual tidak dinaikkan oleh pengusaha asing sementara harga bahun baku tiap tahun merambat naik. Tahun 2008 kubikasi kahu jati daur ulang seharga Rp 5,5 juta tahun ini naik menjadi Rp 6,5 juta. Sedangkan harga rumah tua berbahan jati kuno yang layak beli dahulu berkisar antara Rp 50-60 juta sekarang rata-rata seharga Rp 80 juta.
Namun anak bungsu pasangan Kasri (alm) dan Asy’ah (76 th) mengaku tidak terlalu memikirkan keuntungan seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena apabila menolak permintaan pelanggan ditakutkan berimbas pada hilangnya kepercayaan yang sudah barang tentu juga mengancam kesinambungan usaha. “Dengan memenuhi pesanan, meski kurang mendapat keuntungan namun bagi saya yakni tenaga kerja yang selama ini bekerja di perusahaan tidak kehilangan pekerjaan. Apalagi saat-saat ini lesunya dunia usaha sangat mempengaruhi ekonomi masyarakat,”cetus Arifin.
Atas keberhasilan yang diraih Arifin tidak hanya dia dan keluarganya saja yang menikmatinya. Dari usaha yang dikembangkannya saat ini dia memperkerjakan 210 tenaga kerja berasal dari desa setempat dan desa-desa terdekat. Bahkan untuk memenuhi banyaknya pesanan disikapi oleh Arifin melibatkan 40 pengrajin meubel yang ada di kecamatan Sumber. “Bila pesanan melimpah saya ajak pengrajin lain bekerja sama menyelesaikan pesanan agar tepat waktu. Takut kena klaim dari pemesan,”ungkapnya.
Untuk lebih mengenalkan UD Sasana Antik nama perusahaannya, Arifin selalu mengikuti agenda tahunan pameran industri meubel tingkat Internasional di Jakarta yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pengusaha dan Industri Indonesia. “Di ajang tersbut, meubel termasuk salah satu industri yang mendapat porsi besar untuk dipamerkan dan mendapat perhatian tinggi pengunjung yang datang dari luar negeri,”kilahnya.
Saat Pantura Pos menanyakan prisnip hidupnya atau dalam berusaha, lelaki pendiam itu menjawab, nekad tetapi penuh perhitungan. Asset yang dimilkinya saat ini mobil Panther keluaran ’94 dan mobil Honda Civic keluaran ’96. Sepeda motor Hondra Mega pro keluaran ’08. Uang simpanan ratusan juta di bank tanpa mau menyebut pasti jumlahnya dan stok bahan baku kayu jati daur ulang memenuhi gudang seluas 2 hektar lebih.
Selasa, 27 Oktober 2009
Paradigma Baru Mengelola Tambak Garam

Dibutuhkan Paradigma Baru dalam Mengelola Tambak Garam
Membicarakan garam seolah tak akan penah akan ada habisnya. Salah satu komoditi strategis ini merupakan produk vital yang memenuhi hajat orang banyak. Tidak hanya dibutuhkan bagi kesehatan manusia, juga untuk kepentingan industri baik ringan maupun berat, bahkan secara kuantitas jsutru lebih dominan. Industri seperti penyamakan kulit, pengasingan, pabrik es, farmasi, kimia tekstil, kilang BBM dan sebagainya, sangat bergantung pada barang berasa asin itu.
Jika diidentifikasi, banyak problematik yang melilit dan dihadapi produk garam rakyat. Secara umum problem yang dihadapi petani garam rakyat bersumber baik dari internal maupun eksternal, dalam lingkup lokal, nasional maupun global. Yang tampak ke permukaan antara lain menyangkut harga, kualitas garam yang rendah sampai membanjirnya garam impor. Pada situasi sulit sering muncul idioma ‘garam mudah dibuat tetapi sulit dipasarkan’.
Membidik permasalahan secara khusus garam rakyat di Rembang yang telah puluhan tahun dikelola, sering muncul pertanyaan mengapa tidak dapat berkembang menjadi garam industri dan cenderung tidak mampu memberi kesejahteraan hidup pada para petani garam.
Terkait dengan hal tersebut Kepala Bappeda Rembang Ir Hari Susanto MSi menyebutkan, banyak faktor-faktor melingkupi mengapa garam rakyat tidak mampu berbicara banyak di tingkat nasional. ‘Dimensi sosial budaya menyebabkan garam rakyat di Rembang tidak dapat berkembang menjadi komoditi yang marketable dan prospektif,”ujarnya.
Pada berbagai level, persoalan kualitas garam selalu menjadi isu penting yang bertendensi memenunculkan dampak strategis dan mendasar terkait eksistensi komoditi garam. Dari semua argumen yang digunakan semua bermuara sama yakni rendahnya kualitas garam rakyat. “Sehingga menyebabkan produk menjadi tidak kompetitif bahkan tidak dapat memasok segmen industri yang notabene pangsa pasar terbesar,”ungkapnya.
Sementara itu memberikan keterangan secara terpisah Kabid Pemerintahan, Sosial dan Budaya Bappeda Rembang, Sri Wahyuni SH Msi didampingi Kasubid Sosial dan Budaya, Imam Teguh Susatyo SE menjelaskan, terdapat dimensi sosial budaya yang membelit dibalik rendahnya kualitas garam rakyat yaitu terkait hubungan produksi antara pemilik lahan dengan penggarap dan antara pemilik lahan dengan makelar. “Ini tercermin dari fakta dimana pihak yang lebih merasa berkepentingan dengan kualitas garam adalah petani, pemilik lahan dan makelar yang berpengaruh secara langsung pada keuntungan yang akan diraup,”tutur Yuni.
Sementara itu Imam menyampaikan, dari unsur majikan menginginkan produk garam dilahannya berkualitas tinggi karena meyakini pada kondisi tersebut akan diperoleh keuntungan cukup besar. Sedangkan penggarap tidak ingin ,membuat kualitas baik karena pada umumnya tidak percaya jika kualitas garam yang baik akan memberi keuntungan besar pada mereka. Oleh karena itu mereka enggan membuat garam berkualitas baik sesuai keinginan majikan, pasar maupun pemerintah. “Penggarap yang justru ujung tombak produksi garam rakyat berposisi semata-mata pada produsen yang tidak bersebtuhan langsung dengan akses pasar,”paparnya.
Sikap penggarap yang tidak responsif terhadap tuntuta kualitas garam menjadi satu hal tersendiri yang menarik dan dapat menjadi pintu masuk untuk menyelasikan permasalahan rendahnya kualitas garam yang selama ini merupakan problema serius. Menurut pengakuan sebagian besar penggarap, teknis dan proses produksi garam sangat sederhana.
Menurut Parmin (46 th) salah satu penggarap tambak warga desa Sembiyan bernama Parmin (46 th) saat ditemui di lokasi lahan garam lawasan desa Punjulharjo kecamatan Kaliori. “Hanya membutuhkan lahan, air laut, tenaga dan sinar matahari,”ujar Parmin.
Padahal menurut Imam, untuk menghasilkan garam berkualitas baik perlu ditambah teknologi dan modal. “Oleh karena itu perlu paradigma baru dalam mengeloa tambak garam,”tegasnya
Stakeholder Garam Rembang Study Banding ke Sampang-Madura
Tidak ingin garam rakyat Rembang stagnan pada kualitas rendah, Pemkab Rembang melalui Dinas Pererindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menegah (Dinperindagkop dan UMKM) tanggal 19-21 Agustus kemarin mengajak 22 stakeholder garam terdiri petani, pemilik tambak, ketua kelompok tani, klaster garam melakukan study banding ke kabupaten Sampang-Madura. Dipilihnya Sampang disebabkan hasil produksi garam setempat dikenal tinggi kadar Natrium Klorida (NaCl) dan mulai merambah sektor industri.
Kepala Dinperindagkop dan UMKM Rembang, Drs H Waluyo SE MM melalui Kabid Perindustrian Drs Sudirman didampingi Kasi Perindustrian, Sulistiyo SE menjelaskan, saat berada di Sampang ternyata diketahui bahwa garam rakyat yang dikembangkan stakeholder garam di sana dikembangkan secara beda. Tambak garam dikelola secara ilmiah dengan menggunakan metode ‘meja garam’.
Dijelaskan oleh Sudirman, tambak garam di Sampang diisi air laut setinggi 20 cm kemudian dikeringkan. Setelah benar-benar kering tidak dipanen melainkan kembali diisi air laut dengan ketinggian 5 cm. Baru setelah benar-benar terbentuk kristal garam dipanen pada rentang waktu 1-2 bulan berikutnya. “Prinsipnya garam dibuat di atas kristal garam bukan di atas tanah,:turturnya.
Dari tiap petak ukuran 10 kali 20 meter, selain hasilnya meningkat dari 70 ton menjadi 90 ton/tahun, kadar NaCl juga meningkat mencapai 98 %. “Dengan kondisi kadar garam tinggi tersebut lantas diserap sektor industri karena garam lokal berkadar garam tinggi,”cetus Sudirman.
Keberhasilan petani garam di sampang sendiri tak lepas dari peran salah satu pabrikan garam Internasional asal Australia PT Cheetam Salt Australia Ltd melalui anak perusahannya yang berada di Indonesia PT Cheetham Garam Indonesia (CGI). Mereka membuat demplot tambak garam seluas 5,6 hektar berdasar teknologi yang diajarkan teknisi PT CGI tentang tata kelola tambak bersistem ‘meja garam’.
Sedangkan Sulistyo mengatakan, study banding dengan melihat langsung tata kelola tambak secara ilmiah tersebut bertujuan memberikan tambahan wawasan serta merubah pola pikir stake holder garam di Rembang agar mau melakukan hal yang sama. “Dengan melihat dan mempelajari tata kelola tambak garam secara modern di Sampang diharapkan akan terjadi alih teknologi mengacu pada teknik sama,”sebut Sulistyo.
investasi Cheetam di Rembang
Nampaknya study banding ke Sampang-Madura sudah direncanakan secara matang oleh pemkab Rembang sebelumnya telah menandatangani Nota Kesepahaman atau MOU dengan PT Cheetam Australia. Internasional yang bergerak di bidang produksi garam industri. Tujuannya adalah meningkatkan kadar natrium klorida atau NaCl garam lokal sesuai standar nasional dan internasional mengandung NaCl 97 %. Dengan kata lain, garam lokal yang semula untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pakan ternak dapat ditngkatkan menjadi garam industri.
Menurut Kabid Perekomomian Bappeda Rembang, Drs Drupodo MSi, pemkab Rembang menandatangani MOU itu bersama Departemen Perindustrian, Departemen Kelautan dan Perikanan serta Universitas Diponegoro Semarang pada tanggal 3 Agusutus 2009 di Semarang.
Disebutkan oleh Drupodo, pada 2009 ini PT Cheetam akan membuat demplot atau lahan percontohan pengelolaan garam kualitas tinggi di lahan tambak Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, seluas 10 hektar, dengan metode pengelolaan pemberdayaan. “PT Cheetam akan memberdayakan sejumlah petani garam untuk belajar mengelola lahan percontohan. Ke depan, para petani itu diharapkan mandiri dan petani-petani lain turut mengembangkan pengelolaan garam kualitas tinggi,”katanya.
Drupodo menambahkan, tahun-tahun berikutnya pemkab Rembang akan membuat demplot yang sama di desa Purworejo kecamatan kaliori dan desa Gedongmulyo kecamatan Lasem. “Masing-masing sama seluas 10 hektar, pemerintah akan menganggarkan biaya pembuatan demplot di APBD,”ungkap Drupodo.
H Rasiyadi petani garam pelopor meja garam di Rembang, “Kami Ingin Merasakan Manisnya Harga Garam”
Rencana dibentuknya demplot meja garam di Rembang sendiri mendapat reaksi dari salas satu petani dan pemilik tambak garam asal desa Gedongmulyo-Lasem bernama H Rasiyadi (46 th). Karena jauh-jauh hari sebelumnya dia sudah menerapkan manajemen air, meja garam dan penundaan panen di tambaknya meski tidak sama dengan yang dikembangkan di Sampang-Madura.
Bila di Sampang pengelolaan meja garam setebal 20 cm, Rasiyadi hanya menerapkan ketebalan 10 cm. Masa panen dilakukannya setelah meja garam berusia 10 hari sedangkan di Sampang panen sendiri dilakukan setelah 1-2 bulan meja garam terbentuk. ”Metode yang saya kembangkan juga hasil berlajar dari petani garam di Madura,”ungkapnya.
Kurang lebih 3 tahun terakhir Rasiyadi mengembangkan meja garam versinya di lahan miliknya sekitar 2 hektar yang dibuatnya menjadi 10 petak tambak garam. Masing-masing berukuran 8 X 22 meter atau seluas 176 meter persegi. “Dengan melakukan panen pada hari ke sepuluh, saya bisa panen satu petak setiap harinya,”paparnya.
Hanya saja yang menjadi pertanyaaan sekarang menurut Rasiyadi, dengan tata kelola meja garam yang dikembangkan jelas kadar NaCl tinggi diatas 98 % dan garam juga lebih bersih. Namun mengapa garam produksinya masih sebatas masuk katagori garam konsumsi belum mampu menembus pasaran industri. “Harganya tetap rendah, sama dengan garam yang dikelola secara tradisional oleh petani lain,”keluhnya.
Oleh karena itu Rasiyadi berharap, MoU antara pemkab Rembang dengan PT Cheetam tidak sebatas membuat demplot garam saja melainkan ada pembahasan dan pembicaraan terkait kerja sama mengatur harga garam. Setidaknya dibeli sama dengan garam produk Madura seharga Rp 700/kg. Apabila hal tersebut tidak dilakukan, menurutnya meja garam sebagai hal percuma karena produk garam sudah berkualitas tinggi namun masih rendah harganya di pasaran berkisar Rp 2.500-3.000/kg.
“Tidak ada beda tata kelola tambak garam secara modern dan tradisional. Kami petani garam ingin sekali merasakan manisnya harga garam,”tegasnya dalam kata kiasan.
Jelang Panen Raya, Pengusaha Garam Atur Siasat
Menjelang panen raya garam bulan Oktober, para pengusaha mulai ancang-ancang menyiasati agar harga garam di pasaran tidak jatuh. Mereka ingin bertemu dan mengadalan pembicaraan dengan pengusaha garam lintas kota dan pulau membahas standarisasi agar tidak saling banting harga sehingga semua dapat memasarkan hasil produksinya.
H Pupon pemilik pabrik garam konsumsi merk ‘Apel Merah’ asal kecamatan Kaliori saat ditemui menyebutkan, menjelang panen raya harga garam di pasaran terus merambat turun, sehingga membuatnya khawatir. “Bila tidak ada kesepakatan antara pengusaha garam yang saling mendukung untuk mengendalikan harga garam, maka akan dipermainkan pemodal besar yang menguasaai pasar,”ujar Pupon.
Ke-duanya menambahkan, khusus tentang garam impor hendaknya peredarannya dipantau oleh pemerintah. Karena sekitar 70 % kebutuhan garam nasional untuk industri telah dikuasi garam impor dan belakangan ini mulai merambah 30 % peredaran garam konsumsi yang selama ini dipasok garam lokal. ”Kalau terus-terusan begini bagaimana produsen garam lokal dapat eksis,”tegas Pupon.
Ditambahkannya, seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, menjelang panen raya garam lokal kran impor garam tidak dibatasi sehingga stok para pengusaha garam lokal banyak yang menumpuk di gudang. ”Kami kalah bersaing dengan garam impor yang lebih putih dan kadar garamnya lebih tinggi,”imbuhnya.
Banyak persyaratan yang mesti dipenuhi
Kasubid Sosial dan Budaya Bappeda Rembang, Imam Teguh Susatyo menanggapi keluhan pengusaha garam mengatakan, pengusah agaram jangan hanya sekedar mengeluhkan kebaradaan garam impor yang jelas-jelas kualitasnya di atas produk lokal. Karena untuk sebatas memasok kebutuhan garam konsumsi dalamnegeri sendiri sebenarnya tidaklah gampang.
Menurut Imam, pemerintah pusat telah mengeluarkan regulasi yang harus dipenuhi persyaratannya. Melalui Keputusan Presiden (Kepres) No 69 tahun 1994 tentang Pengadan garam Iodium didalamnya diatur garam grosok tidak dapat dijual langsung ke konsumen karena kandungan NaCl dibawah syarat minimal berkadar 92,7 %.
Garam yang diperdagangkan untuk keperluan konsumsi manusia, ternak, pengasinan ikan atau bahan penolong industri pangan adalah garam yang benar-benar sudah memenuhi standarisasi yang ditetapkan oleh pemerintah. “Batas minimal yang ditetapkan pemerintah merupakan harga mati yang tidak dapat diubah. Oleh karena itu untuk keperluan konsumsi garam harus berkadar NaCl di atas 92,7 %, berkadar iodium sesuai batas minimal Standar Nasional Indonesia di atas 30 ppm,“terangnya.
Oleh karena lanjut Imam, jangankan untuk komoditi konsumsi yang diatur banyak persyaratan, jika petani, pemilik lahan, pengusaha garam ingin produknya bisa masuk pangsa industri tentu harus mau merubah paradigma pengelolaan tambak dari cara tradisional ke metode modren. “Seperti mengelola tambak garam dengan teknologi meja garam umpamanya,”kilah Imam.
Perlu Kepedulian Bersama Untuk Pemenuhan Hak Dasar Anak
Kesinambungan setelah Pemkab Rembang menetapkan 30 desa di 5 kecamatan sebagai pelaksana tahap awal Perbup Desa/Kelurahan Ramah Anak, ditindak lanjuti oleh Bappeda Rembang bekerja sama dengan Bernard Van Leer Foundatiom dan yayasan Kusuma Buana, selama 3 hari Selasa (4/8) hingga Kamis (6/8) mengadakan Seminar dan Lokakarya Multi Stakeholder Program “Early Childhood Care for Development (EECD) atau asuhan untuk tumbuh kembang anak usia dini. Kegiatan digelar di aula Bappeda diikuti 72 peserta meliputi SKPD, Depag, Camat, LSM Pendidikan dan Organisasi Masyarakat lainnya. Nara sumber pada kegiatan tersebut Kepala Bappeda Rembang Ir Hari Susanto MSi, DKK diwakili staff Titik Wahyuni SKM, Dinas Pendidikan diwakili Winaryu SPd BPMKB diwakili Rusmiyati BA, Depag diwakili Drs Jasim sedangkan dari Yayasan Kusuma Buana diwakili dr Agustini E Raintung.
Kepala Bidang Pemerintahan, Sosial dan Budaya Bappeda Sri Wahyuni SH MSi saat membuka kegiatan antara lain menyampaikan, strategi EECD memang relatif masih baru yang dikembangkan berdasarkan faktor saling berinteraksi. Faktor tersebut yakni kesehatan, gizi, perkembangan fisik, intelektual, psiko-sosial, emosional dan spritiual, ekonomi dan budaya, serta lingkungan fisik dan manusia dimana anak dibesarkan.
Semua upaya yang diterapkan dalam strategi EECD dilakukan untuk menjamin kelangsungan hidup anak, menjamin agar setiap anak mendapat perlindungan dan pengasuhan yang memadai untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal sejak lahir hingga berusia 8 tahun.
Menurut Yuni, maksud dan tujuan diselenggarakannya seminar dan lokakarya multi stakeholder yakni untuk meningkatkan kesadaran bersama akan arti pentingnya menginvestasikan berbagai sumber daya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Memperoleh komitmen pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengimplementasikan program yang holistik dan terpadu untuk anak usia dini.
“Kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan sebuah rencana aksi daerah dapat menciptakan implementasi program anak usia dini yang bersifat holistik dan terpadu sebagai upaya untuk pemenuhan hak-hak dasar anak,”sebutnya.
Sementara itu Ketua Tim Pengegrak PKK Kabupaten Rembang Ny Umy Jazilah Salim dalam kata sambutannya di acara tersebut antara lain menyebutkan, pengembangan anak usia dini merupakan hal yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan sumberdaya manusia. “Tidak mengherankan apabila banyak negara menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penyelenggaraan tumbuh kembang anak usia dini,”ucapnya.
Menurut Ny Umy, masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses yang berharga untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya. Berdasarkan hasil penelitian dari direktorat PAUD tahun 2004 bahwa sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berumur 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun.
Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode emas ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewat berarti habislah peluangnya. “Untuk itu perhatian terhadap tumbuh kembang untuk usia dini dalam bentuk pemberian rangsangan-rangsangan atau stimulasi dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak,”ungkap Ny Umy.
Ditambahakannya, selanjutnya adalah siapakah yang berperan dan sebagai pemangku kewajiban untuk melakukan proses pengasuhan tumbuh kembang anak usia dini? Pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan tumbuh dan kembang anak usia dini adalah pemerintah (negara), masyarakat dan keluarga. “Keluarga adalah institusi pertama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak. Disanalah pertama kali dasar-dasar kepribadian anak dibangun dan budi pekerti juga akan didapat anak dari keteladanan sikap dari keseharian orangtua. Keluarga juga merupakan awal anak diajarkan untuk memilih kalimat-kalimat yang baik, sikap sopan santun, kasih sayang terhadap saudara dan orang lain. Didalam keluargalah proses pembangunan potensi dasar untuk membentuk generasi berkualitas mulai dipersiapkan,’papar Ny Umy.
Sementara itu lanjutnya, masyarakat juga mempunyai peran yang besar dalam tumbuh dan kembang potensi anak. Masyarakat sebagai lingkungan anak menjalani aktivitas sosialnya mempengaruhi baik buruknya proses tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun biologis. Masalah-masalah yang dihadapi anak ketika berinteraksi dalam masyarakat sedapat mungkin perkara negatif yang akan menjerumuskan anak akan dicegah bersama.
Disinilah peran masyarakat sebagai kontrol sosial untuk terwujudnya generasi ideal. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup generasi tidak saja para tetangganya tetapi juga termasuk sekolah dan masyarakat dalam satu negara. “Karena itu para tetangga, para pendidik dan juga pemerintah sebagai penyelenggara urusan negara bertanggung jawab dalam proses pendidikan generasi penerus,”kata Ny Umy.
Dari seluruh pihak yang mempunyai tanggungjawab dalam penyiapan generasi penerus suatu bangsa, tentu negaralah yang mempunyai peran terbesar dan terpenting dalam menjamin berlangsungnya proses tumbuh kembang anak sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa. Di dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 telah dengan sangat jelas dan tegas, bahwa negara bertanggung jawab atas kegiatan mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada Amandemen UUD pasal 28 b ayat 2, yaitu negara menjamin kelangsungan hidup, pengembangan dan perlindungan anak terhadap eksploitasi dan kekerasan. Tentu hal itu membawa pada konsekuensi komitmen yang mesti diupayakan pemenuhannya.
Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan panduan stimulasi dalam program Bina Keluarga Balita (BKB) sejak tahun 1980. Program BKB merupakan upaya pemberdayaan anggota keluarga sehingga mereka dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan rangsangan positif guna menunjang proses tumbuh kembang balita secara optimal. Kemudian pada tahun 2001, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda mengeluarkan program PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Namun demikian belum menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Di dalam laporan UNESCO 2005 mengenai Pendidikan Untuk Semua, disebutkan bahwa Indonesia merupakan negara terendah di ASEAN dengan angka partisipasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) baru sebesar 20%, ini masih lebih rendah dari Fhilipina (27%), bahkan negara yang baru saja merdeka Vietnam (43%), Thailand (86%) dan Malaysia (89%).
Hadirin yang berbahagia,
Permasalahan utama terkait pengembangan anak usia dini adalah tentang terbatasnya cakupan layanan. Khususnya cakupan layanan bagi tumbuh kembang anak yang mengarah pada layanan pemenuhan kebutuhan anak secara holistik dan integrasi, yang mencakup kesehatan, gizi, pendidikan dan pengasuhan. “Karena itu perlu dukungan nyata berbagai dinas terkait dan peran serta stakeholder yang intensif,”tegsanya.
Pihaknya sendiri sangat apresiasi terhadap partisipasi dari para pihak yang turut mengembangan program PAUD di Kabupaten Rembang, baik oleh Pemerintah melalui Instansi/SKPD dan mitra-mitranya maupun Lembaga Non Pemerintah seperti Organisasi Kemasyarakatan dan Pihak Swasta, selanjutnya melalui pertemuan ini alangkah lebih baiknya jika Kabupaten Rembang mempunyai sebuah Rencana Strategis Program Pengembangan Anak Usia Dini secara holistik dan terintegrasi sehingga Visi dan Misi dari Program Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini yaitu untuk memenuhi Hak Akan Tumbuh dan Kembang Anak menjadi lebih efektif dan efisien. “Melalui forum seminar dan Lokakarya ini, kami berharap kedepan akan ada sebuah keterpaduan dan sinergisitas Program Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini di Kabupaten Rembang, yaitu Sebuah Kerjasama, Sharing Peran dan tidak ada ego sektoral diantara berbagai pihak pengelola maupun mitra dalam pengembangan Program PAUD,”imbuh Ny Umy. .
Beberapa waktu yang lalu juga telah diadakan workshop serupa di Kabupaten Rembang, dalam wokshop tersebut telah dilakukan komunikasi awal dalam penggalian gagasan untuk pengelolaan PAUD yang holistik dan terintegrasi. Kegiatan kali ini diharapkan makin menajamkan apa yang telah dicapai pada wokshop terdahulu, untuk lebih lanjut dapat dikembangkan rencana strategis dan model diterapkannya program anak usia dini yang holistik dan terpadu.Karena didukung oleh calon mitra lagi yang hadir memfasilitasi seminar dan workshop yaitu Lembaga Non Pemerintah (NGO) Internasional Bernard van Leer Foundation bekerja sama dengan Yayasan Kusuma Buana dan Project Concern International (PCI) Indonesia.
Kunjungi Rembang, Perwakilan UNICEF Dokumentasikan Peredaran Garam Beriodium
Dorothy Foote warga negara Amerika perwakilan UNICEF (Orgainsasi Dunia Bidang Anak yang bernaung dalam PBB) selama 3 hari, 10-13 Agustus berkunjung ke kabupaten Rembang. Kedatangannya di Rembang guna mendokumentasikan peredaran garam beryodium, hal ini terkait dengan ditetapkannya kabupaten Rembang sebagai pilot project peredaran garam berkadar iodium sesuai Standar Nasional Indonesia, di atas 30 ppm.
Armunanto perwakilan UNICEF Jawa tengah selaku pendamping, saat dihubungi seputar kegiatan Dorothy di Rembang menerangkan, dalam kunjungannya perwakilan UNICEF tersebut mengumpulkan gambar hasil pemantauan dan mengumpulkan laporan penting lainnya terkait peredaran garam beriodium di kabupaten Rembang. Dimana hasilnya nanti akan diterbitkan sebagai dokumen resmi UNICEF. ”Bu Dorothy bertugas mengumpulkan dan mengidentifikasikan laporan dan gambar peredaran garam beriodium di Rembang. Hasuilnya akan dibuat klaporan setebal 8 halaman yang akan digunakan sebagai acuan kegiatan sama di lain propinsi bahkan di negara lain,”ujarnya.
Ditambahkan oleh Armuannto, kunjungan hari pertama Senin (10/8) Dorothy ’turba’ ke desa-desa terpencil di kecamatan Pamotan dan Sedan, melakukan pemeriksaan peredaran garam beryodium dan tingkat asupan garam beryodium di beberapa rumah warega.
Hari ke-dua Selasa (11/8) didampingi Tim Gakkum Garam melakukan pemantauan di Pasar Rembang dan pabrikan garam. Memeriksa sample produk garam yang beredar untuk memastikan berapa kadar yodiummya.
Sedangkan hari ke-tiga Rabu (12/8) Dorothy menerima paparan hasil operasi pasar Tim Gakkum Garam seputar hasil operasi lapangan peredaran garam beryodium kurun waktu tahun 2004-2009.
Terpisah, Kasubid Sosialdan Budaya Bidang Pemerintahan, Sosial dan Budaya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Rembang, Imam Teguh Susatya SE menyebutkan, Rembang termasuk salah satu kota di propinsi Jawa tengah yang telah menjalin kerja sama dengan UNICEF dalam beberapa bidang. ”Pada Pernyataan dukungan bersama 14 Gubernur dan DPRD Provinsi lokasi program kerja sama dengan UNICEF periode 2006–2010, yang ditandatangani pada tanggal 27 Januari 2006. Kabupaten Rembang merupakan salah satu daerah binaan Unicef,”terangnya.
Salah satu bidang yang masuk dalam klausul kerja sama dengan UNICEF yakni Kesehatan dan Gizi, meliputi kegiatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, manajamen terpadu balita sakit, ASI eksklusif, garam Iodium, posyandu dan penanggulangan flu burung. ”Bentuk real kegiatan fokus pada pengelolaan program kesehatan dan gizi, kegiatan garam beriodium untuk semua (GABUS) yang dilaksanakan dengan pendekatan tim penegakkan hukum peredaran garam beriodium dan gangguan akibat kekurangan Iodium (GAKY),”caetusnya.
Ket gambar: Dorothy sidak di Pasar Rembang
Rembang Terima Alokasi PNPM-MP Rp 26,9 M
Pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) tahun 2009, Kabupaten Rembang menerima alokasi sebanyak Rp.26,9 milyar untuk 12 kecamatan. Dengan rincian Rp 21,5 milyar bersumber dari DIPA-APBN, dan Rp 5,4 milyar bersumber dari APBD Kabupaten Rembang tahun 2009. Demikian dikatakan Bupati Rembang H Moch Salim dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Pemerintahan Supraja SH pada launching Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan Kabupaten Rembang 2009 baru-baru ini di pendopo Kabupaten.
Disebutkan, PNPM Mandiri mempunyai sinergitas dengan 4 pilar program strategis Kabupaten Rembang. Oleh karena itu pihaknya meminta, akselerasi pengentasan kemiskinan dan pengangguran dapat lebih memperoleh peluang untuk dapat diwujudkan, utamanya dengan adanya Gerakan Pengembangan Ekonomi Lokal (Gerbang Elok).
”Gerbang Elok memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat Rembang untuk dapat mengembangkan kewira-mitrausahaan dalam rangka meningkatkan produktifitasnya, sehingga akan mengurangi pengangguran,”sebut Supraja.
Lebih lanjut dibacakanoleh Supraja, sikap Pemkab Rembang terhadap kemiskinan dan pengangguran adalah tegas dan mempunyai komitmen yang tinggi. Yakni Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) adalah pedoman guna merancang berbagai program untuk saudara-saudara kita yang berada di bawah garis kemiskinan, dengan pendekatan pro-poor dalam merumuskan budgeting. ”Sehingga secara sistimatis angka penurunan kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten Rembang dapat turun secara signifikan,”ucapnya.
Sementara itu Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Prof Dr Singgih Tri Sulistyono MA pada kesempatan tersebut mengatakan, pendidikan kewirausahaan perlu diberikan kepada generasi muda sedini mungkin. Sebagaimana pendidikan etika, kewirausahaan tidak harus selalu diberikan dalam bentuk teoritik tetapi menginternalisasikan nilai-nilai kemandirian, keperwiraan, kewirausahaan dalam kehidupan.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala SKPD se-Kabupaten Rembang, Tim Koordinasi PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Rembang, PJOK PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Rembang, UPK PNPM Mandiri Perdesaan dari Kecamatan Wonosalam Kab. Demak, Fasilitator PNPM serta tamu undangan.
Dinas Sosial Prop Jateng Kucurkan 2 Milyar Bagi KK Miskin di Kabupaten Rembang
Dinas Sosial Propinsi Jawa tengah pada Program Pemberdayaan fakir miskin (P2FM) di kabupaten Rembang tahun 2009 ini mengucurkan anggaran sebesar Rp 2 Milyar bagi 1.000 KK miskin. Semuanya merupakan wargamiskin yang tergabung dalam 100 kelompok usaha bersama (KUBE) di wilayah kecamatan Kaliori dan Bulu. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Rembang, Pandu Marhaendra Bhakti Prasetya pada acara pemantapan KUBE di balai desa Babadan kecamatan Kaliori belum lama ini.
Pandu menyebutkan, program P2FM merupakan upaya untuk mengentaskan masyarakat miskin dari keterpurukan ekonomi. Dana yang dibagikan bagi kelompok nantinyadiperuntukkan usaha ekonomi produktif seperti penggemukan sapi, peternakan sapi, maupun peternakan kambing. Pencairan Program P2FM kabupaten Rembang bagi 1000 KK di wilayah kecamatan kaliori dan Bulu rencananya akan dicairkan pada bulan Oktober mendatang. “Dana sifatnya bergulir, setelah dikelola satu kelompok, selanjutnya harus diberikan kepada kelompok KUBE lainnya,”kilahnya..
Sementara itu Kepala Seksi Pemberdayaan Dinas Sosial Propinsi Jawa Tengah Wibowoyang hadirpada kegiatan tersebut mengungkapkan, sebelumnya pada tahun 2008 kabupaten Rembang juga mendapatkan program pemberdayaan masyarakat miskin bagi 400 KK miskin di kecamatan Sulang dan kecamatan Sumber. Sehingga pada tahun ini diberikan pada dua kecamatan lain yang mempunyai warga miskin banyak yang memenuhi kriteria menerima bantuan yakni kecamatan Bulu dan Kaliori.
Balai Konservasi Borobudur Teliti Metode Rekonstruksi Perahu Kuno
5 peneliti dari Balai Konservasi Borobudur selama 3 hari/ Sabtu hingga Senin. (15-17/8) melakukan penelitian lokasi temuan perahu kuno yang oleh para arkeolog dinamakan Situs Punjulharjo. Kali ini penelitian dilakukan sebagai persiapan rekonstruksi perahu kuno yang dalam waktu dekat segara dilaksanakan.
Yustinus Sunarto, salah satu tim peneliti yang memiliki bidang khusus seluk beluk tentang kayu, saat ditemui dilokasi menjelaskan, kegiatan tim antara mengambil sampel seluruh bagian kapal untuk diteliti tingkat kelapukannya. Kemudian diperiksa di laboratorium dan hasilnya dibahas bersama dengan tim arekolog.
Yustinus mengisyaratkan bahan perahu kuno sebagai kayu sakit sehingga diperlukan formula khusus untuk membuatnya kuat ketika nanti diangkat guna keperluan konservasi. ”Ibaratnya kayu perahu ini adalah barang sakit. Sehingga perlu diteliti tingkat kelapukannya, dicarikan formula agar membuatnya kuat, agar tidak pecah ketika nanti diangkat untuk penelitian lebih lanjut,”terangnya.
Sementara itu memberikanketerangan terpisah, penelitilain bernama Iskandar, sehari-hari bertugas Kepala Seksi Pelayanan Teknis Balai Konservasi Borobudur menjelaskan, untuk konservasi diperlukan instrumen pendukung lain hasil analisis klimatologi. Antara lain arah angin, tingkat kadar garam air, daya serap tanah dan semua hal yang berkaitan lingkungan situs perahu. “Semua menjadi catatan penting, karena langkah rekonstruksi selain mengutamakan kondisi perahu juga bergantung pada lingkungan sekitar situs,”ungkapnya.
Sementara Heni Kusumawati selaku ketua tim peneliti saat ditemui menegaskan, upaya rekonstruiksi perahu nantinya melibatkan berbagai ahli disiplin ilmu. Semua membuat analisis untuk dipadukan. Kemudian dirumuskan bersama guna menentukan metode pengangkatan perahu. “Dua opsi yang mungkin dilakukan ke-depan terkait temuan perahu yakni kapal diangkat kemudian dilakukan rekonstruksi menggunakan kayu tambahan sejenis atau diangkat dibiarkan dalam kondisi semula, kemudian dibuat replikanya,”papar Heni.
Tunggu pengungkapan sejarah situs punjulharjo
Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang,H Hamzah Fatoni SH MKn sendirisaat dikonfirmasi perkembangan penelitian situs Punjulharjo menjelaskan, penelitian yang dilakukan oleh para peneliti adalah sebagai persiapan rekonstruksi perahu kuno dalam waktu dekat ini. Pemkab Rembang sangat apresiasitif kepada tenaga ahli atau peneliti yang membantu mengungkap berbagai identifikasi situs yang dibutuhkan bagi kepentingan masyarakat, khususnya Rembang dan Indonesia pada umumnya.
Pemkab Rembang berharap pengungkapan fakta sejarah situs Punjulharjo yang sekarang terus dilakukan, tidak hanya berhenti pada motif perahu saja melainkan sampai latar belakang keberadannya di kawasan Punjulharjo. “Pengungkapan latar belakang adanyaperahu di Punjulharjoa sangat penting untuk diketahui guna mengungkap apakah kapal terdampar atau sengaja merapat.. Atau dimungkinkan Rembang memiliki sebuah tempat yang dituju, seperti pusat pemerintahan- perdagangan atau budaya,”cetus Sekda Rembang.
Banyaknya cerita kesejarahan dilepas pantai Rembang, selain ditemukan kapal perang karam di dasar laut, penemuan situs Punjulharjo dan barang bersejarah lainnya menambah keyakninan bahwa di perairan Rembang masih banyak peninggalan lain yang belum diketahui dan diketemukan.
Rabu, 30 September 2009
Bosan jadi karyawan, produksi ikat pinggang sendiri
Bosan Jadi Karyawan, Produksi Ikat Pinggang Sendiri
Sejak puluhan tahun yang lalu, banyak anak muda di desa Jurangjero Kecamatan Sluke yang merantau ke luar kota. Terbanyak mereka merantau ke Jakarta dan Bandung sebagai karyawan industri ikat pinggang. Jika ada yang krasan dan mendapat penghasilan lumayan, mereka lantas membawa teman-temannya untuk turut kerja di sana.
Itu berlangsung bertahun-tahun. Praktis, mereka yang jumlahnya semula hanya satu dua orang menjadi 25-an orang.
Setelah bertahun-tahun, di antara mereka ada yang merasa harus pulang kampung untuk mandiri. Intinya mereka bosan jadi karyawan, ingin mandiri untuk meningkatkan taraf hidup.
Masngut (36) adalah salah satu dari pemuda lain yang berjumlah puluhan, sejak tahun 1997 mencoba peruntungan memproduksi ikat pinggang sendiri. Pengalamannya membuat ikat pinggang di pabrik orang selama 4 tahun cukup menjadikannya pengalaman untuk mandiri.
Setelah berhasil membuat ikat pinggang, produknya dipasarkan pada konveksi pakaian anak-anak di Jakarta, Pekalongan dan Jepara. Memang ikat pinggang produksi Masngut khusus untuk aksesori celana anak-anak.
Awal berdiri, usaha ikat pinggang suami Istiqomah dengan satu putra ini memperkerjakan 3 orang karyawan dari tetangganya sendiri. Kini, UD Bowo Gesper milik Masngut memiliki karyawan 20-an orang.
Sayangnya, dari puluhan pemuda perantauan yang membuat produk ikat pinggang sendiri, hanya tinggal 3 orang yang bertahan hingga sekarang.
Penghasilan Bagus
Memproduksi ikat pinggang jika sudah menemukan kepercayaan akan lancar-lancar saja. Setiap pekan sekali pengiriman Masngut mengirim ke pelangganya 4000 lusin ikat pinggang. Lancarnya usaha Masngut menjadi keuntungan tersendiri bagi tetangga-tetangganya. Karena memproduksi ikat pinggang melibatkan banyak orang, karena untuk memasang pernik-pernik ikat pinggang harus melibatkan banyak tangan. Biasanya pernik-pernik yang kecil dikerjakan oleh ibu-ibu sebagai sampingan.
Sistem kerja yang diterapkan adalah borongan. Sehingga mereka bisa bebas bekerja kapan saja dengan penghasilan yang lebih memadai. Bahkan pekerjaan itu bisa dibawa ke rumah masing-masing.
Rata-rata penghasilan karyawan menurut Masngut berkisar antara Rp.300.000 s/d Rp.350.000,- dibayar mingguan.
Disamping kepercayaan yang diperoleh Masngut, ia juga mencari terobosan konveksi lain. Sehingga produk Masngut mampu bertahan hingga sekarang.
:-) Shodiqin
Imam Thohari, Istikomah Produksi Sirup Kawis
Imam Thohari, Istiqomah Produksi Sirup Kawis
Masih jarang warga Rembang yang memproduksi makanan dan minuman dengan bahan khas Rembang. Dari yang jarang itu, Imam Tohari (52) adalah salah satu orang yang istiqomah menggeluti bidang olah makanan dan minuman dengan bahan khas Rembang. Bahan yang dimaksud namun masih langka itu adalah kawis.
Debut suami Sulastri (52) dengan dua putra ini dimulai sejak tahun 2002. Dengan bahan asli buah kawis yang beraroma segar ini, Imam Tohari mengolahnya menjadi sirup sari buah kawis. Produknya mula-mula dititipkan di toko-toko kenalan. Setiap ada Expo di Rembang, sirup kawis dengan merek KBM 2 diikutkan pameran.
Disamping sirup sari buah kawis, ayah Siti Umi Zahroh dan Rifki Ivan Dianto ini juga memproduksi makanan dan minuman lain dengan bahan kawis. Seperti Limun Sari Buah Kawis, Madu Mongso Kawis, dan Selai Buah Kawis.
Sesuai dengan nama KBM 2 (Karya Bakti Makanan dan Minuman), Pak Imam juga memproduksi Kecap Manis Beryodium, Kopi Bubuk Lelet, Bandeng Presto Bacem, Bandeng Tandu Crispy, Trasi Open, Kacang This dan Kerupuk Udang/Ikan.
Lama-lama Sirup Kawis dan produk-produk lain KBM 2 banyak penggemarnya. Ciri khas kawis yang dijamin keasliannya ini menjadikan pelanggan terus bertambah. Apalagi KBM 2 ini juga menjadi salah satu binaan BNI Pusat, sehingga memungkinkan ikut pameran mulai dari skala regional, nasional hingga internasional.
Tercatat KBM 2 setiap tahun ikut Rembang Expo. Pameran tingkat regional yang pernah diikuti antara lain di Rembang sendiri, Tuban, Kudus, Solo, Yogyakarta, Borobudur, PRPP Semarang. Tingkat nasional di JCC Jakarta dan Jakarta Fair. Tingkat Internasional di Museum Bandung Lautan Api dalam rangka Hari Pangan Dunia yang bertajuk International Food Expo 2008.
Sertifikat Halal
Yang cukup membanggakan dari produk KBM 2 adalah setiap item produknya sudah didaftarkan di Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang. Bahkan semua produknya yang berjumlah puluhan macam itu juga didaftarkan di Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetika MUI untuk mendapatkan Sertifikat Halal. Untuk sementara yang sudah keluar adalah sertifikat Halal untuk Kecap Manis Beryodium Cap Udang Windu. Sertifikat Halal ini keluar tanggal 25 Juli 2008 ditandatangani Komisi Fatwa MUI Jateng KH Kharis Shodaqoh, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetika MUI Jawa Tengah Prof Dr HM Muchoyyar HS,MA dan Ketua MUI Jawa Tengah KH Habib Luthfi Ali Yahya.
Imam Tohari, pegawai Dinas Perhubungan Rembang yang senang membaca selawat saat mengolah produksinya ini bertekad ingin menjadikan produknya dikerjakan dengan prinsip-prinsip Islam yang menjunjung kesucian dan kebersihan.
Dengan demikian Imam Tohari menjamin bahwa produknya bebas campuran lain yang membahayakan, karena setiap tahun dikontrol oleh Balai POM MUI dan Dinkes Provinsi Jawa Tengah.
Sedia Bibit Kawis
Sebagai produsen yang menggunakan bahan kawis, menjadikan Imam Tohari turut memikirkan keberlangsungan kawis ke depan. Setiap mengolah kawis, dipisahkan dulu biji, serat dari isi kawis. Isi kawis diolah menjadi kawis dan makanan lain, sementara bijinya dimanfaatkan untuk pembibitan dan disimpan.
Jika ada warga Rembang yang berminat terhadap bibit kawis ini, Imam Tohari mempersilahkan datang ke kediamannya, Ds. Pantiharjo Kaliori Rembang. Ia berharap ke depan buah kawis tidak lagi menjadi buah langka, dan kelak ketersediaan bahan baku kawis akan melimpah di Rembang. :-) Shodiqin
Langganan:
Postingan (Atom)
