Tampilkan postingan dengan label Sejarah Rembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Rembang. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

Sejarawan Rekomendasikan Lasem sebagai Kota Cagar Budaya

Minggu (19/12) kembali anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia komisariat Rembang mengadakan seminar dan kegiatan outbond terkait peninggalan sejarah yang ada di Lasem. Kali ini tema yang diangkat yakni Menyusur Sungai, Meretas Sejarah Cina di Lasem. Tampil sebagai narasumber pemerhati budayawan dan ahli sejarah Lasem, Slamet Wijaya dan Guru Besar Fakultas Sejarah Universitas Dipenonegoro (UNDIP) Semarang, Dra Titiek Suliyati MT.
Slamet Widjaja dalam acara tersebut antaralain memaparkan, masyarakat Lasem khususnya yang tinggal di desa Babagan kurang peduli terhadap potensi sejarah sungai setempat, mereka tidak pernah merawat dan berupaya melestarikan situs-situs sejarah yang ada. Padahal situs-situs tersebut merupakan saksi bisu sejarah sekaligus dapat menjadi tempat studi konkret yang melengkapi teori sejarah yang diberikan di sekolah. Menurutnya sayang bila tidak dilestarikan, karena generasi selanjutnya dapat kehilangan informasi sejarah yang sangat berharga.
Sementara itu menyampaikan sambutan yang disampaikan di acara seminar nasional dan kegiatan outbond bertema Menyusur Sungai-Meretas Sejarah Cina di Lasem”, pelindung MSI yang juga Bupati Rembang-H Moch Salim berharap seluruh hasil kegiatan yang dilakukan MSI agar direkomendasikan ke pemkab Rembang, guna dikaji lebih lanjut. Khusunya terkait situs-situs yang selama ini belum ada regulasi hukumnya. Sehingga ke-depan saat situs-situs tersebut dikembangkan dan dikelola lebih lanjut ada aturan hukum yang melindunginya.
“Saya memberi apresiasi yang tingi dengan adanya MSI dan seluruh kegaiatannya. Karena tidak merasa sendiri lagi untuk memikirkan dan merumuskan kebijakan terkait perlindungan dan pengembangan situs-situs sejarah menjadi obyek wisata,” ujar H Moch Salim.
Sedangkan salah satu peserta bernama Widya Wijayanti, arsitek dan perencana lingkungan binaan asal Semarang, pada kegiatan tersebut mengusulkan agar pemerintah melalui MSI Rembang, mengusulkan sungai Babagan Lasem dan kota tua Lasem menjadi kota pusaka. “Di bantaran sungai dan kota tua terdapat bangunan-bangunan bersejarah yang mempunyai nilai tinggi, baik di bidang arsitektur maupun sejarah,” tuturnya.
Adapun Ketua Komisariat MSI Rembang, Edi Winarno sendiri mengatakan, pihaknya berencana membuat rekomendasi untuk mengemas sungai Babagan Lasem dan kota tua Lasem sebagai kota wisata. Potensi wisata itu beragam, berupa susur sungai, mengunjungi dan mempelajari bangunan-bangunan bersejarah yang ada,” ucapnya.
Dalam kegiatan hari Minggu tersebut, MSI Rembang mencatat sembilan jejak sejarah di bantaran Sungai Babagan, Lasem. Antara lain kelenteng Makco, bekas pelabuhan Dasun, Masjid Kriyan, parit jalur candu, jembatan lori pengangkut kayu, bekas permukiman China, galangan kapal, bekas pos pengawasan laut dan situs tambak bathuk mini. Untuk selanjutnya seluruh temuan tersebut akan direkomendasikan agar Lasem dan sungai Babagan dimasukkan sebagai kota cagar budaya.

Sabtu, 16 Januari 2010

Sejarawan Rekomendasikan Lasem sebagai Kota Cagar Budaya

Minggu (19/12) kembali anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia komisariat Rembang mengadakan seminar dan kegiatan outbond terkait peninggalan sejarah yang ada di Lasem. Kali ini tema yang diangkat yakni Menyusur Sungai, Meretas Sejarah Cina di Lasem. Tampil sebagai narasumber pemerhati budayawan dan ahli sejarah Lasem, Slamet Wijaya dan Guru Besar Fakultas Sejarah Universitas Dipenonegoro (UNDIP) Semarang, Dra Titiek Suliyati MT.
Slamet Widjaja dalam acara tersebut antaralain memaparkan, masyarakat Lasem khususnya yang tinggal di desa Babagan kurang peduli terhadap potensi sejarah sungai setempat, mereka tidak pernah merawat dan berupaya melestarikan situs-situs sejarah yang ada. Padahal situs-situs tersebut merupakan saksi bisu sejarah sekaligus dapat menjadi tempat studi konkret yang melengkapi teori sejarah yang diberikan di sekolah. Menurutnya sayang bila tidak dilestarikan, karena generasi selanjutnya dapat kehilangan informasi sejarah yang sangat berharga.
Sementara itu menyampaikan sambutan yang disampaikan di acara seminar nasional dan kegiatan outbond bertema Menyusur Sungai-Meretas Sejarah Cina di Lasem”, pelindung MSI yang juga Bupati Rembang-H Moch Salim berharap seluruh hasil kegiatan yang dilakukan MSI agar direkomendasikan ke pemkab Rembang, guna dikaji lebih lanjut. Khusunya terkait situs-situs yang selama ini belum ada regulasi hukumnya. Sehingga ke-depan saat situs-situs tersebut dikembangkan dan dikelola lebih lanjut ada aturan hukum yang melindunginya.
“Saya memberi apresiasi yang tingi dengan adanya MSI dan seluruh kegaiatannya. Karena tidak merasa sendiri lagi untuk memikirkan dan merumuskan kebijakan terkait perlindungan dan pengembangan situs-situs sejarah menjadi obyek wisata,” ujar H Moch Salim.
Sedangkan salah satu peserta bernama Widya Wijayanti, arsitek dan perencana lingkungan binaan asal Semarang, pada kegiatan tersebut mengusulkan agar pemerintah melalui MSI Rembang, mengusulkan sungai Babagan Lasem dan kota tua Lasem menjadi kota pusaka. “Di bantaran sungai dan kota tua terdapat bangunan-bangunan bersejarah yang mempunyai nilai tinggi, baik di bidang arsitektur maupun sejarah,” tuturnya.
Adapun Ketua Komisariat MSI Rembang, Edi Winarno sendiri mengatakan, pihaknya berencana membuat rekomendasi untuk mengemas sungai Babagan Lasem dan kota tua Lasem sebagai kota wisata. Potensi wisata itu beragam, berupa susur sungai, mengunjungi dan mempelajari bangunan-bangunan bersejarah yang ada,” ucapnya.
Dalam kegiatan hari Minggu tersebut, MSI Rembang mencatat sembilan jejak sejarah di bantaran Sungai Babagan, Lasem. Antara lain kelenteng Makco, bekas pelabuhan Dasun, Masjid Kriyan, parit jalur candu, jembatan lori pengangkut kayu, bekas permukiman China, galangan kapal, bekas pos pengawasan laut dan situs tambak bathuk mini. Untuk selanjutnya seluruh temuan tersebut akan direkomendasikan agar Lasem dan sungai Babagan dimasukkan sebagai kota cagar budaya.

Penemu perahu kuno situs punjulharjo terima penghargaan

Lima orang Penemu perahu benda cagar budaya di desa Punjulharjo kecamatan Rembang yakni Mulyadi, Ahmad Sulkhan, Taefurrohman, Sudirman, Masrikan dan pemilik tanah lokasi itus, Maskuri, rabu (9/12) menerima tali asih uang sebesar Rp 16 juta dari Departeman Kebudayaan dan Pariwisata melalui Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa tengah, di Sasana Budaya, komplek rumah dinas Bupati Rembang.
Secara simbolis tali asih disampaikan perwakilan dari BP3, Hutomo kepada Kepala Dinas Kebudayan, Pariwisata, Pemuda dan Olah raga (Disbudpora) Rembang Sadono, mewakili Bupati diteruskan kepada Kepala Desa Punjulharjo, Nur Salim.
Hutomo dalam kesempatan tersebut menyampaikan, sesuai Undang Undang nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, bahwa penemu kapal akan mendapat imbalan jasa sesuai dengan nilai benda tersebut.
Sementara itu Sadono, atas nama pemkab Rembang menyampikan apresiasi dan terimakasihnya kepada BP3 atas kepeduliannya memberikan imbalan jasa kepada penemu kapal. Penghargagan tersebut diharapkan memberikan kesadaran warga untuk melestarikan cagar budaya. Pemkab Rembang sendiri mempunyai komitmen untuk melestarikan benda-benda purbakala.
Seperti yang diketahui, pada tanggal 28 Juli 2008 lalu beberapa warga di desa Punjulharjo kecamatan Rembang ketika membuat tambak, secara tidak sengaja menemukan perahu kuno. Dari hasil identifikasi jenis kapal berasal dari abad ke 8 setara dengan pembangunan candi borobudur.
Penemuan tersebut terlengkap di Asia tenggara karena kondisi kapal masih utuh dibanding temuan di sejumlah negara lain. Bersamaan dengan perahu kuno ddalamya ditemukan pula kapak, tulang, tongkat ukir, tutup wakul dari kayu, mangkok pecahan, dan kepala patung batu.

Minggu, 01 November 2009

Balai Konservasi Borobudur Teliti Metode Rekonstruksi Perahu Kuno

Balai Konservasi Borobudur Teliti Metode Rekonstruksi Perahu Kuno
5 peneliti dari Balai Konservasi Borobudur selama 3 hari/ Sabtu hingga Senin. (15-17/8) melakukan penelitian lokasi temuan perahu kuno yang oleh para arkeolog dinamakan Situs Punjulharjo. Kali ini penelitian dilakukan sebagai persiapan rekonstruksi perahu kuno yang dalam waktu dekat segara dilaksanakan.
Yustinus Sunarto, salah satu tim peneliti yang memiliki bidang khusus seluk beluk tentang kayu, saat ditemui dilokasi menjelaskan, kegiatan tim antara mengambil sampel seluruh bagian kapal untuk diteliti tingkat kelapukannya. Kemudian diperiksa di laboratorium dan hasilnya dibahas bersama dengan tim arekolog.
Yustinus mengisyaratkan bahan perahu kuno sebagai kayu sakit sehingga diperlukan formula khusus untuk membuatnya kuat ketika nanti diangkat guna keperluan konservasi. ”Ibaratnya kayu perahu ini adalah barang sakit. Sehingga perlu diteliti tingkat kelapukannya, dicarikan formula agar membuatnya kuat, agar tidak pecah ketika nanti diangkat untuk penelitian lebih lanjut,”terangnya.
Sementara itu memberikanketerangan terpisah, penelitilain bernama Iskandar, sehari-hari bertugas Kepala Seksi Pelayanan Teknis Balai Konservasi Borobudur menjelaskan, untuk konservasi diperlukan instrumen pendukung lain hasil analisis klimatologi. Antara lain arah angin, tingkat kadar garam air, daya serap tanah dan semua hal yang berkaitan lingkungan situs perahu. “Semua menjadi catatan penting, karena langkah rekonstruksi selain mengutamakan kondisi perahu juga bergantung pada lingkungan sekitar situs,”ungkapnya.
Sementara Heni Kusumawati selaku ketua tim peneliti saat ditemui menegaskan, upaya rekonstruiksi perahu nantinya melibatkan berbagai ahli disiplin ilmu. Semua membuat analisis untuk dipadukan. Kemudian dirumuskan bersama guna menentukan metode pengangkatan perahu. “Dua opsi yang mungkin dilakukan ke-depan terkait temuan perahu yakni kapal diangkat kemudian dilakukan rekonstruksi menggunakan kayu tambahan sejenis atau diangkat dibiarkan dalam kondisi semula, kemudian dibuat replikanya,”papar Heni.

Tunggu pengungkapan sejarah situs punjulharjo
Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang,H Hamzah Fatoni SH MKn sendirisaat dikonfirmasi perkembangan penelitian situs Punjulharjo menjelaskan, penelitian yang dilakukan oleh para peneliti adalah sebagai persiapan rekonstruksi perahu kuno dalam waktu dekat ini. Pemkab Rembang sangat apresiasitif kepada tenaga ahli atau peneliti yang membantu mengungkap berbagai identifikasi situs yang dibutuhkan bagi kepentingan masyarakat, khususnya Rembang dan Indonesia pada umumnya.
Pemkab Rembang berharap pengungkapan fakta sejarah situs Punjulharjo yang sekarang terus dilakukan, tidak hanya berhenti pada motif perahu saja melainkan sampai latar belakang keberadannya di kawasan Punjulharjo. “Pengungkapan latar belakang adanyaperahu di Punjulharjoa sangat penting untuk diketahui guna mengungkap apakah kapal terdampar atau sengaja merapat.. Atau dimungkinkan Rembang memiliki sebuah tempat yang dituju, seperti pusat pemerintahan- perdagangan atau budaya,”cetus Sekda Rembang.
Banyaknya cerita kesejarahan dilepas pantai Rembang, selain ditemukan kapal perang karam di dasar laut, penemuan situs Punjulharjo dan barang bersejarah lainnya menambah keyakninan bahwa di perairan Rembang masih banyak peninggalan lain yang belum diketahui dan diketemukan. .

Selasa, 27 Oktober 2009

Peninggalan Majapahit Mangkrak, Terancam Punah


Sabtu (15/8) menjadi kebanggan tersendiri bagi Pantura Pos dan seorang rekan lain dari Koran Nasional karena mendapat menjadi tamu undangan sebagai tamu kehormatan pada acara Seminar dan Napak Tilas Jejak Peninggalan Majapahit di Lasem Rembang yang diselenggarakan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat Rembang. Bersama 50 orang elemen warga Rembang berlatar belakang aneka profesi yang tergabung dalam MSI kegiatan pertama mengikuti seminar di SDN Kajar kecamatan Lasem kabupaten Rembang, menampilkan nara sumber Slamet Wijaya sesepuh dan salah seorang tokoh masyarakat Lasem yang hafal seluk beluk sejarah keberadaan Lasem sejak era Majapahit hingga sekarang.
Pada kesempatan tersebut Slamet Wijaya khusus mengupas sejarah era Lasem menjadi kerajaan bagian dari kerajaan Majapahit. kemudian menjadi kadipaten Lasem para era kerajaan Demak, Pajang dan Mataram. Menurut Slamet Wijaya pada era kerajaan majapahit banyak peninggalan benda bersejarah tersebar di pegungungan Argopuro Lasem. “Diantaranya sudah teridentikasi dan terdokumentasi.
“Hanya sayang karena kurang mendapat perhatian, banyak situs-situs dalam kondisi rusak Oleh karena itu MSI saya himbau segera melakukan aksi pelestarian aset sejarah tadi agar tidak punah,”harap Smaet Wijaya.
Usai seminar kegiatan dilanjutkan melakukan napak tilas peninggalan Majapahit di pegungungan Kajar. Antara lain di batu hitam terdapat tapak kaki Raja Hayam Wuruk ketika berkunjung ke Lasem pada tahun 1354, batu berbentuk kursi dan lingga.
Ketua MSI Komisariat Rembang Edy Winarno, saat dihubungi disela-sela napak tilas menyatakan, tahap awal kegiatan MSI terkait benda-benda bersejarah di pegungungan Kajar adalah melakukan identifikasi dan mendokumentasikan. “Kemudian dilanjutkan upaya pelestarian sebagai warisan budaya.”jelas Edy.
Ditaambahkannya, setelah semua situs teridentifkasi dan terdokumentasi, MSI akan berkoordinasi dengan pemkab Rembang, membicarakan langkah-langkah penyelamatan dan pelestarian situs peninggalan Majapahit. “Ini harus segera dilakasanakan karena kondisi beberapa situs terancam punah,”imbuhnya.
Untuk melestarikan situs Majapahit di Desa Kajar, Lasem, MSI berupaya mengajak warga sekitar dan guru turut menjaga situs sesuai dengan peran mereka masing-masing. Sebagai langkah awal, MSI menapak tilas peninggalan-peninggalan itu bersama 100 guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Sejarah di Rembang. ”Kami berupaya memperkenalkan studi sejarah lokal berbasis realitas kepada para guru. Harapannya, mereka dapat menerapkan metode itu kepada murid-muridnya,”imbuh Edi.

Tak kenal maka tak sayang
Desa Kajar yang terletak di lereng pegunungan Kajar, salah satu bagian dari Pegunungan Argopura Lasem. Dari kota tua Lasem atau jalan pantai utara Lasem, desa dengan sumber air yang melimpah itu berjarak sekitar 7 kilometer ke arah selatan. Di desa itulah terdapat empat peninggalan Kerajaan Majapahit yang sangat berharga nilai kesejarahannya.
Peninggalan itu berupa batu tapak kaki Raja Majapahit yang dikenal dengan watu tapak, goa tinatah, kursi kajar, dan lingga kajar. Peninggalan itu tidak mengumpul di satu tempat, tetapi tersebar di sejumlah titik Gunung Kajar.
Kisah di balik peninggalan itu tidak terlepas dari sejarah Kadipaten Lasem pada masa Kerajaan Majapahit. Berdasarkan laporan ”Rekonstruksi Sejarah Kadipaten Lasem” garapan MSI Kabupaten Rembang, Kadipaten Lasem muncul setelah Tribuwana Wijayatunggadewi membentuk Dewan Pertimbangan Agung atau Bathara Sapta Prabu pada 1351.
Salah satu anggota Dewan Pertimbangan Agung adalah Dyah Duhitendu Dewi, salah satu kerabat Hayam Wuruk yang setelah menikah dengan anggota Dewan Pertimbangan Agung lain, Rajasawardana, kemudian tinggal dan menjadi penguasa di Lasem dengan gelar Putri Indu Dewi Purnamawulan, atau selanjutnya lebih dikenal dengan nama Bhre Lasem.
Dalam Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya karya Slamet Mulyana, kisah Dewi Indu dan Rajasawardana tercatat di terjemahan Negarakertagama Pupuh V dan VI. Dalam Pupuh V Ayat 1 disebutkan, ”Adinda Baginda Raja di Wilwatikta: Puteri jelita, bersemayam di Lasem Puteri jelita Daha, cantik ternama Indudewi Puteri Wijayarajasa”.
Begitu pula dalam Pupuh VI Ayat 1, ”Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun Bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala”.
Dalam pupuh yang sama pada Ayat 3 disebutkan, ”Bhre Lasem Menurunkan puteri jelita Nagarawardani Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana Bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra”.

Salah satu pilar majapahit
Slamet Widjaya sendiri menambahkan, Lasem khususnya desa Kajar, merupakan salah satu daerah terpenting Kerajaan Majapahit. Kajar merupakan tempat memberikan pengetahuan serta ajaran agama dan moral kepada para pejabat, panglima, dan prajurit Kerajaan Majapahit. ”Kajar merupakan kependekan dari ’ka’ yang berarti kaweruh (pengetahuan) dan ’jar’ yang berarti ajaran,” kata Slamet.
Menurutnya bukan hal yang mengherankan jika pada 1354 Hayam Wuruk berkunjung ke Lasem dan desa Kajar. Untuk mengenang kunjungan itu sekaligus sebagai prasasti tanda daerah kekuasaan Majapahit, Bhre Lasem membuat ukiran telapak kaki Hayam Wuruk di sebuah batu andesit di lereng Gunung Kajar. Hingga kini, ukiran telapak kaki itu masih ada dan warga Desa Kajar meyakini ukiran itu sebagai bekas telapak kaki Hayam Wuruk. Warga kerap menyebut batu telapak kaki itu sebagai watu tapak.
Peninggalan-peninggalan lain Majapahit lanjut Slamet Wijaya, yakni goa tinatah, kursi kajar, dan lingga kajar, juga menunjukkan peran penting desa Kajar selama Majapahit berkuasa. Goa tinatah merupakan dua goa yang terletak di Gunung Kajar. Goa pertama merupakan tempat menyepi pejabat atau panglima Majapahit. Goa itu hanya muat untuk satu orang. Goa kedua merupakan tempat para prajurit yang dibawa pejabat atau panglima Majapahit itu berjaga-jaga. Goa kedua itu dapat memuat sekitar 15 orang. “Setelah menyepi selama beberapa waktu di goa tinatah, pejabat atau panglima Majapahit itu disucikan dengan air kajar. Dia duduk di sebongkah batu yang mirip kursi yang oleh warga kerap disebut kursi sebagai kursi kajar,”paparnya.
Selain itu, untuk menghargai desa Kajar sebagai tempat yang membawa kesuburan bagi daerah lain karena banyak sumber mata air, Bhre Lasem membuat lingga berhuruf palawa di dekat lingga pada zaman batu dan salah satu mata air Kajar. ”Lantaran tidak terawat, huruf palawa di lingga itu sulit dibaca lagi. Begitu pula peninggalan-peninggalan Majapahit lain, misalnya kajar kursi, juga tidak terperhatikan. Batu itu tidak lagi menyerupai kursi karena telah hancur sebagian,”ucap Slamet Wijaya dengan raut muka sedih.
Edi Winarno sendiri menambahkan, MSI akan mendokumentasikan situs sejarah Majapahit tersebut kepada pemkab Rembang. “Kami berharap pemkab Rembang menjadikan situs Majapahit di Lasem sebagai laboratorium sejarah. Situs itu dapat pula menjadi tempat wisata penyusuran jejak-jejak peninggalan Majapahit di Lasem,”tambahnya.
Ini terlihat bahwa selama ini, tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa di Lasem ada peninggalan Majapahit. Bahkan kurang memedulikan aset sejarah dan wisata itu sehingga benda-benda di situs itu banyak yang tidak terawat,”tandasnya.

Minggu, 30 Agustus 2009

Manguin, Arkeolog Maritim Asia

Manguin, Arkeolog Maritim Asia
Di mata Profesor Pierre-Yves Manguin (64), sebuah bongkahan papan kapal atau perahu dapat berkisah tentang sejarah maritim suatu kerajaan atau negara. Bongkahan itu juga mampu mengukur sejauh mana kualitas cipta, karya, dan rasa, sebuah bangsa bertumbuh dan berkembang mempertahankan hidup menjelajah pulau-pulau.
Di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Rabu (24/6), Manguin, arkeolog maritim asal Perancis, membuktikan pernyataannya itu. Bersama Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta, Manguin meneliti perahu kuno yang ditemukan di lahan tambak warga yang berjarak sekitar satu kilometer dari pantai.
Berdasarkan teknologi pembuatan perahu, Manguin mengatakan perahu itu berasal dari zaman peralihan Kerajaan Mataram Kuno ke Sriwijaya, 670 Masehi -780 Masehi. Teknologi pembuatannya masih sederhana, yaitu menggunakan tambuktu atau balok tempat pasak yang diperkuat dengan ikatan tali ijuk.
“Meski begitu, perahu selebar empat meter dan sepanjang 15,60 meter itu mampu mengarungi pulau-pulau. Perahu Punjulharjo merupakan jenis perahu perdagangan,” kata Manguin. Melalui perahu atau kapal itulah sebuah bangsa melepas belenggu isolasi samudera, membuka komunikasi, dan berinteraksi dengan bangsa lain. Mereka saling bertukar pengetahuan, barang, budaya, dan pangan.
Melalui perahu dan kapal, sebuah bangsa membangun politik dan ekonomi maritim. Mereka mengembangkan kekuasaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perdagangan dan aneka hasil laut.”Di bumi Nusantara, Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit telah membuktikan keberhasilan politik dan ekonomi maritim yang dipadukan dengan ekonomi berbasis agraris,” ujar Manguin.
Pierre-Yves Manguin lahir di Portugis, 30 Juni 1945. Ia berasal dari keluarga Perancis yang tinggal di Portugis. Ayahnya yang bekerja sebagai pengusaha ban Michelin bernama Henri Manguin, sedang ibunya, Antoinette Manguin.
Sejak kecil hingga tamat Lycee francais Lisboa atau sekolah lanjutan tingkat atas bagi anak-anak Perancis, Manguin menghabiskan waktu di Portugis. Setiap kali ada waktu senggang, ia pergi bersiar dengan kapal pesiar milik milik ayahnya.
Ia juga kerap mengun-jungi galangan-galangan kapal tradisional di Portugis. Waktu itu, ia sempat belajar membuat perahu berbahan baku kayu sepanjang 6-13 meter. Ketika pindah ke Perancis, Manguin tetap meneruskan kebiasaan itu. Pantai barat Perancis dan galangan perahu di sekitar pantai itu menjadi salah satu bagian hidupnya.
Manguin mulai tertarik dengan Asia ketika perang Vietnam sedang berkecamuk. Media massa banyak menyiarkan berita-berita tentang Vietnam. Aneka macam buku tentang Vietnam juga mudah didapat.
Menurut Manguin, yang menarik dari Vietnam adalah kehidupan masyarakatnya, terutama mereka yang tinggal di sepanjang daerah aliran Sungai Mekong.
Untuk itu, pada 1965, Manguin meninggalkan jurusan kimia dan beralih ke jurusan bahasa di Langues’O, Paris. Di perguruan tinggi bahasa itu, ia belajar bahasa Vietnam, Melayu, dan Jepang. Bersamaan dengan itu, Manguin belajar tentang sejarah antropologi Asia Tenggara di Sorbonne. Namun, ia belum juga mempunyai kesempatan mengunjungi Vietnam.
Pada 1970, setelah merampungkan S2 dan S3 bahasa dan sejarah maritim, Manguin bergabung dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO). Di lembaga pusat studi Perancis-Asia itu, ia memperdalam pengetahuan tentang sejarah maritim dan perahu tradisional.
Manguin sempat mengunjungi kawasan pesisir di Indonesia dan Malaysia. Setiap kali menemukan industri galangan kapal di kawasan itu, ia selalu mempe-lajari teknik pembuatan perahu.
Manguin mengenal Indonesia pada 1977. Waktu itu, EFEO bekerja sama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional membuka cabang EFEO di Indonesia. Pada 1981, mereka menggarap program penelitian perahu Bukit Jakas di Pulau Bintan.
Manguin mengatakan waktu itu tim peneliti hanya mendapat bongkahan-bongkahan perahu. Dari tek-nologi pembuatannya, perahu itu buatan abad XVI dan ada pengaruh China. Penyambung papan menggunakan pasak dan paku besi, tidak lagi menggunakan tali ijuk.
Delapan tahun kemudian, Manguin bersama Profesor Wolters, pakar Sriwijaya Universitas Cornel, mengadakan penelitian di situs Sriwijaya, Palembang. Ia meneliti sebuah kolam di Bukit Seguntang dan sempadan Sungai Musi di bawah Jembatan Ampera.
Di kolam Bukit Seguntang, ia menemukan bongkahan-bongkahan perahu Sriwijaya. Perahu dari abad V itu menggunakan teknik tambuku dan ikatan tali ijuk. Adapun di sempadan Sungai Musi, ia menemukan sisa-sisa kampung rakit.
Perahu itulah yang menjadi bukti pertama keberadaan perahu Nusantara yang pernah disebut-sebut pendeta Budha yang pernah berkunjung ke Sriwijaya. Dalam sebuah literatur abad VIII, pendeta itu menyatakan perahu papan yang diikat dengan tali ijuk, bertiang tiga, lain dari perahu China, panjangya sekitar 40 meter, dan muat 500 orang.
“Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat perdagangan dan negara maritim. Sriwijaya memperluas kekuasaan hingga Asia Tenggara dan pernah berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil dengan kapal,” kata Manguin.
Selain itu, Manguin menemukan situs Kota China dan bongkahan perahu abad XI-XII di Medan dan galangan perahu tradisional serta kemudi perahu abad VII di Sambirejo, Palembang. Pada 1996-2002, Manguin mengadakan penelitian di situs Oc Eo (dahulu negara Funan), di Ho Chi Min, Vietnam. Ia menemukan kota kuno, candi, dan kanal, di delta Sungai Mekong.
Pada 2006, Manguin bersama Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional meneliti situs Batujaya, di daerah aliran Sungai Citarum, Kerawang, Jawa Barat. Di dalam makam masyarakat Buni, ia menemukan pecahan tembikar sezaman dengan Kerajaan Tarumanegara, abad I - X.
“Temuan itu membuktikan bahwa sebelum zaman Sriwijaya warga Nusantara sudah melakukan kontak dengan India melalui hubungan laut,” kata Manguin. :-) Antok

Sumur Kono Gegerkan Rembang

Sumur Kuno Gegerkan Warga Sarang
Sumur berdinding gerabah masih utuh menggegerkan warga Kecamatan Sarang Rembang. Sumur kuno yang pertama kali ditemukan oleh sejumlah santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mamba ‘al Ulum as-Syari’ah (MUS) di sebuah lahan kososng dusun Gondang desa Kalipang.
Sumur tersebut nampak berbentuk aneh karena berdinding bahan gerabah dan dangkal, namun sumber air tak habis meski banyak warga yang mengambilnya. Kedalamannya sekitar 1,5 meter dengan diameter 60 cm. Diduga berumur ratusan tahun sehingga memancing ratusan warga untuk menyaksikan dari dekat.
Menurut pengasuh Ponpes MUS KH Muhamad Adib Abdurrohim (Gus Adib) sumur berdinding gerabah itu pertama kali ditemukan santrinya pada Selasa malam (14/7). Saat itu, katanya sejumlah santri yang dipimpin Sutrisno berencana untuk mengambil tanah dari lahan itu untuk mengurug gudang milik M. Said (Gus Said). ‘’Salah satu cangkul santri membentur gerabah. Karena merasa aneh, santri mengali pelan-pelan gerabah itu dan akhirnya menemukan gerabah yang menyerupai sumur, gerabah itu juga mengeluarkan sumber air’’ terangnya.
Tak urung karena temuan aneh itu, warga sekitar akhirnya menganggap sumur dan airnya bertuah. Warga berbondong-bondong mengambil air sumur itu untuk diminum dan cuci muka. Bahkan beberapa warga ada yang membawa pulang air sumur itu dengan maksud untuk mengobati kerabatnya yang sakit. ‘’Sampai saat ini memang belum ada yang terbukti sembuh setelah meminum air ini. Namun, warga juga tidak bisa melarang mereka yang mempercayai air ini,’’ jelas warga.
Selain air yang dianggap bertuah, warga sekitar juga mendengar adanya temuan penutup sumur dari gerabah serta keris kuno di sekitar sumur. Namun hal itu dibantah Ustaillah, 23, salah satu santri yang menjaga sekitar sumur. ‘’Kami hanya menemukan sumur dan potongan tulang saja. Tidak ada benda lain yang ditemukan disekitar sumur,’’ katanya.
Ketika dihubungi untuk diminta keterangan terkait penemuan sumur tersebut, Novida Abbas dari Balai Arkeologi Jogjakarta mengutarakan dirinya belum bisa meyakinkan karena belum sempat melihat meupun datang ke lokasi. Nemun menurutnya jenis sumur berdinding gerabah akrab disebut sebagai jobong. Dia mengatakan sumur berdinding gerabah banyak ditemukan di situs Majapahit di Trowulan.
“Karena belum melakukan penelitian secara rici, saya belum bisa memastikan apakah jobong yang ditemukan di Sarang itu sama dengan yang ada di Trowulan,”ungkap Novida Abas melalui telepone selularnya. :-0 Antok

Rabu, 08 Juli 2009

SITUS KAPAL PUNJULHARJO


Diteliti Arkeolog Prancis, Situs Punjulharjo Lebih Tua dari Borobudur
LOKASI temuan perahu kuno di desa Punjulharjo yang kemudian dinamakan situs Punjulharjo sejak tanggal 17-25 Juni diteliti oleh tim dari Balai Arkeologi Jogyakarta melibatkan seorang arkeolog dari Perancis. Penilitian difokuskan pada desain dan teknologi yang digunakan untuk membuat perahu, guna menentukan dari mana asal perahu.
Ketua Tim Peneliti Novida Abas ditemui di sela-sela kegiatan menjelaskan perahu situs Punjulharjo termasuk kuno. Dari hasil carbon dating diketahui berasal dari abad ke-7 atau 1.300 tahun yang lalu. “Penelitian lebih fokus seputar desain grafis perahu sedetail-detailnya untuk selanjutnya akan dilakukan rekontruksi bentuk aslinya,”ujar Novida.
Sementara itu arkeolog Perancis Pierre Manguin saat ditemui menjelaskan perahu yang ditemukan identik dengan temuan perahu lain di wilayah Asia timur dan Tenggara sehingga dinamakan Perahu Nusantara. Situs Punjulharjo menurutnya spektakuler karena perahu ditemukan masih cukup utuh sehingga membantu tim peneliti mengungkap daerah asal dan tujuan perahu berlayar. “Seperti yang kami teliti beberapa temuan sebelumnya, biasanya perahu tenggelam dan menyiskan potongan papan saja. Situs Punjilharjo spektakuler karena masih utuh,” ungkapnya.
Novida sendiri menambahkan, tim peneliti yang dipimpinnya hanya melakukan uji konstruksi dan usia perahu. Sedangkan pengangkatan dan rekonstruksi akan dilakukan tim lain yang kompeten di bidangnya.

Lebih tua dari Borobudur
Kepala Balar Yogyakarta Siswanto saat dihubungi terpisah menjelaskan perahu kuno berusia jauh lebih tua dibandingkan Candi Borobudur yang dibangun pada sekitar abad ke-9 Masehi. Beberapa bulan lalu, sampel kayu perahu yang dikirim ke Amerika untuk diteliti melalui teknologi carbon dating telah keluar. Hasilnya laboratorium menyatakan positif sampel itu berasal dari abad ke 7 Masehi atau sekitar era Mataram Hindu.
Siswanto menambahkan, hasil uji sampel itu juga mengukuhkan perahu itu sebagai situs arkeologi kelautan tertua dan terutuh yang pernah ditemukan di Indonesia. Pasalnya, situs perahu sbelumnya hanya tinggal beberapa papan dan tidak berbentuk perahu utuh seperti di Rembang.
Menurut Siswanto, penelitian hingga tanggal 25 Juni diharapkan bisa merekonstruksi ulang teknik pembuatan perahu yang sambungan antar kayunya hanya direkatkan dengan tali ijuk.
Antok