Ketika Pantura Pos turut menonton penampilan siswa-siswi SMA/SMK/MA sederajat yang tengah mengikuti lomba dongeng cerita rakyat Kabupaten Rembang yang diadakan oleh Kantor Parsip dan PDE, ada yang berbeda di sana. Kreativitas setiap peserta benar-benar ditampilkan secara total dan maksimal. Mereka lebih menjiwai dalam mendongeng.
Mereka ada yang membawa selendang dan tongkat untuk memperagakan ibu Malin Kundang yang sudah renta. Ada yang berpakaian adat sebagaimana cerita Malin Kundang berasal. Dan yang lebih seru ada yang membawa kru sebagai pengiring musik (organ) dan pemain figuran, sehingga suasana mendongeng bak teater.
Yang membawa kru drama untuk melengkapi mendongeng adalah SMA 3 Rembang. Pendongeng M Yusuf Saputro dengan mimik serius bercerita legenda Malin Kundang. Berawal dari sosok Malin Kundang yang berpakaian compang camping (Andi Dwi) yang hendak merantau. Lantas ibu Malin Kundang (Novita P) mendekatinya untuk mencegah Malin pergi merantau.
Setelah cerita bergulir muncul kembali ibu Malin Kundang yang menunggu putranya di dermaga setelah lama pergi. Benar saja, Malin Kundang muncul dengan pakaian gemerlap dan disampingnya putri cantik sebagai isterinya (Galuh Purwandani). Tentu saja kemunculan Malin Kundang dipanggil-panggil sebagai anaknya. Cerita menjadi mengharu biru manakala si Malin Kundang tampak bingung, melihat ibunya dan istrinya dengan wajah kaget. Tampak raut wajah Malin Kundang yang bimbang, antara mengakui ia sebagai ibunya dan takut dimarahi istrinya.
Tak pelak, istrinya marah melihat kebimbangan Malin Kundang yang pernah mengaku sebagai anak raja. Malin Kundang panik, tanpa berpikir panjang ibunya dimarahi dan tidak diakui sebagai ibu kandungnya. Seperti sudah bisa ditebak, ibu Malin Kundang lantas berdoa pada Tuhan agar mengutuk anaknya. Jadilah Malin Kundang batu.
Menurut pengakuan Yusuf, dia dan teman-temannya hanya latihan seminggu. Walaupun hanya menyabet juara harapan, penampilan dia teman-temannya sempat membuat penonton berlinang air mata.
Dari SMA 2 Rembang, Aditta Grishana bercerita legenda Lutung Kesarung. Gadis yang mendongeng sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang ini mengaku, untuk bisa mendongeng cukup faham ceritanya saja. Panitia tidak membatasi cerita harus orisinil, boleh berkreativitas.
Ketua Panitia Lomba Dongeng Cerita Rakyat Winarto BA ketika dikonfirmsi membenarkan bahwa peserta boleh berkreativitas dengan 5 cerita yang disodorkan. Lomba yang diselenggarakan di komplek Rumah Dinas Bupati ini melibatkan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA se Kab Rembang.
Untuk SD mereka mendongeng legenda Rembang. SMP mendongeng legenda Jawa Tengah. SMA mendongeng legenda Nusantara.
Menurut Winarto BA yang menjabat Kasi Bina Perpustakaan dan Arsip ini mengaku senang karena ternyata pesertanya membludak. Dan mereka tampak sekali antusias dalam mengikuti lomba.
Sementara Ketua Parsip dan PDE Kab Rembang, Drs Edy Winarno MPd berujar tujuan diadakannya lomba mendongeng adalah untuk mengasah kreativitas siswa-siswi di Rembang. Diharapkan cerita rakyat tidak menjadi hilang karena dilupakan oleh generasi mendatang.
Nama-nama yang berhasil menduduki Juara I, II dan III secara berurutan sbb:
SD/MI PUTRI: Tesya Bela Safira (SD Meteseh 2 Kaliori), Diana Dwi Salvira (SD Mantingan Bulu), Hezi Amalia Rizqy (SD Kutoharjo 3). SD/MI PUTRA: Nurohmad (SD Meteseh 2 Kaliori), Viky Yuli Setiawan (SD Gading), Yoga Widya Tama (SD Bulu).
SMP/MTs PUTRI: Erna Nur Fitria (SMP 1 Lasem), Riska Ayu (SMP 2 Rembang), Isti Yuni Sari (SMP 1 Rembang). SMP/MTs PUTRA: Mafriyan Thoha Alfiran (SMA 1 Rembang), Alif Muhammad Fadli (SMP 1 Lasem), Alang Honggo Prayogo (SMP 1 Pamotan).
SMA/SMK/MA PUTRI: Ratna Puspita (SMKN Rembang), Galuh Purwandani (SMA 3 Rembang), Layyin Halimah (SMA 1 Rembang). SMA/SMK/MA PUTRA: M Yusuf Rosidi (SMK Al Mubarok), Galih Gumilang (SMK 1 Rembang), Adip Tri Nurkhazis (SMA 1 Sulang). (Qin)
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 17 Januari 2010
908 ruang kelas digunakan untuk test tertulis CPNS
Panitia penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil tahun 2009 jalur umum pada pelaksanaan test tertulis tanggal 6 Desember kemarin menyiapkan 908 ruang kelas digunkan untuk keperluan tersebut. Lokasi tersebar 6 kecamatan terdiri Kaliori di 8 sekolah, Lasem 22 sekolah, Pamotan 8 sekolah, Pancur 4 sekolah, Rembang 36 sekolah dan Sulang 5 sekolah.
Kesibukan penitia penerimaan CPNS sendiri dimulai dini hari mulai menyortir soal dan lembar jawab yang akan dikirim ke masing-masing lokasi test. Lokasi ujian tertulis yang tersebar di 6 kecamatan cukup membuat repot panitia dalam mendistribusikan soal dan lembar jawab.
Secara keseluruhan, test tertulis berjalan tertib, meski ada satu permasalahan yang menimpa peserta bernama Dwi Sinta formasi tenaga kesehatan (bidan). Gadis asal kecamatan Kragan itu tidak diperbolehkan mengikuti ujian karena alpa membawa tanda pengenal Kartu Tanda Pengenal (KTP), salah satu syarat utama yang harus dipenuhi peserta ujian.
Plt Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Rembang, Subagyo, saat berada di lokasi ujian menjelaskan dalam standar operasional prosedur dan tata tertib disebutkan bawa peserta ujian harus menunjukkan KTP saat mengikuti ujian tertulis, dimana hal tersebut telah disosialisaikan jauh-jauh hari sebelum hari H ujian. “Sehingga apapun alasan kelalaian yang terjadi tidak dapat ditolerir,” ujarya.
Bupati Rembang, H Moch Salim mendampingi Tim Pemantau Provinsi sempat meninjau sejumlah tempat pelaksanaan test. Bupati Rembang sempat kecewa manakala menyaksikan ternyata di beberapa ruang test terlihat bangku kosong yang berarti peserta tidak hadir dengan alasan yang tidak dapat diketahui. “Prediksi saya, kemungkinan besar pelamar mendaftar pada formasi sama di beberapa kabupaten/kota dan pada hari H memilih mengikuti ujian di tempat yang jumlah pesaing lebih sedikit dengan harapan lolos test CPNS,” duga Bupati Rembang.
Kesibukan penitia penerimaan CPNS sendiri dimulai dini hari mulai menyortir soal dan lembar jawab yang akan dikirim ke masing-masing lokasi test. Lokasi ujian tertulis yang tersebar di 6 kecamatan cukup membuat repot panitia dalam mendistribusikan soal dan lembar jawab.
Secara keseluruhan, test tertulis berjalan tertib, meski ada satu permasalahan yang menimpa peserta bernama Dwi Sinta formasi tenaga kesehatan (bidan). Gadis asal kecamatan Kragan itu tidak diperbolehkan mengikuti ujian karena alpa membawa tanda pengenal Kartu Tanda Pengenal (KTP), salah satu syarat utama yang harus dipenuhi peserta ujian.
Plt Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Rembang, Subagyo, saat berada di lokasi ujian menjelaskan dalam standar operasional prosedur dan tata tertib disebutkan bawa peserta ujian harus menunjukkan KTP saat mengikuti ujian tertulis, dimana hal tersebut telah disosialisaikan jauh-jauh hari sebelum hari H ujian. “Sehingga apapun alasan kelalaian yang terjadi tidak dapat ditolerir,” ujarya.
Bupati Rembang, H Moch Salim mendampingi Tim Pemantau Provinsi sempat meninjau sejumlah tempat pelaksanaan test. Bupati Rembang sempat kecewa manakala menyaksikan ternyata di beberapa ruang test terlihat bangku kosong yang berarti peserta tidak hadir dengan alasan yang tidak dapat diketahui. “Prediksi saya, kemungkinan besar pelamar mendaftar pada formasi sama di beberapa kabupaten/kota dan pada hari H memilih mengikuti ujian di tempat yang jumlah pesaing lebih sedikit dengan harapan lolos test CPNS,” duga Bupati Rembang.
Test cpns ’09: Kehabisan tempat menginap terpaksa tidur di Masjid Agung

Peserta test tertulis Calon Pegawai Negeri Sipil kabupaten Rembang yang berasal dari luar kota terpaksa harus menginap di tempat sekedarnya akibat tak kebagian tempat penginapan. Dari seluruh hotel dan losmen yang ada di kabupaten Rembang tak satupun menyisakan tempat bahkan semua menolak tamu yang datang H-1 pelaksanaan test tertulis.
Sekitar 40 % dari 18.008 peserta test tertulis CPNS yang berasal dari luar kota terpaksa gigit jari saat tiba sehari menjelang digelarnya test tertulis Minggu 6 Desember. Pasalnya harapan dapat menginap di sejumlah hotel sirna saat mengetahui semua tempat telah penuh, tak lagi ada lamar yang tersisa.
Pranowo pemilik salah satu penginapan menerangkan, sejak 3 minggu sebelum hari H, peserta dari luar kota sudah memesan tempat sehingga yang datang sehari menjelang test tertluis bermaksud mencari tempat menginap terpaksa ditolak karena telah penuh.
Karena tak dapat menemukan tempat menginap yang layak, akhirnya banyak peserta test memutuskan menginap di Masjid Agung Rembang. Meski kurang representatif. mereka menyatakan tak akan kehilangan semangat bertempur.
Ratna, warga Jogyakarta pelamar formasi Guru SMK menyebutkan pengalaman tidur di Masjid merupakan jkali pertama selama hidupnya. Walau tidak mendapat tempat menginap yang layak dan semestinya, dia menyatakan tak akan kehilangan semangat untuk beradu nasib dengan pelamar lain.
More hantarkan siswa sekolah pinggiran sabet gelar juara 3 Nasional Karya Ilmiah Remaja
Nama kabupaten Rembang kembali mendapat perhatian di tingkat Nasional khususnya bidang pendidikan. Ini setelah tiga pelajar SMAN 1 Kragan masing-masing Ainun Najib, Desiana Dwi Nurhapsari dan Khoirul Faqib Muzakka meraih gelar juara 3 Nasional Lomba Karya Imliah Remaja yang diselenggarakan Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro awal bulan Nopember lalu. Dalam tesis Mikro Organisme Saccharo Mylas hasil fermentasi campuran bahan baku lokal yang dituangkan dalam karya ilmiahnya, mendapat nilai tertinggi dari 9 peserta lain, hanya sayang mereka kurang siap saat presentasi, sehingga dari hasil akhir penilaian para panelis pelajar asal rembang tgersebut dinyatakan sebagai juara ke-3.
Ditemui di SMAN 1 Kragan belum lama ini, ke-3 pelajar didampingi guru pembimbing Rindarti Fathur Rohmah dan Suratno menjelaskan, karya ilmiah terinspirasi Efektif Mikroorganisme (ME) 4 produk Jepang yang berharga murah namun sangat efektif digunakan sebagai pupuk, sehingga menjadi pilihan utama warga Kragan. Namun ketika pasokan mulai langka, membuat warga setempat kelimpungan dan akhirnya terbetik ide membuat ramuan sejenis menggunakan bahan baku lokal.
Dari uji laboratorium, ternyata ME 4 merupakan enzym prebiotik atau perangsang nafsu makan yang didominasi senyawa sacchro mylas. Dari hasil referensi berbagai sumber akhirnya mereka menemukan bahan bakunya yakni pelepah pisang busuk, air nira (legen) dan rumput laut. Ramuan diperam selama 20 hari di stoples kaca dan hasilnya diketahui identik dengan ME 4.
Dari hasil ujicoba yang diberikan untuk ternak itik, ternyata anakan itik yang mengonsumsi enzym diketahui mengalami kenaikan berat badan hingga 15,3 %, sedangkan kandang satunya ynag tidak diberi ramuan serupa kenaikan berat badan hanya sekitar 4,5 %.
Setelah melakukan penelitian ulang beberapa kali, akhirnya mereka memberanikan diri mengikuti ajang lomba karya ilmiah. Yang membuat para panelis bangga yakni enzym temuan pelajar Rembang ternyata mengambil nama asal kota ke-3 pelajar yakni MORE, kependekan dari Mikro Organisme lokal Rembang
Ke-3 pelajar cerdas itu berencana akan mebuat massal hasil temuan mereka. Namun sebelumnya mereka ingin meneliti ulang menggunakan peralatan yang lebih canggih. Mereka berharap ada kesempatan terbuka mengembangkan penelitian, karena membutuhkan peralatan modern yang hanya ada di sejumlah kota besar, baik yang dimilki perguruan tinggi atau perusahaan farmasi dan produk makanan ternak ternama.
Ditemui di SMAN 1 Kragan belum lama ini, ke-3 pelajar didampingi guru pembimbing Rindarti Fathur Rohmah dan Suratno menjelaskan, karya ilmiah terinspirasi Efektif Mikroorganisme (ME) 4 produk Jepang yang berharga murah namun sangat efektif digunakan sebagai pupuk, sehingga menjadi pilihan utama warga Kragan. Namun ketika pasokan mulai langka, membuat warga setempat kelimpungan dan akhirnya terbetik ide membuat ramuan sejenis menggunakan bahan baku lokal.
Dari uji laboratorium, ternyata ME 4 merupakan enzym prebiotik atau perangsang nafsu makan yang didominasi senyawa sacchro mylas. Dari hasil referensi berbagai sumber akhirnya mereka menemukan bahan bakunya yakni pelepah pisang busuk, air nira (legen) dan rumput laut. Ramuan diperam selama 20 hari di stoples kaca dan hasilnya diketahui identik dengan ME 4.
Dari hasil ujicoba yang diberikan untuk ternak itik, ternyata anakan itik yang mengonsumsi enzym diketahui mengalami kenaikan berat badan hingga 15,3 %, sedangkan kandang satunya ynag tidak diberi ramuan serupa kenaikan berat badan hanya sekitar 4,5 %.
Setelah melakukan penelitian ulang beberapa kali, akhirnya mereka memberanikan diri mengikuti ajang lomba karya ilmiah. Yang membuat para panelis bangga yakni enzym temuan pelajar Rembang ternyata mengambil nama asal kota ke-3 pelajar yakni MORE, kependekan dari Mikro Organisme lokal Rembang
Ke-3 pelajar cerdas itu berencana akan mebuat massal hasil temuan mereka. Namun sebelumnya mereka ingin meneliti ulang menggunakan peralatan yang lebih canggih. Mereka berharap ada kesempatan terbuka mengembangkan penelitian, karena membutuhkan peralatan modern yang hanya ada di sejumlah kota besar, baik yang dimilki perguruan tinggi atau perusahaan farmasi dan produk makanan ternak ternama.
1.863 pelajar sasaran pendidikan gratis kelas X
Sebagai tindaklanjut penyempurnaan program 4 pilar akselerasi pembangunan kabupaten Rembang yakni pendidikan gratis SD/MI dan SMP/MTs, Bupati Rembang, H Moch Salim telah menindaklanjuti dengan pencanangan pendidikan gratis kelas X SMA sederajat dari keluarga kurang mampu. Kepala Dinas Pendidikan Rembang, Noor effendi melalui Sekertaris Dinas Pendidikan, Muthohir belum lama ini di ruang kerjanya menjelaskan, bantuan pendidikan gratis diperuntukkan membiayai operasional siswa di sekolah yang seharusnya didanai oleh orang tua, namun diambil alih oleh pemerintah kabupaten Rembang.
“Ini dimaksudkan untuk meringankan beban keluarga kurang mampu agar dapat menyekolahkan anaknya di jenjang pendidikan SMA sederajat,” ungkapnya.
Lebih lanjut disebutkan oleh Muthohir, di tahun pertama pelaksanaan pendidikan gratis kelas X SMA sederajat telah ditetapkan sasaran 547 siswa - SMK 690 siswa dan MA 626 siswa, total 1.863 siswa. Besar bantuan variatif untuk masing-masing asal sekolah. Siswa dari Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) per tahun menerima bantuan Rp 1,7 juta, siswa di sekolah katagori Mandiri (KTM) menerima Rp 1,380 juta sedangkan untuk Sekolah Potensial mendapat Rp 950 ribu.
Ditambahkan oleh Muthohir seluruh anggaran untuk program tersebut sebanyak Rp 3,6 miliar. Rp 1,8 milyar masuk pada APBD Perubahan 2009, sisanya dianggarkan pada APBD Induk 2010. Tahun pertama penerima bantuan siswa yang duduk kelas X SMA sederajat, tahun ke-dua untuk siswa kelas X dan XI, berikutnya untuk siswa kelas X-XI dan XII. “Dengan catatan penerima bantuan adalah anak dari keluarga kurang mampu,” tambahnya.
Terpisah Ketua Komisi D DPRD Rembang, Joko Suprihadi menyebutkan, selaku komisi yang membidangi pendidikan, komisinya akan melakukan pengawasan bersama dengan masyarakat. “Apabila memang diperlukan, akan dibentuk tim monitoring dan evaluasi bersama masyarakat guna melakukan pengawasan,” cetusnya.
“Ini dimaksudkan untuk meringankan beban keluarga kurang mampu agar dapat menyekolahkan anaknya di jenjang pendidikan SMA sederajat,” ungkapnya.
Lebih lanjut disebutkan oleh Muthohir, di tahun pertama pelaksanaan pendidikan gratis kelas X SMA sederajat telah ditetapkan sasaran 547 siswa - SMK 690 siswa dan MA 626 siswa, total 1.863 siswa. Besar bantuan variatif untuk masing-masing asal sekolah. Siswa dari Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) per tahun menerima bantuan Rp 1,7 juta, siswa di sekolah katagori Mandiri (KTM) menerima Rp 1,380 juta sedangkan untuk Sekolah Potensial mendapat Rp 950 ribu.
Ditambahkan oleh Muthohir seluruh anggaran untuk program tersebut sebanyak Rp 3,6 miliar. Rp 1,8 milyar masuk pada APBD Perubahan 2009, sisanya dianggarkan pada APBD Induk 2010. Tahun pertama penerima bantuan siswa yang duduk kelas X SMA sederajat, tahun ke-dua untuk siswa kelas X dan XI, berikutnya untuk siswa kelas X-XI dan XII. “Dengan catatan penerima bantuan adalah anak dari keluarga kurang mampu,” tambahnya.
Terpisah Ketua Komisi D DPRD Rembang, Joko Suprihadi menyebutkan, selaku komisi yang membidangi pendidikan, komisinya akan melakukan pengawasan bersama dengan masyarakat. “Apabila memang diperlukan, akan dibentuk tim monitoring dan evaluasi bersama masyarakat guna melakukan pengawasan,” cetusnya.
Rehab secara progresif
Karena kebijakan Menteri Pendidikan Nasional bahwa DAK Pendidikan tahun 2010 dan seterusnya difokuskan untuk peningkatan mutu pendidikan non kegiatan rehab, maka hal tersebut disikapi oleh pemerintah Rembang menata ulang regulasi program pembangunan ruang kelas yang rusak pada tahun 2011.
Sekda Rembang, Hamzah Fatoni saat ditemui di ruang kerjanya bgelum lama ini menerangkan, karena dana pendampingan DAK Pendidikan bersumber APBD sekitar 10 % dari nilai DAK pada tahun 2010 tidak dapat digunakan untuk rehab, oleh karena itu pemerintah kabupaten Rembang pada tahun 2011 berencana membuat kegiatan progresif program akselerasi menuntaskan pembangunan seluruh ruang kelas yang rusak.
Terkait dengan rencana tersebut, Ketua Komisi D DPRD Rembang, Joko Suprihadi secara terpisah menerangkan, bila DAK Pendidikan mulai tahun 2010 sudah tidak lagi diperuntukkan rehab maka dewan akan menyetujui kegiatan progresif yang diajukan ekesekutif untuk menuntaskan rehab seluruh ruang kelas yang rusak. Misalkan pada anggaran tahun 2011 eksekutif mengajukan anggaran defisit untuk mendanai rehab, dewan akan menyetujui dengan catatan pelaksanaannya nanti transparan dan dibentuk tim monitoring dan evalusasi untuk pengawasannya.
Sekda Rembang, Hamzah Fatoni saat ditemui di ruang kerjanya bgelum lama ini menerangkan, karena dana pendampingan DAK Pendidikan bersumber APBD sekitar 10 % dari nilai DAK pada tahun 2010 tidak dapat digunakan untuk rehab, oleh karena itu pemerintah kabupaten Rembang pada tahun 2011 berencana membuat kegiatan progresif program akselerasi menuntaskan pembangunan seluruh ruang kelas yang rusak.
Terkait dengan rencana tersebut, Ketua Komisi D DPRD Rembang, Joko Suprihadi secara terpisah menerangkan, bila DAK Pendidikan mulai tahun 2010 sudah tidak lagi diperuntukkan rehab maka dewan akan menyetujui kegiatan progresif yang diajukan ekesekutif untuk menuntaskan rehab seluruh ruang kelas yang rusak. Misalkan pada anggaran tahun 2011 eksekutif mengajukan anggaran defisit untuk mendanai rehab, dewan akan menyetujui dengan catatan pelaksanaannya nanti transparan dan dibentuk tim monitoring dan evalusasi untuk pengawasannya.
Masih ada 604 ruang kelas SD se-Rembang yang rusak
Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang terus mengupayakan perbaikan ruang kelas rusak hingga tuntas. Sumber dana yang digunakan berasal dari APBN melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan, APBD I dan APBD II. Hanya saja sayangnya untuk pelaksanaan DAK Pendidikan tahun 2010 fokus pada peningkatan mutu pendidikan non kegiatan rehab, hal tersebut disikapi oleh Dinas Pendidikan Rembang mencari terobosan pembiayaan pada APBD tahun-tahun mendatang. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Rembang, Noor Effendi melalui Kepala Bidang Pengendali Mutu, Siswono, di ruang kerjanya, belum lama ini.
Diterangkan oleh Siswono ruang kelas katagori berat, sedang dan ringan kebanyakan adalah bangunan Sekolah Dasar yang dahulu kala merupakan SD Inpres era Presiden Suharto memegang tampuk pimpinan di Indonesia. Rata-rata bangunan didirikan tahun 1976 sehingga wajar apabila kini banyak yang rusak. “Total seluruh SD di Rembang saat ini berjumlah 372 sekolah jumlah ruang kelas mencapai 2.617 lokal,” terangnya.
Dari jumlah ruang kelas tersebut, menurut Siswono, sebanyak 2.013 kondisinya bagus pasca rehab sejak tahun 2003 – 2009. Sisanya 604 ruang kelas rusak dengan katagori rusak total, berat 308 ruang, rusak sedang dan ringan 296 ruang. “Untuk tahun-tahun mendatang, rehab diutamakan pada ruang kelas rusak katagori total dan berat. Untuk katagori sedang dan ringan mendapat giliran berikutnya,” paparnya.
Berdasarkan data di Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang, rehab ruang kelas SD yang rusak bersumber dana DAK Pendidikan dan pendampingan dari APBD II sejak tahun 2003 hingga sekarang sejumlah 1.255 ruang, menelan dana Rp 86 miliar. Perinciannya yakni tahun 2003 perbaikan 47 ruang kelas di 18 sekolah, dana Rp 1,4 miliar. Tahun 2004 perbaikan 75 ruang kelas di 30 sekolah, dana Rp 2,2 miliar. Tahun 2005 perbaikan untuk 123 ruang kelas di 41 sekolah, dana Rp 4,1 miliar. Tahun 2006 perbaikan 123 ruang kelas di 41 sekolah, dana Rp 9 miliar. Tahun 2007 perbaikan 212 ruang kelas di 53 sekolah, dana Rp 15,6 miliar. Tahun 2008 perbaikan 320 ruang kelas di 70 sekolah, dana Rp 22,8 miliar dan tahun 2009 perbaikan 355 ruang kelas di 25 sekolah, dana Rp 30,8 miliar.
“Dana tersebut tidak hanya difokuskan untuk penataan bangunan tetapi juga diperuntukkan memenuhi kebutuhan mebelair,” imbuh Siswono.
Diterangkan oleh Siswono ruang kelas katagori berat, sedang dan ringan kebanyakan adalah bangunan Sekolah Dasar yang dahulu kala merupakan SD Inpres era Presiden Suharto memegang tampuk pimpinan di Indonesia. Rata-rata bangunan didirikan tahun 1976 sehingga wajar apabila kini banyak yang rusak. “Total seluruh SD di Rembang saat ini berjumlah 372 sekolah jumlah ruang kelas mencapai 2.617 lokal,” terangnya.
Dari jumlah ruang kelas tersebut, menurut Siswono, sebanyak 2.013 kondisinya bagus pasca rehab sejak tahun 2003 – 2009. Sisanya 604 ruang kelas rusak dengan katagori rusak total, berat 308 ruang, rusak sedang dan ringan 296 ruang. “Untuk tahun-tahun mendatang, rehab diutamakan pada ruang kelas rusak katagori total dan berat. Untuk katagori sedang dan ringan mendapat giliran berikutnya,” paparnya.
Berdasarkan data di Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang, rehab ruang kelas SD yang rusak bersumber dana DAK Pendidikan dan pendampingan dari APBD II sejak tahun 2003 hingga sekarang sejumlah 1.255 ruang, menelan dana Rp 86 miliar. Perinciannya yakni tahun 2003 perbaikan 47 ruang kelas di 18 sekolah, dana Rp 1,4 miliar. Tahun 2004 perbaikan 75 ruang kelas di 30 sekolah, dana Rp 2,2 miliar. Tahun 2005 perbaikan untuk 123 ruang kelas di 41 sekolah, dana Rp 4,1 miliar. Tahun 2006 perbaikan 123 ruang kelas di 41 sekolah, dana Rp 9 miliar. Tahun 2007 perbaikan 212 ruang kelas di 53 sekolah, dana Rp 15,6 miliar. Tahun 2008 perbaikan 320 ruang kelas di 70 sekolah, dana Rp 22,8 miliar dan tahun 2009 perbaikan 355 ruang kelas di 25 sekolah, dana Rp 30,8 miliar.
“Dana tersebut tidak hanya difokuskan untuk penataan bangunan tetapi juga diperuntukkan memenuhi kebutuhan mebelair,” imbuh Siswono.
Sabtu, 28 November 2009
Belajar Matematika dengan Mudah
Oleh : Lilik Herawati, S.Pd (Guru SMK Negeri 1 Sedan)
Seringkali beberapa orang mengatakan bahwa matematika itu tidak ada gunanya dan untuk apa ilmu yang tidak berguna bahkan membingungkan itu dipelajari segala? Padahal disadari atau tidak matematika itu sangat penting dan berguna sekali dalam kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan saja jika seseorang yang tidak bisa membilang angka tiga akan melaksanakan shalat Maghrib niscaya ia akan kesulitan melaksanakannya. Ia akan “jungkar-jungkir” terus menerus karena tidak tahu sebenarnya ia sudah melakukan rakaat yang keberapa. Kita sehari-hari melakukan transaksi jual beli menggunakan uang yang tertuliskan nominal uang tersebut. Jadi bagaimana mungkin matematika itu tidak berguna?
Mungkin memang benar ada orang yang mengatakan bahwa matematika itu sulit, “bikin pusing”, bahkan ada yang mengatakan matematika itu “momok” bagi para murid. Suatu hari saya pernah berbincang-bincang dengan beberapa guru tentang mapel apa yang tidak mereka sukai pada waktu sekolah. Dua diantara tiga teman saya itu mengatakan bahwa matematika itu yang paling sulit dengan berbagai alasan diantaranya ada yang mengatakan kalau mereka takut kepada gurunya adapula yang mengatakan dari awal pelajaran memang sudah tidak suka dan sebagainya. Dari pengalaman yang pernah saya peroleh, sebenarnya ada beberapa cara untuk bisa mempelajari matematika dengan mudah, diantaranya adalah:
1. Niat untuk belajar matematika dengan sungguh-sungguh.
Dalam Hadits disebutkan “Innamal a' malu binniyati” yang artinya sesungguhnya amal/perbuatan tergantung niatnya. Jika kita ingin mengerjakan sesuatu kebaikan berniatlah dengan sungguh-sungguh untuk melakukannya. Niscaya Allah akan membukakan pintu kemudahan bagi kita. Seperti halnya pepatah arab yang mengatakan “ Man Jadda Wa Jadda” yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan apa yang diharapkan.
2. Yakinkan diri bahwa matematika itu mudah dan Anda pasti bisa menyelesaikan soal-soal matematika. Segala sesuatu mudah atau sulit itu pertama kali bersumber pada keyakinan kita sendiri. Untuk memulai sesuatu yakinkan diri Anda bahwa pekerjaan itu mudah kita lakukan. Jika kita sudah yakin mudah melakukan maka kita akan mempunyai rasa percaya diri untuk melakukannya.
3. Senang kepada guru matematika
Ingatkah Anda pada suatu iklan yang mengatakan bahwa “kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda”. Jika kita sebagai murid usahakan bahwa kita menyukai guru matematika kita bagaimanapun bentuknya. Karena jika pertama kali kita sudah tidak suka pada guru tersebut maka usaha apapun yang dilakukan guru supaya kita paham tetap saja sulit membuahkan hasil. Sebaliknya jika kita bertindak sebagai guru maka jadilah guru yag disenangi oleh murid sehingga murid-murid tidak bosan terhadap kita. Bagaimanapun juga guru pernah menjadi murid dan sewaktu menjadi murid tentunya mengidolakan guru yang sesuai keinginan kita. Jadi bertindaklah dengan memperhatikan keinginan murid dengan tanpa mengurangi wibawa sebagai seorang guru.
4. Perbanyaklah latihan soal
Untuk mengerjakan soal matematika dengan cepat dan benar maka diperlukan banyak latihan. Semakin sering latihan mengerjakan soal maka kita akan semakin hafal prosedur-prosedur matematika yang harus dilakukan. The formula of succes is simple: practice and more concentration. Rumus keberhasilan itu simpel saja yaitu praktik dan konsentrasi kemudian praktik dan meningkatkan konsentrasi.
Kerjakan soal dengan menemukan rumus singkat/shortcut.
Seringkali dibeberapa lembaga Bimbel menarik siswanya dengan penyelesaian beberapa soal menggunakan smart solution atau the king of fastest solution, dan sebagainya untuk menyelesaikan soal dengan cepat dan benar. Langkah tersebut tentunya menarik bukan? Untuk itu cobalah dari latihan-latihan yang telah Anda lakukan, Anda coba temukan rumus-rumus singkat tersebut. Atau pelajari buku-buku tentang rumus singkat tersebut.
Demikian uraian dari saya, semoga berguna bagi pembaca pada umumnya.
Nah, dalam rangka persiapan Ujian Nasional maka mulai bulan depan Pantura Pos akan mencoba menampilkan ”Rubrik Matematika” yang berisi tentang tanya jawab soal-soal matematika. Saya akan mencoba menjawab problem Anda mengenai matematika dengan menggunakan beberapa metode(sesuai prosedur matematika dan menggunakan cara singkat).
Seringkali beberapa orang mengatakan bahwa matematika itu tidak ada gunanya dan untuk apa ilmu yang tidak berguna bahkan membingungkan itu dipelajari segala? Padahal disadari atau tidak matematika itu sangat penting dan berguna sekali dalam kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan saja jika seseorang yang tidak bisa membilang angka tiga akan melaksanakan shalat Maghrib niscaya ia akan kesulitan melaksanakannya. Ia akan “jungkar-jungkir” terus menerus karena tidak tahu sebenarnya ia sudah melakukan rakaat yang keberapa. Kita sehari-hari melakukan transaksi jual beli menggunakan uang yang tertuliskan nominal uang tersebut. Jadi bagaimana mungkin matematika itu tidak berguna?
Mungkin memang benar ada orang yang mengatakan bahwa matematika itu sulit, “bikin pusing”, bahkan ada yang mengatakan matematika itu “momok” bagi para murid. Suatu hari saya pernah berbincang-bincang dengan beberapa guru tentang mapel apa yang tidak mereka sukai pada waktu sekolah. Dua diantara tiga teman saya itu mengatakan bahwa matematika itu yang paling sulit dengan berbagai alasan diantaranya ada yang mengatakan kalau mereka takut kepada gurunya adapula yang mengatakan dari awal pelajaran memang sudah tidak suka dan sebagainya. Dari pengalaman yang pernah saya peroleh, sebenarnya ada beberapa cara untuk bisa mempelajari matematika dengan mudah, diantaranya adalah:
1. Niat untuk belajar matematika dengan sungguh-sungguh.
Dalam Hadits disebutkan “Innamal a' malu binniyati” yang artinya sesungguhnya amal/perbuatan tergantung niatnya. Jika kita ingin mengerjakan sesuatu kebaikan berniatlah dengan sungguh-sungguh untuk melakukannya. Niscaya Allah akan membukakan pintu kemudahan bagi kita. Seperti halnya pepatah arab yang mengatakan “ Man Jadda Wa Jadda” yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan apa yang diharapkan.
2. Yakinkan diri bahwa matematika itu mudah dan Anda pasti bisa menyelesaikan soal-soal matematika. Segala sesuatu mudah atau sulit itu pertama kali bersumber pada keyakinan kita sendiri. Untuk memulai sesuatu yakinkan diri Anda bahwa pekerjaan itu mudah kita lakukan. Jika kita sudah yakin mudah melakukan maka kita akan mempunyai rasa percaya diri untuk melakukannya.
3. Senang kepada guru matematika
Ingatkah Anda pada suatu iklan yang mengatakan bahwa “kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda”. Jika kita sebagai murid usahakan bahwa kita menyukai guru matematika kita bagaimanapun bentuknya. Karena jika pertama kali kita sudah tidak suka pada guru tersebut maka usaha apapun yang dilakukan guru supaya kita paham tetap saja sulit membuahkan hasil. Sebaliknya jika kita bertindak sebagai guru maka jadilah guru yag disenangi oleh murid sehingga murid-murid tidak bosan terhadap kita. Bagaimanapun juga guru pernah menjadi murid dan sewaktu menjadi murid tentunya mengidolakan guru yang sesuai keinginan kita. Jadi bertindaklah dengan memperhatikan keinginan murid dengan tanpa mengurangi wibawa sebagai seorang guru.
4. Perbanyaklah latihan soal
Untuk mengerjakan soal matematika dengan cepat dan benar maka diperlukan banyak latihan. Semakin sering latihan mengerjakan soal maka kita akan semakin hafal prosedur-prosedur matematika yang harus dilakukan. The formula of succes is simple: practice and more concentration. Rumus keberhasilan itu simpel saja yaitu praktik dan konsentrasi kemudian praktik dan meningkatkan konsentrasi.
Kerjakan soal dengan menemukan rumus singkat/shortcut.
Seringkali dibeberapa lembaga Bimbel menarik siswanya dengan penyelesaian beberapa soal menggunakan smart solution atau the king of fastest solution, dan sebagainya untuk menyelesaikan soal dengan cepat dan benar. Langkah tersebut tentunya menarik bukan? Untuk itu cobalah dari latihan-latihan yang telah Anda lakukan, Anda coba temukan rumus-rumus singkat tersebut. Atau pelajari buku-buku tentang rumus singkat tersebut.
Demikian uraian dari saya, semoga berguna bagi pembaca pada umumnya.
Nah, dalam rangka persiapan Ujian Nasional maka mulai bulan depan Pantura Pos akan mencoba menampilkan ”Rubrik Matematika” yang berisi tentang tanya jawab soal-soal matematika. Saya akan mencoba menjawab problem Anda mengenai matematika dengan menggunakan beberapa metode(sesuai prosedur matematika dan menggunakan cara singkat).
Dari Ajang Lomba Membatik

“Mereka berlomba membuat batik yang terbaik”
160 siswa dari 30 SD perwakilan kecamatan Lasem, Pancur, Pamotan dan Rembang yang mengajarkan muatan lokal (Mulok) membatik di sekolahnya, Senin (26/10) mengikuti lomba membatik yang diselenggarakan atas kerja sama Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Dinas Pendidikan dan Koperasi pengrajin Batik Lasem. Lomba berlangsung di showroom Batik Lasem, secara resmi dibuka Kepala Dinperindagkop dan UMKM Rembang, Drs H Waluyo MM
Waluyo dalam kesempatan tersebut menyebutkan, batik sebagai salah satu warisan budaya bangsa Indonesia selain patut dilestarikan, juga harus dikembangkan, sehingga peminatnya terus bertambah dan mengena di hati masyarakat, baik lokal-regional maupun manca negara. “Batik juga diharapkan mampu menjadi salah satu upaya memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,”sebutnya.
Kegiatan lomba membatik sendiri, lanjut Waluyo merupakan upaya nguri-nguri yang secara rutin diagendakan setahun sekali untuk meningkatkan bibit-bibit pembatik yangbdiharapkan terus bermunculan setiap tahun. “Setelah sekolah melaksnakan mulok, kami ingin hasilnya tidak sia-sia. Maka untuk melestarikan batik Lasem sekaligus menumbuhkan minat membatik, kami akan adakan lomba serupa setiap tahun,” cetusnya.
Unsur terpenting dari penilaian lomba membatik sendiri adalah cara anak-anak memegang dan menggunakan peralatan membatik. Apabila hal dasar tersebut sudah benar, tentu hasil karya yang dibuat menjadi bagus. Hal tersebut diungkapkan Naomi salah satu anggota tim juri yang juga pengrajin batik Lasem yang cukup terkenal. “Cara membatik yang benar yakni menggerakkan canthing searah jarum jam,”papar Naomi.
Sementara itu Alfin, salah satu peserta lomba asal SD Selopuro Lasem mengaku, membatik bukanlah pekerjaan sulit. Untuk menekuni dunia batik, Siswa kelas 5 tersebut setiap seminggu sekali belajar membatik selama satu jam di sekolahnya khsususnya pada jam pelajaran mulok. “Setiap hari Selasa kami diajarkan membatik, selama satu jam. Saya sendiri sudah membuat tiga taplak meja, satu dipasang di kelas, lainnya dipasang di rumah,” ucapnya.
Terpisah, Kabid Perindustrian Dinperindagkop dan UMKM, Drs Sudirman menjelaskan panitia lomba menyediakan pola membatik yang telah ditentukan yakni melengkapi kain dasar yang sudah ada gambar motif bunga. ‘Peserta tinggal melengkapi motif tersebut sesuai dengan imajinasi dan daya kreatifitas masing-masing,” terangnya.
terima penghargaan atas upaya pelestarian batik Lasem
Upaya pemerintah kabupaten Rembang melalui Dinas Pendididikan setempat memasukkan pelajaran membatik dalam kurikulum muatan lokal belum lama ini juga telah mendapat apraesiasi dari Menteri Perindustrian dan Menteri Pendidikan, berupa piagam penghargaan. Departemen Perindustrian dan Departemen Pendidikan memandang terobosaan memasukkan mulok dalam kurikulum merupakan bentuk kepedulian terhadap budaya asli lokal yang tidak semua daerah melakukannya. Sehingga Rembang patut memperoleh penghargaan tersebut. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Rembang, Drs Noor Effendi melalui Kabid Kurikulum, Drs Dandung Dwi Sucahyo.
“Sejak batik masuk dalam mulok memang tidak semua sekolah melaksnakannya. Mulok menyesuaikan karakteristik daerah setempat. Untuk mulok membatik hany diprioritaskan di kecamatan Lasem dan sekitarnya,”jelas Dandung.
Selama dua tahun terakhir mulai tahun pelajaran 2007-2008 hingga sekarang, menurut Dandung baru 5 kecamatan yang menyelenggarakan mulok membatik. Yakni kecamatan Rembang di 2 sekolah, Lasem 19 sekolah, Pamotan 1 sekolah, Pancur 7 sekolah dan Sluke 2 sekolah. Sedangkan sekolah yang mengadakan membatik sebagai esktra kurikuler tercatat SMP 1 dan 3 Lasem, SMA 1 Lasem dan SMA Kartini Rembang.
Ditambahkan oleh Dandung, ke-depan nanti seluruh sekolah akan diwajibkan memasukkan mulok membatik dan memasukkan ekstra kuriluker membatik. “Sehingga terus bermunculan generasi pembatik di kabupaten Rembang,”imbuhnya.
Minggu, 01 November 2009
Kegiatan Pramuka kedepan Sebagai Gerakan Sosial yang Profesional
Kegiatan Pramuka kedepan Sebagai Gerakan Sosial yang Profesional
Saat membacakan sambutan tertulis Ketua Kwartir Nasional Pramuka Prof. Dr. dr. H. Azrul Azwar, MPH pada peringatan hari pramuka ke-48 di alun-alun Rembang, Jum’at sore (14/8), Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Kamabicab) Kak Salim antara lain menyebutkan semoga peringatan Hari Pramuka ke 48 dapat memacu kita untuk lebih memajukan Gerakan Pramuka. Inti pokok peningkatan fungsi Gerakan Pramuka sebagaimana yang sedang diperbarui pada saat ini adalah penetapan standar untuk tiga unsur pokok sistem pendidikan kepramukaan.
Pertama, standar keluaran yakni kompetensi yang ingin dicapai oleh para peserta didik. Ke-dua, standar proses yakni pelbagai kegiatan kepramukaan yang wajib diselenggarakan oleh gugus depan serta diikuti oleh setiap peserta didik. Ke-tiga, standar masukan utamanya aspek ketenagaan dan sarana pendidikan kepramukaan dimana para pembina, instruktur dan pelatih. Setelah standardisasi akan dilanjutkan dengan sertifikasi, registrasi dan lisensi.
Untuk aspek sarana, yakni gugus depan sebagai tempat pendidikan bagi anggota muda serta pelbagai pusat pelatihan, sebagai tempat pendidikan bagi anggota dewasa, setelah standardisasi akan dilanjutkan dengan lisensi dan akreditasi. “Di masa depan direncanakan gugus depan yang diizinkan menyelenggarakan pendidikan kepramukaan harus memiliki lisensi dan telah terakreditasi serta didukung tenaga pembina yang telah ter-registrasi saja,”sebutnya.
Sementara itu Ketua Kwartir Cabang Rembang Kak Djumali sendiri ditemui usai upacara saat disinggung tentang perubahan mendasar dari gerakan kepramukaan yang cenderung mengampu manajemen modern menjelaskan, hal tersebut sesuai dengan Munas Pramuka belum lama ini dimana telah ditetapkan kedepan nanti gerakan pramuka selain beraspek sosial pendidikan juga harus profesional.
“Tetapi tidak meninggalkan hakekat dasar pendidikan kepramukaan yakni meningkatkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan Satya dan Darma Pramuka kepada seluruh peserta didik sehingga mereka dapat dipersiapkan menjadi kader pimpinan bangsa yang tangguh di masa depan,”ujarnya.
Saat membacakan sambutan tertulis Ketua Kwartir Nasional Pramuka Prof. Dr. dr. H. Azrul Azwar, MPH pada peringatan hari pramuka ke-48 di alun-alun Rembang, Jum’at sore (14/8), Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Kamabicab) Kak Salim antara lain menyebutkan semoga peringatan Hari Pramuka ke 48 dapat memacu kita untuk lebih memajukan Gerakan Pramuka. Inti pokok peningkatan fungsi Gerakan Pramuka sebagaimana yang sedang diperbarui pada saat ini adalah penetapan standar untuk tiga unsur pokok sistem pendidikan kepramukaan.
Pertama, standar keluaran yakni kompetensi yang ingin dicapai oleh para peserta didik. Ke-dua, standar proses yakni pelbagai kegiatan kepramukaan yang wajib diselenggarakan oleh gugus depan serta diikuti oleh setiap peserta didik. Ke-tiga, standar masukan utamanya aspek ketenagaan dan sarana pendidikan kepramukaan dimana para pembina, instruktur dan pelatih. Setelah standardisasi akan dilanjutkan dengan sertifikasi, registrasi dan lisensi.
Untuk aspek sarana, yakni gugus depan sebagai tempat pendidikan bagi anggota muda serta pelbagai pusat pelatihan, sebagai tempat pendidikan bagi anggota dewasa, setelah standardisasi akan dilanjutkan dengan lisensi dan akreditasi. “Di masa depan direncanakan gugus depan yang diizinkan menyelenggarakan pendidikan kepramukaan harus memiliki lisensi dan telah terakreditasi serta didukung tenaga pembina yang telah ter-registrasi saja,”sebutnya.
Sementara itu Ketua Kwartir Cabang Rembang Kak Djumali sendiri ditemui usai upacara saat disinggung tentang perubahan mendasar dari gerakan kepramukaan yang cenderung mengampu manajemen modern menjelaskan, hal tersebut sesuai dengan Munas Pramuka belum lama ini dimana telah ditetapkan kedepan nanti gerakan pramuka selain beraspek sosial pendidikan juga harus profesional.
“Tetapi tidak meninggalkan hakekat dasar pendidikan kepramukaan yakni meningkatkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan Satya dan Darma Pramuka kepada seluruh peserta didik sehingga mereka dapat dipersiapkan menjadi kader pimpinan bangsa yang tangguh di masa depan,”ujarnya.
Perlu Kepedulian Bersama Untuk Pemenuhan Hak Dasar
Perlu Kepedulian Bersama Untuk Pemenuhan Hak Dasar Anak
Kesinambungan setelah Pemkab Rembang menetapkan 30 desa di 5 kecamatan sebagai pelaksana tahap awal Perbup Desa/Kelurahan Ramah Anak, ditindak lanjuti oleh Bappeda Rembang bekerja sama dengan Bernard Van Leer Foundatiom dan yayasan Kusuma Buana, selama 3 hari Selasa (4/8) hingga Kamis (6/8) mengadakan Seminar dan Lokakarya Multi Stakeholder Program “Early Childhood Care for Development (EECD) atau asuhan untuk tumbuh kembang anak usia dini. Kegiatan digelar di aula Bappeda diikuti 72 peserta meliputi SKPD, Depag, Camat, LSM Pendidikan dan Organisasi Masyarakat lainnya. Nara sumber pada kegiatan tersebut Kepala Bappeda Rembang Ir Hari Susanto MSi, DKK diwakili staff Titik Wahyuni SKM, Dinas Pendidikan diwakili Winaryu SPd BPMKB diwakili Rusmiyati BA, Depag diwakili Drs Jasim sedangkan dari Yayasan Kusuma Buana diwakili dr Agustini E Raintung.
Kepala Bidang Pemerintahan, Sosial dan Budaya Bappeda Sri Wahyuni SH MSi saat membuka kegiatan antara lain menyampaikan, strategi EECD memang relatif masih baru yang dikembangkan berdasarkan faktor saling berinteraksi. Faktor tersebut yakni kesehatan, gizi, perkembangan fisik, intelektual, psiko-sosial, emosional dan spritiual, ekonomi dan budaya, serta lingkungan fisik dan manusia dimana anak dibesarkan.
Semua upaya yang diterapkan dalam strategi EECD dilakukan untuk menjamin kelangsungan hidup anak, menjamin agar setiap anak mendapat perlindungan dan pengasuhan yang memadai untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal sejak lahir hingga berusia 8 tahun.
Menurut Yuni, maksud dan tujuan diselenggarakannya seminar dan lokakarya multi stakeholder yakni untuk meningkatkan kesadaran bersama akan arti pentingnya menginvestasikan berbagai sumber daya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Memperoleh komitmen pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengimplementasikan program yang holistik dan terpadu untuk anak usia dini.
“Kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan sebuah rencana aksi daerah dapat menciptakan implementasi program anak usia dini yang bersifat holistik dan terpadu sebagai upaya untuk pemenuhan hak-hak dasar anak,”sebutnya.
Sementara itu Ketua Tim Pengegrak PKK Kabupaten Rembang Ny Umy Jazilah Salim dalam kata sambutannya di acara tersebut antara lain menyebutkan, pengembangan anak usia dini merupakan hal yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan sumberdaya manusia. “Tidak mengherankan apabila banyak negara menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penyelenggaraan tumbuh kembang anak usia dini,”ucapnya.
Menurut Ny Umy, masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses yang berharga untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya. Berdasarkan hasil penelitian dari direktorat PAUD tahun 2004 bahwa sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berumur 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun.
Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode emas ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewat berarti habislah peluangnya. “Untuk itu perhatian terhadap tumbuh kembang untuk usia dini dalam bentuk pemberian rangsangan-rangsangan atau stimulasi dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak,”ungkap Ny Umy.
Ditambahakannya, selanjutnya adalah siapakah yang berperan dan sebagai pemangku kewajiban untuk melakukan proses pengasuhan tumbuh kembang anak usia dini? Pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan tumbuh dan kembang anak usia dini adalah pemerintah (negara), masyarakat dan keluarga. “Keluarga adalah institusi pertama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak. Disanalah pertama kali dasar-dasar kepribadian anak dibangun dan budi pekerti juga akan didapat anak dari keteladanan sikap dari keseharian orangtua. Keluarga juga merupakan awal anak diajarkan untuk memilih kalimat-kalimat yang baik, sikap sopan santun, kasih sayang terhadap saudara dan orang lain. Didalam keluargalah proses pembangunan potensi dasar untuk membentuk generasi berkualitas mulai dipersiapkan,’papar Ny Umy.
Sementara itu lanjutnya, masyarakat juga mempunyai peran yang besar dalam tumbuh dan kembang potensi anak. Masyarakat sebagai lingkungan anak menjalani aktivitas sosialnya mempengaruhi baik buruknya proses tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun biologis. Masalah-masalah yang dihadapi anak ketika berinteraksi dalam masyarakat sedapat mungkin perkara negatif yang akan menjerumuskan anak akan dicegah bersama.
Disinilah peran masyarakat sebagai kontrol sosial untuk terwujudnya generasi ideal. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup generasi tidak saja para tetangganya tetapi juga termasuk sekolah dan masyarakat dalam satu negara. “Karena itu para tetangga, para pendidik dan juga pemerintah sebagai penyelenggara urusan negara bertanggung jawab dalam proses pendidikan generasi penerus,”kata Ny Umy.
Dari seluruh pihak yang mempunyai tanggungjawab dalam penyiapan generasi penerus suatu bangsa, tentu negaralah yang mempunyai peran terbesar dan terpenting dalam menjamin berlangsungnya proses tumbuh kembang anak sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa. Di dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 telah dengan sangat jelas dan tegas, bahwa negara bertanggung jawab atas kegiatan mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada Amandemen UUD pasal 28 b ayat 2, yaitu negara menjamin kelangsungan hidup, pengembangan dan perlindungan anak terhadap eksploitasi dan kekerasan. Tentu hal itu membawa pada konsekuensi komitmen yang mesti diupayakan pemenuhannya.
Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan panduan stimulasi dalam program Bina Keluarga Balita (BKB) sejak tahun 1980. Program BKB merupakan upaya pemberdayaan anggota keluarga sehingga mereka dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan rangsangan positif guna menunjang proses tumbuh kembang balita secara optimal. Kemudian pada tahun 2001, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda mengeluarkan program PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Namun demikian belum menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Di dalam laporan UNESCO 2005 mengenai Pendidikan Untuk Semua, disebutkan bahwa Indonesia merupakan negara terendah di ASEAN dengan angka partisipasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) baru sebesar 20%, ini masih lebih rendah dari Fhilipina (27%), bahkan negara yang baru saja merdeka Vietnam (43%), Thailand (86%) dan Malaysia (89%).
Hadirin yang berbahagia,
Permasalahan utama terkait pengembangan anak usia dini adalah tentang terbatasnya cakupan layanan. Khususnya cakupan layanan bagi tumbuh kembang anak yang mengarah pada layanan pemenuhan kebutuhan anak secara holistik dan integrasi, yang mencakup kesehatan, gizi, pendidikan dan pengasuhan. “Karena itu perlu dukungan nyata berbagai dinas terkait dan peran serta stakeholder yang intensif,”tegsanya.
Pihaknya sendiri sangat apresiasi terhadap partisipasi dari para pihak yang turut mengembangan program PAUD di Kabupaten Rembang, baik oleh Pemerintah melalui Instansi/SKPD dan mitra-mitranya maupun Lembaga Non Pemerintah seperti Organisasi Kemasyarakatan dan Pihak Swasta, selanjutnya melalui pertemuan ini alangkah lebih baiknya jika Kabupaten Rembang mempunyai sebuah Rencana Strategis Program Pengembangan Anak Usia Dini secara holistik dan terintegrasi sehingga Visi dan Misi dari Program Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini yaitu untuk memenuhi Hak Akan Tumbuh dan Kembang Anak menjadi lebih efektif dan efisien. “Melalui forum seminar dan Lokakarya ini, kami berharap kedepan akan ada sebuah keterpaduan dan sinergisitas Program Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini di Kabupaten Rembang, yaitu Sebuah Kerjasama, Sharing Peran dan tidak ada ego sektoral diantara berbagai pihak pengelola maupun mitra dalam pengembangan Program PAUD,”imbuh Ny Umy. .
Beberapa waktu yang lalu juga telah diadakan workshop serupa di Kabupaten Rembang, dalam wokshop tersebut telah dilakukan komunikasi awal dalam penggalian gagasan untuk pengelolaan PAUD yang holistik dan terintegrasi. Kegiatan kali ini diharapkan makin menajamkan apa yang telah dicapai pada wokshop terdahulu, untuk lebih lanjut dapat dikembangkan rencana strategis dan model diterapkannya program anak usia dini yang holistik dan terpadu.Karena didukung oleh calon mitra lagi yang hadir memfasilitasi seminar dan workshop yaitu Lembaga Non Pemerintah (NGO) Internasional Bernard van Leer Foundation bekerja sama dengan Yayasan Kusuma Buana dan Project Concern International (PCI) Indonesia. (Antok)
Kesinambungan setelah Pemkab Rembang menetapkan 30 desa di 5 kecamatan sebagai pelaksana tahap awal Perbup Desa/Kelurahan Ramah Anak, ditindak lanjuti oleh Bappeda Rembang bekerja sama dengan Bernard Van Leer Foundatiom dan yayasan Kusuma Buana, selama 3 hari Selasa (4/8) hingga Kamis (6/8) mengadakan Seminar dan Lokakarya Multi Stakeholder Program “Early Childhood Care for Development (EECD) atau asuhan untuk tumbuh kembang anak usia dini. Kegiatan digelar di aula Bappeda diikuti 72 peserta meliputi SKPD, Depag, Camat, LSM Pendidikan dan Organisasi Masyarakat lainnya. Nara sumber pada kegiatan tersebut Kepala Bappeda Rembang Ir Hari Susanto MSi, DKK diwakili staff Titik Wahyuni SKM, Dinas Pendidikan diwakili Winaryu SPd BPMKB diwakili Rusmiyati BA, Depag diwakili Drs Jasim sedangkan dari Yayasan Kusuma Buana diwakili dr Agustini E Raintung.
Kepala Bidang Pemerintahan, Sosial dan Budaya Bappeda Sri Wahyuni SH MSi saat membuka kegiatan antara lain menyampaikan, strategi EECD memang relatif masih baru yang dikembangkan berdasarkan faktor saling berinteraksi. Faktor tersebut yakni kesehatan, gizi, perkembangan fisik, intelektual, psiko-sosial, emosional dan spritiual, ekonomi dan budaya, serta lingkungan fisik dan manusia dimana anak dibesarkan.
Semua upaya yang diterapkan dalam strategi EECD dilakukan untuk menjamin kelangsungan hidup anak, menjamin agar setiap anak mendapat perlindungan dan pengasuhan yang memadai untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal sejak lahir hingga berusia 8 tahun.
Menurut Yuni, maksud dan tujuan diselenggarakannya seminar dan lokakarya multi stakeholder yakni untuk meningkatkan kesadaran bersama akan arti pentingnya menginvestasikan berbagai sumber daya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Memperoleh komitmen pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengimplementasikan program yang holistik dan terpadu untuk anak usia dini.
“Kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan sebuah rencana aksi daerah dapat menciptakan implementasi program anak usia dini yang bersifat holistik dan terpadu sebagai upaya untuk pemenuhan hak-hak dasar anak,”sebutnya.
Sementara itu Ketua Tim Pengegrak PKK Kabupaten Rembang Ny Umy Jazilah Salim dalam kata sambutannya di acara tersebut antara lain menyebutkan, pengembangan anak usia dini merupakan hal yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan sumberdaya manusia. “Tidak mengherankan apabila banyak negara menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penyelenggaraan tumbuh kembang anak usia dini,”ucapnya.
Menurut Ny Umy, masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses yang berharga untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya. Berdasarkan hasil penelitian dari direktorat PAUD tahun 2004 bahwa sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berumur 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun.
Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode emas ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewat berarti habislah peluangnya. “Untuk itu perhatian terhadap tumbuh kembang untuk usia dini dalam bentuk pemberian rangsangan-rangsangan atau stimulasi dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak,”ungkap Ny Umy.
Ditambahakannya, selanjutnya adalah siapakah yang berperan dan sebagai pemangku kewajiban untuk melakukan proses pengasuhan tumbuh kembang anak usia dini? Pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan tumbuh dan kembang anak usia dini adalah pemerintah (negara), masyarakat dan keluarga. “Keluarga adalah institusi pertama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak. Disanalah pertama kali dasar-dasar kepribadian anak dibangun dan budi pekerti juga akan didapat anak dari keteladanan sikap dari keseharian orangtua. Keluarga juga merupakan awal anak diajarkan untuk memilih kalimat-kalimat yang baik, sikap sopan santun, kasih sayang terhadap saudara dan orang lain. Didalam keluargalah proses pembangunan potensi dasar untuk membentuk generasi berkualitas mulai dipersiapkan,’papar Ny Umy.
Sementara itu lanjutnya, masyarakat juga mempunyai peran yang besar dalam tumbuh dan kembang potensi anak. Masyarakat sebagai lingkungan anak menjalani aktivitas sosialnya mempengaruhi baik buruknya proses tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun biologis. Masalah-masalah yang dihadapi anak ketika berinteraksi dalam masyarakat sedapat mungkin perkara negatif yang akan menjerumuskan anak akan dicegah bersama.
Disinilah peran masyarakat sebagai kontrol sosial untuk terwujudnya generasi ideal. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup generasi tidak saja para tetangganya tetapi juga termasuk sekolah dan masyarakat dalam satu negara. “Karena itu para tetangga, para pendidik dan juga pemerintah sebagai penyelenggara urusan negara bertanggung jawab dalam proses pendidikan generasi penerus,”kata Ny Umy.
Dari seluruh pihak yang mempunyai tanggungjawab dalam penyiapan generasi penerus suatu bangsa, tentu negaralah yang mempunyai peran terbesar dan terpenting dalam menjamin berlangsungnya proses tumbuh kembang anak sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa. Di dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 telah dengan sangat jelas dan tegas, bahwa negara bertanggung jawab atas kegiatan mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada Amandemen UUD pasal 28 b ayat 2, yaitu negara menjamin kelangsungan hidup, pengembangan dan perlindungan anak terhadap eksploitasi dan kekerasan. Tentu hal itu membawa pada konsekuensi komitmen yang mesti diupayakan pemenuhannya.
Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan panduan stimulasi dalam program Bina Keluarga Balita (BKB) sejak tahun 1980. Program BKB merupakan upaya pemberdayaan anggota keluarga sehingga mereka dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan rangsangan positif guna menunjang proses tumbuh kembang balita secara optimal. Kemudian pada tahun 2001, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda mengeluarkan program PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Namun demikian belum menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Di dalam laporan UNESCO 2005 mengenai Pendidikan Untuk Semua, disebutkan bahwa Indonesia merupakan negara terendah di ASEAN dengan angka partisipasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) baru sebesar 20%, ini masih lebih rendah dari Fhilipina (27%), bahkan negara yang baru saja merdeka Vietnam (43%), Thailand (86%) dan Malaysia (89%).
Hadirin yang berbahagia,
Permasalahan utama terkait pengembangan anak usia dini adalah tentang terbatasnya cakupan layanan. Khususnya cakupan layanan bagi tumbuh kembang anak yang mengarah pada layanan pemenuhan kebutuhan anak secara holistik dan integrasi, yang mencakup kesehatan, gizi, pendidikan dan pengasuhan. “Karena itu perlu dukungan nyata berbagai dinas terkait dan peran serta stakeholder yang intensif,”tegsanya.
Pihaknya sendiri sangat apresiasi terhadap partisipasi dari para pihak yang turut mengembangan program PAUD di Kabupaten Rembang, baik oleh Pemerintah melalui Instansi/SKPD dan mitra-mitranya maupun Lembaga Non Pemerintah seperti Organisasi Kemasyarakatan dan Pihak Swasta, selanjutnya melalui pertemuan ini alangkah lebih baiknya jika Kabupaten Rembang mempunyai sebuah Rencana Strategis Program Pengembangan Anak Usia Dini secara holistik dan terintegrasi sehingga Visi dan Misi dari Program Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini yaitu untuk memenuhi Hak Akan Tumbuh dan Kembang Anak menjadi lebih efektif dan efisien. “Melalui forum seminar dan Lokakarya ini, kami berharap kedepan akan ada sebuah keterpaduan dan sinergisitas Program Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini di Kabupaten Rembang, yaitu Sebuah Kerjasama, Sharing Peran dan tidak ada ego sektoral diantara berbagai pihak pengelola maupun mitra dalam pengembangan Program PAUD,”imbuh Ny Umy. .
Beberapa waktu yang lalu juga telah diadakan workshop serupa di Kabupaten Rembang, dalam wokshop tersebut telah dilakukan komunikasi awal dalam penggalian gagasan untuk pengelolaan PAUD yang holistik dan terintegrasi. Kegiatan kali ini diharapkan makin menajamkan apa yang telah dicapai pada wokshop terdahulu, untuk lebih lanjut dapat dikembangkan rencana strategis dan model diterapkannya program anak usia dini yang holistik dan terpadu.Karena didukung oleh calon mitra lagi yang hadir memfasilitasi seminar dan workshop yaitu Lembaga Non Pemerintah (NGO) Internasional Bernard van Leer Foundation bekerja sama dengan Yayasan Kusuma Buana dan Project Concern International (PCI) Indonesia. (Antok)
Minggu, 30 Agustus 2009
Stop Bullying
Stop Bullying!
Stop Bullying! Demikian sebuah peringatan ter-tulis pada sebuah stiker yang dibagikan Plan Indone-sia di Rembang. Ini terkait dengan lokakarya yang dia-dakan Plan Rembang di SMP 5 Rembang baru-baru ini.
Dalam tulisan stiker ter-sebut dilanjutkan dengan penjelasan: Bullying (baca: buliying) adalah perilaku yang sengaja dilakukan se-cara verbal, fisik ataupun psikologis untuk menekan, mengintimidasi dan mena-kutnakuti seseorang / seke-lompok orang sehingga kor-ban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya.
Lokakarya yang meng-ambil tema ‘Pendidikan Tan-pa Kekerasan’ ini mengha-dirkan pembicara Sudiyo, learning specialist dari Plan Indonesia. Kemudian Dan-dung Dwi Sucahyo Kabid Kurikulum Dinas Pendidikan Kab Rembang, A Ratih Kusuma Wardani seorang psikolog, Dwi Martopo dari BPMKB.
Plan Indonesia meng-undang orang-orang yang terlibat langsung terhadap pendidikan yaitu Ka UPT dan Pengawas se Kabupaten Rembang. Diharapkan pesan -pesan tentang pendidikan yang menyenangkan dan bebas dari rasa takut ini bisa kembali ditularkan kepada kepala-kepala sekolah dan guru di Kab Rembang.
Kekerasan terhadap siswa
Kekerasan pada siswa adalah suatu tindakan keras yang dilakukan terhadap siswa di sekolah dengan dalih mendisiplinkan siswa.
Kekerasan yang ditim-pakan siswa bisa macam-macam, antara lain keke-rasan fisik yang dapat meng-akibatkan luka atau cedera pada siswa, seperti memu-kul, menganiaya, dll. Ada pula kekerasan psikis yang dilakukan secara emosional, misalnya menghina, meleceh-kan, mencela atau melontar-kan perkataan yang menyakiti perasaan, melukai harga diri, menurunkan rasa percaya diri, membuat orang merasa hina, kecil, lemah, jelek, tidak berguna dan tidak berdaya.
Kekerasan defensive dila-kukan dengan dalih tindakan perlindungan, bukan tindakan penyerangan. Kekerasan agresif yang dilakukan untuk mendapatkan sesuatu seperti merampas, dll. Kekerasan seksual, suatu bentuk pemak-saan untuk melakukan hu-bungan seksual atau sejenis-nya.
Target juara
Kekerasan bisa dari guru, itu terjadi karena kurangnya pengetahuan bahwa keke-rasan baik fisik maupun psikis tidak efektif untuk memotivasi siswa atau merubah perilaku, malah beresiko menimbulkan trauma psikologis dan melukai harga diri siswa. Terkadang kekerasan dari guru akibat tekanan kerja seperti target yang harus dipenuhi oleh guru, baik dari segi kurikulum, materi maupun prestasi juara yang ditargetkan kepada siswa didiknya sementara kendala yang dirasakan untuk mencapai hasil yang ideal dan maksimal cukup besar.
Saatnya katakan “tidak” pada kekerasan dan menen-tang segala bentuk kekerasan. Ciptakan pendidikan yang menyenangkan, bebas dari rasa takut. Dalam menanam-kan pendidikan tanpa keke-rasan di sekolah, guru dapat melakukannya dengan menjalin komunikasi yang efektif dengan siswa, menge-nali potensi-potensi siswa, menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran, guru memberikan kebebasan pada siswa untuk berkreasi dan guru menghargai siswa sesuai dengan talenta yang dimiliki siswa.
Dari mana saja
Kekerasan terhadap anak bisa dari mana saja. Bisa dari temannya sendiri, dari orang tuanya dan juga dari ling-kungannya. Anak yang selalu dimanja akan menjadikannya keras dan suka berlaku kasar kepada orang lain jika keinginannya tidak dituruti. Atau orang tua yang selalu marah dan membandingkan anak, bisa menimbulkan rendah diri yang memancing orang lain mengganggu.
Dari lingkugannya juga bisa menimbulkan kekerasan, seperti adanya kekuatan kelompok yang memancing kekerasan sehingga kekerasan dianggap wajar. Termasuk kekerasan senior kepada yunior (anak baru). Tayangan televisi yang banyak berbau kekerasan juga bisa menjadi pemicu untuk dicontoh.
Seringkali kekerasan terhadap anak dilakukan tidak sengaja. Segeralah mawas diri, sudahkah orang tua dan guru telah bersikap yang benar terhadap anak? :-) Shodiqin
Stop Bullying! Demikian sebuah peringatan ter-tulis pada sebuah stiker yang dibagikan Plan Indone-sia di Rembang. Ini terkait dengan lokakarya yang dia-dakan Plan Rembang di SMP 5 Rembang baru-baru ini.
Dalam tulisan stiker ter-sebut dilanjutkan dengan penjelasan: Bullying (baca: buliying) adalah perilaku yang sengaja dilakukan se-cara verbal, fisik ataupun psikologis untuk menekan, mengintimidasi dan mena-kutnakuti seseorang / seke-lompok orang sehingga kor-ban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya.
Lokakarya yang meng-ambil tema ‘Pendidikan Tan-pa Kekerasan’ ini mengha-dirkan pembicara Sudiyo, learning specialist dari Plan Indonesia. Kemudian Dan-dung Dwi Sucahyo Kabid Kurikulum Dinas Pendidikan Kab Rembang, A Ratih Kusuma Wardani seorang psikolog, Dwi Martopo dari BPMKB.
Plan Indonesia meng-undang orang-orang yang terlibat langsung terhadap pendidikan yaitu Ka UPT dan Pengawas se Kabupaten Rembang. Diharapkan pesan -pesan tentang pendidikan yang menyenangkan dan bebas dari rasa takut ini bisa kembali ditularkan kepada kepala-kepala sekolah dan guru di Kab Rembang.
Kekerasan terhadap siswa
Kekerasan pada siswa adalah suatu tindakan keras yang dilakukan terhadap siswa di sekolah dengan dalih mendisiplinkan siswa.
Kekerasan yang ditim-pakan siswa bisa macam-macam, antara lain keke-rasan fisik yang dapat meng-akibatkan luka atau cedera pada siswa, seperti memu-kul, menganiaya, dll. Ada pula kekerasan psikis yang dilakukan secara emosional, misalnya menghina, meleceh-kan, mencela atau melontar-kan perkataan yang menyakiti perasaan, melukai harga diri, menurunkan rasa percaya diri, membuat orang merasa hina, kecil, lemah, jelek, tidak berguna dan tidak berdaya.
Kekerasan defensive dila-kukan dengan dalih tindakan perlindungan, bukan tindakan penyerangan. Kekerasan agresif yang dilakukan untuk mendapatkan sesuatu seperti merampas, dll. Kekerasan seksual, suatu bentuk pemak-saan untuk melakukan hu-bungan seksual atau sejenis-nya.
Target juara
Kekerasan bisa dari guru, itu terjadi karena kurangnya pengetahuan bahwa keke-rasan baik fisik maupun psikis tidak efektif untuk memotivasi siswa atau merubah perilaku, malah beresiko menimbulkan trauma psikologis dan melukai harga diri siswa. Terkadang kekerasan dari guru akibat tekanan kerja seperti target yang harus dipenuhi oleh guru, baik dari segi kurikulum, materi maupun prestasi juara yang ditargetkan kepada siswa didiknya sementara kendala yang dirasakan untuk mencapai hasil yang ideal dan maksimal cukup besar.
Saatnya katakan “tidak” pada kekerasan dan menen-tang segala bentuk kekerasan. Ciptakan pendidikan yang menyenangkan, bebas dari rasa takut. Dalam menanam-kan pendidikan tanpa keke-rasan di sekolah, guru dapat melakukannya dengan menjalin komunikasi yang efektif dengan siswa, menge-nali potensi-potensi siswa, menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran, guru memberikan kebebasan pada siswa untuk berkreasi dan guru menghargai siswa sesuai dengan talenta yang dimiliki siswa.
Dari mana saja
Kekerasan terhadap anak bisa dari mana saja. Bisa dari temannya sendiri, dari orang tuanya dan juga dari ling-kungannya. Anak yang selalu dimanja akan menjadikannya keras dan suka berlaku kasar kepada orang lain jika keinginannya tidak dituruti. Atau orang tua yang selalu marah dan membandingkan anak, bisa menimbulkan rendah diri yang memancing orang lain mengganggu.
Dari lingkugannya juga bisa menimbulkan kekerasan, seperti adanya kekuatan kelompok yang memancing kekerasan sehingga kekerasan dianggap wajar. Termasuk kekerasan senior kepada yunior (anak baru). Tayangan televisi yang banyak berbau kekerasan juga bisa menjadi pemicu untuk dicontoh.
Seringkali kekerasan terhadap anak dilakukan tidak sengaja. Segeralah mawas diri, sudahkah orang tua dan guru telah bersikap yang benar terhadap anak? :-) Shodiqin
Qaryah Thayyibah, Sekolah Kampung Yang Tidak Kampungan
Catatan Ali Shodiqin
SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah, Sekolah Kampung yang Tidak Kampungan
Sebelum berangkat ke Salatiga, yang ada di benak penulis adalah rasa penasaran. Kebetulan penulis pernah berangan-angan ingin melihat langsung SLTP Qaryah Thayyibah (Q-tha) karena sering menjumpai berita tentang mereka.
Penulis juga mendapat informasi dari rekaman liputan televisi. Siswa Q-tha tidak terikat oleh peraturan sebagaimana sekolah. Tidak wajib memakai seragam. Iurannya hanya Rp.10.000/bulan. Boleh memilih pelajaran yang disu-kai. Belajar seperti di rumah sendiri, semacam hoom schooling. Jika jenuh dengan pelajaran tertentu, boleh usul untuk mengganti kegiatan lain. Intinya anak-anak belajar dengan enjoy dan menyenangkan. Berangkat sekolah jam 08.00 pagi, pulang jam 00.11 WIB. Setiap pagi di Q-tha mengawali pelajaran dengan ngobrol memakai bahasa Inggris. Sepulang sekolah antar siswa bisa atur kesepakatan untuk belajar ekstrakurikuler, entah itu olahraga, musik, menulis atau internetan yang bisa diakses gratis 24 jam. Mereka boleh ikut UN boleh tidak. Ada juga program yang cukup unik dan harus dilakukan, yaitu ngobrol bareng-bareng. Ngobrol apa saja, antar siswa atau siswa dengan guru. Walaupun mereka bebas merdeka, ternyata nilai ujian nasional mereka sangat baik.
Bikin penasaran saja.
Ketika saya dan rombongan sampai di kompleks Q-tha, nuansa desa sangat kental. Sepi. Suasana seperti kampus yang ramai seperti yang saya bayangkan sebelumnya sirna. Hanya ada sebuah gedung tingkat 3 yang berdiri di antara rumah warga dan sebuah masjid desa. Tampak anak-anak remaja pada sibuk ngobrol di teras. Rupanya pembelajaran sudah selesai, anak-anak sudah pada pulang. Menilik gedungnya yang be-lum sempurna, tidak menam-pakkan Q-tha sebagai sekolah yang menjadi buah bibir.
Rombongan langsung diterima pengurus Q-tha dan beberapa pejabat dari Pemkab Salatiga. Di aula Q-tha rom-bongan dipertontonkan re-kaman terbaru tentang Q-tha. Setelah itu diskusi panjang yang melelahkan dengan Ahmad, salah satu guru yang bertugas sebagai mediator sekaligus tutor. Guru lain juga menimpali yang intinya, Q-tha adalah sekolah biasa, sekolah masyarakat sejenis KBM yang mengedepankan kebebasan berkreativitas.
Usai diskusi rombongan di-persilahkan melihat-lihat lang-sung ke lokasi. Saya dan Chafid, teman dari Humas mencoba mencari-cari di mana saja lokasi belajar Q-tha yang berdiri sejak 2003 ini. Saya tidak menemukan sebuah lokasi sekolah yang luas dengan murid yang semula 12 anak menjadi 100-an siswa. Saya hanya menemukan satu kelas kosong karena siswanya sudah pada pulang. Sebuah kelas yang memanfaatkan ruangan milik Bahrudin, kepala sekolah. Saya baru ingat, bukankah kelas siswa Q-tha bisa di mana saja? Bisa di aula, di rumah warga, di lapangan, di kebun, dll.
Saya coba naik ke lantai dua. Di sana ada dua anak Ahadi dan Gilang namanya. Keduanya tengah sibuk berlatih musik. Ketika saya tanya kepada Gilang, apa dia suka pelajaran matematika?
“Tidak. Saya lebih suka Komputer, bahasa Inggris dan musik.”
Saya berpikir, mereka rata-rata jago matematika, ternyata tidak. Kebebasan memilih pelajaran yang mereka mampu dan disenangi adalah hak mereka.
Gilang anak Kebumen kelas 2 SMP Q-tha. Di Kalibening ia kost pada warga. Gitar elektrik yang dimainkannya dibawa sendiri dari rumah. Demikian juga dengan Ahadi, alat drum komplit dibelikan orang tuanya.
Sesaat kemudian di lantai dua ‘gaduh’ oleh permainan musik mereka berdua.
Gedung Q-tha adalah pusat belajar, demikian mereka menyebut. Kelas-kelas baru bisa mereka ciptakan sesuai kesepakatan.
Agar tidak capai, lebih baik nimbrung saja ke anak-anak remaja ABG yang asyik ngobrol di teras. Di sana ada Nurul, Ula, Maia, Emi, Zulfa, Muna, Arin dan Khusnul. Rupanya mereka adalah siswa senior Q-tha.
“Mbak Maia sudah lama di sini ya... berarti sudah senior?” tanya saya pada Maia yang tampak paling vokal.
“Ya... enggak juga sih. Di sini tidak ada senior dan yunior. Tapi kalau dirunut ya... seperti kelas 2 SMA!” Jawab Maia.
“Di SMP nya ikut UN?”
“Tidak! Saya tidak perlu ujian. Kalau bisa di sini tidak ada ujian-ujian segala!” Jawab-nya tanpa ba bi bu.
Batin saya “Capek deh.....!”
Saya diam sejenak. Mikir berat, cari ide pertanyaan.
Tiba-tiba temannya nyeletuk ingin sekolah di luar negeri.
Maia pun nyerocos: “Untuk apa sekolah di luar negeri kalau pulang tidak melakukan perubahan? Lebih baik sekolah di Kalibening, tapi bisa melakukan perubahan!”
Maia dan kawan-kawannya pernah mewakili Q-tha atas permintaan Plan Indonesia untuk mendampingi anak-anak Aceh pasca Tsunami selama dua bulan. Kisah anak di Aceh ditulis menjadi sebuah buku.
Maia dan kawan-kawannya juga kru teater ‘Gedhek’ yang mereka dirikan. Mereka memiliki kemampuan macam-macam. Maia sudah menulis beberapa buku, seperti ‘Tarian Cinta’, ‘Sekolahku bukan Sekolah’. Yang lain juga menulis ‘Just For U, Ustadz’ dan ‘Pemuja Rahasia’ karya Fina Az Zahra. Ada yang lebih extrim berjudul ‘Lebih Asyik Tanpa UAN’ karya Zafika. Sementara Ula juara I Wushu tingkat Nasional. Gadis manis ini sekaligus pandai menyanyi dan sudah rekaman segala.
Siswa Q-tha sejak dini dibimbing menulis. Disamping bahasa Indonesia, juga menulis dengan bahasa Inggris. Tulisan karya siswa dipajang di mading atau di kelas masing-masing. Di antaranya ada yang memenangi lomba tingkat Kabupaten.
Bahrudin sendiri tidak menduga jika siswa-siswanya pandai menulis. Yang dilakukannya adalah memberi kesempatan mereka untuk terus berkarya. Karya-karya mereka dihargai. Salah satu cara untuk menghargai karya mereka adalah dengan memajangnya di mading atau di papan-papan dalam kelas agar dibaca orang lain.
Ada kisah menarik dari lahirnya sebuah buku. Pernah terjadi kesepakatan antar siswa SMP Q-tha kelas 3 untuk tidak ikut ujian nasional. Di tempat lain UN bikin mumet, di Q-tha hanya jadi ‘rembugan’ anak-anak ingusan. Namun tahu-tahu salah satu siswa bernama Zafika dan seorang kawannya lagi ngotot ingin ikut UN. Kenapa? Karena ia hendak mengarang buku tentang ujian nasional. Sementara seorang temannya lagi kelak ingin melanjutkan ke sekolah lain. Pilihan beda harus dihargai, begitu prinsip mereka. Maka jadilah Zafika ujian nasional. Tak lama setelah UN usai, terbitlah judul buku karya Zafika dengan judul ‘Lebih Asyik Tanpa UAN’ yang menghebohkan itu.
Saya kemudian teringat ucapan Ahmad. Menurutnya anak-anak mesti dilepas dengan dunianya, tidak boleh didikte orang dewasa. Jika didikte itu sama artinya mereka jadi foto-copy kita, sedangkan dunianya masa depan yang jelas berbeda.
Saya berpikir, mungkinkah ‘kenekatan’ insan-insan Q-tha bisa diterapkan di tempat lain? Saya tanyakan kepada kawan-kawan andaikan anaknya sekolah di Q-tha berani melepas? Rata-rata jawabnya tidak! Tapi mereka sepakat bahwa membebaskan anak-anak berpikir dan berkreativitas layak ditiru. Ketua rombongan H Muthohir berujar, kalau ada yang bisa meniru adalah KBM, bukan sekolah formal. Program sema-cam Q-tha akan bertabrakan dengan sistem sekolah formal yang sudah berjalan lama yang mengharuskan siswa lulus UN.
Ada catatan penting yang saya peroleh, bahwa belajar bisa kapan saja dan di mana, dengan cara apa saja. Apalagi Pemerintah menerima segala macam bentuk pendidikan non formal dan dianggap setara penddikan formal. Di non formal pun bisa membuka peluang luas untuk menjadi lembaga pendidikan murah namun unggulan.
Sayangnya, kualitas selalu diindetikkan dengan biaya mahal. Jika sudah dianggap demikian, komersialisasi sekolahpun dianggap sah. Akibatnya banyak anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena biayanya mahal, meski hanya sekolah biasa.
Pendidikan bermutu itu mahal, sebuah persepsi yang tidak selalu benar. Di tengah maraknya sekolah mahal, Q-tha seakan ingin menunjukkan inilah sekolahku, inilah rumahku. Pendidikan altenatif Qaryah Thayyibah murah, tapi bukan murahan. Qaryah Thayyibah memang di kampung, tapi jelas mereka bukan kampungan. Mereka sangat bonafid dan maju. Nah, KBM ala Qaryah Thayyibah bisa menjadi alternatif. Bagaimana menurut Anda? :-)
Study Banding di SLTP Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga dan Surakarta
Study Banding di SLTP Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga dan Surakarta Kota Layak Anak: Memberikan Hak Anak Secara Maksimal
Sekolah bermutu itu mahal, sebuah persepsi yang tidak selalu benar. Di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah Kali-bening Salatiga, perbulan siswa hanya iuran Rp.10.000. Belajar menyenangkan dan bebas berkreativitas serta bisa internetan. Nilai mereka dalam Ujian Nasional sangat baik.
Di Surakarta, lepas Magrib petugas membunyikan sirene, pertanda saatnya anak-anak belajar. (Laporan Ali Shodiqin)
Pertengahan Juli lalu dipimpin oleh Drs Muthohir mewakili Dinas Pendidikan Kab Rembang, serta dari Bappeda, Badan KBPM, Dinas Kesosnakertrans, Bagian Humas, TP PKK, Plan Rembang, FPPSMD, Dewan Pendidikan, Forum Anak OBOR dan wartawan Pantura Pos sebagai pers, mengadakan study banding di Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga serta di Pemkot Surakarta selama dua hari.
Kegiatan study banding berkat kerjasama antara Pemkab Rembang dan Plan Indonesia yang tak terasa telah berkiprah di Rembang memasuki tahun kelima.
Hari pertama rombongan study banding yang berjumlah 25 orang langsung meluncur ke SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga. Sayang-nya rombongan tidak bisa bertemu langsung dengan Kepala Sekolah Bahrudin. Rupanya Kepala Sekolah tengah menjadi pembicara di sebuah work shop tingkat asia tenggara di Semarang selama tiga hari.
Rombongan dari Rem-bang diterima oleh para peng-urus Qaryah Thayyibah dan langsung mengadakan perte-muan di aula yang sekaligus sebagai perpus-takaan. Turut menyambut pula pejabat dari Pemkab Salatiga yang diwakili oleh Sukadi, PNF Dinas Pendidikan dan staf.
Peserta study banding langsung terlibat diskusi dengan para guru Qaryah Thayyibah. Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa sekolah Qaryah Thayyibah adalah sekolah alternatif yang dikelola oleh masyarakat. Pengelola berupaya membebaskan anak-anak dari belenggu sistem yang birokra-tis. Siswa diberi semangat untuk bebas berkreativitas. Sekolah alternatif berpihak kepada keluarga miskin, kare-na pendidikan adalah hak anak. Pengelola juga berupa-ya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Untuk mencapai itu semua sangat diperlukan partisipasi masyarakat sekitarnya, terutama wali murid.
Banyak karya yang diha-silkan siswa Qaryah Thayyi-bah. Ada puluhan buku dan novel yang telah diterbitkan. Beberapa diantaranya telah diterbitkan oleh penerbit terkenal dan menghasilkan royalti jutaan rupiah. Mem-buat film dokumenter, fiksi maunpun nonfiksi. Membuat video klip dangdut pendidikan. Banyak pula yang menjuarai berbagai lomba.
Kota Layak Anak
Setelah menginap semalam di hotel Berigin Salatiga, rombongan study banding menuju ke Surakarta. Di Pemkot Surakarta diterima oleh pejabat yang berwe-nang, antara lain dari Baper-nas, Unicef, Kesra, Hukum, Dinas Kesehatan dan Dishub.
Kristiana, salah satu penanggungjawab program Kota Layak Anak di Surakarta menuturkan Kota Surakarta (Solo) ditunjuk oleh Kemen-terian Negara Pemberdayaan Perempuan RI sejak tahun 2006, sebagai salah satu kota yang dipilih untuk Uji Coba Model Kota Layak Anak. Dua tahun lamanya Surakarta berproses untuk mencari model kota layak anak. Surakarta memulai programnya dari kota terlebih dahulu, baru kemudian mengalir ke desa-desa. Saat ini Pemkot Surakarta berkomitmen untuk mengembangkan kebijakan Kota Layak Anak dengan pendekatan Kelurahan Layak Ank, dengan pilot project lima kelurahan.
Dengan kota layak anak diharapkan bisa mengurangi KDRT terhadap anak, mengentas anak-anak jalanan, mengupayakan pendidikan setiap anak dengan semaksimal mungkin. Di kampung-kampung didirikan perpustakaan dan pusat kegiatan untuk anak-anak. Di Surakarta setiap usai Magrib di seluruh penjuru Surakarta dibunyikan sirene, tanda anak-anak harus berada di rumah untuk belajar.
Setelah lelah berdiskusi, rombongan diajak melihat langsung ke salah satu kelurahan yang sudah menerapkan program Kelurahan Layak Anak. :-)
Sekolah bermutu itu mahal, sebuah persepsi yang tidak selalu benar. Di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah Kali-bening Salatiga, perbulan siswa hanya iuran Rp.10.000. Belajar menyenangkan dan bebas berkreativitas serta bisa internetan. Nilai mereka dalam Ujian Nasional sangat baik.
Di Surakarta, lepas Magrib petugas membunyikan sirene, pertanda saatnya anak-anak belajar. (Laporan Ali Shodiqin)
Pertengahan Juli lalu dipimpin oleh Drs Muthohir mewakili Dinas Pendidikan Kab Rembang, serta dari Bappeda, Badan KBPM, Dinas Kesosnakertrans, Bagian Humas, TP PKK, Plan Rembang, FPPSMD, Dewan Pendidikan, Forum Anak OBOR dan wartawan Pantura Pos sebagai pers, mengadakan study banding di Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga serta di Pemkot Surakarta selama dua hari.
Kegiatan study banding berkat kerjasama antara Pemkab Rembang dan Plan Indonesia yang tak terasa telah berkiprah di Rembang memasuki tahun kelima.
Hari pertama rombongan study banding yang berjumlah 25 orang langsung meluncur ke SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga. Sayang-nya rombongan tidak bisa bertemu langsung dengan Kepala Sekolah Bahrudin. Rupanya Kepala Sekolah tengah menjadi pembicara di sebuah work shop tingkat asia tenggara di Semarang selama tiga hari.
Rombongan dari Rem-bang diterima oleh para peng-urus Qaryah Thayyibah dan langsung mengadakan perte-muan di aula yang sekaligus sebagai perpus-takaan. Turut menyambut pula pejabat dari Pemkab Salatiga yang diwakili oleh Sukadi, PNF Dinas Pendidikan dan staf.
Peserta study banding langsung terlibat diskusi dengan para guru Qaryah Thayyibah. Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa sekolah Qaryah Thayyibah adalah sekolah alternatif yang dikelola oleh masyarakat. Pengelola berupaya membebaskan anak-anak dari belenggu sistem yang birokra-tis. Siswa diberi semangat untuk bebas berkreativitas. Sekolah alternatif berpihak kepada keluarga miskin, kare-na pendidikan adalah hak anak. Pengelola juga berupa-ya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Untuk mencapai itu semua sangat diperlukan partisipasi masyarakat sekitarnya, terutama wali murid.
Banyak karya yang diha-silkan siswa Qaryah Thayyi-bah. Ada puluhan buku dan novel yang telah diterbitkan. Beberapa diantaranya telah diterbitkan oleh penerbit terkenal dan menghasilkan royalti jutaan rupiah. Mem-buat film dokumenter, fiksi maunpun nonfiksi. Membuat video klip dangdut pendidikan. Banyak pula yang menjuarai berbagai lomba.
Kota Layak Anak
Setelah menginap semalam di hotel Berigin Salatiga, rombongan study banding menuju ke Surakarta. Di Pemkot Surakarta diterima oleh pejabat yang berwe-nang, antara lain dari Baper-nas, Unicef, Kesra, Hukum, Dinas Kesehatan dan Dishub.
Kristiana, salah satu penanggungjawab program Kota Layak Anak di Surakarta menuturkan Kota Surakarta (Solo) ditunjuk oleh Kemen-terian Negara Pemberdayaan Perempuan RI sejak tahun 2006, sebagai salah satu kota yang dipilih untuk Uji Coba Model Kota Layak Anak. Dua tahun lamanya Surakarta berproses untuk mencari model kota layak anak. Surakarta memulai programnya dari kota terlebih dahulu, baru kemudian mengalir ke desa-desa. Saat ini Pemkot Surakarta berkomitmen untuk mengembangkan kebijakan Kota Layak Anak dengan pendekatan Kelurahan Layak Ank, dengan pilot project lima kelurahan.
Dengan kota layak anak diharapkan bisa mengurangi KDRT terhadap anak, mengentas anak-anak jalanan, mengupayakan pendidikan setiap anak dengan semaksimal mungkin. Di kampung-kampung didirikan perpustakaan dan pusat kegiatan untuk anak-anak. Di Surakarta setiap usai Magrib di seluruh penjuru Surakarta dibunyikan sirene, tanda anak-anak harus berada di rumah untuk belajar.
Setelah lelah berdiskusi, rombongan diajak melihat langsung ke salah satu kelurahan yang sudah menerapkan program Kelurahan Layak Anak. :-)
Bupati Larang Sekolah Memungut Dana Apapun dari Keluarga Tidak Mampu
Pada pertemuan antara Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah SMA Sederajat di ruang kerja, Bupati Rembang mengintruksikan agar sekolah melakukan hal-hal prosedural saat melaksanakan penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun pelajaran 2009-2010. Ditegaskan oleh Bupati rembang agar proses pendaftaran dan daftar ulang PPDB tidak dicederai oleh tindakan yang nantinya dicap negatif oleh masyarakat.
Dalam pertemuan tersebut beberapa kepala sekolah memberikan keterangan bahwa sekolah tidak melakukan pungutan, melainkan menyampaikan penawaran untuk menitipkan dana Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) yang besarannya akan diputuskan melalui rapat komite dan orang tua atau wali siswa, pasca pelaksanaan PPDB.
Mendengar keterangan tersebut, H Moch. Salim mengarahkan agar para kepala sekolah saat memberlakukan SPI atau pungutan dana lain supaya membebaskan siswa dari kelurga kurang mampu dari pungutan dalam bentuk apapun.
Seperti diketahui, pada tahun pelajaran baru ini pemkab Rembang melalui Dinas Pendidikan menggulirkan program sekolah gratis untuk siswa kelas X SMA sederajat. Pemkab Rembang mengalokasikan anggaran sebanyak Rp 3,6 milyar untuk membiayaai program tersebut, dengan sasaran sejumlah 40% anak berasal dari keluarga kurang mampu se-kabupaten Rembang. :-) Antok
Dalam pertemuan tersebut beberapa kepala sekolah memberikan keterangan bahwa sekolah tidak melakukan pungutan, melainkan menyampaikan penawaran untuk menitipkan dana Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) yang besarannya akan diputuskan melalui rapat komite dan orang tua atau wali siswa, pasca pelaksanaan PPDB.
Mendengar keterangan tersebut, H Moch. Salim mengarahkan agar para kepala sekolah saat memberlakukan SPI atau pungutan dana lain supaya membebaskan siswa dari kelurga kurang mampu dari pungutan dalam bentuk apapun.
Seperti diketahui, pada tahun pelajaran baru ini pemkab Rembang melalui Dinas Pendidikan menggulirkan program sekolah gratis untuk siswa kelas X SMA sederajat. Pemkab Rembang mengalokasikan anggaran sebanyak Rp 3,6 milyar untuk membiayaai program tersebut, dengan sasaran sejumlah 40% anak berasal dari keluarga kurang mampu se-kabupaten Rembang. :-) Antok
Sasaran Program Pendidikan Gratis SLTA, Disusun By Name
Terkait dicanangkannya pendidikan gratis untuk pelajar kelas X SMA sederajat bertepatan dengan Upacara Hari Jadi Kabupaten Rembang ke-268 di halaman pendopo kabupaten, Senin 27 Juli 2009, Kepala Dinas Pendidikan Rembang Drs Noor Effendi melalui Sekretris Drs Muthohir menerangkan, sasaran program penerima program disusun by namem berdasar pendataan dari pihak sekolah berdasar KK miskin dari BPS. Namun sebelum siapa saja ditentukan sebagai penerima bantuan, terlebih dahulu akan didata oleh sekolah dan diverifikasi serta divalidasi oleh Dinas Pendidikan.
Dijelaskan oleh Muthohir, nama-nama penerima bantuan yang diusulkan sekolah akan diumumkan secara terbuka di satu tempat masing-masing sekolah, untuk dinilai kelayakannya oleh masyarakat dan komite sekolah. Apabila ada nama yang tidak layak dan ada anak dari keluarga kurang mampu belum tercantum, maka data akan diverifikasi oleh Dinas Pendidikan. “Setelah data fix dan valid, baru diajukan ke Bupati Rembang untuk diterbitkan SK nama-nama penerima bantuan,”ungkapnya.
Menurut Muthohir, dana pendidikan gratis untuk pelajar kelas X SMA sederajat nantinya akan diserahkan kepada sekolah, digunakan untuk membiayaai investai pendidikan, biaya operasional sekolah dan pelajar. “Tidak termasuk uang saku, sepatu, tas dan kebutuhan pribadi lainnya,”ujarnya.
Lebih lanjut Muthohir menyebutkan, jumlah siswa kelas X SMK tahun 2008 ada 1.582 pelajar, tahun ini meningkat menjadi 1.997 atau bertambah 415 pelajar. Sedangkan SMA dari 2.329 turun menjadi 2.233 pelajar. Untuk sementara diketahui total pelajar kelas X SMK dan SMA sebanyak 4.230 anak. Dimana 40% diantaranya menjadi sasaran program pendidikan gratis
Untuk pelajar Madrasah Aliyah kami belum menerima data dari Depag Rembang,”tukas Muthohir
Anggaran yang disiapkan untuk program pendidikan gratis sebanyak Rp 3,6 miliar, masuk dalam APBD Perubahan 2009 Rp 1,8 miliar, sisanya dianggarkan pada APBD induk 2010.
Dijelaskan oleh Muthohir, nama-nama penerima bantuan yang diusulkan sekolah akan diumumkan secara terbuka di satu tempat masing-masing sekolah, untuk dinilai kelayakannya oleh masyarakat dan komite sekolah. Apabila ada nama yang tidak layak dan ada anak dari keluarga kurang mampu belum tercantum, maka data akan diverifikasi oleh Dinas Pendidikan. “Setelah data fix dan valid, baru diajukan ke Bupati Rembang untuk diterbitkan SK nama-nama penerima bantuan,”ungkapnya.
Menurut Muthohir, dana pendidikan gratis untuk pelajar kelas X SMA sederajat nantinya akan diserahkan kepada sekolah, digunakan untuk membiayaai investai pendidikan, biaya operasional sekolah dan pelajar. “Tidak termasuk uang saku, sepatu, tas dan kebutuhan pribadi lainnya,”ujarnya.
Lebih lanjut Muthohir menyebutkan, jumlah siswa kelas X SMK tahun 2008 ada 1.582 pelajar, tahun ini meningkat menjadi 1.997 atau bertambah 415 pelajar. Sedangkan SMA dari 2.329 turun menjadi 2.233 pelajar. Untuk sementara diketahui total pelajar kelas X SMK dan SMA sebanyak 4.230 anak. Dimana 40% diantaranya menjadi sasaran program pendidikan gratis
Untuk pelajar Madrasah Aliyah kami belum menerima data dari Depag Rembang,”tukas Muthohir
Anggaran yang disiapkan untuk program pendidikan gratis sebanyak Rp 3,6 miliar, masuk dalam APBD Perubahan 2009 Rp 1,8 miliar, sisanya dianggarkan pada APBD induk 2010.
Langganan:
Postingan (Atom)
