Tampilkan postingan dengan label Humor Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Rakyat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2009

Rabu, 30 September 2009

Kejamnya Ibukota

Kejamnya Ibukota
Sudah tengah malam Mas Guru, Mbah Sastro, Lik Diman dan Pak Bowo masih ngobrol dan belum beranjak dari warung Yu Kasminah yang malam ini tampak lebih komplit. Selain kopi tubruk khas Pantura aneka hidangan juga tersedia seperti ketan anget-anget, pohong goreng alias banggreng, kue serabi dan lain sebagainya serta makanan ringan jenis mie goreng, mie rebus. Juga disediakan khusus untuk yang mau sahur ada nasi kucing ala daerah Surakarta Hadiningkrat.
Mendadak yang pada ngopi dikejutkan dengan kedatangan Pak RT menggandeng seseorang yang lama dikenal di Kampung Baru ini. Yu Kasminah tanpa dikomando lansung meloncat dari meja kasir diikuti Kang Darman suaminya sedangkan Astri dan Noorce hanya ikut-ikutan menyambut kedatangan pahlawan kesiangan ini.
“Wah ……… oo………..pai………….. pai………….. Paijo to ini ………… wah bagaimana kabarnya? Katanya di Jakarta? kerja apa di sana?” Tanya Yu Kasminah bertubi-tubi.
“Sabar ………… sabar Yu, biar Paijo duduk di samping Mas Guru,” kata Pak RT mempersilahkan Paijo.
“Nah ………. sekarang kamu boleh cerita perjalananmu dari A sampai Z Jo,” pinta Mbah Sastro.
“Tapi ……… tapi……… tapi aku diwedangi dulu t biar lancar bicaranya,” jawab Paijo terus terang.
“Ya………… ya……….. tolong Mbak Noorce, Paijo ini dibuatkan kopi tubruk kesukaannya,” perintah Kang Darman pada Noorce.
“Sekarang ceritanya bisa dimulai Jo?” kata Lik Diman dan Pak Bowo hampir bersamaan
“Setelah gagal dalam pencalonan legislatif dulu, aku mencoba untuk mengembara di Ibukota, karena hidup disini rasanya sudah malu ……,” jelas Paijo mengawali ceritanya.
“Di Ibukota nasibku tambah ngenes, melamar pekerjaan di sana-sini ditolak karena tidak punya ketrampilan. Akhirnya aku jadi gelandangan karena bekalku sudah habis. Satu-satunya penghidupan adalah mencari barang rongsokan di tempat pembuangan sampah,” sambung Paijo lagi.
“Pengalaman yang paling menyakitkan ya kemarin sore, waktu aku sedang mengais sampah yang baru datang, tiba-tiba aku dipukuli sesama pemulung lainnya,” cerita Paijo.
“Kenapa Jo……… kenapa tidak melawan. Kamu khan kamu mantan preman?” kelekar Lik Diman.
“Boro-boro melawan ……….. mereka jumlahnya puluhan, maka aku terus lari …… sampai nafas ini mau habis,” lanjut Paijo sambil minum kopinya.
“Kenapa Jo kamu kok dikejar?” Kali ini Tanya Yu Kasminah.
“Karena lokasinya aku pakai. Di kota besar seperti Jakarta tempat sampah dipetak-petak, dijadikan lahan pekerjaan. Artinya sampah-sampah itu dipilih barang-barang yang berharga lalu dijual kembali,” jelas Paijo.
“Wah ngenes juga ya mereka ……….. terus………… terus bagaimana Jo selanjutnya?” Tanya Yu Kasminah.
“Akhirnya aku menggelandang jadi pengemis dari pintu ke pintu untuk mencari sesuap nasi dan setetes air,” cerita Paijo dengan mata berkaca-kaca.
“Berarti hidup di Ibukota itu kejam ya …………. bahkan lebih kejam dari Ibu tiri,“ kelekar Kang Darman mengomentari cerita Paijo.
“Makanya kita kudu punya ketrampilan untuk menghadapi kehidupan ini, apa di sekolah-sekolah masih ada pelajaran ketrampilan mas?” Tanya Mbah Sastro sok tahu.
“Masih Mbah, di SMK ada pelajaran menjahit, otomotif, pelayaran, komputer sampai administrasi kantor. Sedangkan di SMA namanya ada pendidikan Live Skill yaitu pendidikan yang siap kerja dengan dipandu Bapak Ibu Guru atau pakar yang mumpuni,” jelas Mas Guru pamer.
“Pasti biayanya mahal ya?” tanya Pak Bowo
“Sekarang ini ada perjuangan dari pemerintah daerah untuk menggratiskan pendidikan dari SD, SMP ditambah SMA. Sebentar lagi……makanya Program Daerah Kab Rembang, Empat Pilar Bupati itu didukung, jangan diolok-olok dan di elek-elek,” Jawab Mas Guru
Semua yang mendengar pada manggut-manggut tanda setuju. Dengan ide kreatifnya orang-orang pintar, lewat majalah Pantura ini rupanya Mas Guru juga ikut-ikutan kampanye pendidikan gratis. Kemudian satu per satu mereka pada pulang kecuali Paijo yang masih menghitung waktu. (Kampoeng Baru, Agustus 2009)

Minggu, 30 Agustus 2009

Plat Merah

Kopi Lelet: Plat Merah
Warung Kopi Yu Kasminah yang terletak di pertigaan jalan Kampoeng Baroe dari dulu sampai sekarang kian laris saja. Selain di dukung Noorce dan Astri yang cantiknya di atas rata-rata membuat pecandu kopi ingin mencoba dan mencoba kopi tubruk buatan neng guelis tersebut.
“Ada kejadian apa lagi ya, mataku sebelah kiri ini kok kedutan terus,” komentar Lik Diman seperti ahli nujum.
“Yaah… bulan Juli ini ada pergantian penggede pemerintah yang dibarengi pergantian menteri dan diikuti pejabat-pejabat tinggi yang lain,” jawab Pak Bowo sambil membolak balik koran bekas.
“Ah itu bukan jawaban strategis Pak, karena berbau politikus,” sergah Lek Diman.
“Anu Lik…, bulan Juli ini akan ada upacara besar-besaran yang diikuti orang sak tanah air,” jawab mas Gum yang duduk disampingnya.
“Apa itu mas kok mengejutkan bulu romaku!?” sahut Yu Kasminah dari meja kasir.
“Apa sampean-sampean pada lupa kalau di bulan Juli itu ada Hari Koperasi di Negara kita tercinta ini?” jawab mas Gum.
“Kalau itu sudah tau mas… tapi meski di peringati besar-besaran harga-harga di pasar masih membumbung tinggi,” celoteh lek Diman lagi .
“Lho… kalau Lik Diman mau tahu, selama ini harga sepatu dan sandal selalu turun sedangkan harga topi, peci dan bandu selalu naik naik terus,” ujar mas Gum banyol.
“Itu jawaban dagelan mas…, masa sepatu naik kepala dan topi turun ke tanah…” jawab Lek Diman ketawa ngakak.
Sebelum debat kusir ini berkepanjangan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan Mbah Sastro yang kali ini di dampingi Pak RT Kampoeng Baroe.
“Wah… tumben Pak RT mau blusukan di warung kopi… mangga-mangga Pak mau pesan kopi tubruk, kopi suzu atau kopi nasgithel selalu ada lho Pak,” ujar kang Diman di samping Yu Kasminah agak santun.
“Ya... jelas mau ngopi to yo… masak mau sepak bola,” ujar Mbah Satro kesal.
“Ada apa to ini kok gayeng sekali?” Tanya Pak RT yang baru kali ini ngopi di warungnya Yu Kasminah.
“Ini lho Pak membicarakan masalah harga yang berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya, selalu naik, naik dan naik terus, mana turunnya….. ?” kata Pak Bowo.
“Iya Pak dulu waktu aku masih buruh tandur dan matun uang lima rupiah sudah biasa mencukupi kebutuhan sehari. Sekarang sampai mana uang segitu?” komentar yu Kasminah mewakili perempuan se-Indonesia
“Sekarang memang tidak seperti dulu ya…, orangnya dari tahun ke tahun bertambah otomatis kebutuhannya juga bertambah,” jawab Pak RT .
“Apa yang dikatakan Pak RT memang benar, meski semuanya serba mahal tapi masyarakat juga serba kecukupan, yang PNS gajinya dinaikan ditambah gaji ke-13 tujuannya untuk memajukan Bangsa ini, sedangkan yang miskin tidak punya pekerjaan juga diberi BLT apa nggak huenak itu….” tegas mas Gum.
“Oh ya…..omong-omong kakinya Pak RT kenapa kok dibalut?” Tanya Yu Kasminah .
“ O… ini to, kemarin siang di serempet mobil yang sopirnya ugal-ugalan,” jelas Pak RT.
“ Apa sudah lapor ke pihak berwajib Pak?” Tanya Pak Bowo
“ Percuma lapor Pak, wong yang nabrak itu mobil plat merah,” jawab Pak RT
“ Berarti Pak RT korban tabrak lari to? “ Tanya Yu Kasminah sambil melihat lukanya Pak RT
“ Iya Yu, sudah di tabrak, jatuh dan tidak di tolong,” ujar Pak RT memelas.
“Mestinya Pak RT lapor Polisi karena siapapun yang nabrak dan sampean terluka baik mobil pribadi maupun plat merah itu namanya salah,” jelas mas Guru.
“Makanya semuanya harus hati-hati dan lewat forum ini aku mengarahkan agar mobil Dinas yang dipakai saat Dinas saja bukan dipakai keluyuran anaknya, menantunya ataupun dipakai rombongan ke luar kota. Jelas menyalahi aturan. Bukankah begitu kang Diman?” Komentar mas Guru lagi sambil menyentil Kang Darmin yang sudah mengantuk.
“Iya …. Iya …..iya …… ya dong !!?! “ jawab kang Diman gelagapan ditertawakan pelanggan.
(Kampung Baru, Juni 2009)

Rabu, 08 Juli 2009

KOPI LELET


Operasi Bodong

Bersama Mbah Sastro, Mas Guru mendapat tugas jaga malam dengan rutinitas mengelilingi perumahan kampoeng baroe yang luasnya hampir satu hektar. Sangat melelahkan memang. Buru-buru aku menuju warung kopi Yu Kasminah yang sudah terkenal dan dikenal masyarakat pantura.
Di dalam warung ternyata sudah ada Lik Diman dan Pak Bowo yang sudah menikmati kopi tubruk duluan.
“Kopi tubruk nduk… biar malam ini Mas Guru tidak ngantuk ?!” pesan Mbah Sastro menggoda Norce yang yang malam ini tampil beda.
“Baru jaga malam Mbah?….. awas jangan terlena banyak maling berkeliaran lho!” komentar Norce yang sedang mengaduk kopi tubruk.
“Kamu tahu kabar dari mana nduk, kok bisa ngomong kalau daerah ini banyak malingnya?” tanya Pak Bowo yang duduk bersila.
“Lho sudah tidak rahasia lagi khan, sekarang ini banyak kendaraan yang hilang, makanya kalau naruh kendaraan hati-hati .” jawab Norce ceplas-ceplos.
“Betul Pak sudah dua kali kendaraan bermotor yang di parkir depan masjid raib, belum yang lainnya,“ imbuh Astri.
“Bukan hanya itu, kabarnya sepeda motor Pak Lurah yang baru, dan Bu Luluk yang kepala sekolah itu juga hilang…. lucunya sepeda motor patrolinya Pak Polisi juga diembat maling,” ceramah Lik Diman membesar -besarkan masalah.
“Ada apa ini kok ribut – ribut… !!” tanya Yu Kasinah yang tiba – tiba muncul bersama Kang Dirman suaminya.
“Ini lho yu, sekarang banyak kendaraan bermotor yang hilang apa ini pertanda dunia akan kiamat ya” celoteh Pak Bowo.
“Dalam kitab agama apapun banyaknya pencuri tidak merupakan pertanda kiamat Pak, tapi kurasa hanyalah keteledoran kita saja, karena tidak adanya lahan pekerjaan… bukankah bagitu Mas Guru?” komentar Mabah Sastro yang minta dukungan Mas Guru.
“Kalau digagas semuanya memang benar terutama yang punya sepeda motor, mobil maupun barang lainya harus hati – hati” jawab Mas Guru sambil nyruput kopinya.
“Bukan begitu Mas, sekarang ini pencuri lebih pintar dari kita. karena sudah mempunyai kunci T, kunci L sampai kunci lainnya sementara kita hanya punya kunci pengaman dari pabrik yang terkadang tidak aman” protes Pak Bowo.
“Makanya kita harus hati- hati… lha wong sudah hati – hati saja masih kecolongan” seloroh Mbah Sastro.
“Selain itu Mbah kepolisian akhir-akhir ini menggelar operasi bodong di segenap penjuru” ucap Mas Guru.
“Operasi bodong itu apa Mas, kedengarannya kok enak di dengar telinga?” tanya Yu Kasminah.
“Sssstt… jangan banyak tanya, nanti kan dijelaskan sendiri. Apa nggak malu sama pembaca pantura pos, yang namanya Kasminah itu kuper” goda Kang Darman pada istrinya.
“Eeee mendingan bertanya daripada bloon seperti sampean…!!!” jawab istrinya emosi.
“Sudah… sudah begitu saja kok marah, yang dimaksud polisi lalu lintas menggelar operasi bodong itu karena disinyalir banyak berkeliaran kendaraan bermotor dan mobil curian di sini, termasuk pengendaranya yang tidak bawa surat – surat kelengkapan seperti SIM, STNK dan yang lainnya… jadi bukan pusarmu yang bodong Yu!?” jawab Mbah Sastro yang sok tahu.
“Operasi – ya operasi Mbah, tapi kalau bisa disogok ya sama aja bohong” celethuk Pak Bowo nyelekit.
“Betul Pak, kemarin aku tidak bawa helem juga di tilang padahal polisinya itu tetanggaku lho!” jelas Lik Diman
“Operasi lalu lintas itu harus tegas Lik. Tidak peduli itu tetangga, saudara atau pun mertua, siapa yang melanggar ya harus ditindak” jawab Mas Guru.
“Lho biasanya khan ada sidang di tempat?” tanya Pak Bowo.
“Sekarang istilah siding di tempat itu sudah dihapus Pak sebagai gantinya… titip uang sidang di kantor atau mendatangi petugas kantor siding yang masih banyak dilakukan” kata Mbah Sastro.
“Kalu begitu nggak ada bedanya Mbah?” seloroh Mas Guru.
“Maksudnya bagaimana Mas?” kali ini tanya Yu Kasminah yang mulai paham.
“Seharusnya yang namanya pelanggaran baik itu perkara kriminal, korupsi maupun pelanggaran lalu lintas disidang. Biar tahu kalau negara kita negara hukum di samping itu biar si pelanggar mempunyai rasa jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya” jelas Mas Guru dengan gamblang.
Semuanya yang mendengar hanya manggut – manggut sebagai tanda setuju kemudian satu persatu meninggalkan warung kopinya Yu Kasinah, sementara Mbah Sastro dan Mas Guru meneruskan jaga malamnya. (Kampoeng Baroe’ 2009 )