Ketika Pantura Pos turut menonton penampilan siswa-siswi SMA/SMK/MA sederajat yang tengah mengikuti lomba dongeng cerita rakyat Kabupaten Rembang yang diadakan oleh Kantor Parsip dan PDE, ada yang berbeda di sana. Kreativitas setiap peserta benar-benar ditampilkan secara total dan maksimal. Mereka lebih menjiwai dalam mendongeng.
Mereka ada yang membawa selendang dan tongkat untuk memperagakan ibu Malin Kundang yang sudah renta. Ada yang berpakaian adat sebagaimana cerita Malin Kundang berasal. Dan yang lebih seru ada yang membawa kru sebagai pengiring musik (organ) dan pemain figuran, sehingga suasana mendongeng bak teater.
Yang membawa kru drama untuk melengkapi mendongeng adalah SMA 3 Rembang. Pendongeng M Yusuf Saputro dengan mimik serius bercerita legenda Malin Kundang. Berawal dari sosok Malin Kundang yang berpakaian compang camping (Andi Dwi) yang hendak merantau. Lantas ibu Malin Kundang (Novita P) mendekatinya untuk mencegah Malin pergi merantau.
Setelah cerita bergulir muncul kembali ibu Malin Kundang yang menunggu putranya di dermaga setelah lama pergi. Benar saja, Malin Kundang muncul dengan pakaian gemerlap dan disampingnya putri cantik sebagai isterinya (Galuh Purwandani). Tentu saja kemunculan Malin Kundang dipanggil-panggil sebagai anaknya. Cerita menjadi mengharu biru manakala si Malin Kundang tampak bingung, melihat ibunya dan istrinya dengan wajah kaget. Tampak raut wajah Malin Kundang yang bimbang, antara mengakui ia sebagai ibunya dan takut dimarahi istrinya.
Tak pelak, istrinya marah melihat kebimbangan Malin Kundang yang pernah mengaku sebagai anak raja. Malin Kundang panik, tanpa berpikir panjang ibunya dimarahi dan tidak diakui sebagai ibu kandungnya. Seperti sudah bisa ditebak, ibu Malin Kundang lantas berdoa pada Tuhan agar mengutuk anaknya. Jadilah Malin Kundang batu.
Menurut pengakuan Yusuf, dia dan teman-temannya hanya latihan seminggu. Walaupun hanya menyabet juara harapan, penampilan dia teman-temannya sempat membuat penonton berlinang air mata.
Dari SMA 2 Rembang, Aditta Grishana bercerita legenda Lutung Kesarung. Gadis yang mendongeng sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang ini mengaku, untuk bisa mendongeng cukup faham ceritanya saja. Panitia tidak membatasi cerita harus orisinil, boleh berkreativitas.
Ketua Panitia Lomba Dongeng Cerita Rakyat Winarto BA ketika dikonfirmsi membenarkan bahwa peserta boleh berkreativitas dengan 5 cerita yang disodorkan. Lomba yang diselenggarakan di komplek Rumah Dinas Bupati ini melibatkan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA se Kab Rembang.
Untuk SD mereka mendongeng legenda Rembang. SMP mendongeng legenda Jawa Tengah. SMA mendongeng legenda Nusantara.
Menurut Winarto BA yang menjabat Kasi Bina Perpustakaan dan Arsip ini mengaku senang karena ternyata pesertanya membludak. Dan mereka tampak sekali antusias dalam mengikuti lomba.
Sementara Ketua Parsip dan PDE Kab Rembang, Drs Edy Winarno MPd berujar tujuan diadakannya lomba mendongeng adalah untuk mengasah kreativitas siswa-siswi di Rembang. Diharapkan cerita rakyat tidak menjadi hilang karena dilupakan oleh generasi mendatang.
Nama-nama yang berhasil menduduki Juara I, II dan III secara berurutan sbb:
SD/MI PUTRI: Tesya Bela Safira (SD Meteseh 2 Kaliori), Diana Dwi Salvira (SD Mantingan Bulu), Hezi Amalia Rizqy (SD Kutoharjo 3). SD/MI PUTRA: Nurohmad (SD Meteseh 2 Kaliori), Viky Yuli Setiawan (SD Gading), Yoga Widya Tama (SD Bulu).
SMP/MTs PUTRI: Erna Nur Fitria (SMP 1 Lasem), Riska Ayu (SMP 2 Rembang), Isti Yuni Sari (SMP 1 Rembang). SMP/MTs PUTRA: Mafriyan Thoha Alfiran (SMA 1 Rembang), Alif Muhammad Fadli (SMP 1 Lasem), Alang Honggo Prayogo (SMP 1 Pamotan).
SMA/SMK/MA PUTRI: Ratna Puspita (SMKN Rembang), Galuh Purwandani (SMA 3 Rembang), Layyin Halimah (SMA 1 Rembang). SMA/SMK/MA PUTRA: M Yusuf Rosidi (SMK Al Mubarok), Galih Gumilang (SMK 1 Rembang), Adip Tri Nurkhazis (SMA 1 Sulang). (Qin)
Tampilkan postingan dengan label Sekolah Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah Kita. Tampilkan semua postingan
Senin, 17 September 2012
Adu Kreativitas dalam Lomba Dongeng Rakyat
Ketika Pantura Pos turut menonton penampilan siswa-siswi SMA/SMK/MA sederajat yang tengah mengikuti lomba dongeng cerita rakyat Kabupaten Rembang yang diadakan oleh Kantor Parsip dan PDE, ada yang berbeda di sana. Kreativitas setiap peserta benar-benar ditampilkan secara total dan maksimal. Mereka lebih menjiwai dalam mendongeng.
Mereka ada yang membawa selendang dan tongkat untuk memperagakan ibu Malin Kundang yang sudah renta. Ada yang berpakaian adat sebagaimana cerita Malin Kundang berasal. Dan yang lebih seru ada yang membawa kru sebagai pengiring musik (organ) dan pemain figuran, sehingga suasana mendongeng bak teater.
Yang membawa kru drama untuk melengkapi mendongeng adalah SMA 3 Rembang. Pendongeng M Yusuf Saputro dengan mimik serius bercerita legenda Malin Kundang. Berawal dari sosok Malin Kundang yang berpakaian compang camping (Andi Dwi) yang hendak merantau. Lantas ibu Malin Kundang (Novita P) mendekatinya untuk mencegah Malin pergi merantau.
Setelah cerita bergulir muncul kembali ibu Malin Kundang yang menunggu putranya di dermaga setelah lama pergi. Benar saja, Malin Kundang muncul dengan pakaian gemerlap dan disampingnya putri cantik sebagai isterinya (Galuh Purwandani). Tentu saja kemunculan Malin Kundang dipanggil-panggil sebagai anaknya. Cerita menjadi mengharu biru manakala si Malin Kundang tampak bingung, melihat ibunya dan istrinya dengan wajah kaget. Tampak raut wajah Malin Kundang yang bimbang, antara mengakui ia sebagai ibunya dan takut dimarahi istrinya.
Tak pelak, istrinya marah melihat kebimbangan Malin Kundang yang pernah mengaku sebagai anak raja. Malin Kundang panik, tanpa berpikir panjang ibunya dimarahi dan tidak diakui sebagai ibu kandungnya. Seperti sudah bisa ditebak, ibu Malin Kundang lantas berdoa pada Tuhan agar mengutuk anaknya. Jadilah Malin Kundang batu.
Menurut pengakuan Yusuf, dia dan teman-temannya hanya latihan seminggu. Walaupun hanya menyabet juara harapan, penampilan dia teman-temannya sempat membuat penonton berlinang air mata.
Dari SMA 2 Rembang, Aditta Grishana bercerita legenda Lutung Kesarung. Gadis yang mendongeng sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang ini mengaku, untuk bisa mendongeng cukup faham ceritanya saja. Panitia tidak membatasi cerita harus orisinil, boleh berkreativitas.
Ketua Panitia Lomba Dongeng Cerita Rakyat Winarto BA ketika dikonfirmsi membenarkan bahwa peserta boleh berkreativitas dengan 5 cerita yang disodorkan. Lomba yang diselenggarakan di komplek Rumah Dinas Bupati ini melibatkan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA se Kab Rembang.
Untuk SD mereka mendongeng legenda Rembang. SMP mendongeng legenda Jawa Tengah. SMA mendongeng legenda Nusantara.
Menurut Winarto BA yang menjabat Kasi Bina Perpustakaan dan Arsip ini mengaku senang karena ternyata pesertanya membludak. Dan mereka tampak sekali antusias dalam mengikuti lomba.
Sementara Ketua Parsip dan PDE Kab Rembang, Drs Edy Winarno MPd berujar tujuan diadakannya lomba mendongeng adalah untuk mengasah kreativitas siswa-siswi di Rembang. Diharapkan cerita rakyat tidak menjadi hilang karena dilupakan oleh generasi mendatang.
Nama-nama yang berhasil menduduki Juara I, II dan III secara berurutan sbb:
SD/MI PUTRI: Tesya Bela Safira (SD Meteseh 2 Kaliori), Diana Dwi Salvira (SD Mantingan Bulu), Hezi Amalia Rizqy (SD Kutoharjo 3). SD/MI PUTRA: Nurohmad (SD Meteseh 2 Kaliori), Viky Yuli Setiawan (SD Gading), Yoga Widya Tama (SD Bulu).
SMP/MTs PUTRI: Erna Nur Fitria (SMP 1 Lasem), Riska Ayu (SMP 2 Rembang), Isti Yuni Sari (SMP 1 Rembang). SMP/MTs PUTRA: Mafriyan Thoha Alfiran (SMA 1 Rembang), Alif Muhammad Fadli (SMP 1 Lasem), Alang Honggo Prayogo (SMP 1 Pamotan).
SMA/SMK/MA PUTRI: Ratna Puspita (SMKN Rembang), Galuh Purwandani (SMA 3 Rembang), Layyin Halimah (SMA 1 Rembang). SMA/SMK/MA PUTRA: M Yusuf Rosidi (SMK Al Mubarok), Galih Gumilang (SMK 1 Rembang), Adip Tri Nurkhazis (SMA 1 Sulang). (Qin)
Mereka ada yang membawa selendang dan tongkat untuk memperagakan ibu Malin Kundang yang sudah renta. Ada yang berpakaian adat sebagaimana cerita Malin Kundang berasal. Dan yang lebih seru ada yang membawa kru sebagai pengiring musik (organ) dan pemain figuran, sehingga suasana mendongeng bak teater.
Yang membawa kru drama untuk melengkapi mendongeng adalah SMA 3 Rembang. Pendongeng M Yusuf Saputro dengan mimik serius bercerita legenda Malin Kundang. Berawal dari sosok Malin Kundang yang berpakaian compang camping (Andi Dwi) yang hendak merantau. Lantas ibu Malin Kundang (Novita P) mendekatinya untuk mencegah Malin pergi merantau.
Setelah cerita bergulir muncul kembali ibu Malin Kundang yang menunggu putranya di dermaga setelah lama pergi. Benar saja, Malin Kundang muncul dengan pakaian gemerlap dan disampingnya putri cantik sebagai isterinya (Galuh Purwandani). Tentu saja kemunculan Malin Kundang dipanggil-panggil sebagai anaknya. Cerita menjadi mengharu biru manakala si Malin Kundang tampak bingung, melihat ibunya dan istrinya dengan wajah kaget. Tampak raut wajah Malin Kundang yang bimbang, antara mengakui ia sebagai ibunya dan takut dimarahi istrinya.
Tak pelak, istrinya marah melihat kebimbangan Malin Kundang yang pernah mengaku sebagai anak raja. Malin Kundang panik, tanpa berpikir panjang ibunya dimarahi dan tidak diakui sebagai ibu kandungnya. Seperti sudah bisa ditebak, ibu Malin Kundang lantas berdoa pada Tuhan agar mengutuk anaknya. Jadilah Malin Kundang batu.
Menurut pengakuan Yusuf, dia dan teman-temannya hanya latihan seminggu. Walaupun hanya menyabet juara harapan, penampilan dia teman-temannya sempat membuat penonton berlinang air mata.
Dari SMA 2 Rembang, Aditta Grishana bercerita legenda Lutung Kesarung. Gadis yang mendongeng sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang ini mengaku, untuk bisa mendongeng cukup faham ceritanya saja. Panitia tidak membatasi cerita harus orisinil, boleh berkreativitas.
Ketua Panitia Lomba Dongeng Cerita Rakyat Winarto BA ketika dikonfirmsi membenarkan bahwa peserta boleh berkreativitas dengan 5 cerita yang disodorkan. Lomba yang diselenggarakan di komplek Rumah Dinas Bupati ini melibatkan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA se Kab Rembang.
Untuk SD mereka mendongeng legenda Rembang. SMP mendongeng legenda Jawa Tengah. SMA mendongeng legenda Nusantara.
Menurut Winarto BA yang menjabat Kasi Bina Perpustakaan dan Arsip ini mengaku senang karena ternyata pesertanya membludak. Dan mereka tampak sekali antusias dalam mengikuti lomba.
Sementara Ketua Parsip dan PDE Kab Rembang, Drs Edy Winarno MPd berujar tujuan diadakannya lomba mendongeng adalah untuk mengasah kreativitas siswa-siswi di Rembang. Diharapkan cerita rakyat tidak menjadi hilang karena dilupakan oleh generasi mendatang.
Nama-nama yang berhasil menduduki Juara I, II dan III secara berurutan sbb:
SD/MI PUTRI: Tesya Bela Safira (SD Meteseh 2 Kaliori), Diana Dwi Salvira (SD Mantingan Bulu), Hezi Amalia Rizqy (SD Kutoharjo 3). SD/MI PUTRA: Nurohmad (SD Meteseh 2 Kaliori), Viky Yuli Setiawan (SD Gading), Yoga Widya Tama (SD Bulu).
SMP/MTs PUTRI: Erna Nur Fitria (SMP 1 Lasem), Riska Ayu (SMP 2 Rembang), Isti Yuni Sari (SMP 1 Rembang). SMP/MTs PUTRA: Mafriyan Thoha Alfiran (SMA 1 Rembang), Alif Muhammad Fadli (SMP 1 Lasem), Alang Honggo Prayogo (SMP 1 Pamotan).
SMA/SMK/MA PUTRI: Ratna Puspita (SMKN Rembang), Galuh Purwandani (SMA 3 Rembang), Layyin Halimah (SMA 1 Rembang). SMA/SMK/MA PUTRA: M Yusuf Rosidi (SMK Al Mubarok), Galih Gumilang (SMK 1 Rembang), Adip Tri Nurkhazis (SMA 1 Sulang). (Qin)
PROGRAM PAKET C
SMA Rasa Mahasiswa
SETELAH gonjang-ganjing UNAS, ke manakah siswa yang tidak lulus berlari menyandarkan harapannya untuk bisa lulus? Jawabannya pasti ke Ujian Paket B atau C. Bicara sekolah Kejar Paket, tidak bisa lepas dari SKB (Sanggar Kelompok Belajar) Kabupaten Rembang.
Seperti apakah sekolah Kejar Paket tersebut? Kepala UPT SKB Rembang Dwi Nursanto menuturkan, pendidikan ada dua macam. Formal dan Non Formal. Formal adalah sekolah-sekolah pada umumnya, SD, SMP dan SMA. Adapun sekolah Non Formal sebagaimana di SKB ini. Belajarnya lebih fleksibel, namun tetap diakui oleh Pemerintah, dan ijazahnya bisa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya tanpa pandang bulu. Dan itu semua sudah ada ketentuannya dalam Undang-Undang Pendidikan.
Masih banyak yang belum tahu bahwa dalam kondisi apapun sekolah bisa jalan terus. Bagi anak lulusan SD yang miskin, bisa melanjutkan sekolah gratis. Gratis sama sekali, karena seragam pun diberi. Bagi yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMA karena beberapa alasan, bisa melanjutkan tanpa harus mengganggu kesibukan bekerja, atau malu karena faktor usia yang sudah tidak lagi usia sekolah.
Dari semua kebutuhan akan sekolah di atas bisa ditemukan di SKB (Sanggar Kegiatan Belajar), yang beralamat di sebelah SD 2 Sumberjo Rembang. Untuk jenjang SMP disebut Kejar Paket B, sedangkan jenjang SMA disebut Kejar Paket C.
Jika Paket B bisa gratis, karena adanya program wajib belajar sembilan tahun, untuk Paket C sifatnya swadaya. Siswa Paket C dikenai iuran sekolah sebesar Rp. 25.000,- setiap bulannya.
Nuansa sekolah Paket B masih seperti rekan-rekannya di SMP formal pada umumnya. Masuk setiap hari dengan seragam putih biru. Namun nuansa Kejar Paket C sudah mirip anak kuliahan. Dengan berpakaian bebas asal sopan. Usianya juga variasi, ada yang benar-benar usia sekolah SMA, dan banyak pula yang usianya sudah seusia sarjana, bahkan sudah tua sekalipun. Dan masuknya pun hanya dua kali dalam sepekan.
Saat ini siswa Kejar Paket B keseluruhan mencapai 75 anak. Kejar Paket C lebih banyak lagi, mencapai 300 siswa. Kenapa program Paket C bisa lebih banyak? Menurut Dwi Nursanto, karena ijazah setara SMA (Paket C) lebih banyak dibutuhkan. Dulu, dibutuhkan karena untuk mengejar kesetaraan pangkat bagi pegawai. Saat ini lebih beragam. Ada yang ingin melanjutkan ke bangku kuliah, ada yang ingin mencalonkan diri sebagai kandidat kepala desa, kandidat calon legislatif, dll. Ada pula yang sengaja mendaftar di Paket C begitu lulus SMP. Alasannya adalah ingin sambil bekerja membantu orang tua. Ada pula yang karena drop out dari sekolah. Karena ada kasus tertentu sehingga keluar dari SMA di tengah jalan. Si drop out bisa langsung melanjutkan ke kelas berikut jika disertai raport, ada pula yang mengulangi dari kelas satu.
Di SKB pun ada UNAS. Bedanya, Unas untuk Kejar Paket tidak bersamaan dengan sekolah formal. Pelaksanaannya belakangan, setelah Unas sekolah formal usai. Sehingga bagi siswa yang tidak lulus Unas di sekolah formal, agar tetap bisa mengikuti ujian nasional lagi, bisa pindah jalur ke non formal, yaitu Kejar Paket B atau C.
Untuk tahun ini, penyelenggaran Unas Kejar Paket B atau C dilaksanakan pada tanggal 1-4 Juli 2009. Shodiqin
SETELAH gonjang-ganjing UNAS, ke manakah siswa yang tidak lulus berlari menyandarkan harapannya untuk bisa lulus? Jawabannya pasti ke Ujian Paket B atau C. Bicara sekolah Kejar Paket, tidak bisa lepas dari SKB (Sanggar Kelompok Belajar) Kabupaten Rembang.
Seperti apakah sekolah Kejar Paket tersebut? Kepala UPT SKB Rembang Dwi Nursanto menuturkan, pendidikan ada dua macam. Formal dan Non Formal. Formal adalah sekolah-sekolah pada umumnya, SD, SMP dan SMA. Adapun sekolah Non Formal sebagaimana di SKB ini. Belajarnya lebih fleksibel, namun tetap diakui oleh Pemerintah, dan ijazahnya bisa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya tanpa pandang bulu. Dan itu semua sudah ada ketentuannya dalam Undang-Undang Pendidikan.
Masih banyak yang belum tahu bahwa dalam kondisi apapun sekolah bisa jalan terus. Bagi anak lulusan SD yang miskin, bisa melanjutkan sekolah gratis. Gratis sama sekali, karena seragam pun diberi. Bagi yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMA karena beberapa alasan, bisa melanjutkan tanpa harus mengganggu kesibukan bekerja, atau malu karena faktor usia yang sudah tidak lagi usia sekolah.
Dari semua kebutuhan akan sekolah di atas bisa ditemukan di SKB (Sanggar Kegiatan Belajar), yang beralamat di sebelah SD 2 Sumberjo Rembang. Untuk jenjang SMP disebut Kejar Paket B, sedangkan jenjang SMA disebut Kejar Paket C.
Jika Paket B bisa gratis, karena adanya program wajib belajar sembilan tahun, untuk Paket C sifatnya swadaya. Siswa Paket C dikenai iuran sekolah sebesar Rp. 25.000,- setiap bulannya.
Nuansa sekolah Paket B masih seperti rekan-rekannya di SMP formal pada umumnya. Masuk setiap hari dengan seragam putih biru. Namun nuansa Kejar Paket C sudah mirip anak kuliahan. Dengan berpakaian bebas asal sopan. Usianya juga variasi, ada yang benar-benar usia sekolah SMA, dan banyak pula yang usianya sudah seusia sarjana, bahkan sudah tua sekalipun. Dan masuknya pun hanya dua kali dalam sepekan.
Saat ini siswa Kejar Paket B keseluruhan mencapai 75 anak. Kejar Paket C lebih banyak lagi, mencapai 300 siswa. Kenapa program Paket C bisa lebih banyak? Menurut Dwi Nursanto, karena ijazah setara SMA (Paket C) lebih banyak dibutuhkan. Dulu, dibutuhkan karena untuk mengejar kesetaraan pangkat bagi pegawai. Saat ini lebih beragam. Ada yang ingin melanjutkan ke bangku kuliah, ada yang ingin mencalonkan diri sebagai kandidat kepala desa, kandidat calon legislatif, dll. Ada pula yang sengaja mendaftar di Paket C begitu lulus SMP. Alasannya adalah ingin sambil bekerja membantu orang tua. Ada pula yang karena drop out dari sekolah. Karena ada kasus tertentu sehingga keluar dari SMA di tengah jalan. Si drop out bisa langsung melanjutkan ke kelas berikut jika disertai raport, ada pula yang mengulangi dari kelas satu.
Di SKB pun ada UNAS. Bedanya, Unas untuk Kejar Paket tidak bersamaan dengan sekolah formal. Pelaksanaannya belakangan, setelah Unas sekolah formal usai. Sehingga bagi siswa yang tidak lulus Unas di sekolah formal, agar tetap bisa mengikuti ujian nasional lagi, bisa pindah jalur ke non formal, yaitu Kejar Paket B atau C.
Untuk tahun ini, penyelenggaran Unas Kejar Paket B atau C dilaksanakan pada tanggal 1-4 Juli 2009. Shodiqin
Sabtu, 27 Februari 2010
Pathol Sarang Akan Dijadikan Mulok


Pathol Sarang, sebuah olahraga gulat yang digabungkan dengan seni, karena disana akan ada semacam iringan musik gamelan sehingga bisa ditonton, diwacanakan akan dijadikan muatan lokal. Terutama untuk sekolah-sekolah yang masuk dalam wilayah Kecamatan Sarang.
Ide ini sempat dilontarkan oleh pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang. Mashadi SPd, Ka UPT Sarang ketika dikonfirmasi setuju saja dengan wacana tersebut, namun memang perlu kajian lebih mendalam bagaimana cara menerapkannya di sekolah sekolah.
Untuk saat ini menurut Mashadi, baru SD Temperak Kecamatan Sarang yang mencoba menjadikan Pathol Sarang sebagai muatan lokal.
Roda Sepeda Boleh Lima, Daun Boleh Merah
Siswa siswi di sebuah sekolah dasar sedang diperintah oleh gurunya untuk menggambar sepeda onthel. Mereka diberi kebebasan menggambar sepeda jengki, sepeda mini atau sepeda anak-anak.
Setelah satu jam berlalu, siswa mengumpulkan hasil karyanya. Setelah diperiksa sang guru, maka tiba-tiba guru berdiri dan minta perhatian anak-anak.
“Anak-anak, berapakah roda sepeda?” tanya bu guru.
“Duaa......!” jawab mereka serempak.
“Kenapa si Ratna menggambar sepeda yang rodanya ada lima? Kenapa Ratna?” tanya Bu Guru pada Ratna yang ternyata menggambar sepeda dengan roda yang berjajar-jajar hingga lima roda.
“Saya pernah melihat sepeda rodanya banyak Bu. Bagus kok!” kata Ratna sedikit membela diri.
“Iya, tapi sepeda itu harusnya rodanya dua!” tegas Bu Guru.
Peristiwa di atas tampaknya umum terjadi di sekitar kita. Anak-anak sering disalahkan jika mereka lebih kreatif dibanding lainnya. Menggambar sepeda beroda lima adalah langkah kreatif. Apalagi kenyataannya sepeda roda lima itu memang ada. Yang membuat sepeda roda lima adalah orang-orang kreatif pula. Guru yang mudah menyalahkan anak kreatif demikian tentunya menjadi bumerang bagi perkembangan anak-anak selanjutnya.
Sebuah contoh lagi, ada anak yang menggambar daun berwarna merah, atau kuning, atau warna lain. Guru menyalahkan, menurutnya daun itu berwarna hijau. Gunung, langit dan laut itu berwarna biru. Jika ada guru macam begini, kepala sekolah mestinya segera menyekolahkan guru tersebut ke jenjang yang lebih tinggi agar melek pengetahuan kesenian dan psikologi anak-anak.
Pendidik yang hanya memahami pengetahun secara hitam putih tentu tidak menyadari bahwa daun bisa berwarna kuning kemerahan jika terkena sinar matahari pagi atau sore. Jika sinar itu teramat terang, daun bisa berwarna putih kekuningan. Gunung bisa berwarna gelap kecoklatan jika sudah sore. Langit bisa berwarna macam-macam jika menjelang sunrise (matahari mulai muncul di pagi hari) dan ketika sunset (matahari hendak terbenam. Dan lain sebagainya.
Pelajaran kesenian memang tidak bisa disamakan dengan pelajaran sains yang lebih realistis. Walaupun sesungguhnya dengan kesenian bisa menyibak sesuatu yang realistis menjadi lebih realistis namun indah. Seperti birunya langit tadi, bisa dibuat berwarna-warni seperti jingga, semburat merah, coklat, kuning, bahkan pelangi. Sebuah keindahan yang selalu kita temui alias realistis namun sangat indah. Dan kerapkali kita lupa berfikir mencernanya. Bukankah keindahan itu adalah sebuah pesan bahwa Tuhan itu indah?
Perlu Guru Khusus Menggambar
Pelajaran Kesenian ada kurikulumnya. Dan sebaiknya guru untuk bidang kesenian, termasuk menggambar ini harus ada gurunya sendiri. Bukan guru umum yang mencakup segala pelajaran.
Keunikan dari seni menggambar adalah kesulitannya menentukan nilai. Gambar siswa tidak bisa begitu saja dinilai dengan angka 6 yang kurang bagus dan 9 yang gambarnya bagus. Gambar bersifat sangat subyektif. Ketika orang melihat gambarnya si A bagus, belum tentu bagus menurut B. Pengetahun seperti inilah yang sepertinya kurang dipahami guru.
Jika guru ingin mencoba fokus dalam mengarahkan gambar siswa, tentukan temanya ketika memerintahkan siswa menggambar. Misalnya menggambar mobil saja. Tentukan pula bahwa mobilnya harus ada sopirnya atau tidak. Jika guru tidak menentukan tema alias membebaskan siswa menggambar apa saja, maka semua gambar siswa harus dinilai bagus semua.
Menggambar itu Penting
Menggambar bukanlah mencetak siswa kelak menjadi pelukis semua. Teman saya seorang pelukis tenar dari Sluke, Chamim menerangkan maksud dari pelajaran menggambar lebih pada melatih anak-anak menggunakan otak kanan. Selama ini otak kiri selalu dipakai untuk memikirkan pelajaran serta menghafal. Maka menggambar bermaksud melatih otak kiri dan otak kanan sekaligus. Otak kiri lebih pada hafalan dan teori, otak kanan lebih menekankan praktek, seni dan kreativitas. Maka melatih menggambar sejak TK hingga SMA sangat dianjurkan.
Yang juga perlu ditekankan disini adalah jangan sampai ada pelabelan siswa oleh guru. Misalnya siswa A gambarnya bagus, siswa B gambarnya jelek. Jangan pernah terjadi. Biasanya ini terjadi karena guru merasa lebih tahu tentang murid-muridnya.
Untung Ada Batik
Syukurlah di Rembang ini ada seni batik. Dinas pendidikan telah memasukkan seni membatik di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal. Walaupun masih terbatas di beberapa sekolah, kelak di setiap sekolah SD di Rembang ini bisa menerapkannya sebagai muatan lokal. Karena dalam membatik membutuhkan kreativitas dan kesabaran yang tinggi. Karena ini adalah ranah seni, bisa jadi membatik tidak hanya untuk perempuan, namun laki-laki pun bisa. Apalagi batik Indonesia telah diakui oleh badan dunia UNESCO.
Menurut Chamim, berkreativitas sejak kecil akan tertanam di otak anak dan terbawa hingga dewasa kelak. Anak-anak yang sudah terbiasa berkreativitas sedari kecil diharapkan ketika dewasa lebih mudah menemukan segala solusi dalam segala aspek kehidupannya. Kelak ia tidak mudah stress, jiwanya hidup. Jiwa sosialnya pun terasah dengan baik, karena tidak melulu mempertimbangkan untung rugi dalam menakar tindak tanduknya di tengah masyarakat.
Maka janganlah mudah melabeli siswa. Karena siswa adalah anak-anak yang sedang berproses. Kiranya tidak perlu diingatkan berkali-kali, walaupun kita ini bangsa pelupa. Bahwasannya sering terjadi siswa-siswi ketika kecil nakal atau bodohnya bukan main. Ketika kita bertemu kembali ketika sudah besar, ternyata sangat berbeda sekali. Ita tidak tampak bodoh, namun justru menjadi orang yang paling berhasil di antara teman-temannya yang konon lebih pandai. (*)
Pelatihan tenaga pendidik PAUD non formal

200 tenaga pendidik Pendidikan anak usia dini (PAUD) pendidikan non formal di kabupaten Rembang selama 2 hari mulai tanggal 15-16 januari mengikuti pelatihan. Pelatihan yang berlangsung di Gedung PKPRI Rembang dibuka oleh Sekda Hamzah fatoni.
Ketua forum PAUD Ny Umy Jazilah salim dalam pengarahanya mengatakan, selama ini PAUD dikabupaten Rembang dalam perjalanannya akhir-akhir ini berkembang sangat pesat, Ini menunjukkan pendirian PAUD mendapat respon dan dukungan yang positif dari masyarakat. Pasalnya keberadaan PAUD manfaatnya sangat menguntungkan dalam membantu orangtua mengarahkan anaknya. Diantaranya memberi kebutuhan dasar anak yakni asah, asih, asuh serta menjadi pondasi awal dalam menentukan karakter anak diusia emas (golden age).Selain itu ketua forum PAUD juga mengatakan komitmennya dalam rangka pengembangan anak usia dini.
Ketua forum PAUD Umy jazilah menambahkan, keberadaan Forum PAUD dikabupaten Rembang patut dibanggakan, karena satu-satunya yang ada di Jawa Tengah. Kebijakan dan komitmen pemkab Rembang dalam rangka pengembangan anak usia dini juga telah dituangkan melalui Rencana pembagunan jangka panjang(RPJP) 2005-2025 dan rencana pembangunan jangka menegah (RPJM) tahun 2010-2015.
Sementara itu sekretaris Dinas pendidikan muthohir menyampaikan, satuan pendidikan sejenis PAUD di kabupaten Rembang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, tercatat satuan pendidikan sejenis PAUD ada sebanyak 45 buah, TPA penitipan 4, TPK 120 buah dan kelompok bermain 112 buah. (Qin)
Festival Budaya Anak Rembang

IPI ( Institute Pluralisme Indonesia ) mengadakan Festival Budaya Anak Rembang, Sabtu (16/01) di pendopo Rumah Dinas Bupati Rembang. Menurut Direktur IPI William Kwan acara ini diikuti kurang lebih 200 peserta berasal dari 35 Sekolah Dasar (SD) se – Kabupaten Rembang. Pada acara tersebut diadakan beberapa perlombaan seperti lomba batik tulis, lomba melukis batik, demo tari serta pameran hasil kerajinan anak Rembang.
Menurut William, keberadaan IPI di mulai awal 2004. Pada pertengahan tahun 2006 IPI mengembangkan seni budaya yang ada di Kabupaten Rembang dengan pilot project desa jeruk kecamatan Pancur dengan mendirikan “Srikandi Jeruk” yang bertujuan mengajarkan seni membatik kepada ibu – ibu setempat untuk menjaga warisan budaya.
William mengharapkan agar Kabupaten Rembang dapat menjadi motor penggerak seni budaya tradisional bagi daerah – daerah lain. Selain itu william juga mengharapkan Festival Budaya Anak dapat menjadi trigger / pemicu untuk mengembangkan seni budaya di Kabupaten Rembang.
Sementara itu Sekda Rembang Hamzah Fatoni SH, M.Kn mewakili Bupati Rembang H. Moch Salim memberikan apresiasi setingi – tingginya kepada IPI atas terselenggaranya Festival Budaya Anak. Menurut Hamzah Fatoni dengan mempersiapkan anak sejak dini diharapkan dapat menciptakan generasi penerus yang berkualitas.
Acara dilanjutkan dengan mengunjungi stand pameran hasil kerajinan anak serta lomba melukis batik. Pada acara tersebut juga dihadiri oleh ketua Dekranasda Rembang H. Umy Jazilah Salim, ketua MSI Rembang dan SKPD terkait. (Qin)
Senin, 18 Januari 2010
Pawai Taaruf Sambut Tahun Baru Hijriyah 1431
Anak TK/RA dan SD 'Berhaji'

Ketika orang dewasa tengah menjalankan haji di tanah suci, anak-anak TK dan RA laksanakan manasik haji di alon-alon Rembang. Tidak kurang dari 2500 anak antusias mengikuti bimbingan haji yang dibimbing oleh guru-guru mereka. Walaupun panas menyengat di siang itu, anak-anak cukup enjoy ikuti manasik yang dibuat seakan tengah berada di tanah suci beneran. Karena di tengah alon-alon tersebut didirikan miniatur Kakbah yang cukup apik.
Sabtu, 16 Januari 2010
Adu Kreativitas dalam Lomba Dongeng Rakyat
Ketika Pantura Pos turut menonton penampilan siswa-siswi SMA/SMK/MA sederajat yang tengah mengikuti lomba dongeng cerita rakyat Kabupaten Rembang yang diadakan oleh Kantor Parsip dan PDE, ada yang berbeda di sana. Kreativitas setiap peserta benar-benar ditampilkan secara total dan maksimal. Mereka lebih menjiwai dalam mendongeng.
Mereka ada yang membawa selendang dan tongkat untuk memperagakan ibu Malin Kundang yang sudah renta. Ada yang berpakaian adat sebagaimana cerita Malin Kundang berasal. Dan yang lebih seru ada yang membawa kru sebagai pengiring musik (organ) dan pemain figuran, sehingga suasana mendongeng bak teater.
Yang membawa kru drama untuk melengkapi mendongeng adalah SMA 3 Rembang. Pendongeng M Yusuf Saputro dengan mimik serius bercerita legenda Malin Kundang. Berawal dari sosok Malin Kundang yang berpakaian compang camping (Andi Dwi) yang hendak merantau. Lantas ibu Malin Kundang (Novita P) mendekatinya untuk mencegah Malin pergi merantau.
Setelah cerita bergulir muncul kembali ibu Malin Kundang yang menunggu putranya di dermaga setelah lama pergi. Benar saja, Malin Kundang muncul dengan pakaian gemerlap dan disampingnya putri cantik sebagai isterinya (Galuh Purwandani). Tentu saja kemunculan Malin Kundang dipanggil-panggil sebagai anaknya. Cerita menjadi mengharu biru manakala si Malin Kundang tampak bingung, melihat ibunya dan istrinya dengan wajah kaget. Tampak raut wajah Malin Kundang yang bimbang, antara mengakui ia sebagai ibunya dan takut dimarahi istrinya.
Tak pelak, istrinya marah melihat kebimbangan Malin Kundang yang pernah mengaku sebagai anak raja. Malin Kundang panik, tanpa berpikir panjang ibunya dimarahi dan tidak diakui sebagai ibu kandungnya. Seperti sudah bisa ditebak, ibu Malin Kundang lantas berdoa pada Tuhan agar mengutuk anaknya. Jadilah Malin Kundang batu.
Menurut pengakuan Yusuf, dia dan teman-temannya hanya latihan seminggu. Walaupun hanya menyabet juara harapan, penampilan dia teman-temannya sempat membuat penonton berlinang air mata.
Dari SMA 2 Rembang, Aditta Grishana bercerita legenda Lutung Kesarung. Gadis yang mendongeng sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang ini mengaku, untuk bisa mendongeng cukup faham ceritanya saja. Panitia tidak membatasi cerita harus orisinil, boleh berkreativitas.
Ketua Panitia Lomba Dongeng Cerita Rakyat Winarto BA ketika dikonfirmsi membenarkan bahwa peserta boleh berkreativitas dengan 5 cerita yang disodorkan. Lomba yang diselenggarakan di komplek Rumah Dinas Bupati ini melibatkan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA se Kab Rembang.
Untuk SD mereka mendongeng legenda Rembang. SMP mendongeng legenda Jawa Tengah. SMA mendongeng legenda Nusantara.
Menurut Winarto BA yang menjabat Kasi Bina Perpustakaan dan Arsip ini mengaku senang karena ternyata pesertanya membludak. Dan mereka tampak sekali antusias dalam mengikuti lomba.
Sementara Ketua Parsip dan PDE Kab Rembang, Drs Edy Winarno MPd berujar tujuan diadakannya lomba mendongeng adalah untuk mengasah kreativitas siswa-siswi di Rembang. Diharapkan cerita rakyat tidak menjadi hilang karena dilupakan oleh generasi mendatang.
Nama-nama yang berhasil menduduki Juara I, II dan III secara berurutan sbb:
SD/MI PUTRI: Tesya Bela Safira (SD Meteseh 2 Kaliori), Diana Dwi Salvira (SD Mantingan Bulu), Hezi Amalia Rizqy (SD Kutoharjo 3). SD/MI PUTRA: Nurohmad (SD Meteseh 2 Kaliori), Viky Yuli Setiawan (SD Gading), Yoga Widya Tama (SD Bulu).
SMP/MTs PUTRI: Erna Nur Fitria (SMP 1 Lasem), Riska Ayu (SMP 2 Rembang), Isti Yuni Sari (SMP 1 Rembang). SMP/MTs PUTRA: Mafriyan Thoha Alfiran (SMA 1 Rembang), Alif Muhammad Fadli (SMP 1 Lasem), Alang Honggo Prayogo (SMP 1 Pamotan).
SMA/SMK/MA PUTRI: Ratna Puspita (SMKN Rembang), Galuh Purwandani (SMA 3 Rembang), Layyin Halimah (SMA 1 Rembang). SMA/SMK/MA PUTRA: M Yusuf Rosidi (SMK Al Mubarok), Galih Gumilang (SMK 1 Rembang), Adip Tri Nurkhazis (SMA 1 Sulang). (Qin)
Mereka ada yang membawa selendang dan tongkat untuk memperagakan ibu Malin Kundang yang sudah renta. Ada yang berpakaian adat sebagaimana cerita Malin Kundang berasal. Dan yang lebih seru ada yang membawa kru sebagai pengiring musik (organ) dan pemain figuran, sehingga suasana mendongeng bak teater.
Yang membawa kru drama untuk melengkapi mendongeng adalah SMA 3 Rembang. Pendongeng M Yusuf Saputro dengan mimik serius bercerita legenda Malin Kundang. Berawal dari sosok Malin Kundang yang berpakaian compang camping (Andi Dwi) yang hendak merantau. Lantas ibu Malin Kundang (Novita P) mendekatinya untuk mencegah Malin pergi merantau.
Setelah cerita bergulir muncul kembali ibu Malin Kundang yang menunggu putranya di dermaga setelah lama pergi. Benar saja, Malin Kundang muncul dengan pakaian gemerlap dan disampingnya putri cantik sebagai isterinya (Galuh Purwandani). Tentu saja kemunculan Malin Kundang dipanggil-panggil sebagai anaknya. Cerita menjadi mengharu biru manakala si Malin Kundang tampak bingung, melihat ibunya dan istrinya dengan wajah kaget. Tampak raut wajah Malin Kundang yang bimbang, antara mengakui ia sebagai ibunya dan takut dimarahi istrinya.
Tak pelak, istrinya marah melihat kebimbangan Malin Kundang yang pernah mengaku sebagai anak raja. Malin Kundang panik, tanpa berpikir panjang ibunya dimarahi dan tidak diakui sebagai ibu kandungnya. Seperti sudah bisa ditebak, ibu Malin Kundang lantas berdoa pada Tuhan agar mengutuk anaknya. Jadilah Malin Kundang batu.
Menurut pengakuan Yusuf, dia dan teman-temannya hanya latihan seminggu. Walaupun hanya menyabet juara harapan, penampilan dia teman-temannya sempat membuat penonton berlinang air mata.
Dari SMA 2 Rembang, Aditta Grishana bercerita legenda Lutung Kesarung. Gadis yang mendongeng sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang ini mengaku, untuk bisa mendongeng cukup faham ceritanya saja. Panitia tidak membatasi cerita harus orisinil, boleh berkreativitas.
Ketua Panitia Lomba Dongeng Cerita Rakyat Winarto BA ketika dikonfirmsi membenarkan bahwa peserta boleh berkreativitas dengan 5 cerita yang disodorkan. Lomba yang diselenggarakan di komplek Rumah Dinas Bupati ini melibatkan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA se Kab Rembang.
Untuk SD mereka mendongeng legenda Rembang. SMP mendongeng legenda Jawa Tengah. SMA mendongeng legenda Nusantara.
Menurut Winarto BA yang menjabat Kasi Bina Perpustakaan dan Arsip ini mengaku senang karena ternyata pesertanya membludak. Dan mereka tampak sekali antusias dalam mengikuti lomba.
Sementara Ketua Parsip dan PDE Kab Rembang, Drs Edy Winarno MPd berujar tujuan diadakannya lomba mendongeng adalah untuk mengasah kreativitas siswa-siswi di Rembang. Diharapkan cerita rakyat tidak menjadi hilang karena dilupakan oleh generasi mendatang.
Nama-nama yang berhasil menduduki Juara I, II dan III secara berurutan sbb:
SD/MI PUTRI: Tesya Bela Safira (SD Meteseh 2 Kaliori), Diana Dwi Salvira (SD Mantingan Bulu), Hezi Amalia Rizqy (SD Kutoharjo 3). SD/MI PUTRA: Nurohmad (SD Meteseh 2 Kaliori), Viky Yuli Setiawan (SD Gading), Yoga Widya Tama (SD Bulu).
SMP/MTs PUTRI: Erna Nur Fitria (SMP 1 Lasem), Riska Ayu (SMP 2 Rembang), Isti Yuni Sari (SMP 1 Rembang). SMP/MTs PUTRA: Mafriyan Thoha Alfiran (SMA 1 Rembang), Alif Muhammad Fadli (SMP 1 Lasem), Alang Honggo Prayogo (SMP 1 Pamotan).
SMA/SMK/MA PUTRI: Ratna Puspita (SMKN Rembang), Galuh Purwandani (SMA 3 Rembang), Layyin Halimah (SMA 1 Rembang). SMA/SMK/MA PUTRA: M Yusuf Rosidi (SMK Al Mubarok), Galih Gumilang (SMK 1 Rembang), Adip Tri Nurkhazis (SMA 1 Sulang). (Qin)
Minggu, 01 November 2009
Tumbuhkan Empati Sejak Dini Dengan Membantu Musibah Gempa Padang
Tumbuhkan Empati Sejak Dini Dengan Membantu Musibah Gempa Padang
Gempa yang terjadi di Padang Pariaman Sumatra Barat adalah sebuah musibah nasional yang menimpa anak-anak bangsa. Banyak dari warga Padang yang kehilangan keluarga, tempat dinggal dan pekerjaan. Tidak terkecuali anak-anak sekolah yang kehilangan sekolahan karena ikut rata dengan tanah.
Anak-anak Padang yang terkena musibah tetap harus sekolah demi masa depan. Sebagai bentuk rasa peduli atas penderitaan sesama, maka berbagai cara pun dilakukan. Salah satunya dengan menggalang dana untuk dikirimkan kepada mereka.
Tidak ketinggalan siswa-siswi SDI Terpadu An-Nawawiyah Tasikagung Rembang. SD Islam yang baru berumur
5 tahun dengan siswa 224 anak ini menggalang dana dari kocek siswa-siswi sendiri yang dimulai sejak tanggal 1 Oktober. Satu hari setelah gempa terjadi. Setiap pagi siswa mengisi kotak amal seikhlasnya. Hal demikian berlangsung hingga tanggal 10 Oktober.
seikhlasnya. Hal demikian berlangsung hingga tanggal 10 Oktober.
Kepala Sekolah SDIT An Nawawiyah, Hj Mustatiah Spd ketika dikonfirmasi membenarkan penggalangan dana itu. Tujuannya adalah mendidik siswa sejak dini agar memiliki rasa empati dan toleransi yang tinggi terhadap penderi-taan sesama.
“Pendidikan akademik dan emosio-nal harus seimbang,” cetus ibu kepala sekolah yang memperlakukan siswa seperti putra-putrinya sendiri.
Maka disamping mengumpulkan dana dari kalangan siswa, juga mereka digerakkan untuk mencari dana bantuan kepada orang lain. Siswa dibimbing oleh guru mereka untuk menggalang dana dari warga di sekitar sekolah dan di pasar kota Rembang.
Ada 4 kelompok masing-masing lima anak disebar di Tasikagung. Sedangkan 4 kelompok lainnya disebar di pasar kota.
Ternyata hasilnya cukup signifikan. Dalam tempo kurang lebih satu jam di pasar memperoleh dana Rp. 758.700. Antusias ibu-ibu bakul pasar ternyata masih bagus, padahal hampir setiap hari sebelumnya juga sudah didatangi dari berbagai lembaga dengan maksud yang sama.
Demikian pula di lingkungan sekolah, hanya dalam tempo 1 jam memperoleh dana 709.000,-
Sementara dari hasil siswa-siswi SDIT An Nawawiyah sendiri memperoleh Rp.1.028.900,-. Total dana yang didapat berjumlah Rp.2.496.600,-
Dana bantuan dikirimkan Senin berikutnya di Bank oleh 6 anak kelas tertinggi, yaitu kelas 5, ditransfer lewat media Suara Merdeka. (Qin)
Gempa yang terjadi di Padang Pariaman Sumatra Barat adalah sebuah musibah nasional yang menimpa anak-anak bangsa. Banyak dari warga Padang yang kehilangan keluarga, tempat dinggal dan pekerjaan. Tidak terkecuali anak-anak sekolah yang kehilangan sekolahan karena ikut rata dengan tanah.
Anak-anak Padang yang terkena musibah tetap harus sekolah demi masa depan. Sebagai bentuk rasa peduli atas penderitaan sesama, maka berbagai cara pun dilakukan. Salah satunya dengan menggalang dana untuk dikirimkan kepada mereka.
Tidak ketinggalan siswa-siswi SDI Terpadu An-Nawawiyah Tasikagung Rembang. SD Islam yang baru berumur
5 tahun dengan siswa 224 anak ini menggalang dana dari kocek siswa-siswi sendiri yang dimulai sejak tanggal 1 Oktober. Satu hari setelah gempa terjadi. Setiap pagi siswa mengisi kotak amal seikhlasnya. Hal demikian berlangsung hingga tanggal 10 Oktober.
seikhlasnya. Hal demikian berlangsung hingga tanggal 10 Oktober.
Kepala Sekolah SDIT An Nawawiyah, Hj Mustatiah Spd ketika dikonfirmasi membenarkan penggalangan dana itu. Tujuannya adalah mendidik siswa sejak dini agar memiliki rasa empati dan toleransi yang tinggi terhadap penderi-taan sesama.
“Pendidikan akademik dan emosio-nal harus seimbang,” cetus ibu kepala sekolah yang memperlakukan siswa seperti putra-putrinya sendiri.
Maka disamping mengumpulkan dana dari kalangan siswa, juga mereka digerakkan untuk mencari dana bantuan kepada orang lain. Siswa dibimbing oleh guru mereka untuk menggalang dana dari warga di sekitar sekolah dan di pasar kota Rembang.
Ada 4 kelompok masing-masing lima anak disebar di Tasikagung. Sedangkan 4 kelompok lainnya disebar di pasar kota.
Ternyata hasilnya cukup signifikan. Dalam tempo kurang lebih satu jam di pasar memperoleh dana Rp. 758.700. Antusias ibu-ibu bakul pasar ternyata masih bagus, padahal hampir setiap hari sebelumnya juga sudah didatangi dari berbagai lembaga dengan maksud yang sama.
Demikian pula di lingkungan sekolah, hanya dalam tempo 1 jam memperoleh dana 709.000,-
Sementara dari hasil siswa-siswi SDIT An Nawawiyah sendiri memperoleh Rp.1.028.900,-. Total dana yang didapat berjumlah Rp.2.496.600,-
Dana bantuan dikirimkan Senin berikutnya di Bank oleh 6 anak kelas tertinggi, yaitu kelas 5, ditransfer lewat media Suara Merdeka. (Qin)
Madrasah Harus Bisa Dibanggakan
Madrasah Harus Bisa Dibanggakan
Kabupaten Rembang pada tahun ini ketiban sampur sebagai penyelenggara event Porseni Pelajar Madrasah Ibtidaiyah Tingkat Jawa Tengah. Event yang diselenggarakan untuk yang kelima ini mengusung tema “Kita bangun generasi berprestasi dan berakhlaq mulia”.
Pembukaan yang berlangsung di alon-alon Rembang pada Jumat (16/10) ini rencananya dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Namun gubernur berhalangan hadir sehingga diwakili oleh Asisten III Provinsi Jawa Tengah.
Dalam sambutannya Gubernur cukup bangga dengan Madrasah. Dalam apresiasinya Gubernur berhadap Madrasah tidak hanya bisa mencetak insan pandai agama juga berprestasi dalam olahraga dan seni budaya. Dengan porseni kelak bisa tumbuh bibit-bibit atlit dan seniman muslim yang berbakat.
Bupati Rembang H Moch Salim dalam sambutan selamat datang berterima kasih kepada panitia Porseni yang telah mempercayakan Rembang sebagai ajang Porseni Madrasah Ibtidaiyah Jawa Tengah. Bupati mengetengahkan kepada hadirin bahwa Kabupaten Rembang sebagai kota santri sangat peduli dengan pengembangan pendidikan madrasah. Terbukti Sekolah gratis yang telah berjalan hampir lima tahun adalah menggratiskan SD/MI, SMP/MTs, serta kelas I untuk SMA/MA/SMK. Padahal di Rembang sekolah madrasah cukup banyak, yaitu 41 MI, 38 MTs dan 14 MA.
Ketua Panitia Porseni Provinsi Drs. H. Sholahuddin dalam sambutannya menyebutkan, event Porseni diikuti oleh 1854 peserta dan 1300-an official (pendamping/guru), dari 35 kabupaten se Jawa Tengah. Kompetisi yang dilombakan adalah Bulutangkis, tennis meja, catur, lari, lompat jauh, lompat tinggi, MTQ, pidato bahasa Arab, Pidato Bahasa Inggris, Pidato Bahasa Jawa, qosidah, hadroh dan kaligrafi.
Pada pembukaan Porseni tersebut diramaikan oleh penampilan Drumband dari siswa-siswi madrasah dan SMP dari berbagai sekolah di Rembang. Juga ada bazaar yang menampilkan stand-stand MTs dan MA se Kabupaten Rembang. (Qin)
Kabupaten Rembang pada tahun ini ketiban sampur sebagai penyelenggara event Porseni Pelajar Madrasah Ibtidaiyah Tingkat Jawa Tengah. Event yang diselenggarakan untuk yang kelima ini mengusung tema “Kita bangun generasi berprestasi dan berakhlaq mulia”.
Pembukaan yang berlangsung di alon-alon Rembang pada Jumat (16/10) ini rencananya dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Namun gubernur berhalangan hadir sehingga diwakili oleh Asisten III Provinsi Jawa Tengah.
Dalam sambutannya Gubernur cukup bangga dengan Madrasah. Dalam apresiasinya Gubernur berhadap Madrasah tidak hanya bisa mencetak insan pandai agama juga berprestasi dalam olahraga dan seni budaya. Dengan porseni kelak bisa tumbuh bibit-bibit atlit dan seniman muslim yang berbakat.
Bupati Rembang H Moch Salim dalam sambutan selamat datang berterima kasih kepada panitia Porseni yang telah mempercayakan Rembang sebagai ajang Porseni Madrasah Ibtidaiyah Jawa Tengah. Bupati mengetengahkan kepada hadirin bahwa Kabupaten Rembang sebagai kota santri sangat peduli dengan pengembangan pendidikan madrasah. Terbukti Sekolah gratis yang telah berjalan hampir lima tahun adalah menggratiskan SD/MI, SMP/MTs, serta kelas I untuk SMA/MA/SMK. Padahal di Rembang sekolah madrasah cukup banyak, yaitu 41 MI, 38 MTs dan 14 MA.
Ketua Panitia Porseni Provinsi Drs. H. Sholahuddin dalam sambutannya menyebutkan, event Porseni diikuti oleh 1854 peserta dan 1300-an official (pendamping/guru), dari 35 kabupaten se Jawa Tengah. Kompetisi yang dilombakan adalah Bulutangkis, tennis meja, catur, lari, lompat jauh, lompat tinggi, MTQ, pidato bahasa Arab, Pidato Bahasa Inggris, Pidato Bahasa Jawa, qosidah, hadroh dan kaligrafi.
Pada pembukaan Porseni tersebut diramaikan oleh penampilan Drumband dari siswa-siswi madrasah dan SMP dari berbagai sekolah di Rembang. Juga ada bazaar yang menampilkan stand-stand MTs dan MA se Kabupaten Rembang. (Qin)
Rabu, 30 September 2009
Gedung Boleh Tua, Belajar Tetap Membara
Gedung Boleh Tua, Belajar Tetap Membara
Zaman dahulu, gedung sekolah biasanya terbuat dari bambu atau kayu. Jarang sekali yang menggunakan bahan batu-bata atau berdinding tembok. Sungguh unik dan langka , bila zaman modern ini, masih ada gedung yang berdinding kayu jati. Susunan dinding sampai atap dan penyangga, terbuat dari kayu. Pemandangan tersebut dapat dilihat pada SD Japerejo Pamotan dan SD Mondoteko Rembang. Dijelaskan oleh Kepala Sekolah H. Riyatno S.Pd melalui wakilnya Hartono S.Pd, bahwa gedung tersebut sebenarnya telah di usulkan, tetapi sampai sekarang belum ada hasilnya, belum ada kabar dari Diknas Rembang.
Sejarah gedung SD Japerejo diceritakan oleh Hartono, telah berdiri tahun 1915. Sejak zaman dulu sampai sekarang, tidak ada yang dirubah, masih tetap asli berdinding kayu. Beberapa guru SD Japerejo mengatakan , selama ini tidak ada perubahan dan penggantian bangunan SD, msih asli. Dan gedungnya masih digunakan sampai sekarang, untuk belajar mengajar.
Ruangan kelas terdiri dari 4 lokal, yang ditempati kelas I, II, III dan IV, sedang kelas V dan VI menempati lokal baru.
SD Japerejo mempunyai 179 siswa dengan jumlah Laki laki 79 dan Perempuan 100.
Gedung boleh tua tapi semangat belajar tak pernah kendor, begitu kata beberapa guru SD yang Pantura jumpai.
Meskipun menempati gedung tua,sederet prestasi diraih SD Japerejo. Yaitu juara I catur nasional tingkat SD oleh Guswan Aziz tahun 2005, Juara V Perpustakaan terbaik se Propinsi Jateng dan baru baru ini jura II Tari Kuda Lumping tingkat Karisidenan Pati.
Para guru berharap, semoga Pemkab Rembang segera membangun gedung yang baru untuk SD Japerejo, supaya proses belajar mengajar bisa lebih baik serta aman tidak kebocoran bila musim hujan tiba. :-) Santoso
CIKAL 2009 DISERAHTERIMAKAN DI DESA KUNIRAN PATI
CIKAL 2009 DISERAHTERIMAKAN DI DESA KUNIRAN PATI
Agustus yang lalu, pembawa cikal Estafet Tunas Kelapa 2009, telah melewati bumi Rembang. Sebelum sampai di kota Garam, cikal singgah dulu di kota Blora. Tanggal 13 Agustus 2009, sampailah pembawa cikal ETP di kota ini. Serah terima Estafet Tunas Kelapa ke 30, pertama memasuki Rembang diserahkan Kwarcab Blora di perbatasan Blora Rembang kepada Kwarcab Rembang. Diteruskan untuk dibawa keliling kota Rembang, melalui Bulu, Sulang, Jape Pamotan, Pancur, Rembang, Gunungsari Kaliori, Sumber dan berakhir di perbatasan Pati Rembang di desa Maguan Kaliori.
Menurut Drs.Watono dari Kwarcab Rembang, sebenarnya serah terima akan dilakukan di Maguan Kaliori. Tetapi setelah dikaji ulang, serah terima Estafet Tunas Kelapa diserahkan di desa Kuniran Pati, bukan di Maguan Kaliori karena telah melalui banyak pertimbangan.
Panitia Estafet Tunas Kelapa dari Pati mengatakan, tempat serah terima di perbatasan Maguan Kaliori kurang memadai dan terlalu sempit, sehingga harus dirubah, lebih masuk ke wilayah Pati.
Menanggapi hal tersebut, beberapa panitia dari Rembang mengatakan tidak masalah, yang penting bisa berjalan lancar. Sebab kadang kadang masalah teknis bisa muncul sewaktu waktu.
Dalam kesempatan tersebut, cikal ETP diserahkan Assisten II Setda Rembang Ir. Harsono kepada Assisten II Setda Pati Ir. Diswon. Nampak hadir Wabub sekaligus Ketua Kwarcab Pati Hj. Kartina Sukawati SE.MM beserta seluruh rombongan. Dari Rembang hadir Sekda Hamzah Fatoni, Asst II Ir.Harsono, Kapolres, Dandim, seluruh pejabat dilingkungan Pemda Rembang.
Estafet Tunas Kelapa tahun ini mengambil tema “ Pramuka Perekat Persatuan Bangsa”. Dimaksudkan, dengan pramuka akan terjalin persatuan dan kesatuan bangsa, saling tolong menolong dan saling peduli sesama. ETP akan berakhir di Bumi Perkemahan Munjulharjo Purbaligga Jateng, sekaligus diadakan upacara Pramuka ke 48 , yang di pimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (Santoso)
Agustus yang lalu, pembawa cikal Estafet Tunas Kelapa 2009, telah melewati bumi Rembang. Sebelum sampai di kota Garam, cikal singgah dulu di kota Blora. Tanggal 13 Agustus 2009, sampailah pembawa cikal ETP di kota ini. Serah terima Estafet Tunas Kelapa ke 30, pertama memasuki Rembang diserahkan Kwarcab Blora di perbatasan Blora Rembang kepada Kwarcab Rembang. Diteruskan untuk dibawa keliling kota Rembang, melalui Bulu, Sulang, Jape Pamotan, Pancur, Rembang, Gunungsari Kaliori, Sumber dan berakhir di perbatasan Pati Rembang di desa Maguan Kaliori.
Menurut Drs.Watono dari Kwarcab Rembang, sebenarnya serah terima akan dilakukan di Maguan Kaliori. Tetapi setelah dikaji ulang, serah terima Estafet Tunas Kelapa diserahkan di desa Kuniran Pati, bukan di Maguan Kaliori karena telah melalui banyak pertimbangan.
Panitia Estafet Tunas Kelapa dari Pati mengatakan, tempat serah terima di perbatasan Maguan Kaliori kurang memadai dan terlalu sempit, sehingga harus dirubah, lebih masuk ke wilayah Pati.
Menanggapi hal tersebut, beberapa panitia dari Rembang mengatakan tidak masalah, yang penting bisa berjalan lancar. Sebab kadang kadang masalah teknis bisa muncul sewaktu waktu.
Dalam kesempatan tersebut, cikal ETP diserahkan Assisten II Setda Rembang Ir. Harsono kepada Assisten II Setda Pati Ir. Diswon. Nampak hadir Wabub sekaligus Ketua Kwarcab Pati Hj. Kartina Sukawati SE.MM beserta seluruh rombongan. Dari Rembang hadir Sekda Hamzah Fatoni, Asst II Ir.Harsono, Kapolres, Dandim, seluruh pejabat dilingkungan Pemda Rembang.
Estafet Tunas Kelapa tahun ini mengambil tema “ Pramuka Perekat Persatuan Bangsa”. Dimaksudkan, dengan pramuka akan terjalin persatuan dan kesatuan bangsa, saling tolong menolong dan saling peduli sesama. ETP akan berakhir di Bumi Perkemahan Munjulharjo Purbaligga Jateng, sekaligus diadakan upacara Pramuka ke 48 , yang di pimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (Santoso)
Poskestren Tingkatkan Kesehatan Santri
Poskestren Tingkatkan Kesehatan Santri
Pos Kesehatan Pesantren disingkat POSKESTREN telah lama dicanangkan di Rembang. Awal tujuan didirikan adalah untuk membina kerjasama lintas sector khususnya dengan pesantren, memberikan pengetahuan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Pondok pesantren.
Beberapa Pesantren di Rembang ikut mendirikan Poskestren yaitu Ponpes Kasingan, Ponpes Kauman, Ponpes Tasikagung, Ponpes Leteh dan Ponpes-Ponpes lain di luar Kecamatan Rembang.
Seperti yang dilakukan beberapa santri di Kasingan dan Kauman Rembang, setiap santri diharuskan untuk selalu menjaga kebersihan, baik di dalam atau diluar pondok. Menurut Kiai M. Nasir Pengasuh Ponpes Kasingan mengatakan para santri masih harus selalu diingatkan tentang pola hidup sehat, supaya tidak lupa. Santri harus tanggap dan waspada bila mengetahui kondisinya sakit, dan secepatnya berobat di Poskestren yang disiapkan.
Menurut keterangan dari Ponpes, setiap bulannya santri suka rela memberikan iuran untuk kepentingan Poskestren. Dalam data pengurus Pokestren dapat diketahui sejauh mana keinginan santri untuk berobat. Meskipun tidak ada yang sakit dan berobat, pengurus akan selalu mengecek kondisi para santri setiap bulannya.
:-) Santoso
Pos Kesehatan Pesantren disingkat POSKESTREN telah lama dicanangkan di Rembang. Awal tujuan didirikan adalah untuk membina kerjasama lintas sector khususnya dengan pesantren, memberikan pengetahuan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Pondok pesantren.
Beberapa Pesantren di Rembang ikut mendirikan Poskestren yaitu Ponpes Kasingan, Ponpes Kauman, Ponpes Tasikagung, Ponpes Leteh dan Ponpes-Ponpes lain di luar Kecamatan Rembang.
Seperti yang dilakukan beberapa santri di Kasingan dan Kauman Rembang, setiap santri diharuskan untuk selalu menjaga kebersihan, baik di dalam atau diluar pondok. Menurut Kiai M. Nasir Pengasuh Ponpes Kasingan mengatakan para santri masih harus selalu diingatkan tentang pola hidup sehat, supaya tidak lupa. Santri harus tanggap dan waspada bila mengetahui kondisinya sakit, dan secepatnya berobat di Poskestren yang disiapkan.
Menurut keterangan dari Ponpes, setiap bulannya santri suka rela memberikan iuran untuk kepentingan Poskestren. Dalam data pengurus Pokestren dapat diketahui sejauh mana keinginan santri untuk berobat. Meskipun tidak ada yang sakit dan berobat, pengurus akan selalu mengecek kondisi para santri setiap bulannya.
:-) Santoso
Riyadhotut Tholabah, Bermula dari Murid Wajib Belajar , Kini Kelola TK hingga SMA
Riyadhotut Tholabah, Bermula dari Murid Wajib Belajar, Kini Kelola TK hingga SMA
Yayasan Riyadhotut Tholabah menaungi sekolah satu atap mulai TK, MI, MTs dan MA. Sekolah-sekolah tersebut masuk dalam deretan sekolah yang diperhitungkan di Kecamatan Sedan. Yayasan yang dipimpin KH Adib Munawir ini mendidik setidaknya 1750 siswa. Sebuah jumlah yang cukup besar untuk sebuah yayasan pendidikan yang berdiri di kecamatan. Sarana gedung masih menyebar, namun sebagian besar sudah menempati satu lahan milik yayasan seluas 1,5 Ha.
Riyadhotut Tholabah menganut kurikulum Nasional ditambah kurikulum lokal yang bernuansa pesantren. Kurikulum lokal itu antara lain Qiroatul Kutub (membaca kitab), Hafalan Juz Amma, Nahwu Shorof, dan pelajaran-pelajaran agama yang sudah ada di kurikulum Nasional.
Program extrakurikuler yang sudah berjalan di Riyadhotut Tholabah cukup beragam, antara lain Khitobah, Marching Band, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Pramuka, MTQ, Komputer dan Mading. Perpustakaan milik Riyadhotut Tholabah juga sudah memiliki 10 ribu judul buku.
Sejarah Berdiri
Riyadhotut Tholabah yang saat ini menjadi besar tidak lepas dari peran para mujahid yang merintis pendidikan di Sedan. H Ni’amullah Syuaib, salah satu Pengurus Yayasan menceritakan mula berdiri Riyadhotut Tholabah pada 1 Januari 1948. Saat itu sekolah masih terhitung langka dan anak-anak bangsa yang baru merasakan Indonesia merdeka masih banyak yang terlantar pendidikannya. Kondisi demikian memantik keprihatinan KH Mawardi dan KH Munawir. Dua tokoh da’i ini lantas menggagas sekolah untuk anak-anak di sekitarnya. Maka tercetuslah sekolah yang masih ala kadarnya dengan istilah MWB (Murid Wajib Belajar). Mula pertama berdiri MWB belum mempunyai gedung sama sekali, sehingga siswa dididik di rumah-rumah pengurus.
Sejak tahun 1957, MWB mulai eksis dengan bentuk Madrasah Ibtidaiyah masuk pagi dan memiliki gedung sendiri. Barulah kemudian MWB berubah menjadi nama Riyadhotut Tholabah pada tahun 1960. Selanjutnya sekolah berkembang pesat dengan pendirian MTs untuk menampung lulusan MI. Ujian pertama MTs pada tahun 1970, namun masih bergabung dengan MTs Boyolali.
Tahun 1975 MTs keluar ijin operasionalnya. Tahun 1980 s/d 1992 Ujian Negara pindah bergabung dengan MTs Lasem. Barulah pada tahun 1993 Riyadhotut Tholabah berhak menyelenggarakan Ujian Negara sendiri.
Pasca lulusan MTs, pengurus Yayasan bergerak lagi untuk mendirikan MA, untuk menampung lulusan MTs yang jumlahnya cukup signifikan. Itu terjadi pada 1 Juli 1980. Kini MA telah menjadi sekolah lanjutan yang besar.
Menggagas Perguruan Tinggi
Makin banyaknya siswa yang dibina oleh Riyadhotut Tholabah, mau tidak mau melibatkan banyak pendidik yang berkompeten dibidangnya. Jumlah total ustadz dan ustadzah yang terlibat dalam membimbing siswa-siswi sebanyak 89 guru, ditambah dengan TU 11 orang.
Guru-guru tersebut tersebar di TK yang mendidik siswa sebanyak 135 anak dengan kepala sekolah Ustadzah Qowiyah. Kemudian Edy Yusuf SAg memimpin MI dengan jumlah siswa 480 anak. Sedangkan MTs kini ada 608 siswa dengan kepala sekolah HM Rofiq BA. Dan MA dipimpin oleh Drs Anshory dengan 533 siswa.
Prestasi sekolah-sekolah Riyadhotut Tholabah cukup bagus. Setiap tahun rata-rata lulus UN 98%. Akhir-akhir ini, sejak tahun 2008 hingga sekarang, mulai tingkat SD, MTs hingga MA lulus 100%. Pada moment MTQ Pelajar tingkat Kabupaten Rembang kemarin, seluruh Juara I pada bidang Tilawah, Tartil hingga Tahfidz dengan segala tingkatan adalah siswa-siswa Riyadhotut Tholabah.
Ke depan rencananya Riyadhotut Tholabah akan membuka perguruan tinggi untuk menampung tunas-tunas Rembang yang haus akan ilmu yang lebih tinggi, yang selama ini terasa sangat kurang. Semoga. :-) Shodiqin
Teknologi intercom permudah tugas guru
Teknologi Intercom Permudah Tugas Guru
Menggunakan teknologi terbaru adalah kebanggaan masyarakat zaman modern. Semua bisa dilakukan dengan mudah dan tanpa banyak hambatan untuk berkomunikasi dengan siapapun. Hargapun semakin terjangkau dan aman digunakan selama dalam batas batas yang wajar.
Akan tetapi, sungguh berbeda yang dilakukan SD Pamotan 3, karena sampai sekarang masih menggunakan teknologi lawas yaitu Intercom. Sebuah teknologi zaman dulu yang tenar di era tahun 1985 an.
Menurut Moh. Masrup Kepala Sekolah SD Pamotan 3 mengatakan, sekolahnya menggunakan intercom bertujuan untuk mengontrol, berkomunikasi, memantau di dalam ruangan kelas setiap saat, tanpa harus mengganggu proses belajar mengajar.
Menurutnya intercom meskipun teknologi kadaluwarso sangat bermanfaat dan membantu tugas Kepala sekolah dan guru.
Ide penggunaan intercom dimulai ketika sekolah membutuhkan alat untuk berkomunikasi dan mengontrol antara Kepala sekolah dengan para guru dan anak anak saat jam belajar mengajar. Alat itu, nantinya digunakan untuk : mengontrol, berkomunikasi, alat bantu memutar kaset perjuangan, seni seni daerah dan senam. Intercom ini dilengkapi dengan alat pengontrol dan amplifier dan micropone. Sehingga pengawasan dan komunikasi di dalam kelas dapat dilakukan setiap saat. Penggunaan alat ini dilakukan hanya dengan menghidupkan tombol di ruang control. Tombol control terdapat 6buah untuk 6 kelas. Di setiap kelas disediakan loudspeaker, sehingga dapat digunakan untuk komunikasi dan memutar kaset perjuangan atau senam, yang dapat di dengar oleh semua kelas. Alat ini dibeli tahun 2007 lewat dana bantuan dari pemerintah.
Dilain kesempatan Kepala sekolah Masrup mengungkapkan sejak dikucurkanya beberapa bantuan dana oleh pemerintah, baik DAK atau BOS, SD Pamotan 3 merasa tercukupi kebutuhanya. Gedungnya banyak yang direhab, sehingga menambah kenyamanan dalam belajar.
Kepala sekolah dan guru berharap, semoga SD Pamotan 3 dapat maju dan berprestasi karena fasilitas semakin ditambah oleh pemerintah. Dan tak lupa berharap selama memonitor anak di sekolah, dapat bermanfaat nantinya. Melalui Diknas Rembang, SD Pamotan 3 memohon untuk diberikan bantuan alat monitor teknologi terbaru seperti yang dimiliki sekolah sekolah favorit di kota besar. :-) Santoso
Menggunakan teknologi terbaru adalah kebanggaan masyarakat zaman modern. Semua bisa dilakukan dengan mudah dan tanpa banyak hambatan untuk berkomunikasi dengan siapapun. Hargapun semakin terjangkau dan aman digunakan selama dalam batas batas yang wajar.
Akan tetapi, sungguh berbeda yang dilakukan SD Pamotan 3, karena sampai sekarang masih menggunakan teknologi lawas yaitu Intercom. Sebuah teknologi zaman dulu yang tenar di era tahun 1985 an.
Menurut Moh. Masrup Kepala Sekolah SD Pamotan 3 mengatakan, sekolahnya menggunakan intercom bertujuan untuk mengontrol, berkomunikasi, memantau di dalam ruangan kelas setiap saat, tanpa harus mengganggu proses belajar mengajar.
Menurutnya intercom meskipun teknologi kadaluwarso sangat bermanfaat dan membantu tugas Kepala sekolah dan guru.
Ide penggunaan intercom dimulai ketika sekolah membutuhkan alat untuk berkomunikasi dan mengontrol antara Kepala sekolah dengan para guru dan anak anak saat jam belajar mengajar. Alat itu, nantinya digunakan untuk : mengontrol, berkomunikasi, alat bantu memutar kaset perjuangan, seni seni daerah dan senam. Intercom ini dilengkapi dengan alat pengontrol dan amplifier dan micropone. Sehingga pengawasan dan komunikasi di dalam kelas dapat dilakukan setiap saat. Penggunaan alat ini dilakukan hanya dengan menghidupkan tombol di ruang control. Tombol control terdapat 6buah untuk 6 kelas. Di setiap kelas disediakan loudspeaker, sehingga dapat digunakan untuk komunikasi dan memutar kaset perjuangan atau senam, yang dapat di dengar oleh semua kelas. Alat ini dibeli tahun 2007 lewat dana bantuan dari pemerintah.
Dilain kesempatan Kepala sekolah Masrup mengungkapkan sejak dikucurkanya beberapa bantuan dana oleh pemerintah, baik DAK atau BOS, SD Pamotan 3 merasa tercukupi kebutuhanya. Gedungnya banyak yang direhab, sehingga menambah kenyamanan dalam belajar.
Kepala sekolah dan guru berharap, semoga SD Pamotan 3 dapat maju dan berprestasi karena fasilitas semakin ditambah oleh pemerintah. Dan tak lupa berharap selama memonitor anak di sekolah, dapat bermanfaat nantinya. Melalui Diknas Rembang, SD Pamotan 3 memohon untuk diberikan bantuan alat monitor teknologi terbaru seperti yang dimiliki sekolah sekolah favorit di kota besar. :-) Santoso
Rabu, 08 Juli 2009
PROGRAM PAKET C
SMA Rasa Mahasiswa
SETELAH gonjang-ganjing UNAS, ke manakah siswa yang tidak lulus berlari menyandarkan harapannya untuk bisa lulus? Jawabannya pasti ke Ujian Paket B atau C. Bicara sekolah Kejar Paket, tidak bisa lepas dari SKB (Sanggar Kelompok Belajar) Kabupaten Rembang.
Seperti apakah sekolah Kejar Paket tersebut? Kepala UPT SKB Rembang Dwi Nursanto menuturkan, pendidikan ada dua macam. Formal dan Non Formal. Formal adalah sekolah-sekolah pada umumnya, SD, SMP dan SMA. Adapun sekolah Non Formal sebagaimana di SKB ini. Belajarnya lebih fleksibel, namun tetap diakui oleh Pemerintah, dan ijazahnya bisa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya tanpa pandang bulu. Dan itu semua sudah ada ketentuannya dalam Undang-Undang Pendidikan.
Masih banyak yang belum tahu bahwa dalam kondisi apapun sekolah bisa jalan terus. Bagi anak lulusan SD yang miskin, bisa melanjutkan sekolah gratis. Gratis sama sekali, karena seragam pun diberi. Bagi yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMA karena beberapa alasan, bisa melanjutkan tanpa harus mengganggu kesibukan bekerja, atau malu karena faktor usia yang sudah tidak lagi usia sekolah.
Dari semua kebutuhan akan sekolah di atas bisa ditemukan di SKB (Sanggar Kegiatan Belajar), yang beralamat di sebelah SD 2 Sumberjo Rembang. Untuk jenjang SMP disebut Kejar Paket B, sedangkan jenjang SMA disebut Kejar Paket C.
Jika Paket B bisa gratis, karena adanya program wajib belajar sembilan tahun, untuk Paket C sifatnya swadaya. Siswa Paket C dikenai iuran sekolah sebesar Rp. 25.000,- setiap bulannya.
Nuansa sekolah Paket B masih seperti rekan-rekannya di SMP formal pada umumnya. Masuk setiap hari dengan seragam putih biru. Namun nuansa Kejar Paket C sudah mirip anak kuliahan. Dengan berpakaian bebas asal sopan. Usianya juga variasi, ada yang benar-benar usia sekolah SMA, dan banyak pula yang usianya sudah seusia sarjana, bahkan sudah tua sekalipun. Dan masuknya pun hanya dua kali dalam sepekan.
Saat ini siswa Kejar Paket B keseluruhan mencapai 75 anak. Kejar Paket C lebih banyak lagi, mencapai 300 siswa. Kenapa program Paket C bisa lebih banyak? Menurut Dwi Nursanto, karena ijazah setara SMA (Paket C) lebih banyak dibutuhkan. Dulu, dibutuhkan karena untuk mengejar kesetaraan pangkat bagi pegawai. Saat ini lebih beragam. Ada yang ingin melanjutkan ke bangku kuliah, ada yang ingin mencalonkan diri sebagai kandidat kepala desa, kandidat calon legislatif, dll. Ada pula yang sengaja mendaftar di Paket C begitu lulus SMP. Alasannya adalah ingin sambil bekerja membantu orang tua. Ada pula yang karena drop out dari sekolah. Karena ada kasus tertentu sehingga keluar dari SMA di tengah jalan. Si drop out bisa langsung melanjutkan ke kelas berikut jika disertai raport, ada pula yang mengulangi dari kelas satu.
Di SKB pun ada UNAS. Bedanya, Unas untuk Kejar Paket tidak bersamaan dengan sekolah formal. Pelaksanaannya belakangan, setelah Unas sekolah formal usai. Sehingga bagi siswa yang tidak lulus Unas di sekolah formal, agar tetap bisa mengikuti ujian nasional lagi, bisa pindah jalur ke non formal, yaitu Kejar Paket B atau C.
Untuk tahun ini, penyelenggaran Unas Kejar Paket B atau C dilaksanakan pada tanggal 1-4 Juli 2009. Shodiqin
SETELAH gonjang-ganjing UNAS, ke manakah siswa yang tidak lulus berlari menyandarkan harapannya untuk bisa lulus? Jawabannya pasti ke Ujian Paket B atau C. Bicara sekolah Kejar Paket, tidak bisa lepas dari SKB (Sanggar Kelompok Belajar) Kabupaten Rembang.
Seperti apakah sekolah Kejar Paket tersebut? Kepala UPT SKB Rembang Dwi Nursanto menuturkan, pendidikan ada dua macam. Formal dan Non Formal. Formal adalah sekolah-sekolah pada umumnya, SD, SMP dan SMA. Adapun sekolah Non Formal sebagaimana di SKB ini. Belajarnya lebih fleksibel, namun tetap diakui oleh Pemerintah, dan ijazahnya bisa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya tanpa pandang bulu. Dan itu semua sudah ada ketentuannya dalam Undang-Undang Pendidikan.
Masih banyak yang belum tahu bahwa dalam kondisi apapun sekolah bisa jalan terus. Bagi anak lulusan SD yang miskin, bisa melanjutkan sekolah gratis. Gratis sama sekali, karena seragam pun diberi. Bagi yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMA karena beberapa alasan, bisa melanjutkan tanpa harus mengganggu kesibukan bekerja, atau malu karena faktor usia yang sudah tidak lagi usia sekolah.
Dari semua kebutuhan akan sekolah di atas bisa ditemukan di SKB (Sanggar Kegiatan Belajar), yang beralamat di sebelah SD 2 Sumberjo Rembang. Untuk jenjang SMP disebut Kejar Paket B, sedangkan jenjang SMA disebut Kejar Paket C.
Jika Paket B bisa gratis, karena adanya program wajib belajar sembilan tahun, untuk Paket C sifatnya swadaya. Siswa Paket C dikenai iuran sekolah sebesar Rp. 25.000,- setiap bulannya.
Nuansa sekolah Paket B masih seperti rekan-rekannya di SMP formal pada umumnya. Masuk setiap hari dengan seragam putih biru. Namun nuansa Kejar Paket C sudah mirip anak kuliahan. Dengan berpakaian bebas asal sopan. Usianya juga variasi, ada yang benar-benar usia sekolah SMA, dan banyak pula yang usianya sudah seusia sarjana, bahkan sudah tua sekalipun. Dan masuknya pun hanya dua kali dalam sepekan.
Saat ini siswa Kejar Paket B keseluruhan mencapai 75 anak. Kejar Paket C lebih banyak lagi, mencapai 300 siswa. Kenapa program Paket C bisa lebih banyak? Menurut Dwi Nursanto, karena ijazah setara SMA (Paket C) lebih banyak dibutuhkan. Dulu, dibutuhkan karena untuk mengejar kesetaraan pangkat bagi pegawai. Saat ini lebih beragam. Ada yang ingin melanjutkan ke bangku kuliah, ada yang ingin mencalonkan diri sebagai kandidat kepala desa, kandidat calon legislatif, dll. Ada pula yang sengaja mendaftar di Paket C begitu lulus SMP. Alasannya adalah ingin sambil bekerja membantu orang tua. Ada pula yang karena drop out dari sekolah. Karena ada kasus tertentu sehingga keluar dari SMA di tengah jalan. Si drop out bisa langsung melanjutkan ke kelas berikut jika disertai raport, ada pula yang mengulangi dari kelas satu.
Di SKB pun ada UNAS. Bedanya, Unas untuk Kejar Paket tidak bersamaan dengan sekolah formal. Pelaksanaannya belakangan, setelah Unas sekolah formal usai. Sehingga bagi siswa yang tidak lulus Unas di sekolah formal, agar tetap bisa mengikuti ujian nasional lagi, bisa pindah jalur ke non formal, yaitu Kejar Paket B atau C.
Untuk tahun ini, penyelenggaran Unas Kejar Paket B atau C dilaksanakan pada tanggal 1-4 Juli 2009. Shodiqin
Pendidikan Gratis SMA Siap Digulirkan
DALAM berbagai kegiatan, Bupati Rembang H Moch Salim memaparkan pada tahun pelajaran ini untuk siswa dari keluarga kurang mampu agar dapat mengenyam pendidikan tingkat atasnya, maka telah dirumuskan kebijakan baru yakni sekolah gratis bagi pelajar kelas X SMA sederajat.
Menurut H Moch Salim, secepatnya dalam minggu awal Juli kebijakan dilaunching melalui saluran seluruh media massa yang ada. Hal tersebut agar dimengerti oleh masyarakat, khususnya bagi keluarga kurang mampu. “Agar mereka tidak ragu menyekolahkan anak-anaknya di SMA sederajat,” terang Bupati Rembang.
H Moch Salim menambahkan, untuk mewujudkan kebijakan tersebut pemkab Rembang dalam anggaran APBD Perubahan 2009 mengalokasikan dana sebanyak Rp 3,5 miliar.
Sekolah gratis untuk pelajar dari keluarga kurang mampu dimulai tahun pelajaran ini untuk siswa kelas X. Tahun pelajaran 2010-2011 ditambah bagi siswa kelas XI dan 2011-2012 menyeluruh kelas X-XII.
Akan dipublikasikan
Sementara itu Sekda Rembang Hamzah Fathoni SH MKn didampingi Sekretaris Dinas Pendidikan Rembang Drs Muthohir saat ditemui usai membuka lokaraya pendidikan gratis SMA sederajat di pendopo kabupaten, Kamis (25/6) menyebutkan, untuk program pendidikan gartis SMA sederajat, bentuk pelaksanaannya mengacu pada pendidikan gratis tetapi bermutu bagi SD-SMP yakni bantuan langsung diterimakan sekolah.
Menurut Sekda Rembang, pendataan dilakukan berdasar data jumlah RTS miskin dari BPS dilanjutkan tiap sekolah melakukan verifikasi. “Hasilnya dipublikasikan untuk memenuhi azas tranpsparasi dan akuntabilitas,” cetusnya.
Sementara itu Muthohir menjelaskan, total jumlah sekolah SMA sederajat baik negeri dan swasta pada tahun pelajaran 2008-2009 kemarin tercatat sebanyak 45 sekolah. Jenjang SMA berjumlah 14 sekolah, 9 berstatus negeri 5 swata. MA sebanyak 16 sekolah, 2 negeri 14 swasta dan SMK 15 sekolah, 4 negeri, 30 swasta.
“Sasaran penerima program sekolah gratis sebanyak 40% dari rumah tangga miskin se-kabupeten Rembang,” jelas Muthohir.
Sementara itu kepala BPS Rembang Drs Karyoto ditemui terpisah menjelaskan, dari hasil pendataan program perlindungan sosial tahun 2008 perbaharuan data serupa tahun 2005, jumlah rumah tangga miskin di Kabupaten Rembang diketahui sejumlah 70.374 RTM, dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 222.694 jiwa. Antok
Menurut H Moch Salim, secepatnya dalam minggu awal Juli kebijakan dilaunching melalui saluran seluruh media massa yang ada. Hal tersebut agar dimengerti oleh masyarakat, khususnya bagi keluarga kurang mampu. “Agar mereka tidak ragu menyekolahkan anak-anaknya di SMA sederajat,” terang Bupati Rembang.
H Moch Salim menambahkan, untuk mewujudkan kebijakan tersebut pemkab Rembang dalam anggaran APBD Perubahan 2009 mengalokasikan dana sebanyak Rp 3,5 miliar.
Sekolah gratis untuk pelajar dari keluarga kurang mampu dimulai tahun pelajaran ini untuk siswa kelas X. Tahun pelajaran 2010-2011 ditambah bagi siswa kelas XI dan 2011-2012 menyeluruh kelas X-XII.
Akan dipublikasikan
Sementara itu Sekda Rembang Hamzah Fathoni SH MKn didampingi Sekretaris Dinas Pendidikan Rembang Drs Muthohir saat ditemui usai membuka lokaraya pendidikan gratis SMA sederajat di pendopo kabupaten, Kamis (25/6) menyebutkan, untuk program pendidikan gartis SMA sederajat, bentuk pelaksanaannya mengacu pada pendidikan gratis tetapi bermutu bagi SD-SMP yakni bantuan langsung diterimakan sekolah.
Menurut Sekda Rembang, pendataan dilakukan berdasar data jumlah RTS miskin dari BPS dilanjutkan tiap sekolah melakukan verifikasi. “Hasilnya dipublikasikan untuk memenuhi azas tranpsparasi dan akuntabilitas,” cetusnya.
Sementara itu Muthohir menjelaskan, total jumlah sekolah SMA sederajat baik negeri dan swasta pada tahun pelajaran 2008-2009 kemarin tercatat sebanyak 45 sekolah. Jenjang SMA berjumlah 14 sekolah, 9 berstatus negeri 5 swata. MA sebanyak 16 sekolah, 2 negeri 14 swasta dan SMK 15 sekolah, 4 negeri, 30 swasta.
“Sasaran penerima program sekolah gratis sebanyak 40% dari rumah tangga miskin se-kabupeten Rembang,” jelas Muthohir.
Sementara itu kepala BPS Rembang Drs Karyoto ditemui terpisah menjelaskan, dari hasil pendataan program perlindungan sosial tahun 2008 perbaharuan data serupa tahun 2005, jumlah rumah tangga miskin di Kabupaten Rembang diketahui sejumlah 70.374 RTM, dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 222.694 jiwa. Antok
Lulusan UNAS di Rembang Lebih Baik
Kepala Dinas Pendidikan Rembang Drs Noor Effendi melalui Sekretaris Dinas Drs Muthohir dan Kabid Kurikulum Drs Dandung Dwi Sucahyo menjelaskan, kelulusan tahun pelajaran 2008-2009 meningkat dibanding tahun sebelumnya. “Tahun lalu angka kelulusan 87,89 % sedangkan tahun ini naik menjadi 91,86%,” terang keduanya.
Untuk SMA jurusan IPA tahun lalu kelulusan 95,83% tahun ini meningkat 96,57%. Jurusan IPS dari 87,435 naik menjadi 92,77%, sedangkan jurusan bahasa sama dengan tahun lalu lulus 100%. Kelulusan MA jurusan IPA dari 89,80% menjadi 96,14%/ jurusan IPS dari 77,31% menjadi 97,69%. Adapun jumlah peserta UAN SMA jurusan IPA dan IPS tahun ini sjumlah 2.289 pelajar, sebanyak 2.130 lulus atau mencapai 93,40%. Sedangkan jurusan IPA dan IPS pelajar MA berjumlah 1.212 siswa, sebanyak 1.136 atau 93,72% dinyatakan lulus.
SMP-MTs juga meningkat
Muthohir dan Dandung juga menginformasikan, kelulusan UAN SMP-MTs tahun pelajaran 2008-2009 meningkat dibanding tahun sebelumnya. Tahun lalu angka kelulusan berkisar 89,66 % tahun ini naik menjadi 94,63%.
Tahu pelajaran 2008-2009 untuk SMP jumlah peserta UAN 6.242 pelajar, lulus 5.939 atau menacapai 95,15%, sedangkan kelulusan taun lalu 90,92%. SMP Terbuka diikuti 172 pelajar, lulus 107 sekitar 62,21 %, tahun lalu berkisar 57,09%/. Peserta UAN MTs berjumlah 2.824 pelajar, lulus 2.688 atau 95,18%, sedangkan tahun lalu hanya 90,41%. Total SMP peserta UAN 54 sekolah, 17 diantaranya lulus 100%, sedangkan MTs berjumlah 34 sekolah, 15 diantaranya lulus 100%.
Muthohir dan Dandung menambahkan, siswa yang tidak lulus dapat mengulang tahun berikutnya atau mengikuti ujian kesetaraan kejar paket B dan C. Apabila akan mengikuti ujian kesetaraan paket B dan C dihimbau segera mendaftar ke Dinas Pendidikan agar dapat mengikuti ujian nasional kejar paket B dan C yang dilaksnakan sebelum masa penerimaan peserta didik baru (PPDB) berakhir. Antok
Untuk SMA jurusan IPA tahun lalu kelulusan 95,83% tahun ini meningkat 96,57%. Jurusan IPS dari 87,435 naik menjadi 92,77%, sedangkan jurusan bahasa sama dengan tahun lalu lulus 100%. Kelulusan MA jurusan IPA dari 89,80% menjadi 96,14%/ jurusan IPS dari 77,31% menjadi 97,69%. Adapun jumlah peserta UAN SMA jurusan IPA dan IPS tahun ini sjumlah 2.289 pelajar, sebanyak 2.130 lulus atau mencapai 93,40%. Sedangkan jurusan IPA dan IPS pelajar MA berjumlah 1.212 siswa, sebanyak 1.136 atau 93,72% dinyatakan lulus.
SMP-MTs juga meningkat
Muthohir dan Dandung juga menginformasikan, kelulusan UAN SMP-MTs tahun pelajaran 2008-2009 meningkat dibanding tahun sebelumnya. Tahun lalu angka kelulusan berkisar 89,66 % tahun ini naik menjadi 94,63%.
Tahu pelajaran 2008-2009 untuk SMP jumlah peserta UAN 6.242 pelajar, lulus 5.939 atau menacapai 95,15%, sedangkan kelulusan taun lalu 90,92%. SMP Terbuka diikuti 172 pelajar, lulus 107 sekitar 62,21 %, tahun lalu berkisar 57,09%/. Peserta UAN MTs berjumlah 2.824 pelajar, lulus 2.688 atau 95,18%, sedangkan tahun lalu hanya 90,41%. Total SMP peserta UAN 54 sekolah, 17 diantaranya lulus 100%, sedangkan MTs berjumlah 34 sekolah, 15 diantaranya lulus 100%.
Muthohir dan Dandung menambahkan, siswa yang tidak lulus dapat mengulang tahun berikutnya atau mengikuti ujian kesetaraan kejar paket B dan C. Apabila akan mengikuti ujian kesetaraan paket B dan C dihimbau segera mendaftar ke Dinas Pendidikan agar dapat mengikuti ujian nasional kejar paket B dan C yang dilaksnakan sebelum masa penerimaan peserta didik baru (PPDB) berakhir. Antok
Langganan:
Postingan (Atom)

