Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 November 2009

Sepasang Tuna Rungu Taklukkan Dunia


Agung (37) )
Tika (27)
Bita (3) Play group
Desa Pancur Dk. Tiyang Kec. Pancur
Agung sekolah luar biasa (SLB) Don Bosco Wonosobo selama 15 tahun.
Tika sekolah SLB Dena Upakara Wonosobo selama 15 tahun
Mereka sekolah benar-benar dari nol sampai lulus dan trampil menjahit
Agung senang olahraga sepakbola. Pernah memperkuat tim kesebelasan desa Pancur dan mendapat Juara I pada tahun 1990.
Mereka menikah tahun 2005
Agung putra dari M Adnan (Alm) dan Sekarningsih warga Pancur
Tika putra dari Raban Priyono dan Sri Wahyuni (Alm) Banjarnegara

Pesan mereka pada generasi muda penyandang cacat di Rembang adalah: “Jangan meratapi nasib kita sendiri, tetapi tertantang untuk menjadi yang terbaik. Kecacatan fisik yang kita punya justru membuat kita terpicu untuk berusaha mencapai cita-cita yang kita inginkan.
Buat orang yang berpendengaran normal, jangan ada diskriminasi apapun terhadap tunarungu. Kami tunarungu bisa melakukan apa saja kecuali mendengar.

Agung ahli menjahit dan laris. Saking banyaknya pesanan sampai-sampai membutuhkan seorang tenaga lagi.

Agung menyayangkan bahwa sudah terbentuk opini di masyarakat bahwa tunarungu tidak bisa apa-apa.

Agung tunarungu sejak kecil, Tika tunarungu sejak umur 3 tahun karena jatuh.

Agung kecil sering mengalami cemoohan orang lain karena tunarungu sehingga menyebabkan ia membalas cemoohan dengan memukul atau melempar batu. Akibatnya Agung sempat dijuluki anak nakal.
Kami punya harga diri tidak suka dianggap remeh.

Buat Bapak Bupati Salim, tolong memperhatikan pendidikan anak-anak SLB yang ada di Rembang.

Agung pertama kali buka profesi menjahit tahun 2006, setahun setelah menikah. Tahun pertama sudah ada pelanggan dari desanya sendiri. Setelah tiga tahun berjalan pelanggannya sudah merambah dari kecamatan-kecamatan lain. Saat ini ia mengerjakan seragam dari SMK NU Pamotan dan TK Wuwur Pancur.
Pelanggannya terdiri dari umum, guru, PNS dan sekolah-sekolah.

Alat yang dimiliki kini mesin jahit dua buah, obras 1 buah, dan border 1 buah.

Rabu, 30 September 2009

Mengais daun jati, hidupi keluarga

Mengais Daun Jati, Hidupi Keluarga
Tasmani (65) adalah salah satu contoh orang tua yang tangguh dan sabar dengan pekerjaannya yang terhitung berat ini. Setiap dua hari sekali Tasmani mengayuh sepedanya sejauh 10 Km menuju hutan Sale (Kebonharjo) untuk mencari daun jati. Pekerjaan yang dilakoninya sejak remaja itu adalah mengambil daun-daun jati yang tumbuh di bonggol-bonggol jati, di badan pohon selagi bisa dijangkau dengan tangannya.
Warga Damean Kec Sedan, suami Dasni dengan 6 putra ini mampu mengumpulkan daun jati 3 ikat besar mulai pagi hingga siang pukul 2 atau 3 sore. Tiga ikat jati tersebut dimuat memenuhi sepedanya untuk dibawa pulang.
Selesaikah tugas Tasmani? Ternyata belum. Daun jati yang diperolehnya hari itu tidak begitu saja menjadi uang. Ia mesti membawanya ke pasar Kragan esok harinya. Sistem menjualnya dengan menunggui di pasar dengan dibeli eceran oleh pelangganya. Hasil yang diperoleh Tasmani jika mujur bisa mendapatkan Rp.50.000,- namun jika sepi hanya mendapat Rp.40.000. Berarti untuk dua hari ia mendapat penghasilan antara Rp.20 ribu s/d Rp.25.000,-.
Penghasilan sebesar itu bagi Tasmani terus digeluti hingga sekarang. Walaupun zaman telah berubah modern, penggunaan daun jati masih jalan terus. Tasmani mengaku, daun jati masih laku, dan selama ini tetap laku.
Sebagai orang desa yang hanya pernah sekolah SR kelas satu, seluruh anaknya sekolah minimal tamat SD dan sebagian besar tamat MTs. Untuk sekolah diniyah sore, semua putra-putrinya telah lulus.
Dalam hidup Tasmani juga punya prinsip, bekekerja harus halal. Ia berpesan kepada putra-putrinya, jangan sampai ikut-ikutan ‘nyolong’ kayu di hutan. Biarlah kerja apapun, kuli atau tukang rosok, asal halal. :-) Shodiqin

Minggu, 30 Agustus 2009

Saling Jatuh Cinta Gara-Gara Gerabah

Saling Jatuh Cinta Gara-Gara Gerabah
Pasangan suami istri lansia yang kian uzur, Ratiban (62 th) dan istrinya Kasmi (58 th) sepanjang hidupnya hanya mengenal satu pekerjaan saja, membuat kuali dan jabah (grabah ukuran lebih besar sedikit dibanding kuali). Saat pagi datang dan mata mulai terbuka, mereka tanpa merasa bosan mengerjakan pesanan kuali dan jabah yang harus diselesaikan secepatnya untuk selanjutnya mengerjakan order pesanan dari para pelanggan.
Saat Ratiban ditanya mulai kapan akrab dengan grabah jenis kuali dan jabah, dia menjawab sejak berusia 10 tahun telah terlibat langsung berproduksi, meski saat itu sebatas membantu orang tuanya mengambilkan tanah lempung dari sawah. “Anake tiyang boten gadhah, boten sekolah nopo. Ngewangi pak kalih mak mendet lempung saking sabin, didamel kuali kalih jabah,”terangnya dalam bahasa Jawa medhok.
Seiring meningkat usianya, dia diberi pelajaran terlibat langsung memproduksi barang gerabah tersebut. Mulanya merasa sulit namun lambat laun terbiasa, dan di kemudian hari justru menjadi kehliannya. “Kulo angsal mbok wedok nggeeeh mergo kiyambake kesengesem kepinteran kulo ndamel kuali kalih jabah,” tutur Ratiban dengan bangga.
Kasmi sendiri tidak menampik penjelasan suaminya. Menurutnya kepiawaian Ratiban membuat kuali dan jabah membuatnya tertarik sehingga mau saja ketika dilamar Ratiban untuk menjadi istrinya. “Bapake jago ndamel grabah. Wekdal semanten tiyang estri seneng menawi dipek bojo tiyang sing pinter ndamel kuali kalih jabah,”ujar Kasmi tanpa malu-malu.

Tinggal segelintir
Menurut Ratiban, sekitar 40 tahun silam di kawasan kelurahan Sidowayah terkenal sebagai sentra kerajinan gerabah. Ada yang memproduksi kuali, jabah dan jun. Bahkan hampir 75 % warga berprofesi sebagai perajin gerabah. “Waah nggeeh kathah rumiyin sing ndamel gerabah. Jaler, estri jumlahe atusan,’terangnya.
Ayah enam anak bercucu 15 itu lebih lanjut menyebutkan saat ini hanya tinggal segelintir saja yangmasih bertahan memproduksi gerabah. Sebagian perempuan setenmpat menikah dan mengikuti suaminya pindah ke luar kota, sedangkan yang laki-laki alih profesi sebagai nelayan atau tukang batu. “Sami boten kiat, sepi boten wonten pesenan, terus sami merdamel sanes,’kilah Ratiban.
Kasmi sendiri menambahkan, dahulu banyak menerima pesanan kuali sdari warga Tasikagung, Jarakan, kabongan, Pasarbaggi dan Punjulharjo. Namun lambat laun nampaknya banyak pemindang ikan yang beralih profesi sehingga berimbas pada perajin gerabah. “Kuali niku kangge mindang iwak cilik-cilik, lha jabah kangge mindang tongkol. Rumiyin kathah sing pesen duko sak niki kok sepi,”keluhnya.

Hanya cukup untuk bertahan hidup
Berbeda dengan dahulu manakala pesanan datang selalu tanpa putus. Kini dalam satu uklan paling banyak pasangan suami istri lansia itu hanya menerima sekitar 500 potong saja dengan harga jual per potong dibandrol Rp 1.000 Mereka membatasi paling sedikit menerima pesanan 100 potong agar tidak terlalu merugi.
Membuat pesanan 100 kuali atau jabah sedikitnya membutuhkan waktu 5 hari, dilanjutkan membakarnya selama setengah hari. Setelah dingin baru dibersihkan dari abu dan sisa pembakaran, baru selanjutnya dikirim kepada pemesan. “Pesenan satus ndamele nggeeeh diluwihi, njagani nek onten sing pecah. Paling boten mbakare ditambah telung puluh iji,”tukas Ratiban.
Pendapatan bersih memenuhi pesanan 100 potong menurut Ratiban dan Kasmi, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk membakarnya butuh kayu bakar sebanyak 25 ikat seharga Rp 1.000 atau dikeluarkan uang Rp 25.000, membutuhkan jerami 1 ikat seharga Rp 15.000 dan grajen satu karung seharga Rp 25.000. Total mereka harus mengeluarkan dana sejumlah Rp 65.000 belum termasuk pengeluaran sehari-hari selama mengerjakan pesanan tersebut.
Ketika penulis bertanya kepada ke-duanya apakah tidak terbersit pemikiran mengerjakan selain kuali dan jabah, keduanya menyahut dengan kompak “Ajeng nopo maleh, sagete nggeeh ndamel kuali kalih jabah.” :-) Antok