Kopi Lelet: Plat Merah
Warung Kopi Yu Kasminah yang terletak di pertigaan jalan Kampoeng Baroe dari dulu sampai sekarang kian laris saja. Selain di dukung Noorce dan Astri yang cantiknya di atas rata-rata membuat pecandu kopi ingin mencoba dan mencoba kopi tubruk buatan neng guelis tersebut.
“Ada kejadian apa lagi ya, mataku sebelah kiri ini kok kedutan terus,” komentar Lik Diman seperti ahli nujum.
“Yaah… bulan Juli ini ada pergantian penggede pemerintah yang dibarengi pergantian menteri dan diikuti pejabat-pejabat tinggi yang lain,” jawab Pak Bowo sambil membolak balik koran bekas.
“Ah itu bukan jawaban strategis Pak, karena berbau politikus,” sergah Lek Diman.
“Anu Lik…, bulan Juli ini akan ada upacara besar-besaran yang diikuti orang sak tanah air,” jawab mas Gum yang duduk disampingnya.
“Apa itu mas kok mengejutkan bulu romaku!?” sahut Yu Kasminah dari meja kasir.
“Apa sampean-sampean pada lupa kalau di bulan Juli itu ada Hari Koperasi di Negara kita tercinta ini?” jawab mas Gum.
“Kalau itu sudah tau mas… tapi meski di peringati besar-besaran harga-harga di pasar masih membumbung tinggi,” celoteh lek Diman lagi .
“Lho… kalau Lik Diman mau tahu, selama ini harga sepatu dan sandal selalu turun sedangkan harga topi, peci dan bandu selalu naik naik terus,” ujar mas Gum banyol.
“Itu jawaban dagelan mas…, masa sepatu naik kepala dan topi turun ke tanah…” jawab Lek Diman ketawa ngakak.
Sebelum debat kusir ini berkepanjangan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan Mbah Sastro yang kali ini di dampingi Pak RT Kampoeng Baroe.
“Wah… tumben Pak RT mau blusukan di warung kopi… mangga-mangga Pak mau pesan kopi tubruk, kopi suzu atau kopi nasgithel selalu ada lho Pak,” ujar kang Diman di samping Yu Kasminah agak santun.
“Ya... jelas mau ngopi to yo… masak mau sepak bola,” ujar Mbah Satro kesal.
“Ada apa to ini kok gayeng sekali?” Tanya Pak RT yang baru kali ini ngopi di warungnya Yu Kasminah.
“Ini lho Pak membicarakan masalah harga yang berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya, selalu naik, naik dan naik terus, mana turunnya….. ?” kata Pak Bowo.
“Iya Pak dulu waktu aku masih buruh tandur dan matun uang lima rupiah sudah biasa mencukupi kebutuhan sehari. Sekarang sampai mana uang segitu?” komentar yu Kasminah mewakili perempuan se-Indonesia
“Sekarang memang tidak seperti dulu ya…, orangnya dari tahun ke tahun bertambah otomatis kebutuhannya juga bertambah,” jawab Pak RT .
“Apa yang dikatakan Pak RT memang benar, meski semuanya serba mahal tapi masyarakat juga serba kecukupan, yang PNS gajinya dinaikan ditambah gaji ke-13 tujuannya untuk memajukan Bangsa ini, sedangkan yang miskin tidak punya pekerjaan juga diberi BLT apa nggak huenak itu….” tegas mas Gum.
“Oh ya…..omong-omong kakinya Pak RT kenapa kok dibalut?” Tanya Yu Kasminah .
“ O… ini to, kemarin siang di serempet mobil yang sopirnya ugal-ugalan,” jelas Pak RT.
“ Apa sudah lapor ke pihak berwajib Pak?” Tanya Pak Bowo
“ Percuma lapor Pak, wong yang nabrak itu mobil plat merah,” jawab Pak RT
“ Berarti Pak RT korban tabrak lari to? “ Tanya Yu Kasminah sambil melihat lukanya Pak RT
“ Iya Yu, sudah di tabrak, jatuh dan tidak di tolong,” ujar Pak RT memelas.
“Mestinya Pak RT lapor Polisi karena siapapun yang nabrak dan sampean terluka baik mobil pribadi maupun plat merah itu namanya salah,” jelas mas Guru.
“Makanya semuanya harus hati-hati dan lewat forum ini aku mengarahkan agar mobil Dinas yang dipakai saat Dinas saja bukan dipakai keluyuran anaknya, menantunya ataupun dipakai rombongan ke luar kota. Jelas menyalahi aturan. Bukankah begitu kang Diman?” Komentar mas Guru lagi sambil menyentil Kang Darmin yang sudah mengantuk.
“Iya …. Iya …..iya …… ya dong !!?! “ jawab kang Diman gelagapan ditertawakan pelanggan.
(Kampung Baru, Juni 2009)
Minggu, 30 Agustus 2009
Saling Jatuh Cinta Gara-Gara Gerabah
Saling Jatuh Cinta Gara-Gara Gerabah
Pasangan suami istri lansia yang kian uzur, Ratiban (62 th) dan istrinya Kasmi (58 th) sepanjang hidupnya hanya mengenal satu pekerjaan saja, membuat kuali dan jabah (grabah ukuran lebih besar sedikit dibanding kuali). Saat pagi datang dan mata mulai terbuka, mereka tanpa merasa bosan mengerjakan pesanan kuali dan jabah yang harus diselesaikan secepatnya untuk selanjutnya mengerjakan order pesanan dari para pelanggan.
Saat Ratiban ditanya mulai kapan akrab dengan grabah jenis kuali dan jabah, dia menjawab sejak berusia 10 tahun telah terlibat langsung berproduksi, meski saat itu sebatas membantu orang tuanya mengambilkan tanah lempung dari sawah. “Anake tiyang boten gadhah, boten sekolah nopo. Ngewangi pak kalih mak mendet lempung saking sabin, didamel kuali kalih jabah,”terangnya dalam bahasa Jawa medhok.
Seiring meningkat usianya, dia diberi pelajaran terlibat langsung memproduksi barang gerabah tersebut. Mulanya merasa sulit namun lambat laun terbiasa, dan di kemudian hari justru menjadi kehliannya. “Kulo angsal mbok wedok nggeeeh mergo kiyambake kesengesem kepinteran kulo ndamel kuali kalih jabah,” tutur Ratiban dengan bangga.
Kasmi sendiri tidak menampik penjelasan suaminya. Menurutnya kepiawaian Ratiban membuat kuali dan jabah membuatnya tertarik sehingga mau saja ketika dilamar Ratiban untuk menjadi istrinya. “Bapake jago ndamel grabah. Wekdal semanten tiyang estri seneng menawi dipek bojo tiyang sing pinter ndamel kuali kalih jabah,”ujar Kasmi tanpa malu-malu.
Tinggal segelintir
Menurut Ratiban, sekitar 40 tahun silam di kawasan kelurahan Sidowayah terkenal sebagai sentra kerajinan gerabah. Ada yang memproduksi kuali, jabah dan jun. Bahkan hampir 75 % warga berprofesi sebagai perajin gerabah. “Waah nggeeh kathah rumiyin sing ndamel gerabah. Jaler, estri jumlahe atusan,’terangnya.
Ayah enam anak bercucu 15 itu lebih lanjut menyebutkan saat ini hanya tinggal segelintir saja yangmasih bertahan memproduksi gerabah. Sebagian perempuan setenmpat menikah dan mengikuti suaminya pindah ke luar kota, sedangkan yang laki-laki alih profesi sebagai nelayan atau tukang batu. “Sami boten kiat, sepi boten wonten pesenan, terus sami merdamel sanes,’kilah Ratiban.
Kasmi sendiri menambahkan, dahulu banyak menerima pesanan kuali sdari warga Tasikagung, Jarakan, kabongan, Pasarbaggi dan Punjulharjo. Namun lambat laun nampaknya banyak pemindang ikan yang beralih profesi sehingga berimbas pada perajin gerabah. “Kuali niku kangge mindang iwak cilik-cilik, lha jabah kangge mindang tongkol. Rumiyin kathah sing pesen duko sak niki kok sepi,”keluhnya.
Hanya cukup untuk bertahan hidup
Berbeda dengan dahulu manakala pesanan datang selalu tanpa putus. Kini dalam satu uklan paling banyak pasangan suami istri lansia itu hanya menerima sekitar 500 potong saja dengan harga jual per potong dibandrol Rp 1.000 Mereka membatasi paling sedikit menerima pesanan 100 potong agar tidak terlalu merugi.
Membuat pesanan 100 kuali atau jabah sedikitnya membutuhkan waktu 5 hari, dilanjutkan membakarnya selama setengah hari. Setelah dingin baru dibersihkan dari abu dan sisa pembakaran, baru selanjutnya dikirim kepada pemesan. “Pesenan satus ndamele nggeeeh diluwihi, njagani nek onten sing pecah. Paling boten mbakare ditambah telung puluh iji,”tukas Ratiban.
Pendapatan bersih memenuhi pesanan 100 potong menurut Ratiban dan Kasmi, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk membakarnya butuh kayu bakar sebanyak 25 ikat seharga Rp 1.000 atau dikeluarkan uang Rp 25.000, membutuhkan jerami 1 ikat seharga Rp 15.000 dan grajen satu karung seharga Rp 25.000. Total mereka harus mengeluarkan dana sejumlah Rp 65.000 belum termasuk pengeluaran sehari-hari selama mengerjakan pesanan tersebut.
Ketika penulis bertanya kepada ke-duanya apakah tidak terbersit pemikiran mengerjakan selain kuali dan jabah, keduanya menyahut dengan kompak “Ajeng nopo maleh, sagete nggeeh ndamel kuali kalih jabah.” :-) Antok
Pasangan suami istri lansia yang kian uzur, Ratiban (62 th) dan istrinya Kasmi (58 th) sepanjang hidupnya hanya mengenal satu pekerjaan saja, membuat kuali dan jabah (grabah ukuran lebih besar sedikit dibanding kuali). Saat pagi datang dan mata mulai terbuka, mereka tanpa merasa bosan mengerjakan pesanan kuali dan jabah yang harus diselesaikan secepatnya untuk selanjutnya mengerjakan order pesanan dari para pelanggan.
Saat Ratiban ditanya mulai kapan akrab dengan grabah jenis kuali dan jabah, dia menjawab sejak berusia 10 tahun telah terlibat langsung berproduksi, meski saat itu sebatas membantu orang tuanya mengambilkan tanah lempung dari sawah. “Anake tiyang boten gadhah, boten sekolah nopo. Ngewangi pak kalih mak mendet lempung saking sabin, didamel kuali kalih jabah,”terangnya dalam bahasa Jawa medhok.
Seiring meningkat usianya, dia diberi pelajaran terlibat langsung memproduksi barang gerabah tersebut. Mulanya merasa sulit namun lambat laun terbiasa, dan di kemudian hari justru menjadi kehliannya. “Kulo angsal mbok wedok nggeeeh mergo kiyambake kesengesem kepinteran kulo ndamel kuali kalih jabah,” tutur Ratiban dengan bangga.
Kasmi sendiri tidak menampik penjelasan suaminya. Menurutnya kepiawaian Ratiban membuat kuali dan jabah membuatnya tertarik sehingga mau saja ketika dilamar Ratiban untuk menjadi istrinya. “Bapake jago ndamel grabah. Wekdal semanten tiyang estri seneng menawi dipek bojo tiyang sing pinter ndamel kuali kalih jabah,”ujar Kasmi tanpa malu-malu.
Tinggal segelintir
Menurut Ratiban, sekitar 40 tahun silam di kawasan kelurahan Sidowayah terkenal sebagai sentra kerajinan gerabah. Ada yang memproduksi kuali, jabah dan jun. Bahkan hampir 75 % warga berprofesi sebagai perajin gerabah. “Waah nggeeh kathah rumiyin sing ndamel gerabah. Jaler, estri jumlahe atusan,’terangnya.
Ayah enam anak bercucu 15 itu lebih lanjut menyebutkan saat ini hanya tinggal segelintir saja yangmasih bertahan memproduksi gerabah. Sebagian perempuan setenmpat menikah dan mengikuti suaminya pindah ke luar kota, sedangkan yang laki-laki alih profesi sebagai nelayan atau tukang batu. “Sami boten kiat, sepi boten wonten pesenan, terus sami merdamel sanes,’kilah Ratiban.
Kasmi sendiri menambahkan, dahulu banyak menerima pesanan kuali sdari warga Tasikagung, Jarakan, kabongan, Pasarbaggi dan Punjulharjo. Namun lambat laun nampaknya banyak pemindang ikan yang beralih profesi sehingga berimbas pada perajin gerabah. “Kuali niku kangge mindang iwak cilik-cilik, lha jabah kangge mindang tongkol. Rumiyin kathah sing pesen duko sak niki kok sepi,”keluhnya.
Hanya cukup untuk bertahan hidup
Berbeda dengan dahulu manakala pesanan datang selalu tanpa putus. Kini dalam satu uklan paling banyak pasangan suami istri lansia itu hanya menerima sekitar 500 potong saja dengan harga jual per potong dibandrol Rp 1.000 Mereka membatasi paling sedikit menerima pesanan 100 potong agar tidak terlalu merugi.
Membuat pesanan 100 kuali atau jabah sedikitnya membutuhkan waktu 5 hari, dilanjutkan membakarnya selama setengah hari. Setelah dingin baru dibersihkan dari abu dan sisa pembakaran, baru selanjutnya dikirim kepada pemesan. “Pesenan satus ndamele nggeeeh diluwihi, njagani nek onten sing pecah. Paling boten mbakare ditambah telung puluh iji,”tukas Ratiban.
Pendapatan bersih memenuhi pesanan 100 potong menurut Ratiban dan Kasmi, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk membakarnya butuh kayu bakar sebanyak 25 ikat seharga Rp 1.000 atau dikeluarkan uang Rp 25.000, membutuhkan jerami 1 ikat seharga Rp 15.000 dan grajen satu karung seharga Rp 25.000. Total mereka harus mengeluarkan dana sejumlah Rp 65.000 belum termasuk pengeluaran sehari-hari selama mengerjakan pesanan tersebut.
Ketika penulis bertanya kepada ke-duanya apakah tidak terbersit pemikiran mengerjakan selain kuali dan jabah, keduanya menyahut dengan kompak “Ajeng nopo maleh, sagete nggeeh ndamel kuali kalih jabah.” :-) Antok
Lapak Garam Grosok Ditulisi "Khusus Garam Ternak"
Lapak Garam Grosok Ditulisi “Khusus Garam Ternak”
Tim Gakkum ( Penegakan Hukum) Berbekal Peraturan Daerah kabupaten Rembang nomor 12 tahun 2007 tentang pelarangan dan pengendalian peredaran garam tidak beryodium di kabupaten Rembang, Tim Gakkum aktif melakukan operasi peredaran garam tidak beryodium di sejumlah pasar dan produsen garam. Operasi diketuai tim Gakkum dari Polres Rembang, melibatkan Bappeda, Bagian Hukum Setda Rembang, Dinas Kesehatan, Dinperindakop dan UMKM serta Satpol PP.
Ketua tim Gakkum Aiptu Sunandar SH mengatakan, dari hasil operasi di beberapa pasar/ masih ditemui adanya pedagang garam grosok. Untuk mengurangi peredaran garam grosok dikarenakan pada perda ada pengecualian khusus dimana garam grosok hanay digunakan untuk pakan ternak dan industri maka ditempuh langkah me,batasi peredarannya.
Menurut Sunandar, langkah mengurangi dan membatasi peredaran garam grosok dipasaran yakni dengan menyemprot lapak yang dipakai pedagang grosok, diberi tulisan khusus untuk pakan ternak.
“Harapannya masyarakat yang akan mengkonsumi malu atau enggan membeli karena dilapak tertulis untuk pakan ternak,”ungkapnya.
Ditambahkan oleh Sunandar, pada kali ke-dua operasi tahun ini dilaksanakan di pasar Sedan, Gandri, Pamotan dan Penthungan Rembang. Sedangkan operasi di beberapa produsen garam dilakukan di PT Garam Mas, Apel merah, UD Dangdut dan UD Sukamaju.
“Dari hasil pemeriksaan dan pengawasan hasilnya dinilai bagus, karena rata-rata garam yang beredar dipasaran sudah memenuhi standar yodium diatas 30 ppm sesuai Perda Kabupaten Rembang. Produk garam beryodium layak dikonsumsi masyarakat, sesuai standar SNI,”tandas Sunandar. :-) Antok
Tim Gakkum ( Penegakan Hukum) Berbekal Peraturan Daerah kabupaten Rembang nomor 12 tahun 2007 tentang pelarangan dan pengendalian peredaran garam tidak beryodium di kabupaten Rembang, Tim Gakkum aktif melakukan operasi peredaran garam tidak beryodium di sejumlah pasar dan produsen garam. Operasi diketuai tim Gakkum dari Polres Rembang, melibatkan Bappeda, Bagian Hukum Setda Rembang, Dinas Kesehatan, Dinperindakop dan UMKM serta Satpol PP.
Ketua tim Gakkum Aiptu Sunandar SH mengatakan, dari hasil operasi di beberapa pasar/ masih ditemui adanya pedagang garam grosok. Untuk mengurangi peredaran garam grosok dikarenakan pada perda ada pengecualian khusus dimana garam grosok hanay digunakan untuk pakan ternak dan industri maka ditempuh langkah me,batasi peredarannya.
Menurut Sunandar, langkah mengurangi dan membatasi peredaran garam grosok dipasaran yakni dengan menyemprot lapak yang dipakai pedagang grosok, diberi tulisan khusus untuk pakan ternak.
“Harapannya masyarakat yang akan mengkonsumi malu atau enggan membeli karena dilapak tertulis untuk pakan ternak,”ungkapnya.
Ditambahkan oleh Sunandar, pada kali ke-dua operasi tahun ini dilaksanakan di pasar Sedan, Gandri, Pamotan dan Penthungan Rembang. Sedangkan operasi di beberapa produsen garam dilakukan di PT Garam Mas, Apel merah, UD Dangdut dan UD Sukamaju.
“Dari hasil pemeriksaan dan pengawasan hasilnya dinilai bagus, karena rata-rata garam yang beredar dipasaran sudah memenuhi standar yodium diatas 30 ppm sesuai Perda Kabupaten Rembang. Produk garam beryodium layak dikonsumsi masyarakat, sesuai standar SNI,”tandas Sunandar. :-) Antok
Budidaya Wijen Hasilkan Jutaan Rupiah
Budidaya Wijen Hasilkan Jutaan
Wijen (sesamum idicum L atau sesamum orrientale L) adalah tanaman sejenis palawija, hampir mirip dengan tanaman cabe, bisa tumbuh didaerah tropis. Daunnya kecil, bijinya : pipih, kecil, licin dan berwarna kuning, akarnya serabut. Banyak orang mengatakan wijen adalah sama dengan lengong, lenga, lengu, bijan, merasi, nene, lena dan wije. Tanaman ini jarang dijumpai di Rembang, karena masyarakat lebih senang menanam palawija seperti jagung, kacang, kedelai dan lainya , dibanding wijen. Menurut beberapa petani, tanaman wijen di Rembang belum bisa diandalkan, karena belum punya pasar yang jelas, lebih baik menanam melon, karena keuntungan yang didapat bisa 2 kali lipat dari modal. Anggapan petani tersebut sangatlah kurang tepat, karena banyak manfaat dan rupiah yang diperoleh ketika menanam wijen. Tetapi dengan syarat, supaya digarap dan dikerjakan dengan baik.
Wijen sebenarnya tanaman yang mudah didapat, mudah perawatanya, tidak banyak membutuhkan air, modal kecil, dan ternyata menghasilkan rupiah yang lumayan. Wijen memang belum sepopuler melon, jagung tongkol dan lainya. Belum adanya petani yang serius dalam budi daya wijen, akibatnya wijen sangat tidak dikenal di Rembang. Sangat butuh kepedulian dari masyarakat dan Pemda Rembang, untuk mengenalkan wijen kepada para petani, supaya wjen bisa popular seperti buah melon.
Setelah diteliti, tanaman wijen sangat bermanfaat bagi orang banyak dan selalu menghasilkan rupiah..
Hal inilah yang membuat beberapa petani di Ds Logede Sumber, mencoba budidaya wijen sampai sekarang. Meskipun digarap dengan cara yang sederhana, tetapi sedikit demi sedikit sudah mulai kelihatan hasilnya ketika mulai panen.
Menurut Parman salah satu petani wijen mengatakan, menanam wijen sebenarnya tidaklah sulit dan rumit. Tetapi sangat mudah dan tidak butuh biaya besar.Menurutnya, modal kecil dan mudah dalam perawatanya.
“Alhamdulillah, dari hasil menanam wijen, bisa untuk kebutuhan dapur dan kebutuhan lain “ kata Parman. Saat ini dia hanya menanam 0,25 ha wijen ditegalan miliknya, dengan menebar 3 kg bibit wijen. Bila tidak ada serangan hama /penyakit, panen hampir mencapai 1 kuintal wijen. Sekarang ini, harga wijen mencapai Rp 8000/kg.
Mudah
Siapkan lahan, dan ratakan tanah dengan dengan garu/traktor supaya mudah ditanami.Kondisi tanah harus dalam keadaan basah (bukan kering/ terlalu banyak air). Setelah lahan disiapkan, ambilah biji wijen. Sebarlah biji wijen secara merata keseluruh luas lahan yang ditanami, atau buatlah lubang-lubang seperti menanam jagung. Dan biarkan benih sampai tumbuh agak besar, kemudian berilah pupuk. Semprotlah tanaman dengan insektisida. Biarkan wijen tumbuh kira kira 3 bulan. Bila wijen sudah tua dan saatnya panen, potonglah tanaman wijen seperti memotong padi(dipotong semuanya). Jemurlah wijen sampai kering, kemudian ambilah bijinya. Selanjutnya, wijen bisa dijual ke Pasar. Menurut terapis (pengobatan tradisional), biji wijen dapat digunakan untuk mengobati beberapa penyakit, karena dalam biji wijen mengandung vitamin A, B, C. Dan dalam wijen terkandung zat zat, seperti zat saponin, flavonoid, dan polifenol. Wijen dapat didigunakan untuk menyembuhkan : luka, obat batuk, obat perut nyeri, obat mata kabur atau lelah serta menguatkan organ hati dan ginjal. :-) Sant
Wijen (sesamum idicum L atau sesamum orrientale L) adalah tanaman sejenis palawija, hampir mirip dengan tanaman cabe, bisa tumbuh didaerah tropis. Daunnya kecil, bijinya : pipih, kecil, licin dan berwarna kuning, akarnya serabut. Banyak orang mengatakan wijen adalah sama dengan lengong, lenga, lengu, bijan, merasi, nene, lena dan wije. Tanaman ini jarang dijumpai di Rembang, karena masyarakat lebih senang menanam palawija seperti jagung, kacang, kedelai dan lainya , dibanding wijen. Menurut beberapa petani, tanaman wijen di Rembang belum bisa diandalkan, karena belum punya pasar yang jelas, lebih baik menanam melon, karena keuntungan yang didapat bisa 2 kali lipat dari modal. Anggapan petani tersebut sangatlah kurang tepat, karena banyak manfaat dan rupiah yang diperoleh ketika menanam wijen. Tetapi dengan syarat, supaya digarap dan dikerjakan dengan baik.
Wijen sebenarnya tanaman yang mudah didapat, mudah perawatanya, tidak banyak membutuhkan air, modal kecil, dan ternyata menghasilkan rupiah yang lumayan. Wijen memang belum sepopuler melon, jagung tongkol dan lainya. Belum adanya petani yang serius dalam budi daya wijen, akibatnya wijen sangat tidak dikenal di Rembang. Sangat butuh kepedulian dari masyarakat dan Pemda Rembang, untuk mengenalkan wijen kepada para petani, supaya wjen bisa popular seperti buah melon.
Setelah diteliti, tanaman wijen sangat bermanfaat bagi orang banyak dan selalu menghasilkan rupiah..
Hal inilah yang membuat beberapa petani di Ds Logede Sumber, mencoba budidaya wijen sampai sekarang. Meskipun digarap dengan cara yang sederhana, tetapi sedikit demi sedikit sudah mulai kelihatan hasilnya ketika mulai panen.
Menurut Parman salah satu petani wijen mengatakan, menanam wijen sebenarnya tidaklah sulit dan rumit. Tetapi sangat mudah dan tidak butuh biaya besar.Menurutnya, modal kecil dan mudah dalam perawatanya.
“Alhamdulillah, dari hasil menanam wijen, bisa untuk kebutuhan dapur dan kebutuhan lain “ kata Parman. Saat ini dia hanya menanam 0,25 ha wijen ditegalan miliknya, dengan menebar 3 kg bibit wijen. Bila tidak ada serangan hama /penyakit, panen hampir mencapai 1 kuintal wijen. Sekarang ini, harga wijen mencapai Rp 8000/kg.
Mudah
Siapkan lahan, dan ratakan tanah dengan dengan garu/traktor supaya mudah ditanami.Kondisi tanah harus dalam keadaan basah (bukan kering/ terlalu banyak air). Setelah lahan disiapkan, ambilah biji wijen. Sebarlah biji wijen secara merata keseluruh luas lahan yang ditanami, atau buatlah lubang-lubang seperti menanam jagung. Dan biarkan benih sampai tumbuh agak besar, kemudian berilah pupuk. Semprotlah tanaman dengan insektisida. Biarkan wijen tumbuh kira kira 3 bulan. Bila wijen sudah tua dan saatnya panen, potonglah tanaman wijen seperti memotong padi(dipotong semuanya). Jemurlah wijen sampai kering, kemudian ambilah bijinya. Selanjutnya, wijen bisa dijual ke Pasar. Menurut terapis (pengobatan tradisional), biji wijen dapat digunakan untuk mengobati beberapa penyakit, karena dalam biji wijen mengandung vitamin A, B, C. Dan dalam wijen terkandung zat zat, seperti zat saponin, flavonoid, dan polifenol. Wijen dapat didigunakan untuk menyembuhkan : luka, obat batuk, obat perut nyeri, obat mata kabur atau lelah serta menguatkan organ hati dan ginjal. :-) Sant
Rembang Expo Bisa Menjadi Agenda Nasional
Bisa Menjadi Agenda Promosi Nasional
Saat Bupati Rembang H Moch Salim membuka secara resmi ajang promosi dan pameran hasil pembangunan perkenomian kabupaten Rembang yang biasa disebut Rembang Expo hari rabu (22/7) pihaknya merasa gembira dan bangga karena setiap kali kegiatan dilaksanakan animo pengusaha maupun pengunjung terus meningkat. Seperti halnya penyelenggaran tahun ini, jumlah peserta tahun ini naik dari 88 menjadi 110 pengusaha. Stand bertambah dari 186 menjadi 195 tempat dan peserta dari luar kota naik dari 10 menjadi 15 pengusaha.
“Ke depan nanti Rembang Expo saya harapkan tidak sekedar menjadi agenda regional saja. Perlu ditingkatkan agar menjadi even tingkat nasional,”cetus H Moch Salim.
Sementara itu terkait dengan pelaksanaan Rembang Expo tahun 2009, Kepala Dinas Peridagkop Rembang Drs H Waluyo menerangkan/ kegaiatan diselenggarakan mulai tanggal 22-27 Juli di Balai Kartini Rembang. “Baik di dalam gedung maupun diluar balai Kartini dan sebagian halaman parkir kantor Setda Rembang,”terangnya.
Pihaknya sendiri menargetkan kenaikan nilai transaksi maupun oreder padapelaksnaan Rembang Expotahun 2009. Membandingkan pelaksanaan tahun ini dan tahun lalu, nilai transaksi tunai Rp 3,4 milyar dan oder pesanan Rp 4,5 milyar, ditargetkan naik menjadi Rp 4,4 milyar untuk transaksi tunai dan oder pesanan antara Rp 5 - 5,5 milyar.
Seperti biasa, Rembang Expo dimanfaatkan oleh aneka pengusaha UMKM menampilkan produk terbaiknya agar meraup transaksi tunai dan oredr pesanan sebanyak-banyaknya. Ajang promosi dan hasil pembangunan tahun ini diramaiakan dealer sepeda motor, koperasi dan perbankan serta konter telepon selular.
Tidak penuhi target
Saat penutupan Rembang Expo hari Senin (27/7), Kepala Diperindagkop dan UMKM melaporkan pada pelaksanaan kali ini hasil yang dicapai tidak sebaik tahun sebelumnya. Transaksi tunai dan order pesanan justru tutun, namun tidak signifikan. Tahun lalu transaksi tunai dibukukan Rp 3,4 miliar, kali ini dicapai Rp 3,1 miliar. Sedangkan order pesanan dari Rp 4,5 miliar hanya diraup Rp 2,4 miliar.
Lebih lanjut Waluyo menjelaskan, kurang maksimalnya hasil pelaksnaan rembang Expo tahun 2009 karena ada 3 faktor. Pertama, waktu penyelenggaraaan lebih singkat dibanding sebelumnya, dari 8 hari menjadi 6 hari. Ke-dua, Tidak ada booming harga tanaman hias seperti tahun lalu sehingga order pesanan turun drastis. Ke-tiga, tidak hadirnya dealer mobil mempengaruhi animo pengunjung dan calon pembeli datang ke even Rembang Expo.
Mebanggapi permasalahan tersebut, Bupati Rembang H Moch Salim saat secara resmi menutup Rembang Expo tahun 2009 menyatakan, ke-depan nanti Diperindagkop perlu mencari terobosan baru menampilkan produk unggulan yang bersebtuhan langsung dengan masyarakat.
“Seperti menampilkan produk batu bata dan genteng. Ini tentu akan lebih menarik pengunjung karena mengetahui bila di Rembang sendiri ada produk unggulan yang kualitasnya tidak kalah dari daerah lain,”cetusnya.
:-) Qin
Saat Bupati Rembang H Moch Salim membuka secara resmi ajang promosi dan pameran hasil pembangunan perkenomian kabupaten Rembang yang biasa disebut Rembang Expo hari rabu (22/7) pihaknya merasa gembira dan bangga karena setiap kali kegiatan dilaksanakan animo pengusaha maupun pengunjung terus meningkat. Seperti halnya penyelenggaran tahun ini, jumlah peserta tahun ini naik dari 88 menjadi 110 pengusaha. Stand bertambah dari 186 menjadi 195 tempat dan peserta dari luar kota naik dari 10 menjadi 15 pengusaha.
“Ke depan nanti Rembang Expo saya harapkan tidak sekedar menjadi agenda regional saja. Perlu ditingkatkan agar menjadi even tingkat nasional,”cetus H Moch Salim.
Sementara itu terkait dengan pelaksanaan Rembang Expo tahun 2009, Kepala Dinas Peridagkop Rembang Drs H Waluyo menerangkan/ kegaiatan diselenggarakan mulai tanggal 22-27 Juli di Balai Kartini Rembang. “Baik di dalam gedung maupun diluar balai Kartini dan sebagian halaman parkir kantor Setda Rembang,”terangnya.
Pihaknya sendiri menargetkan kenaikan nilai transaksi maupun oreder padapelaksnaan Rembang Expotahun 2009. Membandingkan pelaksanaan tahun ini dan tahun lalu, nilai transaksi tunai Rp 3,4 milyar dan oder pesanan Rp 4,5 milyar, ditargetkan naik menjadi Rp 4,4 milyar untuk transaksi tunai dan oder pesanan antara Rp 5 - 5,5 milyar.
Seperti biasa, Rembang Expo dimanfaatkan oleh aneka pengusaha UMKM menampilkan produk terbaiknya agar meraup transaksi tunai dan oredr pesanan sebanyak-banyaknya. Ajang promosi dan hasil pembangunan tahun ini diramaiakan dealer sepeda motor, koperasi dan perbankan serta konter telepon selular.
Tidak penuhi target
Saat penutupan Rembang Expo hari Senin (27/7), Kepala Diperindagkop dan UMKM melaporkan pada pelaksanaan kali ini hasil yang dicapai tidak sebaik tahun sebelumnya. Transaksi tunai dan order pesanan justru tutun, namun tidak signifikan. Tahun lalu transaksi tunai dibukukan Rp 3,4 miliar, kali ini dicapai Rp 3,1 miliar. Sedangkan order pesanan dari Rp 4,5 miliar hanya diraup Rp 2,4 miliar.
Lebih lanjut Waluyo menjelaskan, kurang maksimalnya hasil pelaksnaan rembang Expo tahun 2009 karena ada 3 faktor. Pertama, waktu penyelenggaraaan lebih singkat dibanding sebelumnya, dari 8 hari menjadi 6 hari. Ke-dua, Tidak ada booming harga tanaman hias seperti tahun lalu sehingga order pesanan turun drastis. Ke-tiga, tidak hadirnya dealer mobil mempengaruhi animo pengunjung dan calon pembeli datang ke even Rembang Expo.
Mebanggapi permasalahan tersebut, Bupati Rembang H Moch Salim saat secara resmi menutup Rembang Expo tahun 2009 menyatakan, ke-depan nanti Diperindagkop perlu mencari terobosan baru menampilkan produk unggulan yang bersebtuhan langsung dengan masyarakat.
“Seperti menampilkan produk batu bata dan genteng. Ini tentu akan lebih menarik pengunjung karena mengetahui bila di Rembang sendiri ada produk unggulan yang kualitasnya tidak kalah dari daerah lain,”cetusnya.
:-) Qin
Geliat Ekonomi Perajin Sapu Kelud

Geliat Ekonomi Perajin Sapu Kelud
Satu buah sabut kelapa seharga Rp.300,- bisa disulap dan menghasilkan uang Rp.3900,- Jika sudah berpindah tangan bisa menghasilkan uang Rp.7500 s/d Rp.9000,- Seperti apa caranya? Warga desa Kenongo Kecamatan Sedan sudah bertahun-tahun memproduksi barang dari bahan sabut kelapa menjadi sapu. Bukan untuk sulap, apalagi untuk terbang, tapi dari disana mengalir kehidupan yang layak disyukuri. Dari usaha sapu tersebut kemakmuran mengalir kepada siapa saja di desa Kenongo. Wartawan Pantura Pos Ali Shodiqin melaporkan.
Memasuki desa Kenongo Kecamatan Sedan, mata akan langsung tertuju pada beberapa warga yang tengah sibuk mengolah sabut kelapa. Nuansa industri rumah tangga tergambar jelas dengan sibuknya seorang ibu muda dengan sapu-sapu setengah jadi, sementara balitanya sibuk bermain di sampingnya. Ia tidak sendirian, tetangga yang masih famili juga bergelut dengan sabut kelapa.
Makin masuk ke desa, sabut kelapa yang masih utuh atau sudah berbentuk setengah jadi banyak ditemukan di depan rumah warga. Yang diproduksi mereka bukanlah barang aneh-aneh, orang menyebutnya sapu kelud. Dan ternyata sapu dari sabut kelapa produksi Kenongo sudah berjalan turun temurun.
Jangan dibayangkan, masuk desa Kenongo akan terlihat banyak pohon kelapa berjajar-jajar. Justru di Kenongo jarang sekali pohon kelapa. Itulah uniknya. Sentra kerajinan sabut kelud desa Kenongo justru mendatang-kan bahan baku dari desa-desa lain di Sedan. Bahkan terbanyak dari desa Lodan Kecamatan Sarang.
Kepala Desa Kenongo, Mansur, ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa usaha membuat sapu sudah lama dan hampir merata di seluruh desa Kenongo. Setidaknya setengah dari 526 KK warga Kenongo adalah perajin sapu kelud.
Kades Mansur menambahkan, dari usaha membuat sapu kelud ini, disamping untuk menyam-bung hidup, banyak diantara-nya untuk meningkatkan taraf hidup warganya. Antara lain untuk membangun rumah yang bagus, membayar kredit kendaraan sepeda motor, disamping untuk membiayai anak sekolah.
Menurut pengamatan Pantura Pos, membuat sapu melibatkan banyak anggota keluarga. Remaja-remaja yang sudah bisa membantu bisa mengerjakan yang ringan-ringan saja. Untuk yang berat-berat dikerjakan orang tua. Seperti menggepuk bahan mentah dan memotong kayu untuk gagang.
Bahkan menurut Kades, menggepuk bahan mentah banyak diborongkan ke desa lain. Karenanya Kades sempat mengusulkan kepada Bupati Rembang ketika ada Dinamika agar Pemkab bisa membantu mesin pengolah sabut kelapa.
Ahsan dan Sri Lestari, pasangan muda warga Kenongo yang tempat tinggalnya bergeser sedikit ke desa Bogorejo, hari-harinya hanya membuat sapu. Rumah sebelahnya Nahari dan Agus Hariyadi juga demikian. Praktis mereka bersemangat bekerja karena sapu kelud hasil karya mereka selalu ada yang menampung.
Tengkulak yang menampung produk mereka siap membayar kontan. Satu sapu dari warga dikulak seharga Rp.1300. Oleh tengkulak dilempar ke luar kota dengan harga antara Rp.2000 s/d 2500. Kalau sudah sampai ke toko di kampung-kampung harga bisa mencapai Rp.3500/biji.
Bahan baku didatangkan dari desa lain dan harganya bervariasi. Satu biji sabut kelapa, memilih sendiri, Rp.300,-/biji. Satu sabut bisa diolah menjadi tiga buah sapu kelud.
Jika satu colt, tidak bisa memilih, Rp.150.000,-/colt. Sabut kelapa yang memiliki sabut yang baik, seperti seratnya rata dan halus, akan menjadi sapu yang baik. Jika sabutnya buruk, mudah patah dan rontok, lebih sulit memprosesnya.
Per hari satu orang bisa membuat 100 biji sapu, asal bahan-bahan siap olah. Seperti sabut yang sudah digepuk dan disisir rapi, kayu tunggakan yang sudah dipotong untuk gagang, serta tali. Alat-alat antara lain bendo, pisau, sisir dari bahan besi dan jarum siap ditempat. Namun, jika dari awal bahan mentah semua, perhari hanya mampu membaut 10 biji sapu.
Jika dihitung-hitung, tampaknya penghasilan mereka tidak begitu besar. Tapi, mengingat pekerjaan itu selalu ada, tidak begitu menguras tenaga, bisa dikerjakan di rumah sambil mengerjakan pekerjaan lain, serta bisa ditimbun dalam jumlah besar, maka akan menjadi penghasilan yang lumayan.
Perhari, menurut cerita warga kurang lebih seribu biji sapu diangkut tengkulak dari desa Kenongo. Pasarannya sudah mencapai Pati, Blora, Semarang hingga Tuban.
Proses Membuat Sapu
Membuat sapu itu mudah. Jika mau bisa untuk tambahan penghasilan.
Bahan baku sabut yang masih utuh direndam dulu dalam air selama semalam. Esoknya sabut digepuk dengan kayu tunggakan di atas batu. Maksudnya agar sabut jadi gepeng, kulit serta daging serabut yang tidak diperlukan juga rontok. Jika sudah menjadi sabut yang halus dan rata lalu dijemur hingga kering.
Sabut yang sudah kering lantas dibentuk sapu dengan gagang dari tunggakan, dan tali plastik yang warna-warni. Jika sudah jadi mesti difinishing dengan menyikat sapu bagian dalamnya untuk mengurangi material sabut yang rontok.
Jika sapu kelud diperlakukan lebih baik, akan meningkatkan harga. Yang paling umum adalah membuat sapu seperti proses di atas. Jika ingin lebih baik, sebut disikat lebih bersih hingga rontokannya se minimal mungkin. Ikatan tali pada pada ujung kelud dibalut dengan kain perca hingga tampak lebih rapi dan elegan. Dan harga jualnya bisa meningkat dua kali lipat. :-)
Langganan:
Postingan (Atom)
