Sebagai tindaklanjut penyempurnaan program 4 pilar akselerasi pembangunan kabupaten Rembang yakni pendidikan gratis SD/MI dan SMP/MTs, Bupati Rembang, H Moch Salim telah menindaklanjuti dengan pencanangan pendidikan gratis kelas X SMA sederajat dari keluarga kurang mampu. Kepala Dinas Pendidikan Rembang, Noor effendi melalui Sekertaris Dinas Pendidikan, Muthohir belum lama ini di ruang kerjanya menjelaskan, bantuan pendidikan gratis diperuntukkan membiayai operasional siswa di sekolah yang seharusnya didanai oleh orang tua, namun diambil alih oleh pemerintah kabupaten Rembang.
“Ini dimaksudkan untuk meringankan beban keluarga kurang mampu agar dapat menyekolahkan anaknya di jenjang pendidikan SMA sederajat,” ungkapnya.
Lebih lanjut disebutkan oleh Muthohir, di tahun pertama pelaksanaan pendidikan gratis kelas X SMA sederajat telah ditetapkan sasaran 547 siswa - SMK 690 siswa dan MA 626 siswa, total 1.863 siswa. Besar bantuan variatif untuk masing-masing asal sekolah. Siswa dari Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) per tahun menerima bantuan Rp 1,7 juta, siswa di sekolah katagori Mandiri (KTM) menerima Rp 1,380 juta sedangkan untuk Sekolah Potensial mendapat Rp 950 ribu.
Ditambahkan oleh Muthohir seluruh anggaran untuk program tersebut sebanyak Rp 3,6 miliar. Rp 1,8 milyar masuk pada APBD Perubahan 2009, sisanya dianggarkan pada APBD Induk 2010. Tahun pertama penerima bantuan siswa yang duduk kelas X SMA sederajat, tahun ke-dua untuk siswa kelas X dan XI, berikutnya untuk siswa kelas X-XI dan XII. “Dengan catatan penerima bantuan adalah anak dari keluarga kurang mampu,” tambahnya.
Terpisah Ketua Komisi D DPRD Rembang, Joko Suprihadi menyebutkan, selaku komisi yang membidangi pendidikan, komisinya akan melakukan pengawasan bersama dengan masyarakat. “Apabila memang diperlukan, akan dibentuk tim monitoring dan evaluasi bersama masyarakat guna melakukan pengawasan,” cetusnya.
Minggu, 17 Januari 2010
Rehab secara progresif
Karena kebijakan Menteri Pendidikan Nasional bahwa DAK Pendidikan tahun 2010 dan seterusnya difokuskan untuk peningkatan mutu pendidikan non kegiatan rehab, maka hal tersebut disikapi oleh pemerintah Rembang menata ulang regulasi program pembangunan ruang kelas yang rusak pada tahun 2011.
Sekda Rembang, Hamzah Fatoni saat ditemui di ruang kerjanya bgelum lama ini menerangkan, karena dana pendampingan DAK Pendidikan bersumber APBD sekitar 10 % dari nilai DAK pada tahun 2010 tidak dapat digunakan untuk rehab, oleh karena itu pemerintah kabupaten Rembang pada tahun 2011 berencana membuat kegiatan progresif program akselerasi menuntaskan pembangunan seluruh ruang kelas yang rusak.
Terkait dengan rencana tersebut, Ketua Komisi D DPRD Rembang, Joko Suprihadi secara terpisah menerangkan, bila DAK Pendidikan mulai tahun 2010 sudah tidak lagi diperuntukkan rehab maka dewan akan menyetujui kegiatan progresif yang diajukan ekesekutif untuk menuntaskan rehab seluruh ruang kelas yang rusak. Misalkan pada anggaran tahun 2011 eksekutif mengajukan anggaran defisit untuk mendanai rehab, dewan akan menyetujui dengan catatan pelaksanaannya nanti transparan dan dibentuk tim monitoring dan evalusasi untuk pengawasannya.
Sekda Rembang, Hamzah Fatoni saat ditemui di ruang kerjanya bgelum lama ini menerangkan, karena dana pendampingan DAK Pendidikan bersumber APBD sekitar 10 % dari nilai DAK pada tahun 2010 tidak dapat digunakan untuk rehab, oleh karena itu pemerintah kabupaten Rembang pada tahun 2011 berencana membuat kegiatan progresif program akselerasi menuntaskan pembangunan seluruh ruang kelas yang rusak.
Terkait dengan rencana tersebut, Ketua Komisi D DPRD Rembang, Joko Suprihadi secara terpisah menerangkan, bila DAK Pendidikan mulai tahun 2010 sudah tidak lagi diperuntukkan rehab maka dewan akan menyetujui kegiatan progresif yang diajukan ekesekutif untuk menuntaskan rehab seluruh ruang kelas yang rusak. Misalkan pada anggaran tahun 2011 eksekutif mengajukan anggaran defisit untuk mendanai rehab, dewan akan menyetujui dengan catatan pelaksanaannya nanti transparan dan dibentuk tim monitoring dan evalusasi untuk pengawasannya.
Masih ada 604 ruang kelas SD se-Rembang yang rusak
Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang terus mengupayakan perbaikan ruang kelas rusak hingga tuntas. Sumber dana yang digunakan berasal dari APBN melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan, APBD I dan APBD II. Hanya saja sayangnya untuk pelaksanaan DAK Pendidikan tahun 2010 fokus pada peningkatan mutu pendidikan non kegiatan rehab, hal tersebut disikapi oleh Dinas Pendidikan Rembang mencari terobosan pembiayaan pada APBD tahun-tahun mendatang. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Rembang, Noor Effendi melalui Kepala Bidang Pengendali Mutu, Siswono, di ruang kerjanya, belum lama ini.
Diterangkan oleh Siswono ruang kelas katagori berat, sedang dan ringan kebanyakan adalah bangunan Sekolah Dasar yang dahulu kala merupakan SD Inpres era Presiden Suharto memegang tampuk pimpinan di Indonesia. Rata-rata bangunan didirikan tahun 1976 sehingga wajar apabila kini banyak yang rusak. “Total seluruh SD di Rembang saat ini berjumlah 372 sekolah jumlah ruang kelas mencapai 2.617 lokal,” terangnya.
Dari jumlah ruang kelas tersebut, menurut Siswono, sebanyak 2.013 kondisinya bagus pasca rehab sejak tahun 2003 – 2009. Sisanya 604 ruang kelas rusak dengan katagori rusak total, berat 308 ruang, rusak sedang dan ringan 296 ruang. “Untuk tahun-tahun mendatang, rehab diutamakan pada ruang kelas rusak katagori total dan berat. Untuk katagori sedang dan ringan mendapat giliran berikutnya,” paparnya.
Berdasarkan data di Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang, rehab ruang kelas SD yang rusak bersumber dana DAK Pendidikan dan pendampingan dari APBD II sejak tahun 2003 hingga sekarang sejumlah 1.255 ruang, menelan dana Rp 86 miliar. Perinciannya yakni tahun 2003 perbaikan 47 ruang kelas di 18 sekolah, dana Rp 1,4 miliar. Tahun 2004 perbaikan 75 ruang kelas di 30 sekolah, dana Rp 2,2 miliar. Tahun 2005 perbaikan untuk 123 ruang kelas di 41 sekolah, dana Rp 4,1 miliar. Tahun 2006 perbaikan 123 ruang kelas di 41 sekolah, dana Rp 9 miliar. Tahun 2007 perbaikan 212 ruang kelas di 53 sekolah, dana Rp 15,6 miliar. Tahun 2008 perbaikan 320 ruang kelas di 70 sekolah, dana Rp 22,8 miliar dan tahun 2009 perbaikan 355 ruang kelas di 25 sekolah, dana Rp 30,8 miliar.
“Dana tersebut tidak hanya difokuskan untuk penataan bangunan tetapi juga diperuntukkan memenuhi kebutuhan mebelair,” imbuh Siswono.
Diterangkan oleh Siswono ruang kelas katagori berat, sedang dan ringan kebanyakan adalah bangunan Sekolah Dasar yang dahulu kala merupakan SD Inpres era Presiden Suharto memegang tampuk pimpinan di Indonesia. Rata-rata bangunan didirikan tahun 1976 sehingga wajar apabila kini banyak yang rusak. “Total seluruh SD di Rembang saat ini berjumlah 372 sekolah jumlah ruang kelas mencapai 2.617 lokal,” terangnya.
Dari jumlah ruang kelas tersebut, menurut Siswono, sebanyak 2.013 kondisinya bagus pasca rehab sejak tahun 2003 – 2009. Sisanya 604 ruang kelas rusak dengan katagori rusak total, berat 308 ruang, rusak sedang dan ringan 296 ruang. “Untuk tahun-tahun mendatang, rehab diutamakan pada ruang kelas rusak katagori total dan berat. Untuk katagori sedang dan ringan mendapat giliran berikutnya,” paparnya.
Berdasarkan data di Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang, rehab ruang kelas SD yang rusak bersumber dana DAK Pendidikan dan pendampingan dari APBD II sejak tahun 2003 hingga sekarang sejumlah 1.255 ruang, menelan dana Rp 86 miliar. Perinciannya yakni tahun 2003 perbaikan 47 ruang kelas di 18 sekolah, dana Rp 1,4 miliar. Tahun 2004 perbaikan 75 ruang kelas di 30 sekolah, dana Rp 2,2 miliar. Tahun 2005 perbaikan untuk 123 ruang kelas di 41 sekolah, dana Rp 4,1 miliar. Tahun 2006 perbaikan 123 ruang kelas di 41 sekolah, dana Rp 9 miliar. Tahun 2007 perbaikan 212 ruang kelas di 53 sekolah, dana Rp 15,6 miliar. Tahun 2008 perbaikan 320 ruang kelas di 70 sekolah, dana Rp 22,8 miliar dan tahun 2009 perbaikan 355 ruang kelas di 25 sekolah, dana Rp 30,8 miliar.
“Dana tersebut tidak hanya difokuskan untuk penataan bangunan tetapi juga diperuntukkan memenuhi kebutuhan mebelair,” imbuh Siswono.
Sabtu, 16 Januari 2010
PT PELINDO III TERTARIK KEMBANGKAN PELABUHAN
PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) tertarik melakukan pengembangan Pelabuhan Umum Nasional di Rembang. Hal tersebut disampaikan Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III, Husein Latif pada pertemuan yang digelar di ruang Bupati Rembang baru-baru ini. Pada pertemuan tersebut dihadiri Bupati Rembang H Moch Salim, Pengusaha Muda Muhammad Rudi Santosa, Dirut PT RBSJ Siswadi, Kepala Kantor Pelabuhan Rembang, Tim Undip, dan Kepala satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait. Husein Latif juga menyebutkan ketersediaan lahan untuk industri, bahan galian C, hasil perikanan, PLTU dan potensi – potensi lain yang terdapat di Kabupaten Rembang merupakan daya tarik investor untuk berinvestasi di Kabupaten Rembang.
“Galian C seperti batu, kapur, trass, pasir kuarsa, dan tanah liat merupakan bahan baku yang diperlukan untuk industri semen, kaca keramik dan lain–lain. Dalam dunia industri hal tersebut bisa dikatakan sebagai embrio untuk pengembangan bisnis,” sebutnya.
Oleh karena itu, lanjut Husein, Pelindo III bekerjasama dengan Tim dari UNDIP melakukan join visit untuk mensurvey titik–titik mana yang dapat menjadi inlet dan outlet barang di Kabupaten Rembang. “Namun pembangunan pelabuhan bukanlah pekerjaan yang mudah karena memerlukan biaya yang sangat tinggi. Sehingga study kelayakan sangat menentukan perlu dibangun atau tidak satu pelabuhan nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Rembang, Hari Susanto dala keempatan tersebut menjelaskan, konsep pengembangan pelabuhan nasional di kabupaten Rembang sudah ada sejak tahun 2005. Pemkab Rembang sebelumnya menggandeng pihak ITS untuk melakukan studi kelayakan dan lokasi yang dipilih sebagai tempat pengembangan pelabuhan adalah di kecamatan Sluke. “Alasan dipilihnya Sluke antara lain tingkat sendimentasinya rendah dan tingkat kedalamannya tidak landai atau lebih curam dibanding daerah lain di kabupaten Rembang,” tutur Hari.
Sementara itu Bupati Rembang, H Moch Salim dalam prakata sambutannya antara lain menjamin kalau pelabuhan sudah beroperasi, tidak akan kekurangan customer. Disebutkan oleh Bupati, pada awalnya pendirian pelabuhan di Rembang didorong sebuah mimpi untuk memenuhi kebutuhan logistik Exxon Mobil. Namun ternyata di Rembang sendiri juga kaya akan potensi galian C. “Dalam sebulan tidak kurang 200 ribu ton galian C diangkut dari Rembang ke Gresik, Lamongan dan Surabaya baru ke Sumatra, Kalimantan dan daerah lainnya,” terang H Moch Salim.
Oleh karena itu menurut Bupati Rembang, jika pelabuhan di Rembang nanti beroperasi, harapannya bisa memenuhi logistik Exxon Mobil. Disamping itu juga dapat dimafaatkan untuk mengapalkan hasil penambangan galian C dan potensi perikanan. “Ada nilai plus dari keberadaan pelabuhan nasional. Selain untuk pengepalan kebutuhan Exxon juga tenatu berguna bagi pengiriman hasuil tambag galian C dan hasil pengolahan perikanan mengingat kabupaten Rembang merupakan salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Tengah,” tambah H Moch Salim.
“Galian C seperti batu, kapur, trass, pasir kuarsa, dan tanah liat merupakan bahan baku yang diperlukan untuk industri semen, kaca keramik dan lain–lain. Dalam dunia industri hal tersebut bisa dikatakan sebagai embrio untuk pengembangan bisnis,” sebutnya.
Oleh karena itu, lanjut Husein, Pelindo III bekerjasama dengan Tim dari UNDIP melakukan join visit untuk mensurvey titik–titik mana yang dapat menjadi inlet dan outlet barang di Kabupaten Rembang. “Namun pembangunan pelabuhan bukanlah pekerjaan yang mudah karena memerlukan biaya yang sangat tinggi. Sehingga study kelayakan sangat menentukan perlu dibangun atau tidak satu pelabuhan nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Rembang, Hari Susanto dala keempatan tersebut menjelaskan, konsep pengembangan pelabuhan nasional di kabupaten Rembang sudah ada sejak tahun 2005. Pemkab Rembang sebelumnya menggandeng pihak ITS untuk melakukan studi kelayakan dan lokasi yang dipilih sebagai tempat pengembangan pelabuhan adalah di kecamatan Sluke. “Alasan dipilihnya Sluke antara lain tingkat sendimentasinya rendah dan tingkat kedalamannya tidak landai atau lebih curam dibanding daerah lain di kabupaten Rembang,” tutur Hari.
Sementara itu Bupati Rembang, H Moch Salim dalam prakata sambutannya antara lain menjamin kalau pelabuhan sudah beroperasi, tidak akan kekurangan customer. Disebutkan oleh Bupati, pada awalnya pendirian pelabuhan di Rembang didorong sebuah mimpi untuk memenuhi kebutuhan logistik Exxon Mobil. Namun ternyata di Rembang sendiri juga kaya akan potensi galian C. “Dalam sebulan tidak kurang 200 ribu ton galian C diangkut dari Rembang ke Gresik, Lamongan dan Surabaya baru ke Sumatra, Kalimantan dan daerah lainnya,” terang H Moch Salim.
Oleh karena itu menurut Bupati Rembang, jika pelabuhan di Rembang nanti beroperasi, harapannya bisa memenuhi logistik Exxon Mobil. Disamping itu juga dapat dimafaatkan untuk mengapalkan hasil penambangan galian C dan potensi perikanan. “Ada nilai plus dari keberadaan pelabuhan nasional. Selain untuk pengepalan kebutuhan Exxon juga tenatu berguna bagi pengiriman hasuil tambag galian C dan hasil pengolahan perikanan mengingat kabupaten Rembang merupakan salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Tengah,” tambah H Moch Salim.
Sejarawan Rekomendasikan Lasem sebagai Kota Cagar Budaya
Minggu (19/12) kembali anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia komisariat Rembang mengadakan seminar dan kegiatan outbond terkait peninggalan sejarah yang ada di Lasem. Kali ini tema yang diangkat yakni Menyusur Sungai, Meretas Sejarah Cina di Lasem. Tampil sebagai narasumber pemerhati budayawan dan ahli sejarah Lasem, Slamet Wijaya dan Guru Besar Fakultas Sejarah Universitas Dipenonegoro (UNDIP) Semarang, Dra Titiek Suliyati MT.
Slamet Widjaja dalam acara tersebut antaralain memaparkan, masyarakat Lasem khususnya yang tinggal di desa Babagan kurang peduli terhadap potensi sejarah sungai setempat, mereka tidak pernah merawat dan berupaya melestarikan situs-situs sejarah yang ada. Padahal situs-situs tersebut merupakan saksi bisu sejarah sekaligus dapat menjadi tempat studi konkret yang melengkapi teori sejarah yang diberikan di sekolah. Menurutnya sayang bila tidak dilestarikan, karena generasi selanjutnya dapat kehilangan informasi sejarah yang sangat berharga.
Sementara itu menyampaikan sambutan yang disampaikan di acara seminar nasional dan kegiatan outbond bertema Menyusur Sungai-Meretas Sejarah Cina di Lasem”, pelindung MSI yang juga Bupati Rembang-H Moch Salim berharap seluruh hasil kegiatan yang dilakukan MSI agar direkomendasikan ke pemkab Rembang, guna dikaji lebih lanjut. Khusunya terkait situs-situs yang selama ini belum ada regulasi hukumnya. Sehingga ke-depan saat situs-situs tersebut dikembangkan dan dikelola lebih lanjut ada aturan hukum yang melindunginya.
“Saya memberi apresiasi yang tingi dengan adanya MSI dan seluruh kegaiatannya. Karena tidak merasa sendiri lagi untuk memikirkan dan merumuskan kebijakan terkait perlindungan dan pengembangan situs-situs sejarah menjadi obyek wisata,” ujar H Moch Salim.
Sedangkan salah satu peserta bernama Widya Wijayanti, arsitek dan perencana lingkungan binaan asal Semarang, pada kegiatan tersebut mengusulkan agar pemerintah melalui MSI Rembang, mengusulkan sungai Babagan Lasem dan kota tua Lasem menjadi kota pusaka. “Di bantaran sungai dan kota tua terdapat bangunan-bangunan bersejarah yang mempunyai nilai tinggi, baik di bidang arsitektur maupun sejarah,” tuturnya.
Adapun Ketua Komisariat MSI Rembang, Edi Winarno sendiri mengatakan, pihaknya berencana membuat rekomendasi untuk mengemas sungai Babagan Lasem dan kota tua Lasem sebagai kota wisata. Potensi wisata itu beragam, berupa susur sungai, mengunjungi dan mempelajari bangunan-bangunan bersejarah yang ada,” ucapnya.
Dalam kegiatan hari Minggu tersebut, MSI Rembang mencatat sembilan jejak sejarah di bantaran Sungai Babagan, Lasem. Antara lain kelenteng Makco, bekas pelabuhan Dasun, Masjid Kriyan, parit jalur candu, jembatan lori pengangkut kayu, bekas permukiman China, galangan kapal, bekas pos pengawasan laut dan situs tambak bathuk mini. Untuk selanjutnya seluruh temuan tersebut akan direkomendasikan agar Lasem dan sungai Babagan dimasukkan sebagai kota cagar budaya.
Slamet Widjaja dalam acara tersebut antaralain memaparkan, masyarakat Lasem khususnya yang tinggal di desa Babagan kurang peduli terhadap potensi sejarah sungai setempat, mereka tidak pernah merawat dan berupaya melestarikan situs-situs sejarah yang ada. Padahal situs-situs tersebut merupakan saksi bisu sejarah sekaligus dapat menjadi tempat studi konkret yang melengkapi teori sejarah yang diberikan di sekolah. Menurutnya sayang bila tidak dilestarikan, karena generasi selanjutnya dapat kehilangan informasi sejarah yang sangat berharga.
Sementara itu menyampaikan sambutan yang disampaikan di acara seminar nasional dan kegiatan outbond bertema Menyusur Sungai-Meretas Sejarah Cina di Lasem”, pelindung MSI yang juga Bupati Rembang-H Moch Salim berharap seluruh hasil kegiatan yang dilakukan MSI agar direkomendasikan ke pemkab Rembang, guna dikaji lebih lanjut. Khusunya terkait situs-situs yang selama ini belum ada regulasi hukumnya. Sehingga ke-depan saat situs-situs tersebut dikembangkan dan dikelola lebih lanjut ada aturan hukum yang melindunginya.
“Saya memberi apresiasi yang tingi dengan adanya MSI dan seluruh kegaiatannya. Karena tidak merasa sendiri lagi untuk memikirkan dan merumuskan kebijakan terkait perlindungan dan pengembangan situs-situs sejarah menjadi obyek wisata,” ujar H Moch Salim.
Sedangkan salah satu peserta bernama Widya Wijayanti, arsitek dan perencana lingkungan binaan asal Semarang, pada kegiatan tersebut mengusulkan agar pemerintah melalui MSI Rembang, mengusulkan sungai Babagan Lasem dan kota tua Lasem menjadi kota pusaka. “Di bantaran sungai dan kota tua terdapat bangunan-bangunan bersejarah yang mempunyai nilai tinggi, baik di bidang arsitektur maupun sejarah,” tuturnya.
Adapun Ketua Komisariat MSI Rembang, Edi Winarno sendiri mengatakan, pihaknya berencana membuat rekomendasi untuk mengemas sungai Babagan Lasem dan kota tua Lasem sebagai kota wisata. Potensi wisata itu beragam, berupa susur sungai, mengunjungi dan mempelajari bangunan-bangunan bersejarah yang ada,” ucapnya.
Dalam kegiatan hari Minggu tersebut, MSI Rembang mencatat sembilan jejak sejarah di bantaran Sungai Babagan, Lasem. Antara lain kelenteng Makco, bekas pelabuhan Dasun, Masjid Kriyan, parit jalur candu, jembatan lori pengangkut kayu, bekas permukiman China, galangan kapal, bekas pos pengawasan laut dan situs tambak bathuk mini. Untuk selanjutnya seluruh temuan tersebut akan direkomendasikan agar Lasem dan sungai Babagan dimasukkan sebagai kota cagar budaya.
Penemu perahu kuno situs punjulharjo terima penghargaan
Lima orang Penemu perahu benda cagar budaya di desa Punjulharjo kecamatan Rembang yakni Mulyadi, Ahmad Sulkhan, Taefurrohman, Sudirman, Masrikan dan pemilik tanah lokasi itus, Maskuri, rabu (9/12) menerima tali asih uang sebesar Rp 16 juta dari Departeman Kebudayaan dan Pariwisata melalui Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa tengah, di Sasana Budaya, komplek rumah dinas Bupati Rembang.
Secara simbolis tali asih disampaikan perwakilan dari BP3, Hutomo kepada Kepala Dinas Kebudayan, Pariwisata, Pemuda dan Olah raga (Disbudpora) Rembang Sadono, mewakili Bupati diteruskan kepada Kepala Desa Punjulharjo, Nur Salim.
Hutomo dalam kesempatan tersebut menyampaikan, sesuai Undang Undang nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, bahwa penemu kapal akan mendapat imbalan jasa sesuai dengan nilai benda tersebut.
Sementara itu Sadono, atas nama pemkab Rembang menyampikan apresiasi dan terimakasihnya kepada BP3 atas kepeduliannya memberikan imbalan jasa kepada penemu kapal. Penghargagan tersebut diharapkan memberikan kesadaran warga untuk melestarikan cagar budaya. Pemkab Rembang sendiri mempunyai komitmen untuk melestarikan benda-benda purbakala.
Seperti yang diketahui, pada tanggal 28 Juli 2008 lalu beberapa warga di desa Punjulharjo kecamatan Rembang ketika membuat tambak, secara tidak sengaja menemukan perahu kuno. Dari hasil identifikasi jenis kapal berasal dari abad ke 8 setara dengan pembangunan candi borobudur.
Penemuan tersebut terlengkap di Asia tenggara karena kondisi kapal masih utuh dibanding temuan di sejumlah negara lain. Bersamaan dengan perahu kuno ddalamya ditemukan pula kapak, tulang, tongkat ukir, tutup wakul dari kayu, mangkok pecahan, dan kepala patung batu.
Secara simbolis tali asih disampaikan perwakilan dari BP3, Hutomo kepada Kepala Dinas Kebudayan, Pariwisata, Pemuda dan Olah raga (Disbudpora) Rembang Sadono, mewakili Bupati diteruskan kepada Kepala Desa Punjulharjo, Nur Salim.
Hutomo dalam kesempatan tersebut menyampaikan, sesuai Undang Undang nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, bahwa penemu kapal akan mendapat imbalan jasa sesuai dengan nilai benda tersebut.
Sementara itu Sadono, atas nama pemkab Rembang menyampikan apresiasi dan terimakasihnya kepada BP3 atas kepeduliannya memberikan imbalan jasa kepada penemu kapal. Penghargagan tersebut diharapkan memberikan kesadaran warga untuk melestarikan cagar budaya. Pemkab Rembang sendiri mempunyai komitmen untuk melestarikan benda-benda purbakala.
Seperti yang diketahui, pada tanggal 28 Juli 2008 lalu beberapa warga di desa Punjulharjo kecamatan Rembang ketika membuat tambak, secara tidak sengaja menemukan perahu kuno. Dari hasil identifikasi jenis kapal berasal dari abad ke 8 setara dengan pembangunan candi borobudur.
Penemuan tersebut terlengkap di Asia tenggara karena kondisi kapal masih utuh dibanding temuan di sejumlah negara lain. Bersamaan dengan perahu kuno ddalamya ditemukan pula kapak, tulang, tongkat ukir, tutup wakul dari kayu, mangkok pecahan, dan kepala patung batu.
Adu Kreativitas dalam Lomba Dongeng Rakyat
Ketika Pantura Pos turut menonton penampilan siswa-siswi SMA/SMK/MA sederajat yang tengah mengikuti lomba dongeng cerita rakyat Kabupaten Rembang yang diadakan oleh Kantor Parsip dan PDE, ada yang berbeda di sana. Kreativitas setiap peserta benar-benar ditampilkan secara total dan maksimal. Mereka lebih menjiwai dalam mendongeng.
Mereka ada yang membawa selendang dan tongkat untuk memperagakan ibu Malin Kundang yang sudah renta. Ada yang berpakaian adat sebagaimana cerita Malin Kundang berasal. Dan yang lebih seru ada yang membawa kru sebagai pengiring musik (organ) dan pemain figuran, sehingga suasana mendongeng bak teater.
Yang membawa kru drama untuk melengkapi mendongeng adalah SMA 3 Rembang. Pendongeng M Yusuf Saputro dengan mimik serius bercerita legenda Malin Kundang. Berawal dari sosok Malin Kundang yang berpakaian compang camping (Andi Dwi) yang hendak merantau. Lantas ibu Malin Kundang (Novita P) mendekatinya untuk mencegah Malin pergi merantau.
Setelah cerita bergulir muncul kembali ibu Malin Kundang yang menunggu putranya di dermaga setelah lama pergi. Benar saja, Malin Kundang muncul dengan pakaian gemerlap dan disampingnya putri cantik sebagai isterinya (Galuh Purwandani). Tentu saja kemunculan Malin Kundang dipanggil-panggil sebagai anaknya. Cerita menjadi mengharu biru manakala si Malin Kundang tampak bingung, melihat ibunya dan istrinya dengan wajah kaget. Tampak raut wajah Malin Kundang yang bimbang, antara mengakui ia sebagai ibunya dan takut dimarahi istrinya.
Tak pelak, istrinya marah melihat kebimbangan Malin Kundang yang pernah mengaku sebagai anak raja. Malin Kundang panik, tanpa berpikir panjang ibunya dimarahi dan tidak diakui sebagai ibu kandungnya. Seperti sudah bisa ditebak, ibu Malin Kundang lantas berdoa pada Tuhan agar mengutuk anaknya. Jadilah Malin Kundang batu.
Menurut pengakuan Yusuf, dia dan teman-temannya hanya latihan seminggu. Walaupun hanya menyabet juara harapan, penampilan dia teman-temannya sempat membuat penonton berlinang air mata.
Dari SMA 2 Rembang, Aditta Grishana bercerita legenda Lutung Kesarung. Gadis yang mendongeng sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang ini mengaku, untuk bisa mendongeng cukup faham ceritanya saja. Panitia tidak membatasi cerita harus orisinil, boleh berkreativitas.
Ketua Panitia Lomba Dongeng Cerita Rakyat Winarto BA ketika dikonfirmsi membenarkan bahwa peserta boleh berkreativitas dengan 5 cerita yang disodorkan. Lomba yang diselenggarakan di komplek Rumah Dinas Bupati ini melibatkan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA se Kab Rembang.
Untuk SD mereka mendongeng legenda Rembang. SMP mendongeng legenda Jawa Tengah. SMA mendongeng legenda Nusantara.
Menurut Winarto BA yang menjabat Kasi Bina Perpustakaan dan Arsip ini mengaku senang karena ternyata pesertanya membludak. Dan mereka tampak sekali antusias dalam mengikuti lomba.
Sementara Ketua Parsip dan PDE Kab Rembang, Drs Edy Winarno MPd berujar tujuan diadakannya lomba mendongeng adalah untuk mengasah kreativitas siswa-siswi di Rembang. Diharapkan cerita rakyat tidak menjadi hilang karena dilupakan oleh generasi mendatang.
Nama-nama yang berhasil menduduki Juara I, II dan III secara berurutan sbb:
SD/MI PUTRI: Tesya Bela Safira (SD Meteseh 2 Kaliori), Diana Dwi Salvira (SD Mantingan Bulu), Hezi Amalia Rizqy (SD Kutoharjo 3). SD/MI PUTRA: Nurohmad (SD Meteseh 2 Kaliori), Viky Yuli Setiawan (SD Gading), Yoga Widya Tama (SD Bulu).
SMP/MTs PUTRI: Erna Nur Fitria (SMP 1 Lasem), Riska Ayu (SMP 2 Rembang), Isti Yuni Sari (SMP 1 Rembang). SMP/MTs PUTRA: Mafriyan Thoha Alfiran (SMA 1 Rembang), Alif Muhammad Fadli (SMP 1 Lasem), Alang Honggo Prayogo (SMP 1 Pamotan).
SMA/SMK/MA PUTRI: Ratna Puspita (SMKN Rembang), Galuh Purwandani (SMA 3 Rembang), Layyin Halimah (SMA 1 Rembang). SMA/SMK/MA PUTRA: M Yusuf Rosidi (SMK Al Mubarok), Galih Gumilang (SMK 1 Rembang), Adip Tri Nurkhazis (SMA 1 Sulang). (Qin)
Mereka ada yang membawa selendang dan tongkat untuk memperagakan ibu Malin Kundang yang sudah renta. Ada yang berpakaian adat sebagaimana cerita Malin Kundang berasal. Dan yang lebih seru ada yang membawa kru sebagai pengiring musik (organ) dan pemain figuran, sehingga suasana mendongeng bak teater.
Yang membawa kru drama untuk melengkapi mendongeng adalah SMA 3 Rembang. Pendongeng M Yusuf Saputro dengan mimik serius bercerita legenda Malin Kundang. Berawal dari sosok Malin Kundang yang berpakaian compang camping (Andi Dwi) yang hendak merantau. Lantas ibu Malin Kundang (Novita P) mendekatinya untuk mencegah Malin pergi merantau.
Setelah cerita bergulir muncul kembali ibu Malin Kundang yang menunggu putranya di dermaga setelah lama pergi. Benar saja, Malin Kundang muncul dengan pakaian gemerlap dan disampingnya putri cantik sebagai isterinya (Galuh Purwandani). Tentu saja kemunculan Malin Kundang dipanggil-panggil sebagai anaknya. Cerita menjadi mengharu biru manakala si Malin Kundang tampak bingung, melihat ibunya dan istrinya dengan wajah kaget. Tampak raut wajah Malin Kundang yang bimbang, antara mengakui ia sebagai ibunya dan takut dimarahi istrinya.
Tak pelak, istrinya marah melihat kebimbangan Malin Kundang yang pernah mengaku sebagai anak raja. Malin Kundang panik, tanpa berpikir panjang ibunya dimarahi dan tidak diakui sebagai ibu kandungnya. Seperti sudah bisa ditebak, ibu Malin Kundang lantas berdoa pada Tuhan agar mengutuk anaknya. Jadilah Malin Kundang batu.
Menurut pengakuan Yusuf, dia dan teman-temannya hanya latihan seminggu. Walaupun hanya menyabet juara harapan, penampilan dia teman-temannya sempat membuat penonton berlinang air mata.
Dari SMA 2 Rembang, Aditta Grishana bercerita legenda Lutung Kesarung. Gadis yang mendongeng sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang ini mengaku, untuk bisa mendongeng cukup faham ceritanya saja. Panitia tidak membatasi cerita harus orisinil, boleh berkreativitas.
Ketua Panitia Lomba Dongeng Cerita Rakyat Winarto BA ketika dikonfirmsi membenarkan bahwa peserta boleh berkreativitas dengan 5 cerita yang disodorkan. Lomba yang diselenggarakan di komplek Rumah Dinas Bupati ini melibatkan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA se Kab Rembang.
Untuk SD mereka mendongeng legenda Rembang. SMP mendongeng legenda Jawa Tengah. SMA mendongeng legenda Nusantara.
Menurut Winarto BA yang menjabat Kasi Bina Perpustakaan dan Arsip ini mengaku senang karena ternyata pesertanya membludak. Dan mereka tampak sekali antusias dalam mengikuti lomba.
Sementara Ketua Parsip dan PDE Kab Rembang, Drs Edy Winarno MPd berujar tujuan diadakannya lomba mendongeng adalah untuk mengasah kreativitas siswa-siswi di Rembang. Diharapkan cerita rakyat tidak menjadi hilang karena dilupakan oleh generasi mendatang.
Nama-nama yang berhasil menduduki Juara I, II dan III secara berurutan sbb:
SD/MI PUTRI: Tesya Bela Safira (SD Meteseh 2 Kaliori), Diana Dwi Salvira (SD Mantingan Bulu), Hezi Amalia Rizqy (SD Kutoharjo 3). SD/MI PUTRA: Nurohmad (SD Meteseh 2 Kaliori), Viky Yuli Setiawan (SD Gading), Yoga Widya Tama (SD Bulu).
SMP/MTs PUTRI: Erna Nur Fitria (SMP 1 Lasem), Riska Ayu (SMP 2 Rembang), Isti Yuni Sari (SMP 1 Rembang). SMP/MTs PUTRA: Mafriyan Thoha Alfiran (SMA 1 Rembang), Alif Muhammad Fadli (SMP 1 Lasem), Alang Honggo Prayogo (SMP 1 Pamotan).
SMA/SMK/MA PUTRI: Ratna Puspita (SMKN Rembang), Galuh Purwandani (SMA 3 Rembang), Layyin Halimah (SMA 1 Rembang). SMA/SMK/MA PUTRA: M Yusuf Rosidi (SMK Al Mubarok), Galih Gumilang (SMK 1 Rembang), Adip Tri Nurkhazis (SMA 1 Sulang). (Qin)
Langganan:
Postingan (Atom)
