Minggu, 30 Agustus 2009

Dampoawang Beach TRP Kartini Dibanjiri Pengunjung

Dampoawang Beach TRP Kartini Dibanjiri Pengunjung
Taman Rekreasi Pantai Kartini (TRPK) Rembang sejak dikelola pihak ketiga sekar ang namanya menjadi Dampo Awang Beach TRPK. Selama masa libur sekolah kemarin setiap hari lokasi wisata kebanggan orang Rembang itu dibanjiri pengunjung. Per hari rata-rata 1.500-an orang datang menikmati aneka hiburan yang tersedia. Bahkan pada hari Minggu (12/6) saat puncak hari Minggu libur tercatat sekitar 3.000-an orang memenuhi TRPK sejak jam buka hingga tutup.
Sriyono, koordinator pengelola Dampo Awang Beach TRPK menjelaskan, sejak dia dipercaya selaku pengelola pihak ketiga,terus berusaha menambah fasilitas hiburan bagi para pengunjung. Salah satu yang dilakukannya yakni mendatangkan hewan langka ditempatkan di lokasi kolam renang putri duyung. “Tujuannya ingin memberikan hiburan bagi para pengunjung yang ingin meluangkan waktu sejenak setelah usai berenang,”terangnya.
Sriyono menambahkan, mulai bulan Juli ini dari semula kolam renang diisi air sumur yang berasa payau sekarang telah diganti air bersih dari PDAM. Adapun arena hiburan di dampo Awang Beach TRPK sendiri per Agustus ditambah beberapa arena hiburan. ‘Antara lain kolam buaya, persewaan keledai untuk jalan-jalan di bibir pantai, penataan perahu untuk lomban, permainan anak berupa fasilitas outbond dan tokoh-tokoh kartun untuk background foto pengunjung,”ujarnya..
Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Rembang Drs Sadono menjelaskan, pengelolaan TRPK dipihak ketigakan per bulan Februari kemarin dimulai tempat pemandian/kolam renang “putri duyung”. “Selanjutnya per bulan Juli di seluruh lokasi TRPK dengan nilai kontrak Rp 836 juta,”jelasnya.
Untuk mempercantik dan memperindah lokasi Taman untuk tahun ini pihak pengelola telah menyiapkan dana sekitar 300 juta guna melakukan renovasi serta penambahan fasilitas.
Pengelola akan menambahkan beberapa fasilitas tambahan seperti, lapangan foodsal pasir, lapangan volli pantai, kebun binatang mini, lokasi out bond untuk anak-anak serta beberapa fasilitas olahraga air lainnya. Dengan ditambahkan beberapa fasilitas yang disediakan akan memberikan daya tarik baru bagi para pengunjung.
Dengan harapan masyarakat Rembang tidak perlu rekreasi keluar kota saat membutuhkan tempat rekreasi yang nyaman Sriyono menambahkan.
Renovasi akan dilakukan bertahap, untuk tahun ini pengelola telah mulai mendatangkan kebutuhan dalam melengkapi fasilitas layanan, seperti keledai yang akan disediakan bagi pengunjung yang akan mengelilingi pantai serta pasir putih yang akan digunakan untuk mempercantik pantai.
Untuk penambahan nama Dampoawang Beach pengelola bermaksud untuk membedakkan TRP Kartini yang ada di Jepara karena sama namanya pantai Kartini. Karena Dampoawang identik dengan Rembang maka nama itu digunakan untuk penambahan. (miex)

Ditarget 4, Dapat 2 Medali Emas

Ditarget 4, Dapat 2 Medali Emas
Kontingen Kabupaten Rembang yang akan ikut serta ajang pekan olahraga provinsi (PORPROV) tahun 2009 di Solo, Minggu pagi (26/7) dilepas secara resmi oleh Bupati Rembang H Moch Salim di pendopo kabupaten. Selanjutnya kontingen berangkat ke Solo mengikuti rangkaian pertandingan dan lomba yang berlangsung mulai 28 Juli hingga 1 Agustus mendatang.
Bupati Rembang H Moch Salim kepada para atlet dan ofisial berpesan agar mereka menjaga kesehatan dan konsentrasi serta serius saat tampil di cabang olahraga yang diikuti. Para atlet dihimbau tidak terpaku mengejar medali saja, melainkan harus tampil maksimal agar meraih hasil optimal.
Saat ditemui usai melepas kontingen, H Moch Salim diampingi Ketua KONI Rembang Siswadi dan Ketua Kontingen H Sutarjo menerangkan, pihaknya menargetkan perbaikan peringkat dibanding hasil yang diperoleh pada ajang serupa tahun 2005 kemarin.
Bila raihan prestasi pada porprov sebelumnya kabupaten Rembang hanya mampu berada di peringkat 32 meraih 1 emas, 2 perak dan 9 perunggu, tahun ini dipatok 4 medali emas. “Dua dari cabang olahraga senam, satu emas masing-masing dari wushu dan catur,”sebutnya.
Untuk tali asih sendiri KONI Rembang telah menyediakan tali asih sebanyak Rp 25 juta untuk medali emas, peraih medali perak Rp 10 juta dan perunggu Rp 5 juta.
Rita Wulansari, pelajar putri kelas XI SMAN 2 Rembang, atlet Wushu abdalan kabupaten Rembang yang saat inbi berada di peringkat 2 Nasional ditarget meraih medali emas. Dia menyatakan siap bertanding habis-habisan untuk mempersembahkan medali emas bagi kontingen kabupaten Rembang.
Kontingen Rembang sejumlah 55 orang terdiri 40 atlet dan 15 ofisial dan pelatih. Kabupaten rembang mengikuti 8 cabang olahraga yakni tenis meja, catur, atletik, senam, wushu, pencak silat, taekwondo dan panjat tebing.

Naik 1 Peringkat
Kontingen Rembang pada Pekan Olahraga Provinsi ke13 di Surakarta, hanya naik 1 peringkat dari urutan 32 ke 31. Pada Porprov ke 12 tahun 2005 Rembang memperoleh 1 emas 2 perak dan 9 perunggu, kali ini meraih 2 emas 3 perak dan 5 perunggu.
Ketua KONI Kabupaten Rembang Siswadi menerangkan dari 8 cabang olahraga yang diikuti kontingen Rembang, cabang senam menyumbang 2 medali emas, 3 perak, 1 perunggu. Cabang atletik 2 perunggu-wushu dan pencak silat masing-masing 1 perunggu. Menurut Siswadi meski perolehan dibawah target 3 medali emas, pihaknya tidak terlalu merasa kecewa, karena ternyata atlet Rembang di babak semi final atau partai puncak dikalahkan atlet-atlet pelatnas, sehingga hal tersebut dapat dimaklumi.
Ditambahkan oleh Siswadi, menurut rencana minggu depan seluruh atlet akan diterima secara resmi oleh Bupati Rembang H Moch Salim di Pendopo, acara penyerahan tali asih bagi penerima medali. Peraih medali emas mendapat tali asih Rp 25 juta, perak Rp 10 juta dan perunggu Rp 5 juta. Total akan dibagikan dana tali asih sebanyak Rp 105 juta.
Untuk persiapan Porprov ke 14 tahun 2014 yang akan dilaksanakan di kabupaten Banyumas, KONI Rembang mulai sekarang akan melakukan pendataan cabang-cabang olahraga yang termasuk unggulan untuk kemudian dilakukan pembinaan atlet dan pemenuhan sarpras latihan. Diharapkan pada keikut sertaan kabupaten Rembang pada Proprov ke 14 akan mendulang prestasi meraih medali lebih banyak sehingga berada di urutan 15 besar.
Minggu depan KONI akan menggelar rapat koordinasi mengevaluasi hasil yang dicapai kontingen Rembang. Dilanjutkan penyerahan tali asih kepada atlet peraih medali.
:-) Antok

17 ribu peserta pecahkan rekor MURI

17 Ribu Peserta Pecahkan Rekor Gerakan Makan Ikan
Pada kesempatan Bulan Bakti Gotong Royong tingkat Jawa Tengah di Gedangan, juga diserahkan penghargaan Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) kepada Kab Rembang atas ge-rakan gemar makan ikan (Gema Ikan) yang melibatkan sebanyak 17.000 peserta. Jumlah tersebut memenuhi syarat, karena sebelumnya pernah ada di daerah lain yang memecahkan Rekor Muri dengan peserta 16.000 orang.
Penghargaan diterima-kan Gubernur kepada Bupati Rembang H Moch Salim.
Lantas, seperti apakah bentuk gerakan gemar makan ikan tersebut? Dari jumlah 17.000 peserta, yang 2000 ha-dir pada acara BBGR, semen-tara yang lainnya diserahkan ke sekolah-sekolah hingga total berjumlah 17.000 peserta.
Sementara itu, bentuk ikannya pun bukan berupa ikan segar digoreng atau dibakar, namun sudah disiapkan dalam kemasan cantik berbentuk krispi.
Krispi adalah olahan ikan buatan orang Rembang sendiri yang dikemas dengan tekno-logi modern. :-)

Gubernur Dukung Pabrik Semen Di Rembang

Gubernur Dukung Pabrik Semen Di Rembang
Tekad Kabupaten Rembang untuk bangkit dari daerah tertinggal, telah dimulai beberapa tahun yang lalu. Seperti akselerasi pemba-ngunan dengan program 4 pilarnya, pembangunan PLTU, dibangunnya pelabuhan nasional, dll. Berita terkini Bupati Rembang H Moch Salim menggulirkan ide untuk mendirikan pabrik semen.
Pada perhelatan pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong tingkat Jawa Tengah di Gedangan yang dihadiri oleh Bupati dan Walikota se Jawa Tengah baru-baru ini, ide brilian tersebut mendapat angin segar dari orang nomor satu di Jawa Tengah. Menurut Gubernur Bibit Waluyo, bahwa Rembang pertanian-nya plus, peri-kanan plus, pertumbuhan disemua sektor baik, kondisi masyarakatnya mendukung, dengan adanya pabrik semen, sangatlah cocok dan lebih bagus. “Rencana Pem-kab Rembang untuk mendi-rikan pabrik semen, akan saya setujui sepenuhnya. Bukan guyonan, tetapi benar serius,“ kata Gubernur disambut tepuk tangan hadirin.
“Sing penting aja ngisin ngisini, wis isin sing pertama aja sing ping pindho,” imbuhnya.
Gubernur merasa bahwa orang disekelilingnya yang turut memikirkan pendirian pabrik semen Jawa Tengah adalah para profesor yang pandai-pandai. Jika kemudian di tengah jalan digagalkan oleh segelintir orang, Gubernur sangat kecewa.
Seperti diketahui, bumi Rembang memiliki kandungan semen melimpah. Bila pabrik semen berdiri di Rembang, maka kelak pendapatan asli daerah semakin meningkat. Menurut Gubernur tentunya sangat tepat jika pabrik semen didirikan di Rembang, karena bahan bakunya ada di tempat.

Bibit Berikan Bantuan
Dalam kesempatan itu, Gubernur juga memberikan bantuan sebesar Rp. 6,4 M lebih untuk desa-desa, lembaga-lembaga, dll.
Gubernur juga akan menggulirkan bantuan per desa Rp. 100 juta. Namun hanya desa-desa yang paling membutuhkan yang dibantu. Setiap kabupaten akan dipilih 10 desa, jadi total 350 desa dari 35 kabupaten.
Gebernur juga hendak mengajari desa-desa memanej keuangan. Jika lurah tidak amanah pasti akan ketahuan, dan nantinya bisa masuk hotel prodeo. Menurut Bibit, bali desa mbangun desa harus ada maknanya, harus ada perubahan. Direncanakan program tersebut tahun 2013 harus sudah rampung.
Rampungnya acara di Gedangan, Gubernur dan rombongan langsung meninjau langsung Pusat Pelelangan Ikan Tasikagung serta Pelabuhan Tasikagung, yang menurut Bupati Salim akan diprogram jadi Pelabuhan Nusantara.

Pabrik Semen, Tunggu Dulu Kepastiannya
Di lain kesempatan, Kabag Humas Suyono SH ketika dikonfirmasi soal pabrik semen membenarkan rencana itu. Bahkan soal pabrik semen tersebut pernah dilontarkan kepada Presiden SBY ketika bersilaturrahim di Rembang sebulan yang lalu, Namun soal kepastiannya tentu tidak bisa ditentukan sekarang. Kita tunggu saja.
:-) Qin-Sant

Pilpres Tahun Ini Lebih Baik Dibanding Tahun 2004

Pilpres Tahun Ini Lebih Baik Dibanding Tahun 2004
Bertempat di pendopo kabupaten, Jumat (17/7) KPUK Rembang menggelar rapat pleno terbuka rekapitulasi manual perolehan suara pilpres. Pada kegiatan tersebut KPUK membacakan hasil rekapitulasi perhitungan suara secara manual dari 14 PPK, disaksikan timses ke-tiga pasangan capres-cawapres.
Ketua KPUK Rembang M Affan pada akhir kegiatan menjelaskan, hasil perolehan suara versi quick count KPUK untuk tiga pasangan capres-capawapres tidak berebeda secara signifikan dengan hasil rekap manual. “Selisihnya cukup sedikit hanya berkisar 1%,”terangnya.
Affan menyampaikan, perbandingan hasil perolehan suara versi quick count dengan rekap manual yaitu dari hak pilih dalam DPT Rembang 464.342 suara pasangan Mega-Pro tetap tertinggi meraup 152.083 suara. Pasangan SBY-Boediono urutan kedua dengan versi quick count 134.879, hasil rekap manual turun menjadi 134.833 suara. Pasangan JK-Win dari 35.361 menjadi 35.358 suara.
“Hasil akhir angka partsispasi warga sejumlah 350.319 atau mencapai kisaran 75,44%. Sedangkan yang tidak menggunakan hak pilihnya 114.023 orang atau berkisar 24,46%,”ungkap Affan.
Ditambahkannya, tingkat partisipasi warga pada pilpres 2009 turun dibandingkan dengan pileg. Dari 83 % turun menjadi 75,44%. Penyebabnya menurut Affan yaitu banyak warga yang bekerja dan sekolah diluar kota tidak pulang menggunakan hak pilihnya dan adanya pengurangan jumlah TPS dari 1.474 saat pileg menjadi 1.068 pada pilpers. “Sehingga ada sebagian warga enggan menggunakan hak pilihnya, karena merasa jauh dari TPS,”imbuhnya.
Affan juga menyatakan, tingkat partisipasi masyarakat pada pilpres 2009 juga kurang dibanding pilpres 2004, baik pada putaran pertama atau ke-dua. Berdasar data di KPUK Rembang, tingkat partsisipasi warga Rembang pada pilpres tahun 2004 cukup tinggi.
Putaran pertama dari DPT 420.781 pemilih yang menggunakan haknya 346.935 orang atau mencapai angka 82,5%. Sedangkan pada putaran ke-dua, dari DPT sama yang menggunakan hak pilihnya 331.957 orang atau sekitar 78,8%. :-) Antok

Manguin, Arkeolog Maritim Asia

Manguin, Arkeolog Maritim Asia
Di mata Profesor Pierre-Yves Manguin (64), sebuah bongkahan papan kapal atau perahu dapat berkisah tentang sejarah maritim suatu kerajaan atau negara. Bongkahan itu juga mampu mengukur sejauh mana kualitas cipta, karya, dan rasa, sebuah bangsa bertumbuh dan berkembang mempertahankan hidup menjelajah pulau-pulau.
Di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Rabu (24/6), Manguin, arkeolog maritim asal Perancis, membuktikan pernyataannya itu. Bersama Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta, Manguin meneliti perahu kuno yang ditemukan di lahan tambak warga yang berjarak sekitar satu kilometer dari pantai.
Berdasarkan teknologi pembuatan perahu, Manguin mengatakan perahu itu berasal dari zaman peralihan Kerajaan Mataram Kuno ke Sriwijaya, 670 Masehi -780 Masehi. Teknologi pembuatannya masih sederhana, yaitu menggunakan tambuktu atau balok tempat pasak yang diperkuat dengan ikatan tali ijuk.
“Meski begitu, perahu selebar empat meter dan sepanjang 15,60 meter itu mampu mengarungi pulau-pulau. Perahu Punjulharjo merupakan jenis perahu perdagangan,” kata Manguin. Melalui perahu atau kapal itulah sebuah bangsa melepas belenggu isolasi samudera, membuka komunikasi, dan berinteraksi dengan bangsa lain. Mereka saling bertukar pengetahuan, barang, budaya, dan pangan.
Melalui perahu dan kapal, sebuah bangsa membangun politik dan ekonomi maritim. Mereka mengembangkan kekuasaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perdagangan dan aneka hasil laut.”Di bumi Nusantara, Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit telah membuktikan keberhasilan politik dan ekonomi maritim yang dipadukan dengan ekonomi berbasis agraris,” ujar Manguin.
Pierre-Yves Manguin lahir di Portugis, 30 Juni 1945. Ia berasal dari keluarga Perancis yang tinggal di Portugis. Ayahnya yang bekerja sebagai pengusaha ban Michelin bernama Henri Manguin, sedang ibunya, Antoinette Manguin.
Sejak kecil hingga tamat Lycee francais Lisboa atau sekolah lanjutan tingkat atas bagi anak-anak Perancis, Manguin menghabiskan waktu di Portugis. Setiap kali ada waktu senggang, ia pergi bersiar dengan kapal pesiar milik milik ayahnya.
Ia juga kerap mengun-jungi galangan-galangan kapal tradisional di Portugis. Waktu itu, ia sempat belajar membuat perahu berbahan baku kayu sepanjang 6-13 meter. Ketika pindah ke Perancis, Manguin tetap meneruskan kebiasaan itu. Pantai barat Perancis dan galangan perahu di sekitar pantai itu menjadi salah satu bagian hidupnya.
Manguin mulai tertarik dengan Asia ketika perang Vietnam sedang berkecamuk. Media massa banyak menyiarkan berita-berita tentang Vietnam. Aneka macam buku tentang Vietnam juga mudah didapat.
Menurut Manguin, yang menarik dari Vietnam adalah kehidupan masyarakatnya, terutama mereka yang tinggal di sepanjang daerah aliran Sungai Mekong.
Untuk itu, pada 1965, Manguin meninggalkan jurusan kimia dan beralih ke jurusan bahasa di Langues’O, Paris. Di perguruan tinggi bahasa itu, ia belajar bahasa Vietnam, Melayu, dan Jepang. Bersamaan dengan itu, Manguin belajar tentang sejarah antropologi Asia Tenggara di Sorbonne. Namun, ia belum juga mempunyai kesempatan mengunjungi Vietnam.
Pada 1970, setelah merampungkan S2 dan S3 bahasa dan sejarah maritim, Manguin bergabung dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO). Di lembaga pusat studi Perancis-Asia itu, ia memperdalam pengetahuan tentang sejarah maritim dan perahu tradisional.
Manguin sempat mengunjungi kawasan pesisir di Indonesia dan Malaysia. Setiap kali menemukan industri galangan kapal di kawasan itu, ia selalu mempe-lajari teknik pembuatan perahu.
Manguin mengenal Indonesia pada 1977. Waktu itu, EFEO bekerja sama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional membuka cabang EFEO di Indonesia. Pada 1981, mereka menggarap program penelitian perahu Bukit Jakas di Pulau Bintan.
Manguin mengatakan waktu itu tim peneliti hanya mendapat bongkahan-bongkahan perahu. Dari tek-nologi pembuatannya, perahu itu buatan abad XVI dan ada pengaruh China. Penyambung papan menggunakan pasak dan paku besi, tidak lagi menggunakan tali ijuk.
Delapan tahun kemudian, Manguin bersama Profesor Wolters, pakar Sriwijaya Universitas Cornel, mengadakan penelitian di situs Sriwijaya, Palembang. Ia meneliti sebuah kolam di Bukit Seguntang dan sempadan Sungai Musi di bawah Jembatan Ampera.
Di kolam Bukit Seguntang, ia menemukan bongkahan-bongkahan perahu Sriwijaya. Perahu dari abad V itu menggunakan teknik tambuku dan ikatan tali ijuk. Adapun di sempadan Sungai Musi, ia menemukan sisa-sisa kampung rakit.
Perahu itulah yang menjadi bukti pertama keberadaan perahu Nusantara yang pernah disebut-sebut pendeta Budha yang pernah berkunjung ke Sriwijaya. Dalam sebuah literatur abad VIII, pendeta itu menyatakan perahu papan yang diikat dengan tali ijuk, bertiang tiga, lain dari perahu China, panjangya sekitar 40 meter, dan muat 500 orang.
“Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat perdagangan dan negara maritim. Sriwijaya memperluas kekuasaan hingga Asia Tenggara dan pernah berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil dengan kapal,” kata Manguin.
Selain itu, Manguin menemukan situs Kota China dan bongkahan perahu abad XI-XII di Medan dan galangan perahu tradisional serta kemudi perahu abad VII di Sambirejo, Palembang. Pada 1996-2002, Manguin mengadakan penelitian di situs Oc Eo (dahulu negara Funan), di Ho Chi Min, Vietnam. Ia menemukan kota kuno, candi, dan kanal, di delta Sungai Mekong.
Pada 2006, Manguin bersama Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional meneliti situs Batujaya, di daerah aliran Sungai Citarum, Kerawang, Jawa Barat. Di dalam makam masyarakat Buni, ia menemukan pecahan tembikar sezaman dengan Kerajaan Tarumanegara, abad I - X.
“Temuan itu membuktikan bahwa sebelum zaman Sriwijaya warga Nusantara sudah melakukan kontak dengan India melalui hubungan laut,” kata Manguin. :-) Antok

Sumur Kono Gegerkan Rembang

Sumur Kuno Gegerkan Warga Sarang
Sumur berdinding gerabah masih utuh menggegerkan warga Kecamatan Sarang Rembang. Sumur kuno yang pertama kali ditemukan oleh sejumlah santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mamba ‘al Ulum as-Syari’ah (MUS) di sebuah lahan kososng dusun Gondang desa Kalipang.
Sumur tersebut nampak berbentuk aneh karena berdinding bahan gerabah dan dangkal, namun sumber air tak habis meski banyak warga yang mengambilnya. Kedalamannya sekitar 1,5 meter dengan diameter 60 cm. Diduga berumur ratusan tahun sehingga memancing ratusan warga untuk menyaksikan dari dekat.
Menurut pengasuh Ponpes MUS KH Muhamad Adib Abdurrohim (Gus Adib) sumur berdinding gerabah itu pertama kali ditemukan santrinya pada Selasa malam (14/7). Saat itu, katanya sejumlah santri yang dipimpin Sutrisno berencana untuk mengambil tanah dari lahan itu untuk mengurug gudang milik M. Said (Gus Said). ‘’Salah satu cangkul santri membentur gerabah. Karena merasa aneh, santri mengali pelan-pelan gerabah itu dan akhirnya menemukan gerabah yang menyerupai sumur, gerabah itu juga mengeluarkan sumber air’’ terangnya.
Tak urung karena temuan aneh itu, warga sekitar akhirnya menganggap sumur dan airnya bertuah. Warga berbondong-bondong mengambil air sumur itu untuk diminum dan cuci muka. Bahkan beberapa warga ada yang membawa pulang air sumur itu dengan maksud untuk mengobati kerabatnya yang sakit. ‘’Sampai saat ini memang belum ada yang terbukti sembuh setelah meminum air ini. Namun, warga juga tidak bisa melarang mereka yang mempercayai air ini,’’ jelas warga.
Selain air yang dianggap bertuah, warga sekitar juga mendengar adanya temuan penutup sumur dari gerabah serta keris kuno di sekitar sumur. Namun hal itu dibantah Ustaillah, 23, salah satu santri yang menjaga sekitar sumur. ‘’Kami hanya menemukan sumur dan potongan tulang saja. Tidak ada benda lain yang ditemukan disekitar sumur,’’ katanya.
Ketika dihubungi untuk diminta keterangan terkait penemuan sumur tersebut, Novida Abbas dari Balai Arkeologi Jogjakarta mengutarakan dirinya belum bisa meyakinkan karena belum sempat melihat meupun datang ke lokasi. Nemun menurutnya jenis sumur berdinding gerabah akrab disebut sebagai jobong. Dia mengatakan sumur berdinding gerabah banyak ditemukan di situs Majapahit di Trowulan.
“Karena belum melakukan penelitian secara rici, saya belum bisa memastikan apakah jobong yang ditemukan di Sarang itu sama dengan yang ada di Trowulan,”ungkap Novida Abas melalui telepone selularnya. :-0 Antok